Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Tidak Lemah


__ADS_3

Sementara itu, Arland sebetulnya tak mau meladeni Tiara. Dia cuma memanfaatkannya untuk membalaskan Kania. Tepat pada hari ulang tahun ibunya, Arland mengetahui laporan mengenai perbelanjaan Kania. Wanita itu membeli jam tangan khusus untuk pria dan hal itu langsung membuatnya merasa bahwa dirinya sudah dihianati.


Arland marah dan tak terima akan hal itu. Dia sudah dihianati sekali, tapi kali ini dia takkan membiarkannya lagi. Inilah alasanmengapa dia tiba-tiba berubah dan menjadi kejam pada istrinya.


"Sial. Apakah semua perempuan sama saja, tidak cukup hanya satu pria di dalam hidup mereka?!" geramnya murka. Dia selalu pusing dan memanas karena tak terima dengan hal itu. Rasanya dia ingin meledak, jika pikiran warasnya tak mencegatnya.


"Andai saja dia tak hamil anakku, sudah aku hajar perempuan sialan itu!" marah Arland tak bisa berpikir jernih.


Pintu ruangannya diketuk, Alex muncul di sana setelah diizinkan. Berdiri dihadapannya dan berniat melaporkan apa yang sudah diketahuinya soal Kania.


"Katakan!" ujar Arland mempersilahkan. "Apa yang wanita itu lakukan setelah melihatku bersama Tiara?"


Alex membuang nafas kemudian menariknya panjang. "Maaf Pak Arland, tapi Ibu Kania tidak terlihat pergi makan siang karena hal itu dan kata Pak Bayu manager dari divisinya, istrinya Bapak bahkan sudah memberikan makan siang untuknya," jelas Alex dengan seadanya.


Brak!


"Sial!! Perempuan itu kenapa suka sekali menguji kesabaranku. Apa maunya sebenarnya?!" geram Arland yang langsung bangkit dari duduknya.


Mengusap wajahnya kasar kemudian mengusap rambutnya kebelakang. "Panggil dia kemari dan jika tak mau katakan jika aku suaminya sendiri yang akan turun tangan!" perintah Arland.


"Baik, Pak," jawab Alex tanpa ragu.


Setelah itu Arga pun kembali duduk dan memijat jidatnya yang terasa sakit. "Apa yang harus aku lakukan. Satu sisi perempuan itu memang harus diberi perhitungan, tapi sisi lainnya aku tak bisa kejam padanya, karena dia sedang mengandung anakku!" seru Arland bingung.


• • •


Kania menganggukkan kepalanya, menyetujui perintah dari atasannya supaya menemui Arland di ruang kerjanya. Walaupun bingung dan sudah dibuat sakit hati perempuan itu tetap menurut. Dia bergegas menemui Arland dengan memaksakan diri.

__ADS_1


"Masuk!" kata Arland yang rupanya menyadari kehadiran Kania.


Kania menurut dan tanpa bicara dia menatap Arland. Sementara suaminya itu menatapnya cukup intens sebelum berbicara. "Kenapa tidak makan siang?"


"Siapa bilang?" balas Kania cepat.


"Jawab saja dulu dan jangan banyak bertanya!" tegas Arland dengan penuh peringatan.


"Aku sudah makan siang dan juga minum vitamin untuk menjaga kanduganku," ujar Kania dengan yakin.


Arland menghela nafasnya kasar, bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Kania. Memegang bahu istrinya, tapi kemudian di tepis oleh Rania. Perempuan itu spontan mundur dan menjaga jarak. Membuat Arland tersinggung dan terluka egonya. Sehingga pria itu pun memaksa mendekat dan menarik Rania dengan cengkraman yang cukup keras.


"Lepas!"


"Jangan berbohong!"


Keduanya saling berucap saling bersamaan dan menatap dengan sama tajamnya. Tidak ada yang mau kalah, Arland dengan egonya dan Kania dengan sakit hatinya.


Dalam sekejap kedua bola mata Kania langsung berkaca-kaca. Arland segera membuang wajahnya tak tahan melihat itu dan mendesah kasar kemudian melepaskan Kania.


"Selalu saja begitu, dasar wanita lemah. Apa-apa mudah sekali menangis!" bentak Arland kesal.


Kania segera menghapus air matanya yang tak terbendung dan sudah menetes begitu saja. Meremas telapak tangannya kasar kemudian ujung bajunya sendiri. Berusaha menguatkan hati dan tidak meneteskan air mata yang lebih banyak lagi.


"Dari pada kamu, apa-apa bisanya kasar dan berteriak. Kamu pikir aku tuli, sampai kalau bicara dengan ku kamu selalu menguatkan suara?! Padahal dengan perempuan lain kamu manis sekali!" balas Kania tak mau kalah.


Air matanya memang terus saja mengalir, tapi bukannya terisak dia yang terluka malah lebih galak dengan Arland.

__ADS_1


"Ah, ya. Jangan kamu pikir hanya karena kamu laki-laki kamu bisa membuangku. Karena aku juga sama. Jika bukan karena uangmu, laki-laki baji-ngan sepertimu juga tak berguna bagiku dan aku bahkan sangat jijik tiap kali kamu sentuh. Entah bekas perempuan mana saja kamu, dasar gigo-lo!!" ujar Kania balas berkata tajam.


Membuat Arland mengepalkan tangan. Sungguh istrinya ini memang tak terduga, bisa sekali dia marah sambil menangis dan kata-katanya membuat Arland sangat tersinggung.


"Breng-sek, tau dari mana kamu aku gi-golo! Asal kamu tahu baru denganmu aku lepas per-jaka!" seru Arland.


Kania mengusap pipinya lagi, karena air matanya rupanya belum berhenti. "Apa buktinya kamu masih suci saat bersamaku?!" sarkasnya tajam membuat Arland terdiam.


"Kita baru menikah saja kamu sudah pulang malah, dan beberapa kali pulang mabuk. Apa jaminannya untuk laki-laki seperti kamu masih utuh tak tersentuh dengan perangaimu yang buruk begitu?"


Arland mengepalkan tangan, lalu ketika tak tahan dia membungkam Kania dengan kasar. Tak memberi jeda bahkan ketika nafas keduanya sulit. Barulah berhenti setelah Arland merasa puas, dengan deru nafas keduanya yang tak beraturan.


Tanpa bicara Arland kembali ke tempat duduknya sementara Kania yang diperlakukan masih terdiam sambil meraup udara sebanyak-banyaknya. Keheningan menyelimuti keduanya, meski tak berlangsung lama karena Alex asisten pribadi Arland segera datang dan mengantarkan makanan.


"Habiskan makan siangmu, dan menurutlah jika kamu tak mau menerima kemarahanku!!" seru Arland memperingatkan.


Kania tak takut dan mendengus kasar sambil tersenyum meremehkan.


"Kalau aku tak mau memangnya kamu bisa semarah apa Mas?!" sarkasnya dengan berani. "Ingatlah untuk selalu menyadari bahwa dalam diriku aku membawa bagian dari dirimu. Harusnya kamu yang takut karena anakmu bisa kenapa-napa jika kamu seenaknya!"


Kania yang akhirnya merasa pegal berdiri, berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Dia segera menghapus air matanya dan kali ini tak mau cengeng lagi. Terpikirkan sesuatu diapun bermaksud untuk menekan suaminya.


"Ah, ya. Aku tidak suka makanan ini. Siapa yang mau makan selera orang menjijikkan sepertimu Mas?!" tegas Kania mempermainkan Arland. Teringat bagaimana suaminya sudah tega membuang masakannya, maka diapun berniat membalaskannya. "Aku ingin makanan lain dan sesuai selera, dan jika kamu tidak memberinya, maka jangan salahkan aku jika anakmu akan kelaparan!" ancam Kania menekan suaminya.


Arland mendengus kasar dan segera mengusap rambutnya sendiri karena kesal. "Alex ganti makanannya. Seperti yang kau dengar perempuan angkuh itu hanya mau makan yang dia inginkan!" seru Arland dalam kemarahan yang meski kemudian diapun menuruti Kania.


Mendengar itu Kania agak kesal, tapi kemudian diapun terpikirkan untuk mengerjai Arland. "Aku tidak mau dia yang mengambilnya atau membelinya. Aku mau masakanmu suamiku. Anakmu di dalam rahimku ini sepertinya ingin merasakan kasih sayangmu," jelas Kania santai dan dengan nada yang mempermainkan.

__ADS_1


• • •


TBC


__ADS_2