
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Arland serius langsung ke intinya.
"Tidak banyak," jelas Kania sambil melirik Citra. "Aku mau kamu memecat Citra dan mulai sekarang kamu harus memakan masakanku entah itu masakan sampah atau tidak berasa," jawab Kania berani.
"Jangan keterlaluan!" tegas Arland memperingatkan.
"Aku tidak memaksa Mas Arland! Aku hanya mengutarakan apa mauku karena kamu menanyakannya," jelas Kania sengit.
Arland mendesah kasar, bukannya mengabulkan dia malah melakukan hal lain. "Mulai sekarang kamu jangan menyentuh dapur Citra, kamu dengar istriku yang egois ini hanya ingin memasak dan menguasai dapur. Itu wilayahnya dan jangan ada siapapun yang mendekatinya jika dia tak mengizinkannya!" tegas Arland.
"Tapi Tuan--"
"Tidak usah kecentilan begitu Citra. Bagaimana pun kamu menginginkan suamiku, dia tak akan pernah mungkin menjadi milikmu," interupsi Kania memotong dan kini terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Kamu jangan keterlaluan, Kania," tegur Arland dengan nada suara yang biasa, tapi tetap saja Kania tak terima itu.
"Baiklah. Silahkan bersama pembantu kesayanganmu, tapi sebelum itu tolong ceraikan aku!" jawab Kania dengan emosi. "Aku tidak sudi mempunyai madu terlebih lagi itu adalah dia perempuan licik dan tak punya hati. Oh, ya jangan sungkan, karena dari awal kita memang tak harus bersama!" seru Kania.
"Kania!!" amuk Arland yang kemudian menyentak istrinya dan mengapitnya sambil menatap tajam. "Jaga bicaramu. Apakah kamu sudah lupa apa yang sudah aku katakan di awal? Tidak ada perceraian dan kamu akan selamanya menjadi istriku," kata Arland mengecam.
"Jangan bercanda. Perempuan yang cuma kamu gunakan sebagai penghangat ranjang, suatu saat kamu akan bosan. Jadi bagaimana bisa kamu katakan tidak ada perceraian?!" sarkas Kania tenang.
"Tutup mulutmu dan berhenti memancing emosiku. Aku pulang sebentar sengaja untuk mengecek kondisimu, jadi aku harap jangan membuatku berubah menjadi menyakitkanmu!!" seru Arland.
"Jangan sungkan, sakiti saja. Aku sudah terbiasa mendapatkan hal itu darimu," jawab Kania enteng menantang Arland.
Seketika Arland pun dibuat pusing dan frustasi. Tak tahu harus melakukan apa, dia segera menggendong Kania dari sana dan membawanya entah kemana. Memasukkan ke mobil dalam keadaan masih pakai piyama tidur. Tak lupa memakaikan sabuk pengaman dan mereka pun meluncur entah kemana.
Arland terus mengemudi dan Kania cuma bisa membuang muka, ogah melihat suaminya dan sepanjang perjalanan selalu saja menggerutu.
• • •
__ADS_1
Setelah mengemudi cukup lama, mereka singgah di rumah makan yang dekat dengan pantai. Makan siang di sana dan kemudian Arland mengajak Kania bermain di pantai. Walaupun masih saling kesal, karena ide itu keduanya cukup rileks dan merasa lebih baik.
Duduk di sana sambil memandang laut tanpa bicara sama sekali. Tanpa bosan walaupun tak melakukan apapun.
"Aku haus," ujar Kania memberitahu.
Arland bangkit kemudian dengan sigap mengambil air yang seingatnya ada di dalam mobil dan memberikannya pada Kania.
"Air putih?" tanya Kania dengan raut wajah yang tak percaya.
"Terus kamu maunya apa, Kania?" tanya Arland berusaha untuk sabar.
"Air kelapa muda," jelas Kania memberitahu dan Arland tanpa bicara kembali bangkit untuk memenuhi maunya istrinya.
Akan tetapi saat kembali dan menyerahkan kelapa mudanya, Kania mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu memberikannya pada Arland.
Arland menatap bingung dan tak mengerti dengan hal itu kemudian Kania menjelaskan. "Karena aku kesal padamu sebetulnya aku sudah sempat membuang ini, tapi aku mengambilnya kembali dan karena kotaknya rusak, hanya jam tangannya yang aku ambil. Sayang juga, mahal-mahal aku beli walaupun itu uangmu tetapi tetap saja rasanya aku tak sanggup membuangnya," jelas Kania.
Arland pun menerimanya dan Kania bantu memakaikannya.
"Kamu kenapa, apakah suka dengan jamnya?" tanya Kania yang giliran tak mengerti, tapi Arland langsung menganggukkan kepala membenarkannya.
'Apakah ini jam tangan yang sama dengan yang saat itu Kania beli?' tanya Arland membatin pada dirinya sendiri.
"Ini untukku?" tanya Arland memastikan.
"Ch, kamu pikir untuk siapa lagi? Itu jam tangan pria dan kamu pikir untuk pria mana lagi aku membelinya jika bukan kamu," jelas Kania sungguh-sungguh.
"Mungkin saja untuk mantan kamu," jawab Arland memastikan.
"Gila. Siapa yang mau memberikan jam tangan mahal dan dibeli pakai uang suami sendiri untuk mantan? Kamu pikir aku sudah kehabisan akal?" cerewet Kania.
__ADS_1
Arland merasa bersalah sekarang. Karena jam tangan itu dia bahkan sudah berkata kasar dan mempermalukan istrinya sendiri. Akan tetapi meski demikian dia juga tak mau minta maaf karena mempunyai ego yang besar.
"Kamu sudah memberikan banyak perhiasan padaku terlepas adanya kebencian diantara kita," ujar Kania lagi. "Jadi aku berikan itu sebagai timbal balik, yah walaupun itu uangmu juga, tapi itukan pilihanku dan kamu harus menyukainya atau anakmu bisa marah," jelas Kania membuat Arland gemas.
Tak menjawab dia memilih merangkul bahu Kania dan merapatkan diri ke Kania. "Kalau begitu aku harus menjaganya dengan baik!" seru Arland.
Kania menganggukkan kepala dan mereka diam sambil menikmati kebersamaan. Sampai ketika Arland teringat sesuatu.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Apa aku terlihat sakit?"
Arland berdecak kesal, dan mendesah kasar. "Kalau ditanya itu dijawab bukan malah membalas dengan pertanyaan Kania. Ingat kamu juga sakit semalam dan pagi tadi bahkan masih pucat," jelas Arland.
"Jika yang kamu cemaskan adalah anakmu sendiri, maka tenanglah dia akan baik-baik saja. Lagipula semalam aku tak kenapa-napa kok cuma kedinginan dan aku pikir itu takkan berpengaruh banyak pada kandunganku," jawab Kania membuat Arland merasa aneh.
Dia tersinggung dengan kalimat, 'mencemaskan anakmu,' karena entah dia sadari kalau sebetulnya diapun mencemaskan Kania.
"Hm, tapi walaupun begitu aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan untuk memeriksamu. Dua jam lagi kita ke sana," ujar Arland memberitahu.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor?" tanya Kania.
"Kamu pikir itu lebih penting dari kamu? Aku bahkan tak bisa tenang meninggalkanmu tadi pagi. Kalau saja bukan untuk menghadiri pertemuan penting dengan klien aku pasti tidak akan meninggalkan kamu yang sakit," jelas Arland yang langsung diangguki Kania kemudian dia ralat, dan membuat Arland merasa tak terima.
"Bukan aku, tapi kamu mencemaskan anakmu!" seru Kania dengan wajah masam.
Arland terdiam dan sebetulnya dia ingin marah, tapi dia menahan diri dan berusaha untuk sabar. Karena bagaimana pun juga Kania bicara demikian adalah karena ulahnya beberapa jam dan beberapa hari lalu.
"Apapun itu, tapi sekarang aku sedang bersamamu dan jangan bahas pekerjaan. Kamu yang luar biasa cerewet ini saja sudah luar biasa membuat aku pusing," kata Arland.
"Hm."
__ADS_1
• • •
TBC