Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.10


__ADS_3

Sesuai permintaan Berryl, tepat pukul 1 siang, utusan Abelano telah tiba di vila milik Tessa. Tentu hal ini mengejutkan kedua sahabatnya juga para gadis yang menemani mereka.


Setelah mendapatkan instruksi, asisten pribadi Abelano yang bernama Cokro itupun segera mencari tahu tentang keluarga Handoko untuk menemuinya dan menyampaikan keinginan Berryl yang ingin menikahi putri mereka.


Vano dan Vino termasuk Tessa, Citra, dan Gaya pun sontak terkejut saat mengetahui ternyata kedatangan asisten pribadi Abelano berhubungan dengan keinginan mendadak Berryl yang ingin menikahi salah seorang gadis di desa itu.


"Are you kidding me, Ryl? Loe ... loe nggak salah minum obat kan? Atau ... atau loe habis kena guna-guna seseorang di desa ini?" sentak Vano dengan wajah penuh keterkejutannya.


"Ryl, jangan bercanda! Sebenarnya siapa gadis itu? Mengapa mendadak seperti ini? Sebenarnya siapa dia? Apa kami mengenalnya?" cecar Vino. Bahkan ia langsung menggeser kursi dan duduk di seberang Berryl


Dengan santai Berryl meminum kopi hitam miliknya.


"Apa kalian pernah melihat gue melakukan sesuatu dengan bermain-main?" tanya Berryl dengan alis terangkat ke atas.


Vano dan Vino lantas menggeleng. Ya, Berryl memang selalu melakukan sesuatu dengan serius. Ia tak suka bermain-main seperti kedua temannya.


"Lalu ... siapa dia? Mengapa kau tidak beritahu kami?" lanjut Vino.


"Bukankah akhirnya kalian tau juga?" jawabnya acuh tak acuh. "Mengenai siapa gadis itu, kalian juga nanti pasti akan tahu sendiri." lanjutnya lagi membuat Vano dan Vino menggelengkan kepalanya.


"Kau benar-benar menyebalkan, Ryl? Kami sahabatmu, tapi berita sepenting ini kami malah tau karena memergoki pembicaraanmu dengan asisten Cokro." ucap Vano sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya kita tidak pernah dianggapnya penting." ucap Vino seperti seorang gadis yang patah hati.


"Sayang, kamu aja merasa patah hati, apalagi dia." tunjuk Tessa pada Citra yang wajahnya terlihat sendu.


Vino mengedikkan bahunya acuh, kenapa harus patah hati pikirnya. Bukankah mereka tak ada hubungan sama sekali. Bahkan dirinya dan Tessa saja tidak ada hubungan yang terikat. Vino hanya memberikan kesempatan untuk Tessa lebih dekat dengannya, tapi bukan berarti mereka berpacaran. Terserah apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya. Dia tak peduli sama sekali.


Sementara itu, di kediaman Handoko, tampak Lidya berseru bahagia. Bahkan, ia meminta Megan yang sedang kuliah agar segera pulang. Ia juga menghubungi Handoko agar segera pulang untuk menyampaikan kabar baik ini pada suaminya.


"Ada apa kau menyuruhku pulang cepat-cepat? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Handoko setibanya di rumah.


"Benar mas, memang ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang sangat luar biasa." seru Lidya begitu antusias. Sedangkan Handoko, justru mengerutkan keningnya. Lalu Lidya mengajak Handoko duduk untuk menjelaskannya. "Mas, akhirnya keinginan putri kita terwujud. Pria bule yang ditaksir Megan ternyata juga menyukai putri kita. Tadi, asisten pribadi ayahnya datang ke rumah dan menyampaikan kalau orang tua lelaki itu akan datang ke rumah malam ini untuk melamar putri kita. Siapa lagi kalau bukan Megan. Akhirnya usaha Megan untuk mendekatinya membuahkan hasil." seru Lidya antusias.


Handoko pun cukup terkejut mendengar berita itu dan menyerahkan segala persiapan kepada sang istri.


"Ibu yakin, tuan orang itu sendiri yang mengatakan ingin melamar putri keluarga Handoko untuk tuan muda mereka, Berryl pan ... pan ... pan apa itu yah katanya. Ibu lupa. Namanya pake bahasa bule gitu " tukas Lidya menjelaskan.


"Wah, ternyata Berryl diam-diam menghanyutkan!" serunya begitu bersemangat. "Ibu tau nggak, setiap aku kesana dia itu cuek banget. Malah hampir nggak pernah mau ngobrol sama Megan. Tapi ternyata itu cuma sandiwaranya aja. Ternyata dia juga tertarik denganku." gumamnya dengan senyum lebar. "Kita harus bersiap, Bu. Kita harus masak yang enak untuk menyambut mereka." seru Megan lagi.


"Kamu nggak usah khawatir. Semua udah ibu persiapkan. Ibu udah minta Dita masak yang banyak dan enak. Terus ibu juga udah undang beberapa pemuka di desa kita dan para tetangga. Biar mereka tau, anak ibu mau dilamar bule kaya dari kota." ujar Lidya dengan begitu bahagia. "Sekarang kita siap-siap, yuk!" ajak Lidya.


"Kemana?" tanya Megan penasaran.

__ADS_1


"Ke salon. Kamu harus dandan yang cantik kan malam ini calon mertua kamu datang. Sebelum itu, kita ke rumah Jeng Merry. Dia kemarin bawa baju-baju bagus dari kota untuk dikreditin. Siapa tau ada yang cocok sama kamu." tukas Lidya yang sudah tak sabar menantikan hari berganti malam.


Sementara Megan dan Lidya sibuk berbelanja dan berdandan di salon, di rumah, Hanindita terus berkutat dengan berbagai peralatan memasak. Setelah tadi ia terlebih dahulu membersihkan rumah.


Hanindita menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya dengan lengan baju. Sungguh ia sudah sangat kelelahan. Setelah subuh-subuh harus ke pasar dilanjutkan memasak dan mengerjakan segala macam pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Belum sempat ia mengistirahatkan tubuhnya, Lidya kembali memerintahkannya kembali berbelanja di pasar dan memasak berbagai masakan untuk menjamu calon besan pria yang dikabarkan ingin melamar Megan.


Hanindita tersenyum masam membayangkan betapa beruntung nasib Megan. Bukan hanya memiliki keluarga yang lengkap, tapi juga disayangi dan diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Lalu kini ia akan dilamar oleh keluarga kaya. Mungkinkah ia bisa merasakan kebahagiaan seperti yang Megan rasakan.


Dalam hati Hanindita mencibir, 'Sadar Anin, sadar, kamu itu siapa? Kamu itu hanya Upik abu yang tak pantas meraih kebahagiaan apalagi merasakan dilamar orang kaya. Ingat, kamu itu hanya Upik abu. Pantasnya menjadi keset kaki orang kaya, bukannya jadi bagian dari mereka.'


"Hai, Dita. Lagi ngapain? Wah, masakan kamu harum sekali! Boleh aku cicip?" Entah dari mana, tiba-tiba saja Morgan datang hendak mengganggu Hanindita seperti biasa. Lalu ia mengangkat panci berisi sup daging yang baru saja dimasaknya.


"Ka-kamu, kamu mau apain itu?" Hanindita sudah bergetar hebat. Ia khawatir Morgan melakukan sesuatu yang buruk pada masakannya.


"Ini? Mau aku apain?" tanyanya dengan smirk di bibirnya. "Biasanya aku apain?" ujarnya sambil menyeringai.


"Tolong, tolong jangan kamu apa-apain itu! Itu untuk menyambut tamu ayah nanti. Ada yang mau melamar Megan. Ayah dan ibu pasti bakal marah besar kalau masakan nggak selesai tepat waktu." mohon Hanindita dengan wajah memelas.


"Apa? Megan dilamar? Siapa?" cecar Morgan yang kemudian meletakkan panci berisi sup itu ke atas kompor.


Hanindita menggeleng, "Aku nggak tau." cicitnya sambil menghela nafas lega. Dalam hati Hanindita berdoa, semoga Morgan tak berbuat ulah kembali.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2