Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Tamat


__ADS_3

"Bajing-an itu ingin melakukan sesuatu pada istriku. Lakukan sesuatu dan halangi dia!" tegas Arland yang tidak bodoh dengan maksud Keenan mantan kekasih istrinya itu.


Arland cukup tahu apa maksudnya menikah dengan Tiara. Sudah pasti bukan karena sama-sama suka, tapi pasti merencanakan sesuatu. Arland yang curiga dan menyelidikinya. Laporan yang diberikan anak buahnya cukup menyimpulkan segalanya dan dugaannya adalah kebenarannya.


"Ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Axel serius.


Arland mengangguk dan menatapnya juga dengan serius. "Aku mau kamu membatalkan kerja sama kita dengan perusahaannya. Tarik saham kita dan bila perlu lakukan sedikit permainan kotor untuk memberinya perhitungan!"


Alex mengangguk dan tersenyum licik. Lalu dengan senang hati melakukan permintaan boss-nya. Dia bersemangat karena setelah ini dia pasti mendapatkan bonus yang besar.


"Baiklah Pak. Saya akan melakukan perintah Anda dengan sebaik mungkin!" jawab Alex setuju.


❍ᴥ❍


Satu bulan kemudian.


Brak!!


"Apa-apaan ini. Mengapa mereka seenaknya dan bahkan menuntut perusahaan kita ke jalur hukum. Membatalkan kontrak, kecurangan, dan menyelundupkan dana? Bagaimana mungkin, ini mustahil. Perusahaan kita tidak melakukannya?!" geram Keenan mengamuk.


Tiara datang di waktu yang tidak tepat dan alhasil dia mendapatkan amukan suaminya. Kekerasan dalam rumah tangga tak terelakkan. Hal itu pun membuat Keenan semakin mempermudah jalan Keenan masuk penjara.


Tiara trauma dan Karin perempuan yang pernah menjadi sahabatnya Kania, kini hidup perempuan itu tak jelas. Hamil di luar nikah, dicoret dari daftar keluarga dan menderita karena harus hidup dalam kemiskinan.


Sementara itu dari hari-kehari Arland semakin menunjukkan perasaan cintanya pada Kania. Kania yang pernah meninggalkan dirinya menyisakan trauma dan membuatnya tak berani macam-macam. Selain cinta, tak ada lagi yang bisa dia berikan.

__ADS_1


Sampai tibalah waktu persalinan, pria itu begitu gelisah dan tak bisa tenang walau sedetikpun saat menemani Kania melahirkan anaknya.


Saat si kecil sudah lahir ke dunia, betapa bergemuruhnya perasaan Arland. Perasaannya bercampur aduk, tapi rasa bahagia lebih mendominasi. Suasana penuh haru menyelimuti. Semua orang datang untuk melihat bayi mungil yang baru lahir itu.


Barulah setelah puas melihat si kecil semua anggota keluarga pamit pulang menyisakan Arland, Kania dan anak mereka bersama. Mereka bercengkrama dan mengobrol dengan hangat.


Beberapa hari kemudian Kania sudah boleh pulang dan saat ini mereka sudah di rumah. Anak mereka lumayan anteng dan jarang rewel. Sehingga hal itu pun memudahkan Arland dan Kania menjalani peran mereka sebagai orang tua baru.


"Huhh, aku yang capek hamil dan susah payah melahirkan dia, tapi kok dominan mirip kamu Mas?" tanya Kania sedikit tak terima dengan fakta yang dia katakan.


"Yah, dia kan anak aku, Sayang!" jawab Arland membanggakan diri.


"Tapi anak aku juga, Mas. Kenapa gitu nggak ada miripnya sama aku?" tanya Kania lagi.


"Yailah. Pas kita buat dia, aku yang paling aktif, kamu cuma diam aja. Wajar dong kalau anak kita mirip aku," jelas Arland bercanda.


"Ada, mau dipraktikkan?!" tantang Arland membuat Kania bersemu merah menahan malu.


"Tapi jangan sekarang, tunggu kamu selesai dulu. Nanti kita sekalian balas dendam!" ceplos Arland tanpa babibu sama sekali. Dia membahas sesuatu yang cukup privat, tapi tak ada canggungnya sama sekali.


Jangan tanya bagaimana Kania sekarang. Dia bahkan sudah seperti kepiting rebus yang memerah.


"Kamu kalau begini, masih sekali!" puji Arland sambil kemudian mengusap pipi istrinya.


"Udah deh, jangan mulai lagi. Godaan Mas udah nggak mempan!"

__ADS_1


"Aku tidak menggoda, tapi mengatakan fakta sayang!"


"Terserah Mas aja!"


❍ᴥ❍


Sore hari, ketika baru saja Kania selesai memandikan si kecil. Arland pulang kerja dan langsung menghampiri keduanya.


Dulu saat masih lajang, dia tak mengerti mengapa lelah bisa hilang saat pulang ke rumah, padahal sudah bekerja keras seharian. Namun, sekarang dia memahaminya dan bahkan merasakannya sendiri.


Melihat istrinya tersenyum saat menyadari kehadirannya, lelah yang tadinya ada beneran menguap hilang entah kemana.


"Mas capek ya, mau aku buatkan sesuatu dulu?" tanya Kania perhatian.


Arland mengangguk setuju dan Kania menyerahkan si kecil pada Arland, supaya dia bisa ke dapur. Namun tiba-tiba saja Arland mencegatnya dan menahan pergelangan tangannya.


"Bukan minuman, tapi ini--" ujar Arland sambil menyodorkan pipinya pada Kania.


Namun bukannya pipi, Kania jahil malah turun sedikit ke bawah lalu mengecupnya.


"Mulai nakal kamu ya?!" ujar Arland langsung memelototi istrinya, tapi Kania tak takut dan malah terkekeh geli.


"Udah, ah. Jangan macam-macam lagi. Aku buatkan teh, dan siapkan air hangat untukmu Mas. Itu yang sekarang kamu butuhkan!" seru Kania yang kemudian langsung kabur dan melakukan ucapannya.


Delapan bulan kemudian mereka liburan dan menghabiskan waktu bertiga bersama anak mereka. Tak ada jaminan takkan ada masalah selanjutnya, tapi sejak Kania pernah kabur dan kembali. Arland tak pernah lagi memperlihatkan sikap kasarnya dan Kania membalas dengan ketulusannya.

__ADS_1


❍ᴥ❍


Tamat


__ADS_2