Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
31. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Brukk!


Arland sigap menangkap handuk yang Kania lempar kepadanya. Itu sedikit basah, karena mungkin efek dari Kania yang sudah memakainya lebih dahulu dan Arland menerimanya, rapi tak protes sama sekali.


"Mandilah. Aku sudah selesai!" seru Kania acuh tak acuh.


"Aku tahu, tapi ngomong-ngomong kamu lama sekali. Apa saja yang kamu lakukan di dalam?" tanya Arland penasaran.


Pria itu lantas berdiri dan hendak masuk ke kamar mandi. Sementara Kania yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya, berjalan ke arah meja rias dan duduk di depannya.


"Basahin tubuh pakai air, terus disabun, dicuci dan dilap menggunakan handuk," terang Kania dengan lancarnya.


"Tidak gosok gigi dan cuci rambut?" tanya Arland tak serius.


Tapi kemudian hal itu malah membuat Kania menoleh dan sangat serius menatapnya tajam. "Apa tak sekalian kamu tanya aku sudah ceb-ok atau tidak?" balas Kania dengan sengit.


"Ah, itu juga. Apakah kamu sudah ce--"


"Mas Arland lebih baik pergilah mandi sekarang!!" geram Kania tak menjawab pertanyaan Arland bagian manapun, karena tanpa dijelaskan seharusnya pria itu tahu apapun yang sudah dia lakukan.


"Baiklah, tapi sebaiknya kamu jangan galak-galak sayang. Kasihan anak kita di dalam," jelas Arland menunjuk perut Kania.


Spontan hal itupun membuat Kania ikut menatap ke arah perutnya. Untuk sesaat hatinya menghangat, tapi kemudian dia teringat kejadian Arland di kantor yang tengah dia pergoki sedang berteleponan dengan perempuan dan memanggil sayang.


"Mas mandilah, karena aku sudah sangat lapar sekarang!" tegas Kania mengalihkan pembicaraan.


Jujur saja dia memang masih kecewa dengan masalah di kantor itu dan sangat membuatnya kepikiran.


"Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali. Cukup Keenan yang sudah diambil Karin dariku, tapi tidak dengan Mas Arland. Persetan dia cinta atau tidak padaku. Ini semua demi anak dalam kandungan ku dan juga aku tak mau jadi janda!" tegas Kania pada dirinya sendiri.

__ADS_1


• • •


Bi Surti sudah menghidangkan makan malam untuk majikannya, Arland dan Kania. Kegiatan itu dibantu oleh Citra. Perempuan muda tapi sudah menjadi asisten rumah tangga itu bahkan sudah menyiapkan sesuatu yang sepesial di makanan Kania. Apalagi, tentunya hal sepesialnya itu adalah sesuatu yang bisa mencelakai Kania. Ah, ya, Citra ini semakin hari semakin berani saja.


"Huek!"


Tiba-tiba Kania yang tiba lebih dahulu di meja makan langsung terlihat mual melihat hidangan ikan di meja makan. Bi Surti memakluminya karena dia ingat Nyonya-nya itu sedang hamil muda.


"YaTuhan. Astaga, Nyonya apakah kamu baik-baik saja?"


Bahkan perempuan paruh baya itu itu langsung menghampiri, karena mengkhawatirkan. Berbeda dengan Citra yang malah memasang wajah asam dan tak suka.


'Mulai lagi drama murahan wanita busuk ini. Cih, dasar bedebah. Apa maksudnya mual begitu, menghina masakanku saja!' gerutu Citra yang justru merasa tersinggung.


"Aku nggak apa, Bi. Tapi apakah Bibi yang memasak hidangan ikan dan juga udang-udangan yang ada disana. Baunya sangat menyengat dan sangat membuatku merasa mual," jelas Kania membuat Bi Surti langsung memelototi Citra.


Bukan tanpa sebab perempuan pembantu senior itu menatap Citra galak, dia punya alasan dan dia sudah peringatkan Citra sebelum mereka memasak makan malam. Sebagai orang tua yang sudah cukup berpengalaman, tentu saja Bi Surti cukup hapal masalah kehamilan, salah satunya yaitu sensitif terhadap bau dan itulah yang sudah Bi Surti peringatkan.


"Apa yang salah dengan hidangan ikan dan juga udang. Itu enak, Nyonya Kania dan sebelumnya itu juga kesukaan tuan Arland!" ujar Citra membalas Kania dengan sedikit kurang ajar dan juga seenaknya.


"Ya itu memang tidak salah, tapi bau masakan hidangan itu yang cukup menyengat tentu saja sangat menyiksa Nyonya Kania, Citra. Sudah, cepat minta maaf," peringat Bi Surti memerintahnya.


"Apa-apaan sih, Bi. Saya nggak salah apapun. Nyonya saja yang terlalu berlebihan dan seharusnya dialah yang minta maaf karena sudah mual dihadapan makanan saya!" tegas Citra bersikeras, sambil kemudian melipat tangan di depan dada.


Kania mulai geram dan tak bisa diam lagi. "Saya tidak menghinamu, saya sedang hamil dan mual itu tiba-tiba datang secara alamiah! Sudahlah, jika kamu tersinggung itu terserah mu, dan tolong bersikaplah yang sopan. Bagaimanapun juga saya ini yang menggajimu!" tegas Kania memperingatkan Citra sambil menahan mual dan sambil menutup hidung dengan tangannya.


"Jangan mentang-mentang kamu adalah Nyonya, maka kamu berhak semena-mena pada pembantu miskin seperti kami!" balas Citra tak mau kalah.


"Saya tidak seperti itu!" tegas Kania.

__ADS_1


Sementara Bi Surti terus berusaha menyela untuk menengahi keduanya, tapi dasarnya Citra yang batu sulit dibuat mengerti, sementara Kania sudah terbawa emosi. Namun, beruntunglah Arland segera datang dan menghampiri mereka.


"Ada apa Kania, kenapa masih berdiri di sana?" tanya Arland langsung mendekati Kania.


Citra segera memucat karena takut Kania mengadu, tapi kemudian dia menjadi lega karena Kania mengatakan hal lain dan itu sama sekali tak berkaitan dengan pertengkaran mereka barusan.


"Aku tiba-tiba saja ingin makan di luar, dan sepertinya aku sedang mengidam. Apakah boleh?" tanya Kania basabasi.


Dia ternyata masih berbesar hati untuk tidak mempermasalahkan Citra. Dia masih punya hati dan cukup waras untuk tidak membuat kerusuhan ketika hati masih bisa ditenangkan.


Arland tak menjawab melainkan menatap Bi Surti dengan tak enak hati. Bagaimanapun juga status perempuan paruh baya itu, baginya Bi Surti tetaplah orang tua yang perlu dihormati.


"Tidak masalah Tuan. Lagipula kami bisa memakan makanan ini dan jika tidak habis menyimpannya. Keinginan ibu hamil itu yang utama, supaya bayinya tidak ileran nanti," jelas Bi Surti yang segera mengerti dengan maksud tatapan tak enak hati Arland.


Mendengar itu, Arland pun segera mengangguk lega, lalu menggandeng Kania untuk pergi makan di luar.


"Untung Nyonya Kania masih baik hati. Tidak mengadukanmu pada Tuan Arland. Karena kalau sampai itu terjadi, kamu pasti langsung dipecat atau bahkan lebih buruk lagi. Jadi bersyukurlah atau setidaknya berterimakasih pada Nyonya Kania," nasehat Bi Surti pada Citra setelah Arland dan Kania menghilang dari pandangan mereka.


Citra tak menjawab, tapi malah menatap kesal dan langsung menghampiri meja makan. Meraih kepala udang di sana lalu memakannya begitu saja. Sangking kesalnya dia bahkan melupakan bahwa di dalam masakan udang itu, dia sudah mencampurkan obat sakit perut. Barulah sadar ketika dia merasakan sakitnya.


'Astaga. Gila!! Kok malah aku yang makan sendiri dan merasakan akibatnya sendiri?' batin Citra merutuk kesal.


Melihat Citra yang terlihat aneh karena tiba-tiba diam, Bi Surti mengerutkan dahinya bingung. "Kamu kenapa Cit?" tanyanya heran, sayangnya tak ada jawaban dari Citra.


Citra sendiri malah tiba-tiba bangkit dan pergi dari sana dengan buru-buru.


"Anak itu kenapa sih. Aneh sekali?" ujar Bi Surti heran.


•••

__ADS_1


TBC


__ADS_2