Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Lyra yang Menyedihkan


__ADS_3

"Jadi pacar maksudmu yang membelikan gaun mahal dan kalung yang kamu pakai sekarang bukan Arland yang itu?" ujar seseorang menghampirinya.


"Terus Arland yang mana dong? Perasaan pengusaha muda yang terkenal dan kaya yang bernama Arland, cuma Arland yang di sana tuh, yang lagi posesif sama bininya!" ceplos perempuan tadi lagi.


Namun tak hanya dia, beberapa yang sebelumnya memujinya, setelah kedatangan Arland dengan Kania, malah berbalik mempertanyakannya.


"Kalau Arland yang kamu maksud palsu, jangan-jangan yang kamu pake juga palsu ya?" timpal seseorang ikut nimbrung.


"Sialan, jangan berkata asal ya. Ini asli, bukan imitasi!" geram Lyra memperingatkan.


"Halah, masa sih. Kalau dilihat-lihat secara mendalam lagi, sepertinya berliannya bahkan tak begitu berkilau. Bukan batu, tapi kaca!" ceplos seseorang lagi.


Kenalan Lyra datang dan menghampiri mereka. Tatapannya langsung terfokus pada kalungnya Lyra.


"Loh, Lyra. Kalung kamu kok bisa samaan ya dengan punya adikku yang katanya dia beli pasar. Kamu tahu Laura bukan, adikku yang aneh itu yang lebih suka ngoleksi barang imitasi gara-gara terlalu irit," ujar kenalannya itu membuat Lyra tak tahan lagi.


Lyra pun menghampiri Arland dan menuntutnya karena sudah hilang akal. "Baby tolong jelaskan pada mereka kalau mereka sudah salah. Kita belum putus dan kamu masih Arland yang sama yang menjadi kekasihku. Bilang pada mereka bahwa istri mu bukan apa-apa dan juga perhiasan yang kamu berikan ini asli," ujar Lyra langsung menarik Arland dari Kania.


Namun bukannya menurut, Arland malah langsung menghempaskan tangan Lyra, dan menatapnya dengan sorot kebencian yang nyata serta berasal dari hatinya.


"Kita sudah putus, berhenti mengada-ada dan siapa bilang istriku tak berarti, dia sangat berharga untukku!" seru Arland sambil menarik Kania dan merangkulnya kembali dihadapan semua orang termasuk Lyra sendiri.


"Dan oh, ya. Aku tidak pernah memberimu perhiasan. Jikapun aku ingin memberi, itu sudah pasti akan ku berikan pada istriku yang kucinta ini!" jelas Arland tanpa sadar membuat Kania berdebar dan segera membuatnya menatap aneh.


"Tidak! Kamu berbohong. Jelas-jelas baru tadi siang kamu memberinya padaku lewat Alex asisten mu dan bahkan kau juga yang memintaku mengantarkan aku kemari agar kita disini bersama dan menjadi pasangan!" seru Lyra menjelaskan.


"Sudahlah Lyra. Berhenti mengaca, dan jangan membuat istriku salah paham. Lagipula jika benar aku yang memberikan kamu perhiasan, aku juga tidak mungkin memberikan perhiasan imitasi seperti yang kamu pakai," seru Arland dengan lantang membuat Lyra malu saja.


Namun perempuan itu masih bertahan dan menelan bulat-bulat rasa malunya. "Baby, kamu kenapa begini, kenapa tiba-tiba beru--"


"Tutup mulutmu Lyra dan berhentilah menciptakan salah paham dihadapan istriku!" potong Arland dengan galak sambil kemudian menarik Kania menjauh.


Samar-samar Kania masih mendengar ucapan orang di sekitar mereka yang mulai mempertanyakan hubungan suaminya dengan perempuan yang baru dilihatnya itu.

__ADS_1


Namun beberapa ucapan lainnya malah membuat Kania menghubungkan sesuatu dengan apa yang pernah dia pergoki dalam ingatannya.


"Halah, ternyata beneran kalung palsu, Lyra. Astaga, ternyata kalian sudah putus, tapi putus-putus dari Arland, kamu kok jadi gila sih Lyra?!" ujar salah tamu di sana yang mungkin mengenal Lyra dan Arland.


Kania masih mendengarnya dan berpikir keras. 'Jadi perhiasan palsu yang Mas Arland bicarakan di telepon waktu itu diberikan pada perempuan tadi, tapi eh, tunggu dulu ... waktu mabuk beberapa waktu itu, bukannya Mas Arland juga mengutuk nama Lyra sebagai penghianat?!' batin Kania bertanya-tanya.


'Jangan-jangan perempuan tadi emang beneran penghianat dan jangan-jangan Mas Arland ini lagi ajang balas dendam sama dia!' lanjut Kania lagi dan masih membatin.


'Kejam juga, tapi wajar saja sih. Kepadaku yang tidak punya dosa sama dia saja, dihabisi habis-habisan, apalagi perempuan tadi. Kasihan juga!' batin Kania lagi.


"Ngapain kamu ngelamun?" ujar Arland sambil mengguncang bahu Kania ringan.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang disediakan khusus untuk tamu di pesta itu. Masih belum pulang karena Arland belum puas melihat Lyra tersiksa, tapi disisi yang sama dia cukup peka untuk tak membiarkan istrinya yang hamil itu kecapean. Itulah mengapa dia membawanya untuk duduk.


"Buat mikirin kamu, memangnya apa lagi," jawab Kania seadanya.


Arland mengerutkan dahi, menyeringai menatap aneh Kania. "Memikirkan aku, kamu mulai tertarik?"


Kania langsung menatap lekat suaminya dan berpikir suaminya sudah salah paham. Arland pasti berpikir dia sudah jatuh hati pada pesonanya, padahal bukanlah seperti itu.


"Ya, apakah kamu cemburu?" tanya Arland langsung ke poin inti dan Kania langsung geleng kepala dengan tegasnya.


"Bukan cemburu, tapi agak tidak menyangka aja, selera kamu sebelum sama aku buruk juga. Kang pamer dan barbar," jawab Kania berterus terang.


Anehnya Arland tidak marah dan justru mengangguk setuju. "Begitulah," jawab Arland singkat.


Sementara itu beberapa meter dari posisi mereka berada, terlihat Lyra yang sudah menangis dan keluar pesta sambil berlari terseok-seok.


Kania melihat itu dan jujur dia memang cukup iba, cuma dia memangnya bisa apa untuk membantu. Lagipula akan aneh jadinya jika seorang istri perhatian pada pacar suaminya sendiri.


"Kamu tidak mengejarnya?" tanya Kania menoleh menatap Arland dan ternyata dia melihat suami juga tengah memperhatikan Lyra.


"Dasar bodoh!" kali ini Arland malah mengumpat pada Kania karrie ucapannya. "Memang siapa dia, sampai aku repot untuk mengejarnya?"

__ADS_1


"Pacarmu!" jawab Kania cukup sarkas.


Arland langsung mendengus kasar dan menatap tajam Kania. "Aku bukan dirimu yang bela-belain bertemu dengan kekasihmu dibelakang suamimu sendiri. Kau tahu kenapa? Itu karena aku bukan penghianat dan sekali seseorang menghianatiku tidak ada ampunan untuknya!" tegas Arland begitu tajam.


Kania mengangguk paham, tapi sebetulnya dia memang cukup tersinggung dengan perkataan suaminya. Hanya saja memang begitu adanya, jadi bagaimana mungkin Kania melakukan pembelaan pada dirinya sendiri.


"Sudah lapar?" tanya Arland akhirnya mengalihkan pembicaraan. Dia cukup peka kalau istrinya sudah kepikiran ucapannya, dan dia tak mau calon bayinya kenapa-napa. Itulah mengapa dia melakukan pengalihan.


Kania mengangguk saja dan Arland segera berdiri untuk mengambil makanan untuk istrinya, akan tetapi tiba-tiba saja Kania menahan lengannya ketika akan beranjak.


"Kau mau yang lain?" tanya Arland dan Kania mengangguk.


"Ya, dan aku sangat haus juga, tapi aku mohon jangan marah," cicit Kania sedikit merengek.


"Kenapa memangnya, kalau kamu haus aku tinggal ambilkan minum sekalian," jawab Arland santai.


"Tapi aku tak mau minuman apapun di pesta ini. Aku maunya minuman kemasan dan minum langsung di indomaret!" seru Kania dengan wajah yang penuh binar.


Arland sudah membulatkan matanya dan bersiap untuk mengomel, melihat itu Kania segera siaga dan cari aman.


"Sepertinya aku sedang ngidam," jelas Kania segera beralasan supaya Arland tak jadi marah.


"Kamu ngidam?!" tanya Arland masih tak percaya.


"Ya, sepertinya itu permintaan anak kamu, jadi jangan menyalahkan aku, salahkan saja dirimu sendiri," jelas Kania seenaknya.


"Kenapa kamu malah menyalahkanku?" tanya Arland semakin mengerutkan dahi sambil tak terima.


"Kamu kan suka seenaknya, jadi gen kamu yang begitu sudah pasti menurun ke anak kamu. Jadi tanggungjawablah. Aku mau minum sekarang dan aku tidak mau tahu!!"


Tiba-tiba saja, Kania ikut berdiri dan anehnya dia malah dengan begitu berani menuntut suaminya yang kejam itu. Tak tanggung, Kania bahkan sampai berkacak pinggang.


➡➡➡

__ADS_1


TBC


__ADS_2