Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
49. Kecelakaan


__ADS_3

Ternyata Kania tidak pergi terlalu jauh. Dia masih di kota yang sama, tapi jarak dan akses masuk ke tempatnya cukup sulit. Dia mengontrak di tempat yang sederhana. Pemukiman warga yang mungkin rata-rata masyarakat di sana berpenghasilan menengah ke bawah. Untuk ke masuk ke sana hanya bisa melewati gang kecil dan tidak bisa di lalui mobil.


Namun Kania masih bersyukur, sebab setidaknya dia tak harus melihat wajah suaminya yang kejam dan juga tak pernah mengerti dirinya itu. Tidak mendengar bentakan atau kata kasar yang keluar dari mulut Arland dan membuatnya sakit hati.


"Mungkin ini yang terbaik untuk kita Mas Arland!" seru Kania yang saat ini berbaring di atas tempat tidurnya yang sederhana dan juga hanya bisa memuat dirinya sendiri.


Berbaring di sana seraya memeluk dan mencium salah satu kemeja milik suaminya. Ya, Kania memang sengaja membawanya, karena walaupun benci, tapi dia juga mencintai. Sulit meyakinkan hati untuk mendengar logika dan beginilah dia jadinya. Kenyataannya dia tidak bisa bahagia sepenuhnya. Hanya raga yang bisa lepas dari Arland, tapi jiwanya bahkan masih milik penuh suaminya.


"Mas Arland ...." Bibir Kania mulai getir mengucapkan itu, kedua bola matanya berkaca-kaca, dan tidak bisa dia pungkiri kalau dirinya saat ini merindukan suaminya yang kejam ini.


"Kenapa kamu tidak pernah bisa mempercayaiku dan lebih membela perempuan itu, apakah aku memang tidak pernah bisa penting untukmu walaupun aku sudah mengandung anakmu?!"


Akhirnya air mata Kania menetes karena tak bisa menahan perasaannya yang sesak. Ternyata apa yang dia lakukan sekarang tidaklah sepenuhnya benar. Kania pikir dia hanya menyiksa dirinya sendiri, tapi apa boleh buat semua sudah terlanjur, dan tak ada yang bisa di sesali.


❍ᴥ❍


Sementara itu Arland sudah dua hari dua malam terus mencari istrinya. Tak pernah bisa tidur selama empat puluh delapan jam tersebut, atau bahkan makan. Dia hanya terus minum dan mengonsumsi obat anti sakit kepala.


Pencarian Kania terbilang sulit karena nomor telepon istrinya itu mendadak tidak aktif. Ditambah kenyataan bahwa Arland tidak tahu menahu soal kehidupan lain istrinya, tidak tahu siapa temannya atau bahkan yang lainnya.


Sebagai seorang suami dia menyesal cuma tahu menyalahkan Kania dan bahkan kerap kali mengomelinya. Penyesalan datang, tapi mana mungkin itu bisa mengubah apapun.


"Ini semua salahku. Istriku sedang hamil, tapi aku masih terus saja menyiksa atau bahkan mengomelinya. Kania pasti terluka dan tak tahan, lalu meninggalkanku!" ujar Arland dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Dia bicara pada dirinya sendiri, dan kemudian merasa lebih sesak. Mendadak ingatan-ingatan perlakuannya pada Kania, muncul dalam kepalanya. Lalu seperti kaset rusak itu berulang kali terputar terus menerus dan mengganggunya.


Sampai kemudian kepalanya yang terasa pusing kian ngilu dan tak tertahankan. Kesadarannya menipis dan sesuatu yang tak bisa terelakkan pun terjadi.


Brak!


Arland yang setengah sadar dan masih mengemudi, tanpa sengaja menabrak. Hanya tabrakan ringan, di mana mobilnya menabrak truk yang sedang diam. Meski begitu mobilnya Arland rusak berat dan dirinya jatuh tak sadarkan diri.


❍ᴥ❍


Perasaan Kania mendadak tak enak dan juga tak bisa tenang. Dia setelah mencari kerja seharian merasa lelah, dan bermaksud untuk pulang ke kontrakan sederhananya saja. Namun di tepi jalan dia melihat keramaian, lalu karena penasaran Kania mendekat dan memeriksanya.


Deg!

__ADS_1


Mendadak debar jantungnya bergemuruh hebat dan membuat Kania mendadak kaku.


"Mas Arland!!"


Reflek Kania pun mendekat menerobos orang-orang dan menghampiri suaminya. Dia menangis dan mencoba membuat Arland sadar, namun dia tak bisa.


Tak lama ambulan tiba dan membawa suaminya ke rumah sakit. Kania mengikutinya dan terus menggenggam erat tangan suaminya sepanjang perjalanan.


"Tolong selamatkan suami saya dokter!" ujarnya serius saat, Arland akan dibawa untuk diperiksa.


Tak bisa berbuat banyak, Kania hanya bisa menunggu Arland selesai diperiksa sambil berdoa dan berharap suaminya segera sadar dan baik-baik saja.


❍ᴥ❍


Di sisi lain setelah sempat dihubungi Kania menggunakan telepon milik suaminya yang masih dalam kondisi utuh, keluarganya segera tiba dan datang ke rumah sakit.


Tiara mendahului yang lain lalu mendekati Kania masih tidak sadar akan kedatangan mereka. Mendekat lalu secara tak terduga Tiara menampar pipi adiknya itu.


Plak!


"Sudah membuat orang khawatir dengan tingkah kekanakanmu yang kabur-kaburan itu, sekarang kamu lihat kondisi suamimu, kau puas?!" tanya Tiara membentak.


Kania tak menjawab atau bahkan membalasnya. Merasa kalau yang kakaknya Tiara katakan ada benarnya, seandainya saja dia tidak pergi mungkin saja suaminya masih baik-baik saja dan tidak perlu mengalami nasib buruk seperti sekarang.


"Cukup!" teriak Arsyta yang lebih dahulu sigap menghentikan Tiara.


Bagaimanapun juga dia ingat kondisi Kania yang sedang hamil dan mungkin lebih kalut dari mereka. "Jangan berani-beraninya membentak menantuku, bagaimanapun juga walaupun Kania salah, bukan kau yang lebih berhak di sini, tapi aku ibunya Arland. Namun, aku saja tidak berani melakukan itu, tapi kau lancang sekali!"


"Tapi Tante, Kania sudah sangat keterlaluan dan dia pantas mendapatkan tampara--"


Plakk!


Arsyta segera menghentikan ucapan Tiara lewat tamparannya kemudian menatap Mayang sahabatnya. "Maafkan aku Mayang, tapi putrimu ini sungguh tidak sopan. Selain menampar menantuku dia berani-beraninya menghakimi Kania!"


"Tidak masalah, Mbak. Tiara memang harus dibegitukan supaya sadar dan tidak keterlaluan," jawab Mayang tak memihak siapapun.


Namun hal itu membuat Tiara begitu kecewa dan menatap ibunya dengan sesak. "Bu, aku melakukan hal yang tepat dengan memperingatkan dia!"

__ADS_1


"Niatmu memang baik Tiara, tapi Ibu tak menyangka kau berani-beraninya begitu pada Kania. Aku tahu dia sudah merebut Arland darimu dan dia baru saja membuat masalah dengan kabur-kaburan, tapi bukan berarti kau berhak ikut campur. Kamu hanya boleh memberi saran, Nak, terlepas dari orang lain mau mendengarkan, kamu tidak bisa main tampar begitu," jelas Mayang bijak dan menasehati putri angkatnya itu.


Sesungguhnya dia tak bermaksud membedakan keduanya. Antara anak kandung dan anak angkat, tapi mungkin tak dimengerti Tiara.


"Selama ini aku selalu saja menuruti Ibu, sampai bahkan dijodohkan dengan Arland dan bahkan masih diam meski Kania merebut tunanganku sendiri, tapi sekarang saat aku bicara dan menasehati adikku sendiri, kalian berdalih aku tidak berhak dan masih saja membelanya!" teriak Tiara sambil memegangi pipinya yang barusan ditampar Arsyta.


"Kalian keterlaluan, aku benci Ibu, aku benci kalian semua!!" lanjut Tiara marah lalu pergi dari sana begitu saja, sambil menyalahkan nasibnya yang baginya selalu dikucilkan terus.


"Tiara!!" teriak Mayang ibunya, namun anak itu tak mendengarkan lalu tetap pergi melanjutkan langkahnya.


"Maafkan dia, Mbak. Tiara memang sensitif dan lebih emosional dibandingkan Kania," ujar Mayang dengan menyesal karena ulah putri bungsunya yang merasa dirinyalah yang paling benar.


❍ᴥ❍


Setelahnya beberapa jam, ibunya pamit pulang. Kini tinggal Kania dan Arsyta ibu mertuanya.


Melihat bagaimana Kania mencemaskan Arland, walaupun sebetulnya kecewa, Arsyta cukup tersentuh. Dia pikir Kania sepertinya benar-benar mencintai anaknya dan urusan rumah tangga mereka terlepas dari apa yang sudah terjadi, Arsyta merasa tak pantas untuk ikut campur.


"Kamu dengar ucapan dokter beberapa waktu lalu? Kondisi Arland sudah stabil dan baik-baik saja. Kamu pulanglah, makan lalu beristirahat Kania," saran Arsyta menasehati.


"Tidak Ma, Kania tidak akan pergi sebelum Mas Arland sadarkan diri. Kania mau terus di sini dan menjaganya sampai pulih," jawab Kania keras kepala.


"Jangan begitu, kamu ini sedang hamil ingatlah. Setidaknya jika bukan untuk dirimu sendiri, pikirkan kesehatan janinmu," tegur Arsyta.


"Tapi Ma ...."


"Tidak ada tapi-tapian Kania. Jangan datang kemari sebelum kamu makan dan beristirahat dengan cukup. Sebentar, Mama akan panggilkan Alex untuk mengantarkanmu pulang!" lanjut Arsyta tak mau tahu dan segera menghubungi asisten pribadi anaknya itu untuk memastikan menantunya.


Tak punya pilihan Kania pun pasrah dan menurut, sementara itu Arsyta langsung membuang nafasnya kasar seraya bergumam dan mengungkapkan apa yang terjadi selama Kania kabur dan tidak di sisi Arland.


"Kamu dan Arland memang sama saja. Sama-sama keras kepala dan susah mendengarkan nasehat orang tua. Dia kecelakaan begini pasti karena mengantuk dan terlalu memaksakan diri mencarimu. Atau bahkan tidak makan selama dua hari ini. Kalau tidak, mana mungkin kondisinya seburuk ini, padahal kecelakaan yang dia alami tidaklah parah!"


Arsyta menghela nafas dan melanjutkan. "Anak-anak sekarang memang sulit sekali diberitahunya ...."


❍ᴥ❍


TBC

__ADS_1


__ADS_2