
Blamm!!
Brakkk!
Citra melempar benda apapun yang bisa dijangkau olehnya. Membuangnya dengan marah dan juga emosi yang sangat besar. Dia sangat geram saat ini, membenci Kania sudah seperti mendarah daging.
"Sial-an!! Dasar perempuan breng-sek, tak tahu diuntung. Murah-an!! Cih, sukanya mencari muka di hadapan Tuan Arland. Dia baru di rumah ini, tapi sudah bersikap kurang ajar dan lihat saja tatapannya, berani sekali memperingatkan aku.
Dia pikir dia itu siapa? Baru juga menjadi istri dan hamil anak tuan Arland, perempuan jahanam itu sudah belagu! Keterlaluan!!" geram Citra sambil mengepalkan tangan.
Bram!! Dia melemparkan benda lagi, tapi kali ini adalah body lotion miliknya sendiri, menghantam satu-satunya kaca di kamarnya sebagai asisten rumah tangga. Kacanya pecah sudah pasti, tapi sialnya salah satu pecahannya malah memecah mengenai kakinya.
"Ssstt ... sakit!" ujarnya menjerit sembari menurunkan pandangan dan menemukan kakinya berdarah.
Citra pun mundur dan terduduk di kasurnya. Langsung memeriksa kakinya dan lebih meringis kesakitan lagi ketika berusaha menyingkirkan pecahan kaca itu dari kakinya.
"Aku harus segera bertindak, supaya perempuan jahanam itu tak kelamaan menikmati hidup indahnya. Sepertinya aku harus mulai menjebak perempuan tua yang tolol itu mulai sekarang!" serunya melanjutkan dengan penuh ambisi yang besar.
➡➡➡
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Arland saat memperhatikan istrinya makan.
Kalau dipikir-pikir, sejak hari pertama mereka tinggal seatap nafsu makan Kania memang cukup besar melihat dari postur tubuhnya yang terbilang kurus dan juga mungil. Memang saat ini dia tak sebrutal pertama kali mereka makan bersama, tapi kelahapannya cukup diacungi jempol.
"Enak nggak?" tanya Arland kembali saat belum mendapatkan jawaban sama sekali.
Namun, lagi-lagi Kania malah mengacuhkannya kembali. Istrinya itu tetap anteng makan dengan lahap tanpa memperdulikan perkataan suaminya. Seolah tidak terganggu atau malah tak menganggap ada Arland di sana.
Menyadari itu, Arland pun berdecak kesal dan lanjut mendengus kasar.
"Dilihat dari tubuh kecilmu yang mungil, rasa-rasanya kamu nggak mungkin makan sebanyak ini. Hm, tapi tak masalah, justru bagus sih. Kayaknya kamu udah cocok membuat konten kreator mukbang, Kania," ujar Arland tanpa dosa.
__ADS_1
Membuat Kania reflek berhenti makan dan bahkan meletakkan garpunya. "Aku kenyang!"
"Loh kok, begitu. Aku tidak sedang keberatan atau bahkan melarangmu makan," kata Arland lagi.
"Aku kenyang. Udah, nggak mood makan lagi!" jawab Kania ketus. Moodnya berubah jadi galak dalam seketika, entah kenapa demikian, tapi mungkin itu adalah pengaruh dari kehamilannya.
"Udah, makan lagi. Aku janji tidak akan berbicara apapun lagi," ujar Arland mengalah. Bagaimanapun juga dia hanya ingin mengajak istrinya bicara, tak menyangka demikian akan menjadi reaksi istrinya.
"Aku tidak mau lagi, aku sudah eneg liat makanan itu, dan ini semua gara-gara kamu. Lihat saja jika terjadi sesuatu dengan anakmu, maka jangan salahkan aku!" ancam Kania diakhir kalimatnya.
Sebenarnya dia tak berniat mengucapkan kalimat terakhirnya, tapi anehnya itu justru terlontar begitu saja.
"Oh, mau ngambek ceritanya?!" Arland berubah tegas menatap Kania dengan sedikit intimidasi.
Pria itu memang punya ego yang besar, jadi jangan heran mengapa dia demikian, karena sudah pasti itu untuk memenuhi egonya.
Berpikir sejenak karena tak mau dikendalikan Kania dan memanfaatkan calon bayi mereka. Kemudian tersenyum miring ketika teringat sesuatu.
"Coba saja berani melakukan itu, mengancam tak mau memberi anakku makan. Maka jangan salahkan aku juga Kania, jika HRD di kantor ku akan mengirimkan mu surat cinta, dan setelah itu kamu pasti tahu betapa susahnya mencari pekerjaan, ditambah mungkin aku akan membuat namamu di daftar hitam setiap perusahaan. Hm, aku tak akan bisa membayangkan bagaimana nasib karirmu, Kania," jelas Arland tersenyum menang.
Namun, kemudian perempuan itupun menurut, meski sebelumnya sudah menghentak garpunya ke piring sampai menimbulkan dentingan.
"Makan istriku, masa disarankan bikin konten mukbang aja kamu udah ngambek?" kata Arland rupanya belum mau menyudahi.
"Itu karena secara tak langsung kamu mengatai aku rakus!" jawab Kania cepat.
"Tapi memang kenyataannya kamu memang rakus Kania!" balas Arland sengit.
"Memangnya kamu enggak?!" sarkas Kania. "Sadar Tuan kejam, dan lihatlah pesananmu itu dua kali lipat dari porsiku!"
"Heh, ini normal dan itu karena aku pria!" jawab Arland tak mau kalah.
__ADS_1
"Pria mana di restoran ini yang memesan sebanyak porsimu, lihatlah ke kanan-kiri. Cuma kamu Mas yang sebanyak itu," cibir Kania memberitahu.
Sebetulnya keduanya sama-sama doyan makan. Satunya tetap kurus karena memang anehnya demikian, tapi satunya lagi tak gemuk-gemuk karena rajin berolahraga.
Namun anehnya tak ada dari mereka yang sadar diri. Apalagi Arland dia suka sekali menyudutkan Kania akan hal itu. Aneh saja, makan banyak, tapi kurus.
➡➡➡
Sementara itu, Tiara baru selesai makan malam dengan Mayang ibunya. Selesai membereskan piring, dia langsung masuk ke kamarnya untuk tidur.
Namun tak bisa, sebab kepikiran terus pada Kania. Tak habis pikir dengan apa yang sudah diperbuat adiknya sekaligus belum bisa memaafkannya. Dia hari itu bisa bersikap baik di rumah sakit, sebetulnya hanya karena ada ibunya.
Bagaimana pun juga Mayang, walaupun tak ada ikatan darah. Perempuan paruh baya itu selama ini sangat menyayanginya. Itulah mengapa sedemikian sehingga dia selalu berusaha untuk menjaga perasaannya.
"Dulu saat masih ada, ayah selalu memanjakanmu Kania. Dia hampir selalu menuruti kemauanmu, dan bahkan mengabulkan semua permintaanmu.
Namun saat dia pernah sekali mengabulkan permintaanku, dan mendahulukan keinginanku, karena saat itu aku ulang tahun, kamu malah marah dan balas dendam dengan merusak hadiah dari ayah," lirih Tiara sambil terbayang masa lalu.
"Apakah kamu belum dewasa juga, terus balas dendam karena hal itu. Masih mengelak tidak saling mencintai dan tidak bermain dibelakangku ketika aku dan Arland tunangan, tapi sekarang baru saja menikah bagaimana bisa sudah hamil aja.
Untuk pasangan yang saling mencintai wajar saja sih hal itu, tapi untuk yang tidak kenal banyak dan keliatannya tidak banyak berinteraksi satu sama lain, apakah itu mungkin?"
Tiara mendesah kasar. Dia terus memikirkan betapa kejamnya Kania adiknya padanya, sampai tak sadar diri kalau sebetulnya dialah yang sudah sangat teramat kejam.
Sudah pernah mengatakan menyudahi masalah itu pada Kania dihadapan ibunya Mayang, tapi malah ingkar. Dia sendiri yang terus mempermasalahkannya dan tak bisa melupakannya.
Sepertinya dialah yang cemburu pada Kania yang sudah terlalu dimanjakan almarhum ayah mereka, tapi tak berani protes karena sadar akan posisinya yang hanya anak angkat, anak pancingan tepatnya agar ibu ayahnya dulu bisa memiliki Kania dan berhasil.
Dia memendam itu dan lama-kelamaan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Karena cemburu dia beberapa kali mencari kesalahan Kania dan menyudutkan adiknya tanpa sadar. Merasa paling benar dan tak mau disalahkan, demi sebuah kepuasan batin.
"Aku tidak bisa berdiam diri begini. Setidaknya aku harus beri satu perhitungan pada Kania, supaya dia kapok atau setidaknya tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama. Ah, ya. Aku memang harus memperingatkannya!" putus Tiara dengan egois.
__ADS_1
➡➡➡
TBC