Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Marah Pada Kania


__ADS_3

"Terimakasih, Nyonya sudah menyelamatkan saya dari kemarahan Tuan," ujar Sisi dengan tulus.


Kania menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Tidak masalah Sisi. Kamu juga sudah menyelamatkan ku kemarin dari laki-laki gila itu."


"Tapi apakah Nyonya tidak masalah, gara-gara hal itu tuan sangat marah?" tanya Sisi yang kemudian khawatir.


Kania menggelengkan kepala. "Semarah apapun Mas Arland tidak akan melakukan apapun kepadaku, sebab aku istrinya dan sedang mengandung anaknya. Jadi dia tidak akan mungkin menyakiti aku atau bahkan mengusik aku. Percayalah dan tidak perlu khawatir begitu," jawab Kania percaya diri, meskipun sebenarnya hatinya meragu atas apa yang sudah dia katakan tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu, Nyonya mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Sisi menawarkan.


"Tidak usah, Si. Aku sudah terlambat," jawab Kania.


Namun Sisi tak mudah menyerah diapun menawarkan untuk membuatkan bekal. "Bagaimana jika Nyonya saya siapkan untuk makan di kantor?"


Kania lagi-lagi menggelengkan kepala. "Hari ini aku ingin makan bubur ayam, dan kalau itu bukannya tidak cukup untuk menyiapkannya. Sudah. Biar aku makan di kantor saja nanti," jelas Kania membuat Sisi akhirnya menyerah dan Kania pun berlalu dari sana.


"Nggak nyangka kalau nyonya baru kita baik ya, Kak Cit," ujar Sisi akhirnya menyapa Citra yang sebetulnya memang ada di sana, tapi tak ikut menimpali karena sedang asik berkutat dengan masakannya.


"Baik apanya? Dia itu palingan cuma manis di luar, tapi sudahlah anak kecil macam kamu mana mengerti itu," jawab Citra ketus.


Beberapa saat kemudian Arland terlihat mau berangkat kerja, dan Citra dengan cepat menghampirinya. "Apakah Tuan tidak sarapan?"


"Tidak. Aku sudah sangat terlambat," jawab Arland acuh.


Citra tak menyerah dan menyamai langkahnya kemudian dengan berani memberikan kotak bekal untuknya. "Kalau begitu bawalah makan ini Tuan. Untuk sarapan di kantor nanti. Tidak bagus jajan di luar dan itu kurang bagus juga higenis," jelas Citra perhatian.


Arland hanya menerimanya saja, kemudian berlalu dari sana tanpa sepatah kata. Sementara Kania sudah pergi lebih dahulu dan sebenarnya dia bukan pergi cepat karena takut terlambat, tapi menghindari Arland yang mungkin masih marah.


• • •

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan ya? Hm, walaupun aku sebenarnya tak salah dan cuma ingin menyelamatkan Sisi, tapi aku juga tak bisa membuatnya marah," ujar Kania pada dirinya sendiri.


"Aku tetap harus minta maaf dan kalau perlu aku siapkan hadiah saja untuknya!" seru Kania percaya diri.


Dia merencanakan untuk memberi sesuatu untuk meredakan emosi suaminya, bersamaan dengan pada saat mereka pergi ke acara ulang tahun ibunya Arland nanti malam.


"Tapi hadiah apa ya? Mas Arland sudah punya segalanya dan tidak perlu apapun pagi ...." Kania sedikit lemas menyadari fakta tersebut. "Jam tangan ajalah!" putusnya yang kemudian memesan secara online. Di toko yang dekat saja dan masih dalam kota itu agar barangnya dikirimkan hari itu juga.


• • •


Malam tiba dengan cepat dan Kania saat ini sudah bersiap pergi ke tempat acara di mana ibu mertuanya merayakan ulang tahun. Hanya dikediaman perempuan paruh baya itu memang dan diadakan dengan sederhana, tapi Kania pikir dia harus tampil cantik malam ini.


Namun Arland belum tiba di rumah sampai saat itu, Kania pikir suaminya itu sibuk, tapi kemudian chat dari Arland membuatnya kecewa. Pria itu ternyata sudah ke rumah ibunya lebih dahulu dan memintanya datang sendiri ke sana. Mau tak mau, Kania pun melakukannya walaupun dia kecewa.


Tak lupa Kania membawa kue yang sudah dia disiapkan mereka semalam. Sebelumnya kuenya berada di tempat yang tepat jadi tidak perlu khawatir kalau kuenya rusak.


Sesampainya di sana, ternyata Arland belum datang dan membuat Kania bingung dengan keberadaan suaminya. Setelah dua jam menunggu, pria itu datang, tapi tak sendiri. Dia datang bersama Tiara kakaknya Kania mantan tunangan Arland.


'Padahal kemarin dia tak mau melakukan itu denganku. Aku pikir karena sibuk, tapi sepertinya dia memang tak perduli padaku. Ah, ya, hampir saja aku lupa, dia bahkan tidak menyakiti aku karena aku sedang mengandung anaknya saja!' batin Kania sedih.


"Wah, hadiahnya bagus sekali!" Arsyta Ibunya Arland terlihat senang dan menyukai pemberian Tiara.


Perempuan itu memang memberikan reaksi yang sama pada Kania ketika baru tiba tadi dan memberikan hadiahnya dengan Arland, tapi entah mengapa walaupun begitu Kania tetap kecewa.


"Ini pilihan anak Tante, tentu saja bagus. Selera seorang Arland Adhitama memang tak perlu diragukan," jelas Tiara membuat Kania langsung menatap Arland untuk meminta penjelasan, tapi suaminya itu malah buang muka.


Kania pun meremas telapak tangannya, sakit hati dengan perlakuan Arland yang demikian. Hal itu terus berlanjut sampai acaranya selesai dan bahkan Kania-Arland hampir tidak bicara sama sekali sepanjang acara. Kalau diperhatikan lagi, Arland dan Tiara yang justru terlihat sebagai pasangan pada malam itu.


"Kania kamu menginap disini saja, Nak. Kamu dan Arland di sini saja," ujar Arsyta begitu melihat anak dan menantunya mau pulang. "Soalnya sudah terlalu larut, dan Mama juga masih ingin menghabiskan waktu bersama kalian," jelas Ibunya Arland Arsyta.

__ADS_1


"Maaf, Ma, tapi Kania masih ada yang harus dikerjakan malam ini," jelas Kania beralasan memaksudkan pekerjaan kantornya, tapi saat mengatakan hal itu dia terlihat sangat canggung karena tak enak hati menolak.


Membuat ibu mertuanya salah paham dan berpikir akan ada malam romantis antara anak dan menantunya, yang mungkin tak mau dilewatkan oleh Kania. Membuatnya tersenyum saja dan mengusap pipi menantunya penuh kasih sayang.


"Baiklah Nak, kalau begitu Mama tak bisa melarang," jawab Ibu mertuanya sambil tersenyum aneh menggoda Kania.


Setelah pamit padanya, Arsyta langsung saja naik ke atas. Tak berpikir Arland melakukan hal yang sama. Kata dia pikir Kania sudah mewakilkannya. Sehingga malam itu karena agak lelah, perempuan paruh baya itu bersama suaminya langsung ke kamar dan beristirahat dan tak turun lagi.


Sementara Kania yang masih di rumah itu tiba-tiba kebingungan melihat tak ada Arland di sana. Setelah ditanyakan pada salah satu asisten rumah tangga ibu mertuanya, barulah Kania mendapatkan keterangan kalau Arland tengah pergi mengantar pulang Tiara.


Perasaan Kania terasa teriris mendengarnya, tapi dia tak membiarkan siapapun tahu itu meski cuma asisten rumah tangga di rumah mertuanya itu. Kania cuma menganggukkan kepala seolah-olah tak terjadi sesuatu lalu pulang dengan cara memesan taksi.


• • •


Sementara itu Arland kembali ke rumah orang tuanya, bingung tak menemukan Kania di sana pagi. Pria itu pun nekat menggedor pintu kamar ibunya.


"Kania di mana Ma?" tanya Arland membuat orang tuanya kebingungan.


"Loh, bukannya tadi mau pulang makanya Kania pamit pada kami?" tanya balik Arman ayahnya.


"Iya. Tadi Kania bilang kalian tak bisa menginap di sini karena masih ada urusan pekerjaan yang belum selesai. Terus kenapa kamu masih di sini dan di mana Kania?" tanya Arsyta bingung.


"Arland juga tak tahu Ma, Pah ..., tapi baiklah kalau begitu Arland pulang saja sekarang siapa tahu Kania sudah di sana dan pulang dari sini melupakan aku suaminya sendiri," jawab Arland setelah kesal.


'Apa-apaan sih perempuan itu? Setelah merusak guci antik milik mendiang Oma, dia malah bersikap aneh seperti ini. Berani sekali dia mengabaikanku dan bahkan pulang duluan. Sial. Apa dia tak tahu ini sudah sangat larut, dan bagaimana jika terjadi sesuatu kepada dirinya?' batin Arland yang tidak bisa tenang.


• • •


TBC

__ADS_1


• • •


__ADS_2