Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
9. Efek Mabuk


__ADS_3

"Ugh!"


Arland pulang dalam keadaan mabuk. Sebetulnya dia lumayan tahan terhadap minuman beralkohol, tapi seberapa tahan pun seseorang jika sudah terlalu banyak pasti mabuk juga. Begitupun dengan Arland.


Pria itu sudah meneguk banyak melebihi batas dari biasanya. Untuk pulang saja malam ini, jika bukan berkat kenalannya atau salah satu rekan bisnisnya Ando, Arland tak mungkin sampai di rumah dengan selamat.


Kania saat itu belum tidur, mendengar bel pintu. Gadis itu segera menghampiri dan membukakan pintu.


Kening gadis itu langsung mengerut dan dia langsung membuang nafasnya kasar.


"Dia minum terlalu banyak malam ini. Aku melihatnya dan memutuskan untuk membawanya pulang," jelas Ando yang merasa perlu mengatakan hal demikian.


Kania mengangguk paham, bergeser dan membiarkan Ando memapah Arland masuk ke dalam rumah, lantas menaruh Arland pada sofa yang ada di sana.


"Terimakasih, mmm--"


"Ando, namaku Ando dan aku adalah teman dekat sekaligus rekan bisnisnya. Kamu pasti istrinya dan sebetulnya aku datang ke pesta pernikahan kalian bersama istriku Lili, tapi mungkin kamu sudah lupa," jelas Ando panjang lebar.


Kania mengangguk paham, dan tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kembali. "Sekali lagi terimakasih ya, Mas dan maaf soal lupa kepadamu."


"Tak masalah. Kita baru pertama kali bertemu. Lagipula di pesta kalian banyak yang datang, rekan bisnis, teman-teman dan sebagainya. Wajar juga kalau kamu sampai lupa," kata Ando dengan pengertian.


"Tapi baiklah. Aku juga tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pergi karena istri bisa marah jika aku terlalu lama di rumah," jelas Ando sembari pamit.


Kania mengangguk paham dan mengantarkan pria itu sampai pintu depan. Kemudian kembali pada suaminya di sofa.


"Mas," panggil Kania dengan sedikit lirih.


Jujur saja dia masih sakit hati karena beberapa jam lalu sebelum pergi, Arland sempat menghubungi perempuan.


Arland menoleh dan menatapnya dengan setengah sadar.


"PENGHIANAT!!" bentak Arland berteriak sambil tiba-tiba dan berdiri.


Refleks Kania yang terkejut mundur, tapi Arland langsung jatuh karena tak bisa menahan bobot tubuhnya karena sedang mabuk.


"Breng-sek. Setelah aku membahagiakan dirimu dengan hartaku, juga menjaga kehormatanmu de--dengan baik. Aku bahkan menahan diriku untuk tak menyentuhmu, tapi apa yang kau lakukan?!"


Arland mendongak dalam keadaan terduduk di lantai. Kania belum berani mendekatinya, karena takut diapa-apakan suaminya yang mabuk itu. Gadis itu cuma bisa meneguk ludahnya kasar dan terus menatap ke arahnya. Keduanya saling bertatapan, tapi bagi Arland sebetulnya yang ada dihadapannya itu Lyra dan bukannya Kania istrinya.

__ADS_1


Mencoba bangkit untuk berdiri, tapi dia jatuh kembali. Arland jatuh lagi dan hal itu membuat Kania prihatin dan akhirnya memberanikan diri untuk membantu.


Kania kemudian memapah suaminya dan akan membawanya ke kamar mereka.


"Kenapa kau melakukan hal ini padaku Lyra?! Kenapa, apa kesalahanku kepadamu, hah??" gerutu Arland meracau.


Saat itu mereka baru naik tangga, tapi karena Arland tak hanya meracau dan banyak bergerak juga menyiksa Kania yang memapahnya. Kaniapun memutuskan tak jadi membawanya ke kamar mereka di lantai atas.


Kania putuskan untuk ke kamar tamu saja dan berada di lantai itu. Membawanya kesana dan segera membaringkan tubuh suaminya di ranjang.


"Penghianat! Penghianat!!" racau Arland berulang kali.


Membuat Kania pusing mendengarnya dan juga jengah, tapi dia tak bisa pergi sekarang. Selain karena suaminya belum tenang pria itu sempat muntah beberapa saat lalu ketika dia masih memapahnya.


Arland muntah pada baju yang Kania gunakan dan tentu saja itu tak hanya mengenai Kania saja tapi juga Arland sendiri dan juga lantai.


Mengingat itu, Kania tak bisa diam saja dan berniat membereskannya. Sejenak dia biarkan saja suaminya terus meracau di tempat tidur, untuk sekarang dia harus membereskan lantai.


Beberapa menit kemudian dia kembali pada Arland yang ternyata sudah ketiduran. Kania sendiri sekarang sudah kembali bersih karena sudah mengganti pakaian.


Melihat suaminya yang demikian, walaupun sudah kejam kepadanya, Kania tetap putuskan untuk membantunya.


"Mmm ... Kania!!" tiba-tiba Arland tersadar dan kali ini benar-benar melihat Kania seperti Kania.


Entah dorongan dari mana, pria itu menarik istrinya dan melakukan sesuatu yang dia inginkan kepadanya.


Seperti dejavu tempo waktu ketika bertemu Kania sebelum menikah dan mereka sama-sama mabuk. Meskipun Arland saat itu lebih sadar daripada sekarang, tapi saat ini tampaknya Arland lebih menginginkan Kania.


"Mmm ... berhenti!!" berontak Kania bersikeras.


Gadis itu berhasil, tapi setelah Arland sedikit terpuaskan. Mengusap bibirnya kasar, Kania menatap suaminya dengan marah.


Plakk!!


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Arland. Setelah melakukan itu Kania bangkit dari tempat tidur dan tanpa memperdulikannya lagi, dia pergi ke kamar atas. Kamarnya dengan Arland yang sebenarnya.


Kania menangis, karena merasa dilecehkan, tapi kemudian dia justru memilih berbaring ke ranjang tak nyamannya. Sofa panjang yang ada di kamar tersebut. Tak butuh lama gadis itupun ketiduran disana.


➡➡➡

__ADS_1


"Breng-sek!!"


Tiba-tiba Kania merasa kerah bajunya tertarik ke atas yang membuatnya langsung terduduk. Paginya dibuka dengan bangun yang terpaksa, dengan membuka mata melihat suaminya untuk pertama kali.


"Apa yang kau lakukan semalam, breng-sek?!" amuk Arland tiba-tiba dan tidak dimengerti Kania.


Gadis itu mengerut dan menemukan suaminya masih mengenakan pakaiannya yang semalam. Tepatnya cuma celana panjangnya, sebab pakaiannya sudah Kania buka semalam.


"Aa-apa maksudmu?" tanya Kania gugup dan tak mengerti. "Ak-aku di rumah," jelasnya dengan gemetar.


"Kalau kau di rumah, milik siapa ini Kania. Katakan laki-laki mana yang sudah kau biarkan menyentuhmu?!" tanya Arland serius sambil menunjukkan beberapa bekas kissmark di leher istrinya.


Sebelumnya dia yang baru terbangun langsung merasa pusing. Melihat dirinya di kamar tamu, Arland tak begitu memperdulikannya. Dia pikir itu mungkin saja terjadi mengingat dia mabuk dan karena tak sanggup naik tangga, Arland simpulkan kalau dia sendiri yang ke sana. Arland tak memperdulikan apapun lagi setelah itu.


Dengan kepala pusingnya, Arland bangkit dan langsung saja ke kamar. Dia ingat sudah punya istri dan bermaksud memanfaatkannya untuk memijat kepalanya yang pusing.


Namun begitu sampai di sofa, dia malah menemukan Kania dalam keadaan yang membuatnya marah. Itulah kenapa dia langsung menarik dan memaksanya bangun dengan kasar.


"KATAKAN PELAC--"


Plakk!!


Tamparan keras mendarat di pipi Arland kembali untuk kedua kalinya, setelah yang semalam yang pertama.


"Jangan menghinaku seperti wanita rendahan atau menyebutku dengan buruk!" tegas Kania tiba-tiba berani.


Nafasnya terengah dan dan menatap suaminya tajam. Kemudian secara tak terduga keadaan berbalik, karena tiba-tiba saja Kania memukul dadanya berulang kali.


"Kau yang melakukannya bajing-an. Kau pria itu!!" jelas Kania sambil kemudian tanpa sadar meneteskan air mata.


Arland terdiam sesaat dan terkejut dengan fakta itu. Namun, tak menapik karena baginya itu cukup masuk akal melihat dari reaksi Kania padanya.


"Oh, ternyata aku sendiri," ujar Arland dengan polosnya menunjuk dirinya sendiri.


Kemudian karena lama-lama sakit karena dipukul terus, diapun menghentikan Kania dengan cara menangkap tangan istrinya.


"Cukup!!" katanya dengan tegas dan setengah membentak. "Cukup Kania, berhenti heboh begitu. Jika aku yang melakukannya bukankah itu bagus, karena aku suamimu sendiri, cihh!!" kesal Arland berdecak diakhir kalimatnya.


➡➡➡

__ADS_1


TBC


__ADS_2