
Kania membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower. Wanita itu menangis sambil memeluk dirinya di sana. Dia merasa kotor dan juga hina dengan apa yang sudah di alaminya.
Mungkin memang itu kewajibannya dan merupakan hak dari suaminya, tapi dipaksa dan diperlakukan buruk saat melakukannya, membuat Kania merasa hina. Arland seolah melihatnya seperti jala-ng.
Semata-mata laki-laki itu memilikinya hanya untuk menjeratnya dan memperingatkan Kania. Bukan karena kasih sayang atau mengeratkan hubungan mereka.
Sekarang sudah tak ada harapan kembali pada Keenan. Melihatnya begitu mesra di depan umum bersama Arland lewat foto, Keenan sudah sangat marah. Bagaimana dengan kenyataan kalau laki-laki sudah mengklaim kepemilikannya terhadap Kania.
Mungkin pria itu bukan hanya tak mau, tapi jijik padanya. Membayangkan hal itu, membayangkan bagaimana laki-laki yang dicintainya dan selalu memperlakukannya baik sebelum kejadian di kafe itu, membuat Kania lebih terisak lagi.
Dia begitu hancur dan juga sangat sakit hati. Tak bisa dia bayangkan bagaimana kehidupannya kedepannya.
Brakk!!
"Ternyata kamu di sini perempuan cengeng!!" ujar Arland setelah dengan tiba-tiba mendobrak pintu kamar mandi.
Kania segera histeris menutup tubuh bagian in-timnya kemudian geleng-geleng kepala.
"Keluar!! Pergi, jangan sentuh aku!!"
Arland menyeringai melihat bagaimana mengenaskannya kondisi Kania. Penuh tanda kepemilikan darinya dan juga nampak jelas bergetar ketakutan melihatnya, Arland bukannya kasihan dia justru tersenyum puas.
Mendekat dan tak memperdulikan peringatan Kania.
"Kau sudah terlalu lama di sini!" serunya sambil kembali mendekat dan Kania semakin ketakutan melihatnya.
➡➡➡
"Bi Surti, berikan perempuan ini makanan yang sehat dan juga teh jahe. Dia begitu pucat dan aku tak mau di cap sebagai suami kejam yang tak memperhatikan istrinya!" seru Arland pagi itu terlihat lebih bersinar dari biasanya.
Berbeda dengan Kania yang justru terlihat seperti boneka hidup. Bernafas, tapi hampir tak bergerak ataupun bersuara tatapannya juga terlihat kosong. Perempuan itu sepertinya sudah kehilangan semangat hidupnya.
Sementara itu, Bi Surti yang diperintah demikian pun segera melakukannya. Menyiapkan sarapan yang cukup banyak dan juga kelihatan sehat untuk Kania.
Setelah selesai menyajikannya di meja makan. Arland dan Kania ke sana untuk sarapan.
"Kau ingin aku membantu makan Kania!" ujar Arland dengan nada suara penuh peringatan.
Tanpa suara, Kania yang teringat bagaimana Arland memaksanya menghabiskan bubur beberapa hari lalu, membuatnya segera meraih sarapannya dan mulai menyantapnya dengan tak berselera.
__ADS_1
Setidaknya walaupun kehilangan semangat hidup, Kania rupanya masih cukup waras untuk tidak berpikir mati. Ditengah perasaan hancurnya, dia masih cukup kuat untuk bertahan.
"Jika seperti itu, kapan kau akan menyelesaikan makananmu?!" ujar Arland kembali dengan galak. "Makan dengan benar Kania!!"
Mendengar itu Kania segera mengangkat kepala, menatap penuh kebencian pada suaminya. Kemudian entah angin apa, tiba-tiba saja air matanya menetes begitu saja.
"Dasar cengeng. Begitu saja sudah menangis!" cetus Arland sambil mendesah kasar dan tak habis pikir. Dia mengusap wajahnya kasar kemudian menghela nafasnya panjang. "Baru juga di gertak sedikit sudah menangis. Ch, membuatku muak saja!" gerutu Arland dengan tak tahan.
Kemudian karena tak mau merusak suasana hatinya yang sudah bagus karena mendapatkan maunya dari Kania, Pria itu segera putuskan untuk secepatnya menyelesaikan sarapan tanpa memperdulikan istri cengengnya itu lagi.
"Bi!!" panggil Arland dengan cukup kencang.
Membuat Bi Surti yang ada di dapur segera datang dan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Pastikan perempuan ini menghabiskan sarapannya dan ah, ya. Aku juga menyiapkan beberapa vitamin untuknya, tolong paksa dia minum itu juga!!" seru Arland dengan tak mau di bantah.
Setelah mengatakannya Arland barulah berangkat ke kantornya.
Sementara Kania yang sudah tak mood memakan sarapannya segera berhenti dan beranjak ke kamarnya.
"Nyonya tolong habiskan sarapannya dan minum vitaminnya!" ujar Bi Surti mengingatkan.
"Nyonya tahu sendiri bagaimana tuan Arland. Tolong saya Nyonya, tolong habiskan sarapannya dan juga minum vitaminnya. Saya tak mau di marahi oleh tuan Arland," jelas Bi Surti memohon.
Kania yang mendengar itu dan setelah mengenal Arland beberapa hari terakhir ini, tahu betul bagaimana kejam pria itu. Tak tega dengan asisten rumah tangganya yang sudah tua, Kania pun mengangguk dan memaksakan dirinya menghabiskan sarapannya dan juga meminum vitaminnya.
➡➡➡
Merasa tak tahan lagi dengan sikap Arland, Kania putuskan untuk pulang ke rumah ibunya dan mengadukan semua itu. Berharap mendapatkan pertolongan dari orang tuanya satu-satunya itu.
"Kakak!" seru Kania dengan cukup kaget menemukan Tiara rupanya ada di sana.
"Iya. Kenapa? Kamu kelihatan kaget melihatku disini?!" tanya Tiara dengan cukup sarkas.
"Bukannya Kakak sedang kabur, lalu kenapa sudah kembali, dan kenapa Kakak tega melakukan itu?" tanya Kania terus terang.
Jujur saja dia bukan hanya kecewa dengan saudara angkatnya itu, tapi juga cukup kesal. Walaupun bagaimana pun meski bukan karena Tiara, tapi secara tak langsung perbuatan perempuan itulah yang membuatnya terjebak dengan Arland. Laki-laki kejam yang tidak punya hati itu.
Namun bukannya menjawab, Tiara malah mendengus kasar. Kelihatan tak habis pikir dengan Kania. "Harusnya aku yang bertanya, bukan kamu. Mengapa kamu melakukan ini, Kania. Kenapa tidak jujur sejak awal?"
__ADS_1
"Apa maksudmu Kak?" tanya Kania dengan tidak mengerti, membuat Tiara menjadi muak dan geram pada adiknya itu.
"Nggak usah pura-pura tidak tahu. Ibu sudah mengatakan semuanya padaku!!" seru Tiara menegaskan.
Kania terdiam sesaat mencoba memahami ucapan saudaranya itu. "Jika kamu menginginkan pernikahannya, kenapa kamu pergi?" balas Kania pada akhirnya.
Tiara segera mengerutkan dahi. "Menginginkannya?" ulang Tiara memastikan kalau pendengarannya tidaklah salah.
"Sejak awal kita sama-sama tahu, kalau selama ini aku hanya mencoba untuk menerimanya. Sejak awal bahkan kamulah yang harusnya menikah dengan pria itu, tapi aku mengalah karena sadar diri kalau aku ini cuma anak angkat disini.
Berusaha untuk tahu diri dan berlapang dada menerimanya agar Ibu tidak tertekan karena perjodohan itu.
Namun apa Kania? Pengorbananku selama ini rupanya hanya sekedar permainanmu saja. Apa maksudmu melakukan itu, bilang tidak suka, tapi malah menjadi kekasihnya Arland diam-diam dibelakang semua orang?!" amuk Tiara mengomeli adiknya.
"Aku tidak melakukan itu?!" bentak Kania spontan karena tak terima dengan tuduhan Kakaknya itu. "Aku tidak pernah menjadi kekasihnya Mas Arland. Seandainya kamu tak kabur, maka akupun tak akan pernah terjebak menikah dengannya!!" seru Kania bersungguh-sungguh.
Namun justru malah membuat Tiara kecewa. Mendekat pada adiknya itu kemudian dengan tak terduga segera melayangkan tangannya ke pipi Kania.
Plakk!!
"Kalau kamu membenciku, bilang saja! Tapi tolong jangan lakukan hal sehina itu. Menjadi simpanan dari calon suami Kakakmu sendiri!!" geram Tiara memperingatkan.
"Jujur saja aku tak masalah dengan pernikahan kalian. Aku mendukungmu jika kamu benar-benar jujur sejak awal Kania, dan walaupun kita cuma saudara angkat aku sangat menyayangimu.
Tidak perduli jika kamu memang tak menganggapku dengan perasaan yang sama, atau bahkan muak padaku. Aku akan tetap menyayangimu, tapi jujur saja dengan kelakuan rendahanmu ini aku cukup kecewa.
Asal kamu tahu yang kamu lakukan bukanlah menghinaku, tapi menghina dirimu sendiri. Berselingkuh, kamu pikir apa yang akan dipikirkan orang terhadapmu? Kamu mau di cap jala-ng, hah?!" geram Tiara marah. Kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca saat mengatakan hal demikian.
Sementara itu, Kania juga merasakan hal yang sama. Dia sekarang bahkan memegang pipinya yang barusan ditampar oleh sang kakak. Pipinya panas, tapi sepertinya hatinya yang lebih memanas.
"Aku benar-benar tidak seperti itu. Aku bilang, aku tak pernah punya hubungan dengan pria dan sekarang aku bahkan membencinya!!" ujar Kania menjelaskan dengan sedikit berteriak.
Namun Tiara masih tak percaya itu, terlebih saat menemukan beberapa jelak yang dia pikir adalah milik Arland membiru, dibagian sekitar lehernya yang tak bisa ditutupi oleh Kania meski sudah menggunakan foundation.
Tiara geleng-geleng kepala dan menarik nafasnya kasar. "Berhenti terus mengelak Kania. Ibu sendiri bahkan bilang kalau dia sudah memergoki kalian, dan benci yang kamu katakan itu apa maksudnya. Jelas-jelas ki-ssmark di lehermu itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kalian memang saling menyukai! Cukup sudah kebohonganmu, Kania!!" sarkas Tiara memperingatkan.
➡➡➡
TBC
__ADS_1