Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
43. Merasa Sakit


__ADS_3

Kania sudah mengerjakan pekerjaannya. Hati yang tak mengenakan bersamalah dengan suaminya rupanya membuat Kania bisa membereskan pekerjaannya dengan cepat. Meski begitu suasana hatinya tak lantas tenang. Dia masih merasakan sakit hati itu dengan begitu jelas.


Setelah membereskan mejanya, Kania sengaja menghubungi sopir yang selalu mengantar jemput dirinya supaya hari ini tak menjemputnya. Perempuan itu ingin menenangkan diri dan bermaksud ke suatu tempat untuk memulihkan suasana hatinya yang sedang kacau.


Ke sebuah kafe dan duduk di meja yang paling pojok dan juga sepi. Kania ke sana dan memesan makanan manis dan juga es krim. Merenung dan menikmati kesendiriannya. Kemudian saat sudah bosan dan makanannya habis, Kaniapun tak langsung pulang, melainkan mampir ke sebuah taman. Tidak sepi karena walaupun sudah malam tempat itu cukup ramai. Dengan adanya pedagang kaki lima dan anak muda yang juga nongkrong di sana.


Namun lagi-lagi Kania mengambil tempat sepi, duduk di kursi taman yang agak jauh dari kerumunan. Perempuan itu menyandar sambil mengusap perutnya.


"Mungkin aku akan terlihat bego dan juga bodoh. Mempertahankan diri tinggal bersama orang yang menyakitkan dan bahkan tak mempunyai ikatan cinta. Akan tetapi terserah kata orang lain, Mama melakukan ini demi kamu, Nak. Kamu butuh papamu untuk tumbuh dengan baik dan terjamin," kata Kania dengan cukup lirih sambil mengusap perutnya yang mulai terasa membuncit.


"Cepat hadir sayang, temani Mama menghadapi papa kamu untuk membuatnya berubah," lanjut Kania dengan penuh harap.


Tanpa sadar dia bukan hanya bertahan untuk anaknya, tapi dalam dirinya yang mulai terbiasa hidup dengan Arland sehingga dia tidak sanggup jika harus meninggalkan. Anehnya perasaan cinta itu malah hadir karena rasa sakit dan kecewa. Kenyataannya itu terjadi pada Kania sendiri.


"Ternyata kamu di sini!" ujar seseorang membuat Kania terkejut.


Sontak diapun menoleh dan menemukan suaminya sudah ada disisinya. Kania membuang nafasnya kasar dan langsung membuang muka. Jujur saja dia sangat muak dengan suaminya ini.


"Kenapa kemari?!" tanya Arland menuntut sambil kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Menarik dagu Kania dan memaksa istrinya agar menghadapnya. "Jawab aku Kania!"


Melepas tangan Arland dari dagunya, Kania menghela nafas sebelum kemudian menjawab, "Apa kamu melupakan fakta kalau anakmu yang masih tumbuh di dalam rahimku ini paling tidak bisa makan malam di rumah?" tanya Kania balik.


Arland terdiam dan sepertinya dia memang sudah melupakan hal itu sejak ulang tahun ibunya. Semalam dia sudah melewatkan untuk menemani Kania makan malam diluar. Mengulurkan tangan dan kemudian sedikit menundukkan kepala serta menghadap perut Kania.

__ADS_1


"Maafkan Papa, Nak. Harusnya Papa mengingat itu. Apakah kamu masih lapar dan mau makan di luar?"


"Tidak perlu, aku sudah kenyang. Setidaknya jika papanya melupakannya, masih ada aku ibunya yang siap sedia menuruti kemauan anakku!" jawab Kania ketus.


"Kamu sangat percaya diri, memangnya sesanggup apa kamu?!" tanya Arland meremehkan. "Kamu bahkan baru lulus kuliah dan jika bukan karena bekerja di perusahaanku, kamu tidak akan bisa mendapatkan penghasilan. Kamu itu masih anak ingusan yang sangat cengeng, sadarlah Kania, dan jika bukan karena aku, kamu bukan apa-apa," lanjut Arland dengan mudahnya.


Kania meremas telapak tangannya sendiri, kemudian membuang nafasnya kasar berusaha untuk kuat dan tidak menangis lagi dihadapan Arland. "Kalau begitu kamu bagiku hanyalah sebatas ATM berjalan untuk aku. Seandainya kamu tak punya uang aku takkan membutuhkanmu. Jadi, bekerjalah yang keras suamiku, karena istrimu ini sangat matre dan juga banyak maunya!"


Arland tersadar setelah mendengar itu dan merasa bersalah, akan tetapi ego yang begitu besar kembali menahannya dan membuatnya enggan minta maaf.


"Kali ini aku akan membiarkanmu dan memaafkan kesalahan mu yang pergi tanpa seizinku, tapi lain kali aku akan membunuhmu!"


"Coba saja kalau berani. Aku tidak takut!"


Dari tempatnya Kania melihat betapa bahagianya perempuan itu, suaminya bahkan tak pernah melepaskan tangan dan begitu posesif kepadanya, membuat Kania menjadi sangat iri. Menoleh pada Arland, suaminya sendiri bahkan tak menggandengnya dan tega-teganya membiarkan dirinya berjalan di belakang. Begitu miris, tapi apa boleh buat itulah yang dia miliki dan itulah nasibnya.


• • •


"Tuan, ini kopinya!" seru Citra begitu perhatian dan berani melakukannya bahkan ketika dihadapan Kania.


Arland tak menjawab, melainkan melihat ke arah Kania dahulu. Istrinya terlihat galak dan menatapnya dengan penuh ancaman. Untuk sesaat hal itu membuat Arland ingin menolak, tapi sesaat kemudian dia mengingat laporan perbelanjaan Kania yang sudah membeli jam tangan pria yang cukup mahal dan itu menggunakan kartunya. Hal itu pun kemudian membuat Arland memanas dan langsung menerima kopi dari Citra.


Namun baru saja mau meneguknya, Kania datang dan menghempaskan gelasnya.

__ADS_1


Bram!!


"Suamiku tidak minum kopi dan dia hanya akan meminum teh itu juga harus aku yang buat. Mulai sekarang perkerjaanmu hanya seputar rumah, untuk Mas Arland biar aku yang mengurusnya," jelas Kania dengan tegas.


"Tapi saya han--"


"Jangan membantah jika kamu masih ingin bekerja di sini!" ancam Kania.


"Apakah kamu belum puas setelah memecat karyawan ku dengan seenaknya di kantor. Di sini kamu mau memecat asisten rumah tangga juga?!" cibir Arland yang justru menjawab. "Dengar Kania, kamu tidak bisa semena-mena begitu, karena yang berhak dan boleh melakukannya hanya aku. Bahkan urusan kopi ku itu bukan urusan mu! Lagian aku juga bisa bosan jika minum teh terus, juga butuh kopi untuk bekerja," lanjut Arland membuat Kania serasa dipermalukan dihadapan Citra.


"Aku istrimu Mas," jawab Kania tak begitu saja mengalah.


"Istri maka lakukanlah tugasmu dengan baik sebagai istriku, tapi masalah kantor atau Citra itu bukan urusanmu. Ingat kamu bukan apa-apa bagiku!! Sadarlah semua yang bergelimang dan bisa kamu nikmati itu adalah hartaku! Setidaknya bersukurlah dengan cara mematuhi aku dan juga tidak mencoba untuk ikut campur seolah-olah kamu berhak atas diriku!!" terang Arland dengan tegas memperingatkan Kania padahal Citra masih ada di sana.


Membuat Kania rasanya ingin menangis saja, tapi kemudian dia berusaha untuk terlihat kuat.


"Baik jika itu maumu," jawab Kania dengan getir. Rupanya dia belum terbiasa untuk tegar dan masih saja cengeng.


Tak mau air matanya dilihat oleh Arland atau Citra, diapun menghindar dengan pergi secepatnya dari sana. Masuk ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya, kemudian menuju pancuran shower dan menyalakannya. Perempuan itu terduduk di bawahnya, membiarkan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya, kemudian menangis di sana untuk melampiaskan emosinya.


• • •


TBC

__ADS_1


__ADS_2