Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
45. Tidak Bisa Baik-Baik Saja.


__ADS_3

Usapan halus di keningnya kian terasa dan membangunkan Kania. Dia membuka mata dan menemukan Arland begitu dekat dan juga menatapnya aneh. Sulit diartikan, tapi kemudian Kania yang tak mau ambil pusing, dan segera menyingkirkan tangan Arland dari keningnya.


"Kamu sudah pulang Mas?" tanya Kania dengan sedikit ketus.


Tentu saja setelah apa yang terjadi, walau berusaha keras, dia tidak bisa bersikap biasa saja pada suaminya.


Bangkit dan segera beranjak dari tempat tidur, Kania menuju kamar manda. Kurang dari sepuluh menit wajahnya sudah segar dan fresh.


"Apa kamu baik-baik saja, sakitnya sudah berkurang?" tanya Arland dengan wajah datarnya, tapi dengan suara yang tak bisa berbohong dan terdengar perhatian.


Kania tak langsung menjawab, tapi ke meja riasnya dahulu. Mengambil sesuatu yang kemudian dia oleskan pada wajahnya. Tanpa menoleh dia kemudian menjawab pertanyaan suaminya.


"Apa kamu pikir sejak aku menjadi istrimu, aku bisa baik-baik saja?" tanya Kania membalas, tapi dengan wajah biasa dan kegiatan yang terfokus pada wajahnya. "Harga diriku hancur, aku penghianat perebut calon suami kakakku sendiri, ibuku membenciku, pacarku diambil sahabat dekatku dan balasan dari semua itu hanyalah kamu! Hm, suami kejam yang hampir tidak pernah mempergunakan hatinya!" cibir Kania terang-terangan.


Keduanya terdiam dan sepertinya Arland memikirkan ucapannya. Untuk sesaat demikian, tapi kemudian Kania kembali membuka suara setelah urusan wajahnya selesai dan bahkan dengan berani menghampiri suaminya.


"Bagaimana harimu suamiku? Kamu tegang sekali," ujarnya sambil mengulas senyum dan menatap suaminya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Atau kamu sangat merindukan aku ya, sampai belum siang sudah pulang, hm?" lanjut Kania membuat Arland merasa aneh.


"Aku hanya ingin memastikan kamu minum obatmu dengan baik dan--"


"Anakmu baik-baik saja?" timpal Kania.


"Ya," jawab Arland singkat.


"Baiklah kalau begitu ayo makan bersama," kata Kania dengan ramah. Dia tak menunjukkan aura permusuhan sama sekali.


Flashback.


Sisi anaknya bi Surti datang ke kamarnya dan mengantarkan buah saat Kania masih dalam tidurnya. Gadis itu akan pergi, tapi kemudian Kania yang tertidur tiba-tiba saja bangun dan memanggil dirinya.


"Sisi!"

__ADS_1


"Iya, Nyonya," jawab Sisi.


"Jangan panggil Nyonya, itu agak aneh jika kamu yang melakukannya," peringat Kania.


Sisi pun menurutinya dan mereka sepakat untuk panggilan kakak saja. Keduanya pun berbincang dan Sisi membuatkan resep minuman herbal yang cukup ampuh untuk Kania.


"Khasiatnya langsung terasa," ujar Kania memberitahu.


"Itu resep dari kakak teman aku. Di luar kota tempatku sekolah aku punya teman yang mempunyai kakak yang sedang hamil juga seperti Kakak. Aku sering ke sana dan di situ aku mendapatkan resepnya. Itu bukan hanya untuk ibu hamil saja sih, bisa diminum oleh orang biasa dan memberikan khasiat langsung menghilang rasa nyeri dan pegal linu," jelas Sisi.


Kania mengangguk paham, dan Sisi kemudian teringat sesuatu. Melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian memberitahu Kania tentang sesuatu yang dia ketahui.


"Kak Kania," panggil Sisi membuat Kania menatap kepadanya.


"Ya," jawab Kania.


"Ada yang ingin aku beritahu, tapi aku harap kakak tidak marah atau membenciku. Aku tidak bermaksud mengadu domba, tapi Kak Citra sebetulnya menyukai tuan Arland," ungkap Sisi, Kania tak terlalu terkejut karena dia sudah lama menduga itu bahkan ketika baru pertama kali bertemu.


"Kalau dia berkeliaran di dapur saat aku atau ibu memasak, jangan juga makan masakan kami. Dari drama yang aku tonton, orang jahat pasti akan menggunakan kesempatan dengan sangat baik dan saat kami lengah dia bisa saja memasukkan sesuatu yang tidak kita duga. Kak Kania berhati-hatilah, apalagi sedang hamil begini," saran Sisi.


Entah mengapa gadis muda itu terdengar sangat dewasa dan untuk pertama kalinya walaupun bukan teman atau keluarga, Kania merasa beruntung bertemu gadis itu.


Mereka berbincang lama dan Sisi bahkan memberikan saran untuk menghadapi Citra yang cukup licik.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Kakak hanya perlu mengontrol emosi, jangan pernah memperlihatkan kalau kakak tertekan dengan kehadiran Citra atau bahkan terang-terangan menjatuhkannya. Perempuan itu selain licik, dia juga ulet dalam bekerja. Kakak ingat bagaimana tuan Arland kemarin muda membelanya?" tanya Sisi membuat Kania mengingat kebenciannya pada suaminya yang serasa mempermalukannya dihadapan pembantu.


"Ya, aku mengerti sekarang. Dia licik dan Mas Arland pasti membelanya karena dia bekerja cukup giat."


Setelah berbicara cukup banyak Kania mulai belajar mengendalikan emosinya dan setelah banyak mengobrol diapun istirahat. Sisi pamit, tapi gadis muda itu masih tak melepaskan pengamatannya pada Kania.

__ADS_1


Dia begitu baik dan sengaja duduk di dekat tangga untuk berjaga di sana, untuk memastikan Citra naik ke atas.


"Apa-apaan kamu, aku mau beres-beres ke atas!" seru Citra yang tak lama kemudian datang dan bermaksud akan mengerjai Kania dan memberinya perhitungan.


"Aku sudah membersihkannya dan nyonya Kania bilang untuk tidak membiarkan siapapun naik ke atas selain tuan Arland. Dia bilang walau sedikit suara dan tidak keras itu akan mengganggunya dan aku harap Kak Citra mau mengerti," jelas Sisi.


"Cih, songong sekali perempuan satu itu. Baru juga jadi nyonya Arland, belum lagi jadi ibu negara!" ujar Citra kesal. "Dasar jala-ng!!" serunya melanjutkan.


Dia tak menjaga ucapannya dihadapan Sisi, karena Citra tak perduli itu. Citra pikir siapa yang akan mempercayai Sisi yang bahkan lulus SMA saja belum.


"Seharusnya dia jadi gembel saja, biar tahu rasa. Lama-lama aku gedeg sama dia. Cih, sudah jala-ng angkuh pula!" ujar Citra, tapi kemudian dia pun pergi dari sana.


Flashback off.


Citra dan Bi Surti sedang menghidangkan makan siang majikan mereka. Ketika saat itu Arland dan Kania tiba. Akan tetapi ketika sudah terhidang rapih, dan saatnya makan, Kania tak menyentuhnya sama sekali.


"Kenapa cuma ditatap?" tanya Arland bingung.


"Tidak apa, aku hanya tidak suka," jawab Kania adanya dengan berani.


"Jangan manja!" peringat Arland.


"Terserah, tapi aku tidak suka. Makanan ini membuatku mual, apalagi aku perhatikan pembantu kesayanganmu yang menghidangkannya. Aku semakin mual saja!" seru Kania sambil menatap sinis Citra.


"Kamu jangan keterlaluan," kata Arland menasehati.


"Kamu membelanya?" balas Kania sengit. "Ah, aku hampir lupa kemarin kamu bahkan tega membuang masakanku demi memakan masakannya. Kenapa aku masih heran ya?" Kania berdiri, dan bermaksud akan pergi, tapi Arland menahan tangannya.


"Jangan memaksaku, Mas. Ingat aku sedang mengandung anakmu, terlepas dari kamu yang ingin marah karena masalah sepele itu, maka lakukanlah. Hanya saja jika anakmu sampai kenapa-napa, tolong jangan salahkan aku!" seru Kania sambil kemudian menepis tangan Arland.


• • •

__ADS_1


TBC


__ADS_2