Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
41. Kembali Kejam


__ADS_3

Brakk!


Arland yang tersulut emosi tak bisa bersikap tenang, sampai untuk membuka pintu kamarnya saja dia begitu kasar. Membangunkan Kania yang sudah tertidur pulas.


"Apa-apaan kamu, berani sekali pulang ke sini sendiri tanpa memberitahu aku?!" omel Arland pada Kania yang bahkan belum sepenuhnya mengumpulkan kesadaran.


"Sudah memecahkan milik omaku tanpa perasaan bersalah, kamu sekarang juga berani seenaknya. Apa semua itu karena aku sudah terlalu baik padamu hahh?!" tanya Arland sambil menghampiri Kania lalu mencengkram rahangnya dengan keras.


Kania jadi tersadar dalam seketika dan memberontak mendorong Arland untuk melakukan pembalasan.


"Kamu juga pergi mengantarkan kak Tiara tanpa memberitahuku dan juga bahkan sudah menemaninya untuk membelikan hadiah untuk Mama," jelas Kania menjawab.


Arland menyudutkannya, lalu dengan mudahnya mengunci pergerakan Kania. "Jangan samakan aku dengan dirimu. Dengarkan dengan baik hal ini Kania. Aku disini adalah suamimu dan yang paling berkuasa diantara kita adalah aku. Jangan karena kebaikanku belakangan ini kamu jadi lupa hal itu dan ingatlah satu hal kalau kebaikan ku itu selama ini adalah semata-mata untuk anakku bukan kamu!" kecam Arland dengan kejam membuat Kania seperti tertusuk ribuan duri.


"Aku tahu itu," jelas Kania mengalah dan Arland karena masih dalam kemarahannya segera menghempaskan pipi Kania cukup kasar.


"Lain kali jangan ulangi hal itu. Kamu mulai sekarang apa-apa harus izin dahulu kepadaku!" tegas Arland tak mau dibantah, membuat Kania lagi-lagi mengangguk karena tak berdaya untuk melawan.


Namun, tanpa sepengetahuan Arland, kedua bola mata istrinya segera berkaca-kaca, tepat setelah Arland melepaskan cengkramannya. Kania berbalik dan segera berbaring kembali membelakangi Arland.


'Apa yang perlu disediakan Kania. Ingatlah sejak awal kau akan menduga hal ini. Dia cuma mau anaknya saja, dan bukan dirimu!' batin Kania meringis sedih.


Sementara itu, Arland yang sudah melepaskan Kania berbalik keluar dan memutuskan untuk tidur di kamar tamu saja. Namun sebelum benar-benar keluar, pria itu kembali membanting pintu kamar.


"Sial. Apa yang sudah dipikirkan Kania sampai dia berani membantah padaku?!" geram Arland tak terima.


• • •


Kania bangun pagi sekali dan langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan. Dia mencoba mengalah untuk kejadian semalam dan mencoba untuk melupakannya. Berbesar hati menerima keadaannya dan bersikap dewasa untuk memperbaiki hubungannya dengan Arland.


"Silahkan dimakan, Mas," ujar Kania manis di hadapan Arland.


"Siapa yang memintamu memasak? Ch, apa kau tahu rasa masakan mu itu masih kurang enak?" tanya Arland dingin, sepertinya dia masih terbawa kesal karena kejadian malam itu.

__ADS_1


"Tapi bukannya selama ini Mas yang memintaku untuk belajar memasak?" tanya Kania mengingatkan.


"Aku menyuruhmu belajar, tapi bukan berarti aku sudi jadi tikus percobaan yang mau mencicipi masakanmu yang sama sekali tak enak itu!" tegas Arland kejam.


"Mas a--"


"Diam kamu!" bentak Arland kasar membuat Kania kaget. "Citra tolong siapkan sarapan untuk ku dan mulai sekarang jangan ada yang membiarkan masakan tidak enak Kania tersaji di meja makan!" lanjut Arland membuat Kania meringis ngilu di ulu hatinya.


"Buang juga semua masakan menjijikkan ini!" lanjut Arland serius membuat Kania tak tahan dan berkaca-kaca dan Arland melihatnya.


"Tidak usah kekanakan Kania dan mulai sekarang jangan pikir kau bisa menekanku lagi. Karena walaupun kamu hamil, aku tidak akan membiarkan mu!"


Beberapa menit setelah masakannya dibuang dan digantikan makanan dari Citra, Kania diam saja dan tak menyentuh sarapannya. Berbeda dengan Arland yang bahkan terlihat lahap.


"Kenapa belum makan?" tanya Arland. "Habiskan sarapanmu dan rasakan perbedaannya. Antara masakan Citra dan masakan sampahmu!" lanjut Arland dengan tanpa hatinya.


Kania menggelengkan kepalanya dan menolak. Selain karena sakit hati, menu yang disiapkan membuatnya mual. Nasi goreng dengan telur mata sapi yang disajikan setengah matang. Mungkin itu enak, tapi bagi ibu hamil sepertinya dengan aroma yang cukup menyengat membuatnya yang memang sensitif terhadap bau menjadi mual.


"Makan Kania. Makan!" paksa Arland.


"Tidak usah berbohong dan berhentilah bersikap kekanakan. Masakan Citra memang enak!" ujar Arland yang kemudian bangkit.


Dia menghampiri istrinya, dan dengan gemas mencengkram rahangnya Kania lalu memaksanya makan. Tak lupa setelah susah payah membuat Kania mau makan, dia seperti biasa mencekcoki obat dan vitamin untuk ibu hamil. Sayangnya Arland lupa memberikan buah untuk menetralisir rasa pahitnya obat.


Membuat Kania sangat mual, tapi dia menahannya sampai Arland pergi bekerja lebih dahulu. Mereka memang tak pergi bersama karena mempunyai agenda yang berbeda walaupun lokasi yang sana. Nam9, Arland tak perlu mengkhawatirkan Kania karena dia sudah menyediakan supir pribadi untuk istrinya itu dari hari sebelum--sebelumnya.


"Tuan bekalnya!" seru Citra dan itu masih terbayang dalam bayangan Kania walaupun sudah berlalu dari beberapa saat lalu.


Dia sakit hati, karena bahkan Arland menerima pemberian Citra di depan matanya.


"Huekk!" Kania akhirnya memuntahkan habis isi perutnya selang sepuluh menit seperginya Arland.


"Duh, bagaimana ini. Rasanya masih tidak enakan!" seru Kania sambil memijat tengkuknya sendiri.

__ADS_1


Walaupun sudah sakit begitu, dia memutuskan untuk tetap pergi bekerja, tapi di tengah jalan dia menyempatkan untuk singgah sebentar dan membeli rujak. Kania pikir itu mungkin bisa membantu untuk meredakan mualnya.


• • •


Siangnya ketika masuk jam makan siang, Kania merasa aneh karena tidak seperti biasanya. Arland tak lagi memanggilnya untuk makan siang bersama. 'Apa dia harus semarah ini karena berpikir aku yang sudah memecahkan guci mending omanya?' batin Kania bertanya-tanya.


Namun karena tak bisa tenang, Kania pun memutuskan siang itu menemui suaminya tanpa dipanggil. Sebelumnya dia sudah memesan makanan dan saat ini membawa ke ruang kerja Arland supaya mereka bisa makan bersama.


Anehnya ketika sudah sampai, Alex asisten suaminya langsung melarangnya masuk.


"Aku istrinya, kenapa melarangku. Biasanya juga kamu membiarkan ku," protes Kania pada Alex.


"Tapi Bu, Pak Arland sedang sibuk dan tak mau diganggu.


"Sesibuk apa sih? Ini jam makan siang kamu jangan mengarang?!" peringkat Kania, lalu dengan tak mau tahu lagi dia langsung saja menerobos masuk.


Sayang begitu tatapannya bertemu dengan tatapan Arland, dia menyesal sudah nekat masuk. Menghela nafas, Kania mundur perlahan dan berbalik untuk keluar.


"Aku tidak tahu kalau Mas Arland benar-benar sibuk. Maaf," ujarnya begitu bertemu dengan Alex ketika dia membalikkan tubuhnya.


Asisten pribadi suaminya itu tampak merasa bersalah, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain menganggukkan kepala dan membiarkan Kania pergi.


Sambil meremas telapak tangannya, Kania menemui Pak Bayu manager dari divisinya, lalu memberikan makan siang yang harusnya untuknya dan Arland.


"Terima kasih, Bu Kania. Lain kali seringlah memberikan makanan enak begini," kata Bayu tampak bahagia menerima makanannya dan Kania menganggukkan kepalanya saja, kemudian kembali ke mejanya.


'Bahkan dia tak mengejarku atau bahkan memberikan penjelasan. Apa jangan-jangan dia mau balikan dengan kak Tiara? tapi kenapa, bukankah kak Tiara sendiri bahkan sudah meninggalkannya dan kabur sehari sebelum pernikahan mereka?' tanya Kania membatin dalam kebingungan dan juga rasa kecewanya.


'Atau benarkah Mas Arland sungguh-sungguh dengan ucapannya. Hanya anaknya yang penting dan jika dia tak ada, mungkin sampai sekarang dia takkan pernah bersikap baik. Dasar Kania bodoh, sejak awal sudah menduga itu, tapi kenapa masih saja berani menikmatinya!' ringis Rania yang kemudian membatin sedih.


Dia sangat sakit hati sekarang dan bahkan sampai melewatkan makan siangnya tanpa sadar. Pada akhirnya supaya merasa baikan, Kania sengaja mengalihkan pikiran dengan cara memperhatikan pekerjaannya.


• • •

__ADS_1


TBC


__ADS_2