Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.25


__ADS_3

Sesuai janjinya, Berryl mengajak Hanindita pergi ke butik kenalannya. Ia sengaja membawa mobil sendiri untuk membangun kedekatannya dengan Hanindita yang masih berjalan beberapa hari.


"Kamu mau yang mana? Ambil aja yang kamu suka." ujar Berryl saat berada di dalam butik.


Tapi Hanindita justru bingung sendiri. Apalagi saat melihat tarif yang tertera di balik pakaian itu, harganya sangat-sangat mahal pikir Hanindita. Tak ada yang harganya di bawah satu juta, mungkin karena ini barang-barang butik ternama jadi tak ada satupun yang harganya murah. Menurut Hanindita harga pakaian yang terpampang di sana sangat tidak manusiawi. Di pasar saja uang seratus ribu bisa membeli beberapa pakaian lalu di butik ini satu baju bisa di atas satu juta. Maklum saja, seumur hidup ia selalu mengenakan pakaian bekas Megan dan Lidya. Itupun baru mereka berikan saat mereka sudah merasa pakaian itu tidak layak lagi bagi mereka.


Namun, saat Hanindita menyentuh pakaian-pakaian itu, barulah ia paham kalau kualitas pakaian di butik itu sangatlah jauh berbeda dengan yang ada di pasaran. Tapi tetap saja, itu terlalu berlebihan untuk dirinya. Hanindita belum sadar, kini dirinya siapa jadi wajar saja bila ia mengenakan pakaian yang harganya mahal.


"Kenapa? Nggak ada yang kamu suka?" tanya Berryl saat melihat Hanindita tak mengambil satu potong pakaian pun untuk dibeli.

__ADS_1


Hanindita menggeleng pelan, "Bagus-bagus sih, tapi ... apa itu nggak kemahalan buat aku? Nanti uang kami habis kalau beli baju semahal itu. Atau anterin aku ke pasar tradisional aja, di sana duit seratus ribu bisa dapat 3 potong baju kadang lebih." ucap Hanindita membuat Berryl membulatkan matanya lalu terbahak.


"Sweetie, tak perlu pikirkan masalah uang, mau kamu beli satu butik ini pun aku mampu. Nggak usah khawatir, uang aku banyak. Mulai sekarang uang aku itu uang kamu juga jadi kamu mau apa aja tinggal bilang. Nggak perlu ragu apalagi takut, bahkan uang aku nggak bakal habis sampai tujuh turunan. Mau kamu punya anak 10 terus punya anak lagi, lagi, dan lagi, uang aku cukup kok untuk membiayai kebutuhan kalian. Apalagi katanya nih, semakin kita memanjakan istri, maka rejeki kita akan makin lancar jadi dengan aku memanjakan istriku ini, aku yakin uang aku bukannya berkurang justru akan makin bertambah." ucap Berryl menenangkan sekaligus menjelaskan pada Hanindita agar tidak pernah khawatir tentang masalah uang. Sontak saja, Hanindita membulatkan matanya dan bertanya-tanya, sekaya apa Berryl sebenarnya?


Karena melihat Hanindita yang terlihat masih ragu, lantas Berryl memerintahkan pegawai butik untuk mengambil beberapa jenis baju yang terlihat cocok untuk Hanindita dan segera membayarnya. Hanindita hanya bisa melongo melihat pegawai butik membawakan banyak paper bag berisi baju juga sepatu untuknya ke dalam mobil. Selepas dari butik, Berryl juga membawa Hanindita ke toko tas dan toko kosmetik ternama. Hanindita hanya diam, menyerahkan segalanya pada Berryl. Bahkan Berryl yang dengan seksama mendengarkan penjelasan dari penjaga counter make up mengenai kosmetik yang aman dan bagus. Tak lupa, Berryl membawa Hanindita ke sebuah beauty clinic kenamaan untuk mengkonsultasikan masalah kulit Hanindita dan meminta rekomendasi skincare yang cocok untuk kulit Hanindita.


Wanita mana yang tak tersentuh mendapatkan perhatian begitu besar dari seorang pria? Bahkan sang pria mau bersusah payah, bukan hanya sekedar mengantar, tapi juga menemani dan memilihkan yang terbaik untuk dirinya. Hanindita merasa dirinya begitu dicintai. Apalagi ini pertama kalinya ia mendapatkan perhatian sedemikian rupa dari seseorang. Sepertinya takkan sulit untuk jatuh cinta pada seorang Berryl Van Houten. Lelaki yang tanpa ragu meminang dirinya, menikahinya, menerimanya apa adanya, dan melimpahinya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.


Kini Berryl sudah melajukan mobilnya menuju ke taman bermain. Ia tak mungkin mengingkari janjinya apalagi ini merupakan permintaan pertama dari istrinya itu.

__ADS_1


Sementara itu, di desa tempat Hanindita berasal, Megan sedang bersiap-siap untuk tinggal di kota. Dengan bekal uang 1 milyar dari Berryl yang dipintanya dari Lidya, ia berencana membeli sebuah rumah kecil untuknya tinggali selama di kota. Tujuannya tak lain mencari keberadaan Berryl dan Hanindita. Ia masih belum rela Hanindita menikah dengan Berryl. Baginya, hanya dia yang layak dan pantas menjadi pendamping Berryl. Ia akan melakukan segala cara agar Berryl dapat ia miliki.


"Kau yakin ingin tinggal di kota sendirian, Meg?" tanya Lidya dengan wajah sendu. Matanya terlihat bengkak dan merah karena terlalu lama menangis. Ia sebenarnya tak rela melepaskan Megan tinggal sendirian di kota. Tapi Lidya dan Handoko tak bisa mencegah keinginan kuat Megan. Mereka hanya bisa menuruti dan mendoakan agar Megan baik-baik saja selama tinggal di kota.


"Bu, aku tak pernah merasa seyakin ini sebelumnya. Aku harap ibu mau mendoakan agar aku bisa merebut Berryl dari gadis sialan itu." ucap Megan dengan penuh kesungguhan.


Morgan yang melihat itu hanya berdecih sinis, meragukan kemampuan Megan. Sebagai seorang lelaki, tentu ia menyadari kelebihan Hanindita dibandingkan Megan. Walaupun mengenakan pakaian lusuh sekalipun, kecantikan Hanindita tetap memancar. Pesona Hanindita tak dapat ia ingkari karena memang itulah adanya. Bukan hanya cantik, tapi Hanindita memiliki aura yang luar biasa. Bahkan dengan mencium aroma tubuh alaminya saja, sanggup membangkitkan libidonya. Aroma tubuh Hanindita bagaikan feromon yang sanggup membangkitkan gairah sensual seorang pria karena itulah ia beberapa kali sampai tergoda ingin memperkosanya.


"Kenapa kau?" tanya Megan sinis saat melihat gerakan bibir Morgan yang tampak mencibirnya.

__ADS_1


"Ah, nggak. Nggak ada apa-apa." sahutnya acuh. "Selamat berjuang, Megan. Semoga kau beruntung." imbuhnya lagi sambil terkekeh kemudian berlalu dari hadapan Megan.


...***...


__ADS_2