
"Ambil itu dan pilihlah pasangan cocok untuk kamu kenakan nanti malam. Ah, ya. Lebih baik kamu pulang saja sekarang dan pergilah bersiap. Aku tahu perempuan membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan," ujar Arland beberapa menit lalu yang membuat Kania kesal sampai sekarang.
Saat ini dia sedang di pusat perbelanjaan, memasuki toko ternama ditemani oleh asisten suaminya. Ah, ya. Namanya Axel, dia asisten sekaligus sekretaris pribadi Arland.
Pergi bersama Kania, karena Arland sendiri sedang ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan. Namun, karena kurang percaya dengan selera Kania, sekaligus khawatir membiarkan istrinya yang tengah hamil muda itu pergi belanja sendiri, maka tercetuslah Alex untuk menemani.
"Dia benar-benar keterlaluan, dasar bossy tahunya cuma memerintah orang ini itu saja. Cih, dia pikir dia itu siapa?!" geram Kania menggerutu masih terbawa kesal pada suaminya sampai sekarang.
"Maaf Bu, tapi Pak Arland itu jelas-jelas adalah CEO dan merupakan suami Ibu. Itu artinya dia memang siapa-siapa," jawab asisten suaminya yang bernama Alex itu.
Kania tiba-tiba terdiam dan menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap galak Alex. "Oh, jadi maksud kamu karena Mas Arland seorang CEO jadi dia berhak melakukan apapun pada orang lain dan bersikap seenaknya gitu?" balas Kania sedikit menaikkan nada suaranya karena bertambah kesal setelah mendengar pembelaan Alex pada Arland.
"Gila kamu, sama-sama gilanya dengan bos kamu itu. Cih, padahal tuhan saja yang jelas-jelas pencipta alam semesta dan seisinya, tidak seperti itu!" omel Kania tak habis pikir.
Alex jadi terpojok dan bagaikan bocah yang diomeli ibunya dia cuma bisa menundukkan kepala tanpa berani menatap ibu bosnya itu.
Sementara itu Kania yang kesal malah melampiaskan dengan cara yang agak ekstrim. Setelah mengomeli Alex, dia belanja seperti tidak ada hari esok saja. Alex bahkan sampai sangat kewalahan membawa belanjaannya.
Sementara itu, ternyata Tiara sedang di sana juga. Mengunjungi salah satu toko langganannya dan sudah melihat sang adik, tapi dia tak menghampirinya.
'Sial. Ini yang dia bilang tidak dicintai? Setelah merebut tunanganku, Kania malah makin keenakan saja dan bukannya kualat. Ini sungguh tak adil.
Aku yang meninggalkan Arland beberapa hari setelah pernikahan bahkan, masih tidak bisa balikan dengan mantan kekasihku. Namun, adikku yang kejam dan tak ada hatinya selain sudah mempermainkan ku, dia bahkan sekarang sangat bahagia bisa belanjakan sepuasnya tanpa memikirkan pengeluaran!' geram Tiara membatin dengan tak terimanya.
Rasanya kebahagiaan di wajah sang adik sudah seperti luka di hatinya.
➡➡➡
__ADS_1
Malam pun tiba, Arland dan Kania segerakan berangkat bersama ke pesta yang sudah mengundang mereka sebagai tamu istimewa. Arland tampak lebih tampan malam itu dan jujur saja Kania sangat terpesona pada penampilannya.
Sayangnya berbeda dengan Kania, Arland justru sangat geram pada penampilan Kania.
"Seharusnya aku memang menemanimu, dan bukannya malah membiarkanmu pergi dengan Alex!" seru Arland ketika saat ini mereka ada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke pesta. Arland tidak mengemudikannya, karena mereka menggunakan jasa sopir saat ini.
"Sudah menghamburkan banyak uang, semua pakaian yang kau beli ternyata murah-an. Cih, pakaian yang cuma cocok dipakai jala-ng!" cibir Arland.
Sebenarnya pakaian yang Kania beli memang rata-rata kurang bahan dan salah satunya sedang dipakainya sekarang. Itulah kenapa Arland saat ini tak bisa tenang dan ingin meledak terus.
Memang ada beberapa yang bagus dan sesuai seleranya Arland, tapi Kania yang juga menyimpan kesal. Memanglah sengaja mengenakan pakaian itu untuk membalas suaminya. Arland pikir dia saja yang bisa geram, sayang Kania pun bisa dan dia saat ini sedang merasakannya.
"Aku memang jala-ng, dari awal kita menikah kamu memperlakukanku begitu. Jadi cocok bukan aku memakainya?" blas Kania secara tak terduga.
Arland segera menghunuskan tatapannya tajam, tak terima dengan ucapan itu dan dia benar-benar geram sekarang.
Kania memutar bola matanya jengah. Sebenarnya bukan hanya Arland yang tak suka dengan kalimatnya itu. Mengakui dirinya sendiri adalah jala-ng, sungguh hati Kania tertekan juga, tapi saat mengingat ucapan Bella siang itu, sampai sekarang dia terus memikirkannya dan membenarkannya.
Cuma statusnya saja di atas kertas yang merupakan seorang istri, kalau di atas ranjang dia cuma pemuas nafsu, seperti yang pernah dikatakan suaminya tempo waktu.
"Kenapa harus marah, bukankah beberapa hari lalu kamu juga mengingatkan aku tentang hal itu. Aku jangan besar kepala, karena statusku tak ada bedanya dengan jala--"
Arland yang tak tahan segera membungkam bibir istrinya dengan tak terduga dan juga cukup spontan. Selain dengan itu mereka saling memandang dengan tajam, sebelum kemudian saling memalingkan wajah satu sama lain.
Sehingga perjalanan mereka pun hanya keheningan, sudah seperti tidak ada kehidupan di dalam mobil itu.
➡➡➡
__ADS_1
Lyra tiba lebih awal di pesta itu, dia tak sendiri dan datang dengan Alex sesuai yang diharapkan Arland. Bergabung ke pesta sambil menantikan sang kekasihnya tiba.
'Orang-orang pasti akan iri denganku, karena bisa bersanding dengan pengusaha kaya dan muda seperti Arland. Cih, walaupun sebenarnya mereka tak tahu betapa membosankannya pria itu, tapi tak apalah yang penting dompetnya tebal!' batin Lyra tersenyum senang.
Harapannya pun menjadi kenyataan, karena beberapa ibu sosialita dan perempuan lainnya dari kalangan atas mulai menghampirinya dan memuji kalungnya.
"Ini dibelikan oleh pacarku, kalian tahulah seberapa kayanya Arland!" seru Lyra heboh dan bahkan lebih heboh dari pemilik acaranya.
"Benar juga, tapi aku suka sekali dengan desainnya. Ini begitu elegan apalagi ukiran berliannya itu sangat istimewa," puji seseorang membuat Lyra lebih percaya diri lagi dan semakin melebarkan senyumannya.
Awalnya masih begitu, sampai kemudian terlihat Arland tiba sambil menggandeng tangan istrinya dengan posesif. Tatapan Lyra pun berubah menjadi pucat.
'Kok dia bawa istrinya sih, bukannya katanya aku yang akan menjadi pasangannya di sini?!' bingung Lyra membatin dengan kecewa.
Tak sampai disana, Arland pun mengenalkan Kania sebagai istrinya pada teman-temannya, sampai mereka heran karena setahu mereka pasangan Arland selama ini adalah Lyra.
"Pacaran dengan siapa, eh nikahnya malah dengan siapa?" ujar salah satu dari kenalannya.
"Begitulah hidup, beberapa orang hanya menempatkan dirinya pantas cuma menjadi pacar dan lainnya malah menempatkan dirinya sebagai istri!" seru Arland menjawab dengan percaya diri.
"Pantas sih, keliatannya istrimu juga lebih ayu dan juga cantik!" seru orang lainnya menimpali dan itu semakin membuat Lyra panas dingin sendiri.
Dia ingin maju dan buka suara, tapi kemudian dia cuma pasrah serta tak berdaya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah sabar dan menunggu waktu yang tepat untuk menuntut ucapan Arland yang bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya tentang dirinya.
Seorang Lyra cuma pantas dijadikan pacar, sementara Kania adalah perempuan yang paling tepat untuk di jadikan istri. Sungguh hal tersebut membuatnya merasa terhina.
➡➡➡
__ADS_1
TBC