
"Ch, kok kayak gini bentukannya?" tanya Arland berkacak pinggang dan Kania langsung geleng kepala menjawabnya.
Mengambil sendok untuk mencoba kue yang sudah jadi, tapi malah tak bisa di sendok padahal Arland sudah menekannya cukup keras.
"Pakai ini saja, Mas," ujar Kania langsung memberikan pisau untuknya. Mungkin dengan menggunakan pisau baru bisa dipotong.
"Sial. Ini juga tidak bisa, Kania!" seru Arland tampak frustasi, kemudian menggaruk kepalanya kebingungan serta tak mengerti. "Kenapa jadi sangat keras begini, bukannya kue biasanya lunak dan lembut?"
"Aku juga nggak tahu Mas. Hm, sini aku aja yang mencobanya mungkin aku bisa melakukannya," kata Kania mengambil alih.
"Aku yang laki-laki saja tidak bisa memotongnya, bagaimana kamu yang perempuan lemah?!" cibir Arland meremehkan membuat Kania mendengus kasar, tapi kemudian Arland justru mempersilahkan Kania.
Istrinya itu langsung memotong, tapi seperti sedang menggergaji dan ya itu berhasil. Kania pun mengambil potongan itu bermaksud untuk mencicipi, rapi Arland langsung mencegahnya.
"Jangan, kamu sedang hamil. Siapa tahu aja kuenya bermasalah dan kamu bisa kenapa-napa. Sini biar aku saja yang mencobanya," jelas Arland langsung merebut potongan kuenya dan memakannya.
Tak berapa detik dia memuntahkannya, lalu mengambil air dan meminumnya kasar. "Bagaimana rasanya bisa begitu pahit, seingatku kita menambahkan banyak gula?" kata Arland langsung terlihat kecut.
Kania langsung geleng kepala dengan tak mengerti, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku juga tida tahu, kira-kira itu kenapa ya Mas? Padahal kita memasukkan resep dengan benar.
Arland mendesah kasar kemudian dengan tiba-tiba membuka celemeknya karena frustasi. "Sial. Ini tidak benar, lebih bagus kalau kita pesan saja!"
"Tapi akan lebih berharga kalau kita buat sendiri Mas Arland," bujuk Kania yang rupanya masih tak menyerah. "Kita buat lagi yuk, pakai resep baru," lanjut Kania penuh harap.
Arland mendesah kasar kemudian menyerah dan memakai kembali celemeknya. Mereka menonton video tutorial sembari mempersiapkan bahan.
"Apa-apaan ini kenapa caranya begini, benar-benar membuat emosi!" geram Arland kesal.
Kania pun merasa sama ternyata. Tutorial yang mereka tonton sangat ribet dan luar biasa menguji kesabaran. "Udah, ah. Ganti aja Mas daripada pusing."
Mereka pun melanjutkan dan dengan sabar belajar. Lalu setelah percobaan kelima, kue ulang tahun buatan mereka pun jadi. Kurang bagus memang dan terlihat tidak mengembang sempurna, tapi setidaknya itu layak makan.
Saatnya giliran menghiasi dan kerena tidak belanja untuk bahan pembuatan kue, jadi mereka hanya mempunyai hiasan seadanya. "Agak aneh, tapi aku yakin mama pasti menyukainya!" ungkap Arland akhirnya bisa tersenyum puas.
• • •
"Sial! Jadi ini yang perempuan ****** itu lakukan. Menggoda tuan Arland sepanjang malam. Benar-benar licik. Awas saja kamu, aku akan melakukan sesuatu untuk memberimu perhitungan!" seru Citra sambil menatap pemandangan buruk baginya di ruang tengah.
__ADS_1
Tepatnya di sofa, ada Arland dan Kania yang masih pulas sambil berpelukan. Masih dengan celemek dan juga keadaan mereka yang terlihat bertepung serta cukup berantakan.
Citra tentu saja kepanasan melihat itu. Tak tahan diapun segera ke dapur dan melakukan tugasnya.
"Aku tidak usah memasak pagi ini. Lebih baik kubiarkan saja pembantu tua itu melakukannya, lalu aku jalankan rencanaku dan membuatnya tertuduh hari ini juga!" seru Citra sambil menyeringai licik.
Setelah merencanakan hal itu, diapun pura-pura membereskan hal lain. Pekerjaan rumah lainnya seperti bersih-bersih. Karena sudah terlatih Citra begitu cekatan dan juga cepat menyelesaikannya. Tinggal ruang tengah di mana Arland dan Kania berada.
Walaupun muak dan tak tahan melihat pemandangan yang ada, Citra pun terpaksa bersih-bersih di sana. Meski setelahnya disengaja melakukan kegaduhan untuk membangunkan tuan dan nyonyanya.
Prankk!
Brak!
'Aduh, gawat!! Guci mahalnya tuan jadi pecah. Bagaimana ini, dia bisa marah dan membenciku jika sampai tahu?' batin Citra merasa gelisah.
Segera melihat sekitar dan rupanya kedua majikannya belum bangun, Citra pun kabur dan segera memikirkan sebuah cara supaya terbebas dari tuduhan yang ada. Dia meski belum mandi dan pagi-pagi sekali langsung ke luar rumah. Beralibi untuk belanja kebutuhan dapur pada sopir, sekaligus merencanakannya untuk dijadikan alasan nanti supaya tidak tertuduh.
"Ayo, cepatlah. Keburu tuan dan nyonya bangun!" serunya pada sopir rumah supaya segera mengantarnya.
"Ada apa sih, Cit. Tumben kamu belanja pagi-pagi ini?!" tanya sopirnya menaruh curiga.
• • •
Kania menguap dan bangun karena suara keras yang amat mengganggu. Begitu membuka mata dia menemukan Arland sedang marah-marah dan mengomeli seseorang.
Dari perawakannya yang masih mudah, awalnya Kania pikir orang yang diomelinya itu adalah Citra, tapi setelah dilihat lagi ternyata bukan. Meskipun begitu rupanya tidak asing baginya.
"Loh, Sisi ... kamu kok ada di sini dan apa ini, Mas udah marah meski hari masih sangat pagi?" tanya Kania bingung.
Sisi tak menjawab melainkan menundukkan kepala. Begitu juga Arland, dia cuma mendesah kasar dengan tatapan yang menunjukkan sesuatu. Kania tertarik dan mengikuti arah tatapannya.
"Gucinya kok bisa pecah ya? Padahal cantik karena model dan kesan kunonya yang sangat melekat?" tanya Kania heran sambil menatap pecahan guci hiasan yang terdampar di lantai.
"Perempuan bodoh ini yang melakukannya, dia ceroboh dan sekarang membuatnya rusak," jelas Arland masih kontraks terlihat kental begitu marah.
"Bukan saya yang melakukannya Tuan. Saya juga baru bangun dan tak sengaja melihatnya itulah kenapa saya tadi menyentuh pecahannya," jelas Sisi terlihat ketakutan.
__ADS_1
Dia tak mau karena kesalahan yang bukan dirinya yang melakukannya, malah mengakibatkan hal fatal dan membuat ibunya dipecat. Kalau sudah begitu mau makan apa mereka nantinya.
Melihatnya begitu, Kania sadar dan mengerti dengan baik ketakutan Sisi. Sementara Arland malah sebaliknya dan justru terlihat semakin seram.
"Apa kau tahu berapa aku membelinya, itu bahkan tidak akan lunas walaupun kau menggantinya dengan gajimu satu tahun. Dasar perempuan sialan, baru saja pulang sudah menciptakan masalah!!" marah Arland sambil mengomel.
"Jangan begitu Mas, siapa tahu di--"
"Tidak usah ikut campur Kania. Ini urusanku dan anak pembantu tak tahu diri ini!" peringat Arland dengan segera memotong kalimat Kania.
Kania menghela nafas dan semakin iba melihat Sisi yang tertekan. Apalagi setelah mengingat jasanya kemarin, dimana Sisi ini sudah membantunya lepas dari Keenan. Kania pun terpikirkan untuk balas budi.
"Sisi pergilah, biar ini jadi urusanku dengan suamiku," ujar Kania sambil tersenyum ramah.
Sisi menurut, tapi itu membuat Arland berbalik dan melampiaskan kemarahannya pada Kania. "Apa-apaan kamu? Aku belum selesai menegurnya!!"
"Untuk apa?"
"Untuk mengingatkannya tentang kesalahannya!"
Kania menarik nafas kemudian menatap Arland dengan serius. "Kalau begitu ingatkan saja aku!"
"Apa maksudmu?" bingung Arland.
"Aku yang sudah memecahkannya!" jawab Kania dengan berani menumbalkan dirinya sendiri.
Arland langsung menatapnya tajam dan juga dingin. Penuh peringatan. "Jangan main-main!"
"Aku tidak main-main, aku yang melakukannya," jawab Kania yakin, membuat Arland langsung menyentak tangannya. Kilatan emosi terlihat sangat kontraks di matanya.
"Hanya guci kenapa kamu harus marah?" tanya Kania memberanikan diri.
"Hanya katamu? Ini milik omaku ibu dari ibuku!" tegas Arland. "Barang ini berharga bukan cuma dari nilainya, tapi peninggalannya dan kamu sudah merusaknya. Bahkan kau sama sekali tak menyesalinya. Perempuan macam apa kamu. Breng-sek!!" geram Arland yang kemudian menyenggol tubuhnya kasar sebelum kemudian pergi dari sana begitu saja.
Kania menghela nafas sembari menatap Arland dengan penyesalan, tapi apa boleh buat suaminya itu takkan berhenti menekan Sisi jika Kania tak bertindak.
• • •
__ADS_1
TBC
• • •