Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Bertemu Mantan


__ADS_3

Selesai makan bersama, tiba-tiba Arland bangkit dan pergi ke mejanya. Dia mengambil paper bag yang ada di sana dan membawanya mendekat pada Kania. Mengeluarkan kotak dari sana dan membuat Kania heran menatapnya.


"Apa itu?" tanya Kania kepo.


"Lihat sendiri," jawab Arland singkat sambil menyerahkannya pada Kania.


Wanita itu membukanya, dan terkejut ketika menemukan satu set anting berlian di sana. Kania sontak menatap Arland meminta penjelasan, tapi bukannya bicara suaminya itu malah menghampirinya. Mengambil antingnya dan membantu mengenakannya.


"Kamu cantik memakainya!" seru Arland sambil menatap kagum Kania.


"Tapi ini untuk siapa?" tanya Kania yang tak mau besar kepala. Berpikir untuknya, tapi ternyata dia cuma diminta untuk mencoba.


"Untukmu, memangnya untuk siapa lagi. Kamu pikir aku laki-laki macam apa sampai berani berpikir kalau mungkin saja itu bukan untukmu," jelas Arland dengan sedikit mengomel.


"Siapa tahu saja, siapa tahu saja selama ini kamu kan sering beliin perempuan lain," sindir Kania yang sama sekali tak diperdulikan oleh Arland.


• • •


Hari-hari berikutnya, kehidupan pernikahan Arland dan Kania semakin harmonis saja. Walaupun beberapa kali keduanya masih sering adu debat, tapi itu bukanlah suatu masalah melainkan sesuatu yang membuat mereka semakin dekat.


"Besok Mama ulang tahun, kamu tidak usah pergi kerja hari ini. Pergilah belanja dan belilah sebuah hadiah dari kita untuk mama," jelas Arland ketika saat ini Kania sedang membantu memakaikan dasi untuknya.


"Kenapa kamu tidak ikut, aku tak mau pergi sendiri. Lagian aku pikir mama juga pasti ingin hadiah pilihan kamu," kata Kania menyarankan.


Arland menggelengkan kepala, lalu mengusap pipi Kania dengan lembut. "Aku tidak bisa. Aku rapat dengan klien penting hari ini dan itu tidak bisa diwakilkan," jelas Arland.


Kania langsung menepis tangan Arland dari pipinya, kemudian mendorong suaminya menjauh darinya.


"Pergilah. Biarkan saja perempuan hamil ini kesusahan sendiri dan juga perempuan tua yang sudah melahirkan mu itu menderita karena anaknya sendiri lebih mementingkan pekerjaan daripada mamanya sendiri," cibir Kania menyindir tajam.


Arland tertohok, tapi kemudian dia benar-benar tak berdaya untuk mengabulkan permintaan istrinya. Ibu dan istrinya memang penting, tapi pekerjaannya memang sedang benar-benar tak bisa ditinggalkan.

__ADS_1


• • •


Kania menatap bosan barang belanjaannya, tidak berminat pada sesuatu yang dibawanya itu. Walaupun mahal, tapi diapun yakin ibu mertuanya takkan merasa spesial karena bahkan Kania sendiri tak berselera memilihnya dan Arland tidak ikut dengannya.


Kehamilan membuatnya cepat lelah dan wanita itupun memutuskan untuk berhenti dan duduk di resto yang ada di mall tersebut, sekedar untuk istirahat sebentar, serta makan siang.


"Wanita hamil yang malang, dimana suamimu? Apakah dia sudah bosan atau tak sudi sekedar untuk menemanimu!" ujar seseorang membuat Kania menoleh, dan terkejut menemukan ternyata Keenanlah yang bicara.


"Kau disini?" jawab Kania terkejut menatap tak menyangka akan bertemu mantannya di sana.


"Wah-wah, tentu saja Kania. Kenapa harus terkejut. Mall ini kan bukan milik suamimu yang super kaya itu, jadi tak masalah bukan jika aku di sini," ujar Keenan sambil kemudian dengan lancangnya mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Kania tanpa izin.


"Pergilah dan jangan duduk di sini, aku tak mau bicara denganmu!" tegas Kania tak mau basabasi.


Sisa cinta itu sudah hilang sepenuhnya, berganti dengan perasaan yang mulai perlahan untuk menerima suaminya sendiri. Setelah dihina bahkan direndahkan dihadapan umum dengan segala tuduhan, bagaimana mungkin Kania masih bisa mempertahankan perasaannya. Kini bahkan dia sudah tak merasa bersalah karena sudah meninggalkan Keenan, karena sekarang Kania rasa itulah yang seharusnya terjadi.


Untuk seseorang yang tidak percaya pada pasangannya dan mudah berpaling, bagaimana mungkin masih ada ruang di hati untuk seseorang seperti itu. Kania sadar itu hanya akan menyakiti diri sendiri.


"Aku benar-benar tak ingin bicara apapun lagi denganmu Keenan, mengertilah!" seru Kania mulai jengah, tapi sepertinya Keenan tak mau mengertinya.


"Dasar sombong. Baru juga jadi perebut suami kakakmu sendiri dan merangkap jadi jala-ng penghasil keturunan untuk si bajing-an Arland. Kamu sudah sangat angkuh begini!!" geram Keenan menghina.


Membuat Kania tak tahan dan segera berdiri. "Pergi!!" ujar Kania tak mau berkata halus lagi.


Masih membangkang, Keenan terus di sana sampai memancing emosi Kania dan menarik perhatian orang yang juga makan di sana beserta sekuriti.


Byurr!!


Air di gelas minum Kania segera meluncur ke atas kepala Keenan, dan dalam waktu yang sejenak sebuah tamparan keras mendarat di pipinya sebagai balasan dari Keenan.


"Itu akibatnya kau berani menghinaku!!" geram Keenan, sementara Kania masih memegang pipinya yang barusan di tampar.

__ADS_1


Kali ini dia jadi bersyukur meninggalkan Keenan dan menurutnya itu adalah keberuntungan. Laki-laki yang bersikap manis ternyata tak sebaik aslinya dan lihatlah Keenan dia bahkan menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Seperti buah kedondong, mulus diluar, tapi ternyata berduri di dalam. Padahal dia anggap Keenan adalah pria baik hati selama ini.


"Dasa--"


"Heii, bajing-an pergi kau dari sini. Aku lihat kau memang cari-cari masalah sejak tadi pada Kakak ini!!" teriak seseorang menghentikan Keenan yang hendak menganiaya Kania kembali dengan tamparannya.


Dia seorang gadis muda dan terlihat agak tomboy dari penampilannya, atau bahkan dari suaranya.


"Siapa kamu gadis tengil, jangan ikut campur. Ini urusan kami!!" seru Keenan geram.


Tapi bukannya menjawab, gadis muda itu malah berteriak dan memanggil sekuriti yang kemudian mengusir Keenan dari sana. Membuat Kania sangat berterima kasih kepadanya.


"Terimakasih sudah mengusir laki-laki itu dari sini," ungkap Kania tulus.


"Tidak masalah Kak, tapi seharusnya jika tahu dia sudah mengganggu mu sejak awal, lain kali langsung panggillah dengan cepat petugas keamanan disini. Agar lain kali kamu tidak mendapatkan kekerasan seperti itu lagi. Ah, ya dan melihat bagaimana kakak sedang hamil sebaiknya di rumah saja dan lain kali jangan berkeliaran sendiri," nasehat gadis itu dengan bijak. Ucapannya jauh lebih dewasa daripada usianya.


Kania menganggukkan kepala saja dan menyetujuinya, karena merasa tak ada yang salah dengan hal itu.


"Baiklah dimana rumah, Kakak. Biar aku mengantarkanmu, siapa tahu saja lelaki penguntit tadi mengikuti Kakak," ujar gadis itu.


"Tidak perlu k--"


"Sisi. Ah, ya namaku Sisi, Kak!"


"Ah, iya Sisi. Tidak perlu. Aku sebenarnya dijemput supirku nanti dan perkenalkan namaku Kania."


Mereka pun menjadi dekat dalam seketika, dan siang itu mereka saling menemani untuk belanja yang lain. Kania mengajak Sisi untuk berbelanja keperluan lain untuk hadiah ulang tahun ibu mertuanya. Sementara Sisi juga mengajaknya belanja oleh-oleh untuk ibunya. Rupanya gadis itu baru pulang dari tempatnya merantau untuk sekolahnya diluar kota, tak sempat beli apapun disana, itulah kenapa dia ke mall untuk membeli sesuatu untuk ibunya. Sebab merasa tak enak jika pulang dengan tangan kosong.


• • •


TBC

__ADS_1


__ADS_2