
Pada akhirnya Arland tidak memecat Citra, tapu kali ini bukan karena tak mau memenuhi janjinya pada Kania, namun karena Kania sendirilah yang mempertahankan perempuan itu. Bukan karena baik hati atau bodoh, sebab Kania sudah berusaha memikirkan dan mempertimbangkan segalanya.
Dia tahu walau setelah apa yang terjadi Citra tak mungkin bisa berubah, lebih buruknya perempuan itu akan semakin menjadi. Akan tetapi mempertahankan perempuan itu tetap dilakukan, supaya Arland sendiri bisa melihat bagaimana sifat aslinya. Kania ingin membuktikan pada Arland tentang yang sebenarnya, membangun kepercayaan suaminya supaya kedepannya Arland berpikir dua kali sebelum menghakiminya dan yang berlalu tidak akan terjadi lagi.
Namun apabila memang yang terjadi kedepannya tidak sesuai harapan dan Kania tetap tidak bisa membuktikan betapa buruknya Citra, maka mungkin dia sendiri juga akan tetap memilih untuk pergi. Dia juga tak mungkin bertahan dengan seseorang yang tak bisa mempercayai dirinya meski mencintainya.
"Sayang sudah beberapa malam kita tidak makan di luar, apakah bayi kita tidak ngambek?" ujar Arland sambil menempeli istrinya sudah seperti selotip saja. Kalau sudah lengket susah dilepasnya.
Saat ini mereka sudah kembali ke rumah sejak kemarin siang, dan hari Arland masih tak mau bekerja karena trauma ditinggalkan oleh Kania kembali.
"Ngambek, tapi mau minta ke siapa. Aku terlalu takut pada ayahnya yang galak dan pemarah," jawab Kania memberanikan diri menyindir suaminya sendiri.
Arland tertohok dan merasa bersalah. Tak menyangka jika sikat yang dia pikir adalah ketegasan malah menghancurkan segalanya. Menatap binar mata Kania yang memperlihatkan ucapan istrinya itu adalah kebenarannya, Arland merasa menyesal.
"Maafkan aku, Kania. Aku sungguh tak menyangka kamu seperti ini karena bentakanku," ujar Arland tulus sambil meraih telapak tangan istrinya lalu mengecupnya. "Aku sayang padamu, tapi karena kamu tidak pernah memperlihatkan gelagat yang sama, aku malah bodoh dengan memancingmu supaya cemburu, tapi yang terjadi kamu malah meninggalkan aku. Maaf Kania, aku benar-benar sudah menjadi pasangan yang buruk untuk kamu!"
Kania mengangguk pelan. "Jika karena perasaan gamblang-ku yang membuatmu kasar, maka aku beritahu padamu kalau aku ju-ga men--" Kania berhenti dan meneguk ludahnya kasar. Sementara Arland terlihat menantikan ucapannya yang berikutnya. "Ak-aku juga mencintai kamu Mas. Sangat mencintaimu sampai rasanya mungkin sulit untuk meninggalkanmu, tapi kalau kamu masih seperti sebelumnya setelah ini maka jangan salahkan jika aku akan mening--"
"Ssstt ...." Arland menghentikan Kania sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Kania. "Jangan katakan itu, karena aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari sisiku, dan aku janji tidak akan kasar seperti hari yang sudah berlalu. Sayang maafkan aku, mungkin ini egois setelah apa yang aku lakukan aku malah tidak tahu diri memaksamu bertahan, tapi aku sangat mencintaimu!!" ujar Arland serius.
Kania dibuat tersentuh oleh kata-katanya. Tidak tahu apakah pria dihadapannya sungguh akan memegang ucapannya, tapi sebagai perempuan pada umumnya, perasaan Kania memang mudah tersentuh.
Kania bahkan memutus jarak diantara mereka, lalu seperti kehilangan akal sehat dia meninggalkan sesuatu yang manis untuk Arland. Tidak lama karena, perempuan itu segera malu dan pipinya memerah, tapi Arland tentu saja tak membiarkannya berakhir sesingkat itu.
"Kamu sangat manis, Kania!" ungkap Arland membuat pipi Kania semakin memerah. "Aku tidak tahu kalau kamu bisa berinisiatif seperti ini," lanjutnya menggoda, membuat Kania segera memukul bahunya.
"Mas!"
__ADS_1
"Arrrggghhh," ringis Arland bersamaan dengan saat Kania memukulnya sehingga wanita itupun berhenti.
"Maaf, aku tidak bermak--"
"Aku hanya bercanda sayang!" ujar Arland akhirnya tersenyum, dan Kania segera kesal dan mengerucutkan bibirnya. Arland yang gemas pun tak tahan untuk tak mengecupnya.
"Jangan marah. Udah, yuk! Saatnya kita kencan dan makan malam di luar biar bayi kita tidak ngambek," ujar Arland segera berdiri dan mengusap puncak kepalanya.
Disisi lain, Citra yang ternyata menyaksikan kemesraan keduanya, tak terima dan mengepalkan tangannya. Namun Sisi anaknya Bi Surti pembantu setianya Arland dari anak-anak sampai menikah, juga melihat Citra. Sisi memperhatikannya dan melihat bagaimana Citra memanas serta mengepalkan tangannya kesal.
'Mau ngapain lagi, makhluk satu ini. Pasti merencanakan hal buruk untuk nyonya Kania. Hm, tapi aku tidak akan membiarkannya lagi dan membuatnya merasa menang. Aku tak mau nyonya Kania pergi dari rumah lagi dan aku harus melakukan sesuatu!' batin Sisi berpikir keras.
Saat mendapatkan ide, gadis itupun ke dapur dan membawa sesuatu ditangannya. Minyak di dalam gelas. Sisi pun menumpahkannya di jalan yang dia duga akan dilewati Citra, kemudian bersembunyi sebelum orang yang akan dikerjainnya sadar akan ulah atau keberadaannya.
'Rasain kamu! Maafkan aku kak Citra, tapi aku bersumpah akan membuat kamu tidak betah di sini. Daripada nyonya Kania yang pergi mending kamu saja!' ujar Sisi membatin dengan serius.
Tak berapa lama, suara gdebuk pun terdengar, dan Citra benar-benar terjatuh saat melewati lantai yang di berikan minyak.
Walaupun sudah terkena masalah, rupanya dia mau membuat masalah tersebut membawa berkah untuknya. Benar-benar licik sampai punya pikiran memanfaatkan hal itu untuk menarik simpati dari Arland.
Kania dan Arland memang langsung ke sana dan menghampirinya untuk memastikan yang terjadi.
"Ini minyak?" Citra segera menyadari apa yang terjadi di lantai dan mengetahui penyebabnya tergelincir. Kania dan Arland kompak mengerutkan dahi. Sementara itu Citra malah memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya menjatuhkan Kania dihadapan Arland. "Nyonya Kania, ini pasti ulahmu bukan. Hikss, kau benar-benar kejam. Apa salahku sampai diperlakukan seperti ini? Walaupun aku pembantu tak tak seharusnya aku mendapatkan kekerasan begini!"
Sisi yang mendengar Kania disalahkan, tak terima dan hampir saja keluar dari persembunyiannya andaikan Arland tak segera buka suara.
"Jangan asal menuduh, kau tidak punya bukti bukan dan asal kau tahu saja istriku tidak sempat melakukan itu, karena dia terus bersamaku!!" tegas Arland sambil mengapit pinggang Kania dan mengeratkan pelukannya, karena takut Kania kenapa-napa. Pria itu bermaksud menjadi pelindung, karena entah kenapa perasaannya mengatakan kalau Kania tak akan aman jika dekat dengan Citra.
__ADS_1
Sebenarnya perasaan itu sudah lama ada, tapi baru sekarang Arland berani memperlihatkannya, karena dia merasa berhak setelah mengungkapkan rasa dan mengetahui dia Kania saling mencintai.
"Tapi Tuan, Nyonya Kania memang membenci saya, karena dia cemburu tanpa alasan dan takut Tuan berpaling pada saya!" seru Citra membuat Arland tiba-tiba saja menyeringai dan tersenyum miring.
"Baguslah jika begitu, aku suka istriku cemburu walaupun pada perempuan seperti mu yang tidak mungkin aku sukai. Aku senang mendengar itu dan aku tidak perduli jika Kania sungguh berbuat kasar padamu!" tegas Arland membuat Citra kecewa, tapi Kania tak terlihat puas walaupun sudah dibela.
Dia ingin dipercayai, bukan perlakuan demikian. Dibela, tapi tak dipercayai.
"Walaupun aku pembantu, aku tidak serendah itu sampai kalian berhak memperlakukan aku sehina ini. Aku akan visum dan melaporkan kalian ke pihak berwajib!!" ancam Citra kemudian karena tak mau terlihat tak berdaya.
"Lakukan saja. Kau pikir polisi mana yang akan percaya? Istriku itu baik hati, asal kau tahu saja jika bukan karena dia yang meminta mungkin saat ini kau sudah ku pecat. Jadi, berhenti bergurau dan mengatakan hal buruk tentangnya. Dia bersamaku sepanjang detik, jadi berhentilah mengarang!" ujar Arland memperingatkan. Kania menatapnya, dan terus memperhatikan suaminya. Benarkah Arland sungguh mempercayai dirinya. Kania mempertanyakan hal itu berulang kali pada dirinya sendiri.
"Ah, ya, jangan pikir hanya kau yang bisa menuntut. Aku juga bisa melakukan hal yang sama dan membuatmu masuk penjara. Percobaan merusak nama baik istriku dan mencobanya dengan sandiwaramu sendiri. Ckckck, murah-an!! Aku yakin dan sekarang malah berpikir jangan-jangan kau sendiri yang sudah menumpahkan minyak dan sekarang pura-pura jatuh untuk memfitnah istriku?!"
Citra pucat, dia nampak terkejut dengan ucapan Arland meski sebenarnya dia tak melakukannya. Namun, tentu saja Arland tak berhenti sampai di sana.
"Aku muak melihat wajahmu. Bereskan barang-barangmu secepatnya dan jangan sampai tertinggal apapun di rumah ini, karena walaupun Kania yang memintanya, aku juga tidak akan sudi mempertahankan pembantu yang suka memfitnah istriku dan merencanakan untuk untuk melukai istriku!!" tegas Arland tak bisa dibantah.
Meski setelah Citra yang terlihat menyesal bersujud di kakinya dan memohon ampun pada Kania supaya tak dipecat, tapi Arland benar-benar menyingkirkan hari itu juga Citra dari rumahnya.
"Bagaimana Mas tahu kalau Citra suka memfitnahku?" tanya Kania serius setelah mereka sudah kembali berdua.
Arland mengusap puncak kepalanya, lalu memperlihatkan penyesalannya. "Sebenarnya sejak kamu pergi, aku membuka kamera CCTV yang pernah dipasang dibeberapa sudut ruangan rumah, supaya tidak terjadi kemalingan dan hal yang tidak diinginkan. Aku membukanya untuk melihat petunjuk ke mana kamu pergi Kania, tapi yang aku temukan bukannya petunjuk, tapi malah sesuatu yang membuat aku sangat menyesal dan juga kecewa pada diriku sendiri!"
Kania menatap suaminya seraya menantikan kalimat berikutnya. "Kenapa aku sebodoh itu untuk tak percaya pada istriku sendiri. Perempuan sebaik kamu mana mungkin begitu dan kenyataannya memang begitu. Kania sekali lagi maafkan suamimu yang bodoh ini!" ungkap Arland dengan penuh harapan.
Kali ini Kania untuk pertama kalinya mengangguk tanpa keraguan sama sekali, dan Arland segera memeluknya karena terharu. Dia benar-benar sudah menjadi baji-ngan beruntung yang mendapatkan istri sebaik Kania dan Arland bersumpah kalau mulai sekarang akan membahagiakan istrinya itu.
__ADS_1
❍ᴥ❍
Bersambung