
Kania langsung ke kamarnya begitu sampai, langsung membaringkan diri ke kasur dengan keadaan tengkurap dan menangis di bantal. Jujur saja, apapun yang sudah terjadi antara dia dengan Keenan, tapi rasa sesak masih saja sangat kentara ketika melihatnya dengan perempuan lain. Apalagi itu yang tak Kania sangka adalah sahabatnya sendiri Karin.
Air matanya merembes deras menangisi bahwa mungkin dia memang tak ada artinya lagi bagi Keenan. Untuk beberapa menit Kania dalam keadaan yang sama, sampai kemudian dia tiba-tiba bangkit dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Langsung menatap pantulan wajahnya di cermin dan mendesah kasar. "Tidak, aku nggak bisa begini terus. Keenan sudah melupakanmu Kania, dia bisa melakukan itu secepat ini, lalu kenapa kamu tidak?"
Kania geleng-geleng kepala kemudian mencuci wajahnya dan mendesah kasar kembali. "Aku juga harus bisa melupakannya, semuanya dan apapun tentangnya!" putus Kania dengan tegas pada dirinya sendiri sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Mulai saat ini pikirannya terbuka untuk mulai menerima semua yang terjadi dan merelakan yang sudah pergi. Bagaimanapun dia sudah berpisah dengan Keenan dan sudah menjadi istrinya Arland. Mereka bahkan sebentar lagi akan mempunyai anak.
Teringat kembali pada perkataan suaminya, Arland yang pernah menegaskan bahwa dia takkan melepaskan Kania dan itu berarti tak akan ada perceraian diantara mereka.
Kania memikirkannya dan membulatkan keputusan, kemudian dia masuk ke ruang shower dan selang beberapa menit kemudian terdengar guyuran air dari balik sana. Sepertinya Kania sedang mandi.
➡➡➡
Sementara itu, Arland baru pulang, langsung menghampiri sopir pribadinya yang menjemput istrinya dua jam lalu, sebelum kini dia sudah sampai di rumah.
"Nyonya pergi ke toko emas, ATM dan terakhir supermarket, Tuan. Dia habis berbelanja kebutuhan dapur dan Bi Surti sudah membereskan belanjaannya," jelas sopir itu memberitahu.
Arland yang paham segera mengangguk dan naik ke atas untuk melakukan rutinitas biasanya setelah pulang kerja. Mandi dan menyegarkan diri.
➡➡➡
Di dapur Citra yang menyadari kepulangan Arland, tersenyum dan bergegas dengan bersemangat untuk membuatkan sesuatu untuk majikannya itu.
Kania datang tepat setelah kopi buatan Citra selesai. Dia terlihat acuh dan membuat sesuatu. Citra lihat Nyonya itu seperti akan menyeduh susu, jadi dia pikir itu untuk Nyonyanya sendiri, jadi Citra tak khawatir dan bergegas segera mengantarkan kopinya ke ruang kerja tuannya.
Sementara Kania yang masih di dapur masih tetap fokus, dan cukup telaten membuatkan susu diseduh air teh di sana.
"Nyonya mau membuatkan minuman untuk Tuan, Ya?" sapa Bi Sutri dengan hangat walaupun terdengar cuma basabasi.
Kania mengangguk dan untuk pertama kalinya, Bi Surti melihat Nyonya itu tersenyum begitu tulusnya sambil mengangguk.
"Dia suka teh, tapi aku pikir Mas Arland juga butuh susu untuk kesehatannya," jelas Kania tanpa beban sama sekali.
__ADS_1
Biasanya jika ditanya demikian, perempuan itu pasti terbebani dan keliatan keberatan melakukan kegiatannya. Namun kali Bi Surti benar-benar merasakan kalau Kania sepertinya sudah menerima dan mulai menikmati perannya sebagai istri.
Perempuan paruh baya itu pun mengangguk paham, ikut bahagia dan juga lega dengan perasaan yang dirasakan nyonyanya yang sudah terlihat membaik itu.
"Bagaimana dengan Nyonya, susu hamilnya sudah di minum dan juga vitaminnya?" tanya Bi Surti perhatian dan dia terlihat tulus terlihat dari sorot matanya.
"Nanti aja, Bi. Abis makan malam sama Mas Arland," jawab Kania dengan segera. "Oh, ya Bi, aku ke atas dulu ya, dan nggak usah masak makan malam hari ini, soalnya aku mau keluar sama Mas Arland," kata Kania memberitahu sambil kemudian beranjak.
➡➡➡
"Tuan. Saya sudah menyiapkan kopi untuk Tuan di ruang kerjanya Tuan," kata Citra memberitahu.
Kania baru sampai di sana, tapi dia mendengarnya. Mendengar itu untuk pertama kalinya Kania risih dan tak suka dengan Citra. Kania merasa dia agak berlebihan.
Namun, kemudian dia diam saja, memilih untuk mengabaikannya dan memanggil suaminya sebelum menjawab ucapan Citra.
"Mas minum susumu, nih aku udah buatkan," kata Kania langsung memonopoli Arland.
Suaminya Arland langsung mendekatinya dan mengabaikan Citra, sehingga terlihat dari sorot mata Citra tampak kesal, tapi Kania menyadarinya.
Kania melirik sinis. 'Sepertinya perempuan ini mempunyai rasa pada Mas Arland. Aku tak bisa biarkan, cukup pacarku saja yang lepas, suami jangan sampai!' tegas Kania pada dirinya sendiri tanpa sendiri.
"Ayo Mas diminum!" kata Kania sedikit memaksa. "Atau kamu mau susu murni aja, langsung da-dari tempatnya?!" tawar Kania cukup berani.
Dia sebetulnya luar biasa malu mengatakannya, tapi memaksakan diri untuk melihat reaksi Citra, dan benar saja perempuan itu semakin memperlihatkan kegeramannya.
Namun beda dengan Arland yang justru memperlihatkan seringai anehnya. "Kalau begitu sih, aku maunya yang alami saja. Soalnya itu lebih se--"
Kania yang mendengar ucapan suaminya mulai melenceng segera menutup mulut suaminya dengan menyodorkan gelas susunya, tepat di bibir Arland.
"Minum sekarang Mas, aku udah capek berdiri nih dan oh, ya, jangan lupa untuk tidak minum kopi lagi. Ingat kamu udah yang cocok lagi sama kopi!" seru Kania sambil memaksa Arland minum susunya.
Suaminya itupun menurut dan menenggak habis. Kemudian menyerahkan gelas kosongnya pada Citra.
"Kembalikan ke dapur dan oh ya, jangan berani-beraninya naik ke atas sini tanpa adanya istriku di sini!" ujar Arland memperingatkan.
__ADS_1
Kania cukup salut dengan ketegasan suaminya itu dan cukup kagum. Sementara Citra sudah pasti panas dingin dan tak terima.
Selain kecewa dengan kopinya yang tak mungkin diminum, dia kini malah di usir secara terang-terangan oleh Arland. Citra pun turun dengan kecewa.
Sementara itu, Arland mulai menggunakan kesempatan berdua untuk menggoda Kania. Ketika mereka masuk ke kamar dia langsung membuka pakaiannya entah karena apa.
"Bagaimana dengan susu murninya, apakah aku bisa mendapatnya sekarang?" tanya Arland sambil menyeringai membuat Kania malu saja.
"Apanya yang susu murni, apa Mas pikir tadi itu bukan susu murni, susu buatan gitu?" tanya Kania gugup dan mengelak.
"Ya, memangnya itu buatan pabrik," jawab Arland tak mau kalah.
"Enak aja buatan pabrik, kalo sampe sapi yang punya susu itu dengar kamu ngomong begitu Mas, habis kamu ditendang pake buntutnya!" jawab Kania dengan cerdik mendapatkan pengalihan.
Arland jadi berdecak dan Kania tersenyum menang mendengar itu.
"Ternyata kamu mesum sekali Mas, baru dibilang begitu udah kepancing mikir yang enggak-enggak," komentar Kania dengan berani dan sedikit mengejek.
Perempuan itu bicara dengan mudahnya, seolah sudah lupa bagaimana kasarnya suaminya sebelum dia hamil. Namun memangnya apa salahnya juga, mengingat Arland pun tak mungkin kasar kepadanya saat ini.
"Kalau tidak mesum kamu tidak akan hamil," jawab Arland dengan mudahnya dan terlihat tanpa beban saat mengucapkannya.
Anehnya Kania yang mendengarnya justru yang merasa risih dan tak enak dengan ucapan suaminya itu.
"Lagian enak juga dan kamu walaupun ku paksa akhirnya ketagihan juga!" seru Arland melanjutkan membuat Kania semakin merasa risih saja.
"Kita makan di luar, ya, Mas. Aku lagi ingin makan steak malam ini," kata Kania mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh, aku pikir ingin makan aku," goda Arland sambil tersenyum aneh dan menaikturunkan alisnya.
Arland pikir sepertinya menggoda Kania cukup mengasikkan dan mungkin ini akan menjadi kegiatan favoritnya mulai sekarang.
➡➡➡
TBC
__ADS_1