
"Darimana saja, kamu? Siang sampai malam ini baru kembali dan gara-garamu aku tak jadi pergi ke acara pernikahan temanku!" geram Arland langsung menghampiri Kania di ambang pintu.
Namun wanita itu tak menjawab, dan bahkan tak memperdulikan Arland sama sekali. Kania bahkan langsung berlari ke arah gudang dan masuk ke sana.
Arland mengikutinya dengan heran dan terkejut begitu sampai di sana. Gudang berubah seperti kamar, dia menjadi heran untuk sesaat kemudian teringat perkataannya satu minggu lalu.
'Mulai sekarang malam-malammu akan dihabiskan di gudang ini!!'
'Kamu pantas mendapatkan hal ini. Perempuan penghianat sepertimu yang tak tahu diri, memang tak pantas diperlakukan sebagai istri, tapi pembantu dan pemuas nafsu!!'
"Sial. Apa kamu sejak saat itu tinggal di sini?!" tanya Arland entah kenapa baru tersadar akan hal itu.
Jujur saja sejak kejadian lebih dari satu minggu lalu, dia tak terpikirkan Kania akan patuh dan bodohnya menuruti perkataannya dengan tinggal di dalam gudang.
Dia pikir selama ini Kania masih bersama di kamar, karena dia setelah melakukan hak dan kewajiban, Arland memang ketiduran dan paginya dia pikir Kania sudah terbangun lebih duluan.
"Kenapa, hah ... bukankah itu maumu?! Aku cuma budak dan pembantumu!" jawab Kania langsung mengamuk.
Terlihat matanya berlinang digenangi air mata. Kania seperti sedang menahan tangisannya saja.
"Tutup mulutmu, aku tak suka istri yang berbicara kasar seperti itu!!" peringkat Arland dengan segera.
Entah mengapa pria itu tak suka mendengar kata cuma pembantu dan pemuas nafsu keluar dari mulut istrinya. Walaupun sebelumnya dia yang pertama mengucapkan hal itu.
"Kalau begitu ceraikan aku. Aku muak menjadi istrimu. Aku benci bisa dalam posisi ini dan aku ingin kebebasanku!!" ujar Kania dengan kedua bola mata nyalang menatap tajam suaminya.
Arland langsung menyugar rambutnya kebelakang. Dia mengerutkan dahi sekerut-kerutnya dan kepalanya langsung berdenyut nyeri mendengarkan permintaan cerai kedua kalinya dari mulut istrinya, setelah yang pertama terjadi beberapa minggu lalu.
"Apa kau lupa apa yang aku katakan tempo hari?!" Arland segera menyambar lengan Kania dan mencengkramnya keras.
Memaksa istrinya itu berhadapan dengannya dalam jarak yang sangat dekat. Mata yang melotot dan penuh peringatan sekaligus amarah yang sulit untuk dikendalikan.
"Tidak ada perceraian Kania. Selamanya kau akan menjadi milikku!!" tegas Arland tak mau dibantah.
"Aku tak sudi. Aku jijik dan tak tah--"
Plakk!!
Tiba-tiba saja telapak tangan Arland mendarat tak terhentikan. Memukul keras pipi Kania sampai membuatnya meninggalkan jejak. Bahkan wajah Kania terseret menghadap ke arah lain dan ucapannya terhenti dalam seketika.
"Sekali lagi aku dengar kau masih berani mengucapkan hal itu mak--"
"AKU TAK PERNAH SUDI MENJADI ISTRIMU, BRENG-SEK!!" teriak Kania tanpa takut sama sekali.
Dia benar-benar kehilangan kewarasannya sekarang, tak lagi berpikir dengan baik dan juga sangat stress. Fakta kehamilanlah yang membuatnya demikian.
Brakk!
__ADS_1
Karena sangat marah dan tak terima, Arland sampai hati mendorong Kania dengan sangat kasar sampai terhempas ke lantai yang keras.
"Arrrggghhh, sakit!!!" jerit Kania langsung sambil kemudian memegang perutnya.
Perempuan itu langsung menjatuhkan air mata dan menjerit sambil merintih dalam seketika. Darah segar langsung mengalir di sela pahanya yang tembus sampai ke luar pakaian.
Arland melihat itu dan langsung berdebar hebat. Untuk pertama kalinya dia langsung merasa cemas luar biasa sekaligus merutuki apa yang sudah dilakukannya.
"Kamu kenapa Kania?" tanya Arland langsung berjongkok dan memeriksa Kania.
Istrinya itu tak bisa menjawab dan terus menangis. Dugaan-dugaan mulai muncul dalam kepala Arland. Tak bisa berdiam saja dalam penyesalannya, pria itu segera menggendong istrinya dan segera membawanya ke dokter.
Citra yang kebetulan keluar kamar melihat tuannya mengangkat nyonya keluar rumah, menjadi penasaran.
"Kenapa mereka? Semoga saja itu hal buruk. Sehingga aku tak perlu susah payah memisahkan mereka!!" ujarnya sambil menyeringai aneh.
Gadis itu segera tersenyum ketika melihat di lantai yang dilewati oleh Arland ada bekas darah segar yang menetes di sana.
"Apa yang terjadi, aku dengar ribut-ribut di sini, Cit?"
Bi Surti rupanya juga sudah mendengarkan pertengkaran majikannya itu.
"Darah! Astaga kenapa bisa ada di sini?" ujarnya dengan terkejut.
"Aku tidak tahu, tapi aku lihat tuan Arland terlihat terburu-buru membawa nyonya keluar sambil menggendongnya," jelas Citra memberitahu.
"Yatuhan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan tuan dan nyonya!" ungkap Bi Surti dengan seketika.
➡➡➡
Arland terlihat sangat menyesal setelah mendengar kabar Kania, tapi dia juga sedikit bersyukur karena istrinya itu baik-baik saja.
Jika tidak mungkin dia akan merutuki dirinya sendiri, karena hampir saja membunuh calon anaknya sendiri.
"Terima kasih sudah memberiku anak, Kania!" ujar Arland untuk pertama kalinya terlihat tulus.
Tak segan dia segera menghadiahkan kalung berlian untuk kebahagiaannya itu, sekaligus sebagai permintaan maafnya.
Ini sudah beberapa hari berlalu, meski Kania masih di rawat karena hampir saja mengalami keguguran. Dia masih di rumah sakit dan sejak tahu kehamilan istrinya, Arland selalu memperlakukannya dengan baik.
Sementara Kania, hatinya kecewa dan marah pada Arland. Dia begitu membenci suaminya itu sekarang dan masih tak terima dengan kehamilannya.
"Dan maaf aku sudah memperlakukanmu buruk saat itu. Aku sangat menyesal, karena hampir saja membunuh anak kita sendiri.
Tapi Kania aku juga masih sama, sampai kapanpun takkan melepasmu. Aku harap dengan kehadiran anak kita ini, kamupun mulai sadar dan berhenti menuntut cerai. Kita mungkin sudah ditakdirkan bersama dan kamu harus menerima fakta itu," kata Arland sambil mengusap puncak kepalanya.
Kania memalingkan wajahnya dan segera menangis setelahnya. Dia selalu begitu setiap kali Arland membahasnya.
__ADS_1
Namun, kali ini Arland tak mempermasalahkannya lagi. Biarlah Kania menangis untuk melegakan hatinya.
"Kamu harus kuat dan terimalah kenyataan ini. Menurut dan berhenti membantahku, agar kita bisa memulai kehidupan rumah tangga kita dengan baik!" seru Arland sambi bangkit dan memberi kecupan di dahi istrinya.
➡➡➡
"Ibu sangat senang kamu sekarang sudah hamil, Nak!" ujar Mayang sambil tersenyum.
Perempuan paruh baya itu akhirnya mengetahui kabar anaknya setelah dikabari menantunya.
"Maafkan Arland, Bu. Baru ingat mengabari Ibu sekarang," ujar Arland yang ternyata masih setia di dalam ruang rawat istrinya.
"Tidak apa, Nak. Yang terpenting kamu menjaga anak Ibu dengan baik dan calon cucu ibu sekarang juga baik-baik saja," jawab Mayang.
Pintu terbuka menghadirkan Tiara ada di sana. Arland agak tak nyaman dengan kedatangan mantan tunangannya itu, dan segera pamit keluar sebentar untuk melakukan sesuatu.
Kini tinggallah Kania, Ibu dan Kakaknya sekarang di ruangan itu.
"Maafkan Ibu yang sudah terlalu kasar sama kamu selama ini, Nia. Jujur ibu sangat kecewa, tapi sekarang Ibu sadar mungkin begitulah takdirmu.
Ibu harap sekarang kita melupakan hal itu saja dan Ibu mohon jangan melakukan kesalahan yang sama lagi, Nak!" seru Mayang berbicara.
Perempuan paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk menyudahi masalah perkara yang membuat hubungannya dengan sang anak renggang.
"Aku takkan meminta maaf, tapi dek, ketahuilah kakak sangat menyayangimu. Kakak berharap tentang kebahagiaanmu dan Kakak harap sebesar apapun kebencianmu kepadaku, jangan seperti yang kemarin-kemarin itu lagi. Jangan membuatmu dipandang buruk, karena kebencian Dek!" seru Tiara menimpali.
Kania menggigit bibirnya, bergetar dan menangis dihadapan ibu juga kakaknya.
"Kan-Ka---"
"Ssstt ... sudah. Kita lupakan saja hal itu. Jangan membahasnya lagi, Kania!" potong Mayang langsung mengusap pipi putrinya.
Saat mengetahui anaknya itu mengandung, hatinya berdesir hangat dan entah mengapa kabar itu bisa menepis kekecewaan dihatinya.
Sebenarnya beda dengan Tiara, sebetulnya gadis itu masih kesal dengan adiknya, tapi karena tak mau membuat sang ibu sedih, diapun memperlihatkan reaksi yang sama.
"Kamu jagalah kandunganmu baik-baik. Ibu sangat bahagia sekali, karena sebentar lagi akan mempunyai cucu!"
"Aku juga senang, mendengar kabar kehamilanmu, aku jadi tak sabar ingin menggendong keponakanku!"
Ibu dan Kakaknya pun membahas hal lain, dan tak lagi mengungkit kelakuan buruk Kania yang mereka pikir sangat memalukan itu. Rasa senang sudah mengenyahkan kekecewaan.
Mendengar ucapan Ibu dan Kakaknya, walau masih kecewa karena masih tak mau mendengarkan penjelasannya dan tak percaya kepadanya, Kania tersentuh dan mulai memikirkan untuk menerima kehadiran anaknya.
"Sstttt, jangan nangis lagi dong, nanti bayinya ikut sedih!" ceplos Ibunya sambil kemudian mengusap bahu putrinya.
Kania pun mengangguk patuh dan akhirnya dia bisa tersenyum. Tak ada yang lebih melegakannya selain Ibunya yang kembali menyayanginya. Setelah selama ini selalu memperlihatkan amarah dan kekecewaan yang mendalam.
__ADS_1
➡➡➡
TBC