
Kania bangun lebih dahulu. Seperti sudah jadi rutinitasnya, Kania bersih-bersih dan sekarang sedang duduk di depan kaca rias sedang memoleskan sesuatu pada wajahnya. Semuanya lancar sampai kemudian dia melihat pantulan Arland di sana.
"Apa?" tanya Arland sedikit membentak. "Kenapa menatapku sesinis itu. Aku hanya menatapmu Kania, melihat istriku berhias apakah itu salah?" lanjut Arland membuat Kania mendengus kasar.
Dia meraih beberapa produk juga sebuah kaca kecil yang dia miliki, lalu membawanya ke sofa. Lebih baik berias di sana, bisa sekalian bersandar begitulah pikiran Kania. Duduk tegak ternyata membuatnya lelah.
"Mau kemana kamu?" tanya Arland mengikuti.
"Ayolah Mas. Tolong diam bisa nggak, aku disitu kamu disitu. Aku mau ke sofa kamu juga mau ikut. Bisa sedikit beri aku ruang nggak, aku tidak leluasa tau kamu disebelah aku terus," rewel Kania sambil memutar bola matanya jengkel.
"Aku tidak mengganggu atau menghentikan kegiatanmu Kania?!" jelas Arland sambil mengangkat bahunya tak percaya.
"Ch, masih belum sadar rupanya?" Kania geleng-geleng kepala. "Kamu bau Mas, kamu belum mandi," jelas Kania seolah yang dia katakan itu adalah masalah besar.
Arland bahkan sampai percaya. Kalau dirinya yang belum mandi itu sangat bau, tapi setelah mengendus dia malah tak menemukan bau apapun.
"Aku bahkan mandi sebelum tidur tadi malam," jelas Arland dengan penuh harapan Kania akan menurut dan membiarkan dirinya menempeli.
Namun tiba-tiba saja Kania berkacak pinggang dan menatapnya tajam. Perempuan yang tengah berbadan dua itu bahkan sudah meletakkan serangkaian alat make-upnya. Teringat kejadian semalam pakaian bau alkohol, Arland yang tidur dengan rambut basah dan sudah begitu di tempat tidurnya.
"Darimana semalam, kenapa sampai bau alkohol, kenapa mencuci rambut lalu tidak mengeringkannya dan juga kenapa naik ke atas tempat tidurku?" tanya Kania cerewet.
"Bawel bangat sih, Kamu. Ok, baiklah aku mandi, habis itu kita sarapan bersama," jawab Arland memilih menghindar dari menjawab pertanyaan istrinya.
"Mas!" kesal Kania.
"Hm, iya aku mandi," jawab Arland acuh.
Blam.
Dengan cepat suaminya itu langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi. "Huhh, menyebalkan ... aku yakin semalam dia pasti habis bersenang-senang dengan perempuan malam di bar tadi malam," gerutu Kania kesal.
•••
"Bi Sur, tolong ambilkan aku buah dong. Aku mau makan itu sekarang," kata Kania meminta dengan sopan.
Namun bukannya Bi Surti yang melakukan, Arland yang malah berdiri dan mengambilnya dari kulkas.
"Kamu mau apel, pir, stroberi atau anggur?" tanya Arland begitu melihat persediaan buahnya di kulkas.
"Aku mau melon, Mas?"
__ADS_1
"Hahh?!"
"Melon. Ya, sekarang aku mau melon yang dibuat jadi jus!" putus Kania begitu saja, tapi dia sungguh tak bercanda, melainkan serius menginginkannya saat ini juga.
Arland dibuat melongo antara percaya dan tak percaya, tapi beruntunglah sebelum kebingungan Bi Surti yang memang ada di sana, bersuara dan menyelamatkannya.
"Nyonya ngidam, ya? Biar saya saja yang beli di toko buah secepatnya," jelas wanita paruh baya itu dengan sigap. Dia segera pamit setelahnya.
Kania menganggukkan kepala, sementara Arland kembali setelah menutup kulkas.
"Loh, Mas apelnya mana? Aku juga mau makan itu sekarang," jelas Kania dengan tatapan serius.
"Kamu kok nggak bilang dari tadi sih?" jengah Arland tak habis pikir, tapi setelahnya dia pun kembali ke kulkas dan mengambilkan maunya Kania itu.
Beralih pada beberapa menit kemudian, dimana Arland sedang menyuapi Kania dengan buah yang telah dikupas dan dipotong. Kania memakannya sambil makan bubur sarapannya juga.
"Kalau seperti ini rasanya tidak mual, Mas," kata Kania sambil tersenyum.
Arland entah mengapa sangat suka dan dalam waktu yang bersamaan dia sangat lega serta bersyukur. Bisa melihat istrinya menyelesaikan sarapan dengan baik, rasanya sangat berharga, walaupun dia tak mengerti dengan perasaannya itu.
•••
Asistennya Alex mengerutkan dahinya bingung. Bosnya terasa aneh. "Tapi Pak bukankah kemarin-kemarin Bapak membenci nona Lyra dan bahkan mengirimkan perhiasan palsu?" ujar Axel keberatan.
Arland langsung tersenyum devil lalu menatap Alex dengan devil. "Siapa yang bilang aku berhenti membencinya. Aku masih membencinya Alex dan aku tak sudi memaafkan penghianat murah-an sepertinya!" tegas Arland serius.
"Terus kenapa Bapak malah mau mengirimkan kalung berlian yang terbaru dan juga lainnya yang kedengaran romantis?" tanya Alex kebingungan.
Arland lagi-lagi tersenyum, dan bahkan terkekeh sebelum kemudian dia tiba-tiba diam juga terlihat serius.
"Untuk menjatuhkan orang lain jatuh sejatuh-jatuhnya, bukankah kita harus membawanya ke tempat yang tinggi?" tanya Arland dan langsung dianggukki paham oleh Alex. "Begitu juga dengan ku. Aku ingin dia melayang dahulu, sebelum kemudian aku hempaskan.
Namun, tentu saja aku tak mau dia berbahagia terlalu lama. Oleh karena itu, segera kirim anak buah untuk menjadi pencopet atau pencuri untuk mengambil kembali kalung berliannya dan juga jangan lupa taburkan bubuk keajaiban di mawarnya!" jelas Arland membuat Alex ikut-ikutan tersenyum miring.
'Aku akan senang hati melakukannya. Maaf Pak, tapi jujur saja aku sangat membenci calon mantan pacar Bapak yang satu itu. Terlalu meremehkan orang lain dan mulutnya sudah seperti bon cabe level lima puluh. Cih, dasar perempuan bedebah, sebentar lagi kamu akan habis ditangan Pak Arland,' batin Alex serasa menang lotere.
•••
Tak berselang lama, beberapa jam setelah kejadian Arland memerintah Alex, diapun mendapatkan telepon dari calon mantan kekasihnya Lyra.
"Kamu yang kirimkan Baby?" tanya Lyra memastikan dari dalam telepon.
__ADS_1
Namun suara penuh kebahagiaan, begitu terdengar jelas, dan Arland tahu Lyra pasti dimabuk harta saat ini.
'Dasar perempuan mata duitan!' batin Arland mengumpat, tapi kemudian dia malah sebaliknya dan bahkan berkata manis. "Iya Lyra. Aku mengirimkannya sebagai permintaan maaf atas kesalahan anak buahku yang kurang ajar dan sudah mengirimkan mu barang imitasi semalam," jelas Arland terdengar begitu menyakinkan.
"Tidak masalah, Sayang. Lagipula bukan kamu yang salah, tapi anak buah mu yang tak becus dan juga kurang ajar. Berani-beraninya mengirimkan barang imitasi seperti itu!" tegas Lyra terdengar kesal.
"Itu dia Lyra, tapi jangan khawatir aku sudah mengurusnya. Hm, tapi apakah kamu menyukai perhiasannya?" tanya Arland diakhir kalimatnya.
"Ya, ini sangat bagus. Seleramu selalu bagus, dan aku sangat menyukainya " jelas Lyra percaya diri.
"Tentu saja sayang. Apa yang tidak buat kam-kamu ...." ujar Arland tiba-tiba gugup diakhir kalimatnya.
Pria itu tiba-tiba saja menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan tiba-tiba mengakhiri telepon dengan sebelah pihak. "Ii-ini tidak seperti yang kamu dengar Kania. Percayalah!" seru Arland anehnya dia merasa harus menjelaskan walaupun belum punya perasaan apapun untuk istrinya.
"Cih! Sekalinya bajing-an tetap saja akan terus menjadi bajing-an!" ketus Kania sinis sambil kemudian menghempaskan dirinya duduk cukup kasar di sofa yang ada di ruangan Arland.
Mendengar itu Arland cukup kesal dan mendengus kasar. "Kamu cemburu?"
"Siapa juga yang mau cemburu pada bajing-an seperti kamu. Tidak tahu diri sudah melarangku dekat dengan pria lain, tapi kamu sendiri malah asik-asikan menghubungi perempuan lain dan berbicara sayang-sayangan," jawab Kania kesal sambil kemudian melipat tangannya di depan dada.
Arland mendekatinya, awalnya memang sangat kesal dengan jawaban Kania yang ketus, tapi semakin dia amati, anehnya istrinya malah semakin menggemaskan. Duduk sebelah Kania kemudian dengan seenaknya merangkul Kania.
"Lepaskan!" omel Kania geram sambil berusaha menyingkirkan tangan Arland yang merangkul tubuhnya. "Aku tidak sudi di sentuh pria bajing-an seperti kamu!"
"Bohong?" goda Arland meremehkan. "Buktinya kamu sedang hamil loh, ini. Hamil anakku. Aku yakin tiap aku sentuh kamu pasti kesenangan, sebab selama ini kamu tak pernah menolak. Selain setelah hamil dan itupun karena takut mencelakai bayi kita yang masih cukup rawan," jelas Arland sambil menaik-turunkan alisnya.
Kania sangat kesal, tapi kalau dipikir lagi omongan suaminya memang benar juga. "Aku gerah, kalau kamu giniin terus aku kepanasan dan kalau sudah begitu kamu mau efeknya sampai anak kamu ikut merasakan?" tanya Kania membalikkan alibinya.
Dia tidak semarah sebelumnya, walaupun tak menampik kalau dirinya masih sangat kecewa mendengar suaminya memanggil sayang perempuan lain, tapi ah sudahlah. Mungkin ini sudah nasibnya, harus menjadi istri yang bekerja keras untuk menyingkirkan perempuan lain di hidup suaminya.
"Kamu kepanasan bukan karena aku peluk, tapi cemburu Kania," ujar Arland dengan tanpa dosa.
"Ch, lepas. Apapun itu aku sudah tak perduli yang terpenting. Lepaskan aku sekarang!"
"Baiklah. Aku akan melepaskanmu, tapi sebelum itu katakanlah kalau kamu memang cemburu!"
"Ya, aku cemburu. Puas kamu!"
•••
TBC
__ADS_1