Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
15. Mengandung


__ADS_3

Berhari-hari berlalu, Kania mulai terbiasa dengan statusnya sebagai istri Arland. Itu bukan lagi masalah besar untuknya, bahkan dia juga terbiasa tinggal di gudang tanpa protes sama sekali.


Menjalankan rutinitasnya dengan baik, melayani suaminya dengan segala macam kebutuhan pria itu. Kania juga sudah mulai belajar memasak dengan Bi Surti.


"Lumayan," ujar Arland mengeluarkan suara setelah menikmati makan malam mereka.


Pria itu walaupun kejam ucapan dan perbuatannya, tapi ternyata bisa menghargai masakan Kania. Di meja makan sebenarnya ada menu yang banyak dan nikmat buatan Bi Surti, tapi entah apa yang dia pikiran dia malah mencicipi Ayam goreng sambalado buatan Kania.


Dia tidak marah kali ini, anehnya begitu walaupun rasanya cuma sedikit membaik dari kali pertama dia mencicipi masakan Kania. Dia bahkan menghabiskannya, walaupun setelahnya tetap saja tak ada rasa puas di wajahnya, tapi setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang dia membuangnya seperti beberapa waktu lalu.


"Cepat selesaikan makananmu dan pergilah ke ruang kerjaku. Bawakan teh hangat untukku. Aku tunggu di sana," ujar Arland sambil beranjak.


Beberapa menit kemudian, Kania yang sudah pasrah dan tak mau ribut pun menurut.


Rupanya Arland di sana ingin bicara serius dengannya dan seperti biasa memperingatkan tentang pernikahan mereka yang bukan main-main untuknya, walaupun dia suka mempermainkan Kania.


Cukup kesal dengan hal itu dan Kania geram, tapi lagi-lagi diapun cuma pasrah.


"Ambil ini dan kenakan besok, ikut denganku ke acara pesta pertunangan temanku. Jangan sampai terlambat dan juga awas jika sampai kamu membuatku malu!" tegas Arland memberitahu sekaligus memperingatkan.


Namun tak hanya memberikan gaun pesta sepaket dengan aksesoris dan sepatunya, Arland juga memberikan kartu tanpa limitnya pada Kania dan hal itulah yang kemudian membuat Kania mengerutkan dahi.


"Apalagi yang kamu tunggu, ambillah. Itu pantas untukmu dan kamu berhak menggunakannya," jelas Arland yang seolah bisa membaca pikiran Kania.


"Tapi aku tidak membutuhkannya dan aku masih punya uang sendiri," jawab Kania menolak dan menggelengkan kepala.


"Aku tak perduli itu dan aku tak mau tahu kamu harus mengambilnya!" tegas Arland sambil memaksakan kehendaknya. "Dan oh, ya. Aku juga tak mau tahu, kamu juga harus menggunakannya terlepas dari kamu butuh atau tidak. Jika kamu berani membantah dan selama sebulan atau seminggu tidak ada laporan pengeluaran, maka aku takkan diam. Aku akan memberimu perhitungan!!" lanjut Arland dengan penuh peringatan.


Kania meremas jari jemarinya, dia bingung dengan tujuan suaminya melakukan itu. Untuk golongan pemaksa dan banyak maunya, apakah wajar Arland tak sungkan menafkahinya dengan royal. Bagi Kania selain aneh itu terasa berlebihan.


'Apa aku pake ini saja untuk kabur dan pergi sejauh-jauhnya dari pria ini?' Hal lain pun terpikirkan Kania setelah memikirkan maksud suaminya itu.


Perempuan itu langsung geleng-geleng kepala. 'Tidak Kania. Jangan melakukan itu, walaupun ini sebenarnya tak salah menjadi milikmu, tapi hubungan paksa kalian tak seharusnya kamu mengambilnya. Cukup HP mahal itu saja yang kamu ambil dan itu sebagai ganti rugi sudah merusak HP barumu!' tekan Kania pada dirinya sendiri sambil membatin.


"Ada apa? Kau masih menolak, kau ingin aku mar--"


Kania segera geleng kepala dan segera menerima kartu itu dari Arland. 'Baiklah aku simpan saja dulu. Biar pria kejam ini tenang dan marah!' batin Kania memutuskan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku sudah memberikan hakmu, sekarang saatnya kamu menjalankan kewajibanmu!"


➡➡➡


Malam cukup larut ketika Arland sudah pulas. Kania bangkit dan memakai pakaiannya. Inilah satu-satunya beban terberatnya, dia sebetulnya tak mau dan ingin menolak.


Namun jika seperti itu rasanya percuma saja dan Kania malah harus berakhir dengan buruk, karena Arland mana mungkin melepaskannya. Ditambah alasan dia yang sekarang harus pergi kerja setiap harinya, mau tak mau Kania pun menurut walaupun dia tertekan menjalani kewajibannya sebagai istri itu.


Sampai di gudang dia mengambil handuk dan memutuskan mandi di kamar mandi belakang yang biasanya digunakan oleh para pembantu.


Setelah selesai barulah dia bisa pergi tidur di dalam gudang tersebut dengan selimut seadanya.


➡➡➡


"Pagi Tuan, silahkan di nikmati tehnya. Saya sudah menyiapkan sarapan dan akan mengambilkannya!" seru seseorang dan tentu saja itu bukan Bi Surti, karena dia tak secentil itu.


Dia adalah Citra asisten rumah tangga yang juga mengurus rumahnya Arland. Baru keliatan sekarang karena dia baru kembali dari kampungnya. Satu bulan lalu, minta izin pulang untuk mengurus keluarganya yang sakit dikampung, tapi karena sekarang sudah baik dia kembali ke kota untuk bekerja kembali di rumah Arland.


"Kau sudah kembali, bagaimana kondisi adikmu?" tanya Arland yang sebetulnya tak perduli, dia hanya basabasi karena merasa itu perlu, mengingat bagaimana kinerja Citra ini sangat baik di rumahnya dan selama ini pula tak pernah neko-neko.


"Dia sudah sehat, Tuan. Terimakasih sudah mengizinkan saya pulang satu bulan lalu dan bahkan memberikan uang untuk berobat, Tuan. Saya berjanji akan bekerja lebih giat dan keras lagi!" seru Citra dengan bersungguh-sungguh.


Selang lima menit kemudian, Kania muncul daripada arah bagian belakang rumah dan segera menghampiri meja makan. Citra yang di sana langsung menatap heran kehadiran Kania yang menurutnya asing.


Dia sebelumnya memang tak terlalu tahu menahu soal pernikahan Arland, dan kalau pun soal pasangan, wanita itu pun hanya tahu kalau tuanya sudah bertunangan dan itupun tak dia kenal karena Arland tak pernah membawanya ke rumah. Bahkan soal Lyra, pria itupun tak pernah membawanya ke rumah utama dan selama ini Citra pun tak tahu soal Lyra.


Wajar saja, dia yang hanya asisten rumah tangga tak berhak mengetahui terlalu banyak tentang tuannya.


Tak mau berlama-lama dengan rasa penasarannya, Citra segera pamit dengan sopan ingin kebelakang pada Arland. Dia segera menghampiri Bi Surti di kamarnya.


"Siapa perempuan itu Bi Sur? Kenapa dia bisa-bisanya ada di rumah ini, apakah dia itu tunangannya Tuan?!" tanya Citra langsung menodong rekan kerjanya yang sudah tua itu.


"Oh, Nyonya Kania maksud kamu, Cit?" tanya Bi Surti. "Dia istrinya Tuan, Nyonya di rumah ini sekarang."


Citra menganggukkan kepalanya paham. 'Sial. Baru ditinggal satu bulan, Tuan sudah ada pawangnya saja. Kalau saja adikku tak sakit waktu itu, aku pasti bisa menghalanginya. Namun, baiklah. Walaupun begini aku juga takkan diam saja. Suaminya orang masih bisa menjadi suaminya kita juga asal ada usaha!' batin Citra memikirkan.


Dia sebenarnya memang menyimpan rasa pada tuannya Arland. Pria tampan, menawan, dan beruang itu ternyata sudah membuat pembantunya sendiri jatuh hati tanpa disadarinya.

__ADS_1


➡➡➡


"Beberapa hari belakangan ini, kamu sepertinya suka bangun cepat. Namun, aku perhatikan kamu semakin lemas setiap harinya. Apa aku terlalu memforsir tenagamu ?" tanya Arland sambil menatap Kania.


Wanitanya itu bahkan bukan hanya keliatan lemas, tapi mata pandanya juga semakin jelas setiap harinya.


"Kenapa masih bertanya, bukannya kamu sendiri tahu jawabannya?!" balas Kania tanpa menatap Arland.


"Baiklah kita ganti pembahasannya," ujar Arland tak mau tahu lagi soal pertanyaannya, toh dia sendiri penyebabnya. "Anggap saja kamu memang kurang enak badan sekarang, dan itu karena memang aku yang terlalu memforsir tenagamu, tapi Kania aku takkan berhenti!"


Kania segera mengangkat wajahnya dan menatap tajam suaminya. "Aku tahu itu, tidak usah diperjelas. Laki-laki kejam sepertimu memang tak punya hati dan belas kasihan!"


Arland segera murka dan memukul meja, dia tak bisa menerima kalau Kania berani seperti itu kepadanya. Dia benci ucapan ketus dan cibiran istrinya.


Brakk!!


Tak puas memukul mejan, dia bahkan segera menghempaskan semua sarapan di sana dengan marah.


"Ya, aku memang kejam dan tidak punya hati, lalu kau mau apa?!" geram Arland sambil bangkit dan beranjak mendekati sisi Kania.


Dengan cepat sudah mencengkram rahang istrinya dan menatapnya tajam. "Tapi ibuku ingin punya cucu secepatnya dan kau harus segera hamil. Jadi siang ini pergilah ke dokter kandungan dan periksakan diri!!" perintah Arland dengan tak mau dibantah.


Setelah mengatakan itu, dia tak bernafsu makan lagi. Sehingga diapun pergi begitu saja.


Sementara Kania segera mengusap bagian wajahnya yang sakit karena sudah di cengkraman, tapi sepertinya bukan hanya itu yang membuatnya sakit.


Tak lama setelah kepergian Arland, Kania terpikirkan ucapan suaminya. Sebelum sampai di tempat kerja, dia sempat mampir ke apotek dan memastikannya di kamar mandi yang ada di kantor.


"Tidak mungkin. Kenapa aku hamil sekarang!!" serunya menatap nanar dua garis merah di pendeteksi kehamilan.


Mengusap wajahnya kasar, Kania segera menitihkan air mata. Rasanya setelah yang sudah dia alami, fakta itulah yang lebih dan lebih menyakitkan dirinya lagi. Jujur saja, saat ini dia benar-benar tak bisa menerima kenyataan itu.


Namun walaupun begitu, diapun tak bisa terisak di sana. Ingat dimana dirinya berada, kamar mandi kantor yang merupakan tempat umum yang kebetulannya sepi karena masih pagi. Dia segera mengusap air matanya, mencuci wajahnya, sebelum kemudian pergi dari sana setelah menyimpan testpack miliknya.


Kania langsung ke meja kerjanya, merenung di sana dengan cukup lama. Sampai ketua divisinya datang dan menegurnya.


"Jika kau masih ingin bekerja disini, kerjakan tugasmu secepatnya. Ckckck, masih anak baru, tapi sudah keliatan malasnya!"

__ADS_1


➡➡➡


TBC


__ADS_2