Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Kue Ulang Tahun Untuk Mama


__ADS_3

"Astaga, kamu masak lagi?" tanya Arland yang tiba-tiba muncul di dapur dengan wajah frustasi.


Kania sadar, pria itu pasti trauma memakan masakannya, tapi kali ini Kania bermaksud untuk mengobati trauma itu.


"Apa kamu takut rasanya tidak sesuai dengan yang kamu harapkan?" tanya Kania.


"Bukan. Hanya saja biasanya kamu mau makan malam diluar sejak hamil dan aku hanya merasa aneh saja kali ini sepertinya kamu mau makan malam di rumah," jelas Arland, tapi Kania sadar suaminya itu mengeles saja.


Arland bohong, tapi karena untuk menyenangkan Kania dia mengatakan hal lain saja.


"Tenang saja, aku sudah bisa memasak kok. Aku belajar terus sama Bi Surti dan kali ini tak ada micin yang kebanyakan atau takaran garam yang berlebihan," ujar Kania yang bisa menebak baik kegelisahan suaminya.


"Aku tidak bermaksud meledek, tapi kamu sendiri pun tahu masakanmu waktu itu sangat mengerikan," jawab Arland akhirnya jujur.


Namun bukannya marah Kania malah terkekeh geli. "Tapi kamu menghabiskannya dan bahkan cuma menyisakan sedikit. Andaikan malam itu aku tak turun ke dapur setelah kita makan malam dari luar, atau Bi Surti segera membereskan bekas piringmu mungkin aku tahu itu," kata Kania sambil kemudian menghidangkan masakannya yang sepertinya sudah jadi.


"Siapa bilang kamu takkan tahu. Kamu sedang mengidam Kania ingatlah itu, dan kalaupun kamu tidak sadar sendiri, aku yang akan beritahu sendiri karena kalau tidak aku yang menuruti ngidammu akan berakhir sia-sia!" seru Arland.


Kania tersenyum saja, dan kemudian memuji dengan tulus. "Ya, aku tahu itu dan kamu sepertinya memang calon ayah yang paling sempurna. Segitu sayangnya sama anak kamu sampai semua ngidamnya aku belum ada yang belum kamu kabulkan!"


"Tentu saja. Karena janin itu bagian dariku Kania," jelas Arland serius.


Membuat Kania iri saja. Bisakah dia berharap kalau Arland yang perhatian tak hanya pada janin saja, tapi juga dirinya juga.


"Huhhh!" Kania mendesah kasar. 'Apa-apaan kamu Kania. Apa yang sudah kamu pikirkan? Mana mungkin suami kejammu ini bisa jatuh cinta secepat ini kepadamu?' batin Kania agak kecewa dengan harapannya sendiri.


"Kenapa jadi melamun begitu. Mana masakanmu, biar aku cicipi siapa tahu saja rasanya masih sama," gurau Arland memecah suasana dan membuat Kania segera sadar serta langsung protes.


"Ini enak Mas Arland, cicipi saja rasanya pasti takkan sama," jawab Kania yang dengan sismgap langsung menghilangkannya untuk suaminya.

__ADS_1


Arland mencicipi dan segera sadar rasanya memang berbeda. Itu memang jauh lebih baik dari sebelumnya dan dia segera tersenyum manis setelah mengunyahnya.


"Bagaimana? Rasanya bintang lima bukan?!" tanya Kania menuntut dengan percaya dirinya.


"Masih belum sesempurna itu Kania, tapi lumayan sih untuk pemula seperti mu," jawab Arland setelah menelan sepenuhnya makanannya dan juga minum sebelumnya.


Kania mendesah kesal. "Dasar tidak bisa menyenangkan istri. Sekali-kali berbohong kek, biar aku senang gitu!" rengek Kanja Kania membuat Arland gemas saja.


"Tidak begitu konsepnya Kania. Namun tenang saja, sebagai suamimu aku berjanji akan berusaha membuatmu terus bahagia, tapi aku tak mau itu dengan kebohongan, karena aku sadar segala sesuatu yang berdasar kebohongan hanya kepalsuan yang bersifat fana," jelas Arland serius dan membuat Kania menghangat.


"Hm, ngomong-omong, apa yang kamu belikan untuk mama pada hari ulang tahunnya besok?" tanya Arland penasaran.


"Tidak spesial," jawab Kania tiba-tiba lesu dan tak bersemangat menjawabnya.


"Kenapa?" bingung Arland mengerutkan dahi mendengarnya.


Arland jadi sadar maksud Kania pagi itu dan menyesal. "Aku tahu, tapi seperti yang kamu tahu aku sibuk Kania," jelas Arland terlihat murung.


Melihat itu Kania jadi ikut sedih dan memikirkan sesuatu untuk menghibur sekaligus menghibur Arland. "Bagaimana kalau malam ini kita buat kue ulang tahun sendiri untuk mama, Mas?"


"Memangnya kamu bisa?" tanya Arland serius dan Kania langsung geleng kepala. "Terus bagaimana?"


"Kita coba buat saja. Belajar dari tutorial youtube mungkin?" tawar Kania dan Arland setuju saja karena itu tak ada yang salah.


Habis makan malam mereka pun membuat kue bersama, tapi dari sana Arland jadi sadar kalau ada yang salah dengan pipi Kania. Membuat adonan kue bersama membuat jarak mereka sangat dekat dan tipis, dan itu membuat Arland melihat jejak lima jari yang samar di pipi istrinya. Hampir tidak kelihatan, tapi kalau diperhatikan jelas maka akan kelihatan jelas apalagi dari jarak dekat.


"Aku pikir ini hanya perona pipi yang tidak rata dan lebih merah dari pipimu yang sebelahnya, tapi sepertinya bukan!" Tiba-tiba Arland serius dan mengapit Kania kemudian mengusap pipi istrinya.


Kania jadi gemetar apalagi saat mengingat kejadian siang itu. Dia menepis tangan suaminya dan tiba-tiba berkaca-kaca. "Ini semua gara-gara kamu Mas!" tuduh Kania serius. "Kalau saja kamu menemaniku siang tadi, aku tidak akan menghadapi Keenan sendirian dan aku tidak akan mendapatkan tamparan sembarangan darinya!!" jelas Kania jujur membuat Arland merasakan bersalah.

__ADS_1


Pria itupun menyesal dan menarik istrinya ke dalam pelukannya. 'Jadi bajing-an itu sudah berani mengganggu Kania-ku, hanya karena aku tak berada disisinya?!' geram Arland yang menjadi marah dan kemudian dia bersumpah dalam hati akan membalasnya suatu ketika.


"Maafkan aku Kania, lain kali jika aku sibuk kamu tidak usah pergi sendiri sama sekali dan aku janji tidak akan membiarkan kejadian ini terjadi lagi. Hm, tapi apakah kamu baik-baik saja dan apakah--"


"Bekas tamparannya sudah aku obati, jika itu yang kamu tanyakan. Hm, lupakan ini ingat tujuan kita malam ini. Mau buat kue ulang tahun untuk mama, jadi anggaplah kejadian ini tak pernah terjadi, tapi lain kali kamu tidak boleh membiarkanku sendiri!" seru Kania menuntut.


Anehnya jika pasangan lain ingin lebih bebas dari pasangannya, tapi Kania sedikit menyimpang rupanya, karena dia justru ingin Arland lebih posesif kepadanya.


"Iya, Kania bawel. Udah ah, kalau begitu lepas pelukannya, nanti aja dilanjutkan kalau kamu ketagihan," jawab Arland meledek untuk menghibur, walaupun dihatinya justru memikirkan hal lain.


'Awas saja kamu Keenan bajing-an, aku akan membalaskan perbuatanmu pada istriku!!' batin Arland serius dan bersungguh-sungguh.


"Idihh, siapa yang nggak mau lepas. Mas tuh yang kesempatan peluk-peluk!" gerutu Kania, tapi tanpa sadar dia memang agaknya tak rela melepaskan pelukan Arland. Jika bukan gengsi dia pasti sekalian akan mendusel-dusel pada dada bidang suaminya, tapi sialnya gengsinya malah sebesar gunung.


"Hm, udah ah. Sekarang gimana ini?" tanya Kania menunjukkan tepung yang sudah dicampur dengan beberapa bahan.


Arland juga bingung, karena mereka sama-sama tidak bisa memasak. "Yaudah. Kita tonton lagi tutorialnya?" saran Arland.


Namun yang mereka tidak sadari adalah karena sempat asik dengan masalah tamparan di pipinya Kania. Video youtube yang sempat mereka tonton sudah berganti dengan video lain.


"Loh, kok jadi film Upin-Ipin, Kania?" tanya Arland bingung. "Mana video tadi?"


"Mana aku tahu. Udah, ah. Jangan dipusingkan lebih baik cari lagi," saran Kania.


• • •


TBC


• • •

__ADS_1


__ADS_2