Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Perhatian Penuh Arland


__ADS_3

Kania terus merasa mual pagi itu dan membuatnya harus bolak-balik ke dalam kamar mandi. Membuat Arland terganggu dalam tidurnya dan terbangun.


Dia yang tiba-tiba sudah berubah sejak mengetahui kehamilan Kania. Kali ini masih menunjukkan reaksi yang sama, sejak beberapa terakhir. Oleh sebab itu, bukannya marah sebagaimana dia kasar dan kejam di awal pernikahan, pria itu justru menghampiri Kania untuk memberinya bantuan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arland dengan suara lembut dan halus.


Tak diam saja dia langsung membantu dengan mengurut tengkuk Kania, supaya memperlancar muntahnya.


Perempuan itu awalnya terkejut, tapi saat teringat bagaimana sikap suaminya yang berubah seratus delapan puluh derajat sejak dia hamil, Kania pun membiarkannya saja.


"Ayo, kemarilah. Kamu pasti lemas. Berbaringlah di kasur kembali dan aku akan mengambilkan sarapan dan juga vitamin untukmu," jelas Arland.


"Tidak usah. Aku mau makan di meja makan!" tegas Kania menolak.


Dia bukannya tak mau istirahat, tapi tak mau memanjakan tubuhnya. Selagi dia bisa berjalan dan sanggup keluar, walaupun masih lemas, dia memaksakan untuk tetap keluar dan ke dapur.


Sampai di sana ternyata Bi Surti dan Citra sudah selesai mengerjakan tugas mereka. Arland dan Kania hanya perlu menyantap sarapan mereka saja.


"Silahkan Tuan, saya sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan Tuan. Nasi goreng dengan irisan daun bawang yang banyak!" seru Citra penuh perhatian.


Kania sebetulnya tak peduli itu dan dia tak cemburu, walaupun jelas sekali Citra seperti menggoda Arland. Namun, dia benci suaminya itu dan masih dendam. Sampai berpikir untuk mencegah Arland makan makanan favoritnya, bermaksud supaya suaminya itu kesal.


Meraih dua potong roti tawar tanpa selai ataupun tanpa diberi toping apapun, Kania menyerahkannya pada Arland dan meraih nasi goreng yang harusnya untuk Arland.


"Makan itu saja, aku ngidam kamu makan itu!" jelas Kania sambil berdiri.


Dia tak perduli apapun, tapi saat mengingat Arland yang pernah membuang masakannya karena ke asinan. Kania segera membuang nasi goreng dengan irisan daun bawang yang banyak itu.


Blam!!


Dia buang begitu saja tanpa perasaan. 'Sial. Apa yang sudah aku lakukan? Apa ini karena aku hamil anak iblish, jadi perangai ku juga terpengaruh dan menjadi seperti iblish tanpa perasaan juga!' batin Kania menyesali perbuatannya.

__ADS_1


'Kurang ajar perempuan ini! Mentang-mentang ternyata sedang hamil anaknya Tuan, berani sekali membuang nasi goreng yang sudah kubuat sepenuhnya hati itu. Bedebah! Lihat saja nanti, aku takkan membiarkan hidupmu tenang!!' batin Citra menjerit murka.


Sementara Arland yang melihatnya tiba-tiba menyeringai dan tersenyum aneh. Dia pikir Kania sedang mencemburuinya dan dia senang dengan hal itu. Tanpa sadar dia mulai menyukai istrinya sendiri.


"Apa yang kau lihat, Citra. Cepat bereskan itu! Aku tak mau pecahan piring itu sampai melukai kaki istriku nanti!" tegas Arland sebelum kemudian memulai sarapannya.


Kania juga mulai makan, tapi saat mencium aroma nasi goreng yang masih ada dan sedang berada di hadapannya, dia kembali diserang mual. Kali ini sangat terasa sekali.


Dia segera berdiri dan bergegas beranjak, tapi belum juga apa-apa, Kania tak bisa menahan dan muntah di sana juga. Tak lama setelahnya selang beberapa detik kemudian Kania pingsan tak sadarkan.


'Dasar perempuan banyak drama! Palingan itu cuma pura-pura!' geram Citra membatin sambil tak lepas menatap Kania dengan sinisnya.


Sementara Arland, dia langsung menghampiri Kania dan mengangkatnya tanpa jijik.


Setengah jam kemudian, seorang dokter tiba dan langsung memeriksa Kania.


"Istrimu terlalu banyak pikiran dan kandungannya masih cukup lemah. Apakah dia pernah terjatuh sebelumnya?" tanya Dokter yang masih merupakan keluarga Arland itu. Dia Nita sepupunya.


Dokter Nita cuma mengangguk saja, tapi memang dia agak heran dengan Kania. Pasalnya wanita itu sebelumnya dia tahu cuma calon adik ipar sepupunya, tapi sekarang malah berakhir menjadi istrinya sepupunya.


Dia tak mau ambil pusing ataupun kepo, karena dia bukan tipikal orang yang suka ikut campur urusan orang.


"Sebaiknya kamu jaga dia dengan baik, pastikan dia beristirahat dengan cukup, makan makanan yang bergizi dan hindari sesuatu yang membuatnya pusing ataupun kepikiran. Ah, iya. Jangan lupa membawanya periksa ke dokter kandungan dan juga teruslah obat yang bisa meredakan mualnya. Atau sebaiknya habis ini kalian langsung saja periksa ke dokter kandungan," saran Dokter Nita diakhir kalimatnya.


Arland mengangguk paham, kemudian teringat insiden mereka sebelum pulang rumah sakit tempo hari. Bertemu dengan mantan pacar Kania dan pria bajing-an itu sudah menghinanya. Arland pikir mungkin itulah penyebab Kania seperti itu.


Menghela nafasnya kasar, setelah mengantarkan Dokter Nita ke depan untuk pulang, Arland segera ke dapur untuk minum.


"Tuan Muda, mau dibuatkan sesuatu?" tanya Citra penuh perhatian.


Arland langsung menggelengkan kepalanya menolak. "Tidak perlu, selesaikan saja pekerjaan mu dengan baik."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Arland langsung ke ruang kerjanya yang ada di rumah. Hari ini karena kejadian Kania sakit, tentu saja pria kejam itu tak bisa meninggalkan istrinya. Bagaimanapun dia kejamnya, tapi untuk urusan anak, tentu saja jiwanya sebagai seorang ayah tak bisa untuk tak perduli.


Arland putuskan untuk bekerja dari rumah, tapi selang setengah jam kemudian, ketukan dari pintu ruang kerjanya terdengar. Arland segera mempersilahkan orang itu masuk, dan ternyata dia Citra.


"Ini minumnya Tuan, saya tahu Anda pasti butuh kopi untuk bekerja!" seru Citra bersemangat.


Arland mendesah kasar, entah kenapa dia menjadi kesal dengan tindakan Citra itu. Padahal sebelumnya dia sudah bilang tidak, tapi perempuan itu justru masih bersikeras membuatkannya minum.


"Letakkan di sana!" kata Arland dengan datar.


Citra tersenyum senang karena perhatiannya di terima oleh Arland, tapi setelah dia pamit ke belakangan. Arland malah bangkit dan keluar dari ruang kerjanya.


Dia tak perduli kopi buatan Citra dan dia bahkan sudah membenci kopi karena teringat Lyra yang suka memberinya minuman itu. Sekarang Arland sudah beralih pada teh dan bukan kopi, sehingga tak heran kalau dia mudahnya mengabaikan minuman itu.


Tak mood bekerja, diapun segera mengoper sebagian besar pekerjaannya pada asisten pribadinya. Kemudian menghampiri Kania di kamar mereka.


"Ternyata kamu sudah bangun Kania, apakah ada yang sakit?" tanya Arland perhatian.


Istrinya itu mengangguk lemah, dan memijat kepalanya yang terasa pusing.


"Aku mual sekali dan kepalaku pusing, tubuhku juga terasa lemas sekali," jelas Kania sejujurnya.


Arland tiba-tiba mendekat dan membuatnya takut, tapi kemudian itu tak berlangsung lama. Pria itu entah dari mana mendapatkan minyak kayu putih, langsung saja mengoleskannya pada beberapa bagian tubuh Kania dan juga pakaiannya.


"Biar lebih enakan, mau aku pijitin?" tawar Arland dan Kania yang butuh itu meskipun gengsi atau tak sudi, tapi dia pun menganggukan kepala.


Arland begitu perhatian dan dia benar-benar sudah berubah, bertolak belakang dari dia yang di awal pernikahan. Kami tersentuh akan hal itu, tapi kemudian dia segera mengingatkan hatinya untuk tak terpengaruh.


'Dia mungkin cuma ingin bayinya, makanya bersikap selembut ini!' tekan Kania membatin pada dirinya sendiri.


➡➡➡

__ADS_1


TBC


__ADS_2