
Wah, kantor kamu bagus banget, by!" puji Hanindita seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia bahkan mendekati satu persatu perabot yang terpajang di sana. Hanindita kian tersenyum lebar saat melihat sebuah pigura yang memajang fotonya dan Berryl di atas meja kerja.
Berryl lantas menarik lengan Hanindita dan membawanya ke pangkuannya. Dilingkarkannya kedua tangannya di perut sang istri dengan dagu bertopang di atas pundak Hanindita.
"Itu penyemangatku," tunjuknya pada pigura yang memajang foto mereka. "Aku tak pernah merasakan sesemangat ini saat bekerja tapi semenjak kehadiranmu, hidupku makin menggairahkan. Kau adalah rumahku, sweetie. Tempatku pulang dan akan selalu seperti itu selamanya." Tukas Berryl lembut lalu mengecup pipi Hanindita mesra membuat wanita itu tersipu. "Sepertinya aku sudah benar-benar terjerat pada pesona gadis desa ini," ujarnya seraya terkekeh.
"Aku hebat, bukan? Tanpa melakukan apapun bisa membuat seorang Berryl Van Houten bertekuk lutut," sahutnya jumawa kemudian terkekeh sendiri karena perkataannya yang terkesan sombong itu.
"Ya, kau benar sweetie! Tanpa perlu melakukan sesuatu, bahkan tersenyum pun tidak, tapi kau mau mampu membuatku tak berdaya. Kau memang menakjubkan, sweetie. Aku yakin, pasti selama ini banyak yang mengagumimu tapi karena takut dengan keluargamu, mereka mengurungkan niatnya mendekati mu. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada mereka sebab berkat itu tak ada yang berani merayu apalagi mengambil milikku."
"Lebay," ejek Hanindita yang membuat Berryl tergelak.
"Lho, kok lebay sih, aku serius!" sahutnya lagi membuat Hanindita memutar bola matanya.
...***...
"Tuan, ada yang mencoba meretas sistem keamanan ponsel terbaru kita," lapor seorang ahli IT perusahaan sesaat setelah dipersilahkan masuk.
"Apa? Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?"
"Kami belum tahu, tuan. Tapi tim sedang mengupayakan melawan dan mencegah mereka memecah kode kode keamanan komputer kita. Tapi sepertinya sulit tuan, mereka sangat ahli. Sepertinya mereka berupaya mencuri rahasia ponsel pintar kita." Lapor orang itu membuat Berryl menggeram marah.
"Sial! Apa itu perbuatan Karl?" desis Berryl murka.
Lalu ia segera menghubungi Vano dan Vino untuk meminta bantuan mereka.
Hanindita yang hari itu ikut ke perusahaan hanya bisa duduk diam di sofa. sambil memainkan ponselnya. Ia tahu sepertinya suaminya sedang mengalami masalah jadi ia tidak ingin mengganggunya.
Belum selesai masalah satu, datang lagi seseorang yang juga merupakan tim keamanan cyber perusahaan. Hampir sama, ia pun melaporkan ada seseorang yang berupaya meretas sistem keamanan perusahaannya.
"Tuan, ada yang mencoba meretas keamanan data perusahaan." Lapor orang itu.
__ADS_1
Berryl mengepalkan tangannya dengan sorot mata berkilat marah. Andai Hanindita tak ada di sini, sudah ia hancurkan semua barang yang ada di hadapannya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kurang ajar!" umpat Berryl murka. "Sebenarnya apa pekerjaan kalian, hah! Menangani persoalan seperti itu saja tidak becus. Saya menggaji kalian di atas gaji pekerja rata-rata bukan untuk menerima laporan seperti ini," hardik Berryl murka. Ia bahkan meninju mejanya sendiri untuk meluapkan emosinya.
"Ma-maaf, tuan. Tapi kami sudah berusaha mengatasinya, namun sepertinya orang ini cukup pintar. Bahkan alamat IP nya selalu berpindah-pindah membuat kami kesulitan untuk melacak lokasi peretas tersebut," jawab orang itu gelagapan dengan tangan buang bergetar. Kepalanya menunduk, tak berani menatap mata sang atasan yang terlihat jelas berkilat marah.
"Kembalilah ke ruanganmu dan usahakan apa saja untuk mencegah kebocoran lebih lanjut sebelum bantuan datang!" titah Berryl yang dipatuhi karyawannya itu.
Berryl pun segera melanjutkan pekerjaannya sebelum ia sebuah pelukan dari belakang menghampirinya disertai secangkir kopi yang telah lebih dahulu diletakkan di atas meja tanpa ia sadari.
"Sweetie, ah, maaf, aku hampir melupakan keberadaanmu," ucapnya penuh penyesalan. Padahal ia mengajak Hanindita kesana agar istrinya itu tidak merasa bosan di rumah, juga agar ia tahu bagaimana rupa tempat suaminya bekerja selain menemani dirinya tentunya. Tapi hal tak terduga terjadi, ada yang berusaha kembali meretas sistem keamanan ponsel terbarunya yang belum dirilis juga meretas sistem keamanan perusahaan. Berryl pun menjadi sibuk sampai melupakan keberadaan Hanindita yang mungkin saja merasa terabaikan.
"Tak apa-apa, by. Aku nggak apa-apa kok. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tahu, kau sedang sibuk sekarang." Tukas Hanindita yang mengerti kesibukan suaminya itu.
"Benarkah?" Berryl menanyakan kembali untuk memastikan dan Hanindita mengangguk pasti.
"Oh ya, aku lihat dari sini, taman di bawah sana sangat indah, boleh aku ke sana?"
"Perlu aku temani?"
"Ah, ya, ya, ya! Kau benar. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini. Kalau begitu hati-hati! Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku!" pesannya sebelum mengizinkan Hanindita pergi ke taman yang masih di kawasan perusahaan.
Cup ...
"Terima kasih, hubby!" ucapnya seraya tersenyum manis.
Berryl pun segera mengulurkan tangannya meraih tengkuk istrinya dan mulai melabuhkan sebuah ciuman yang cukup dalam dan panjang.
"Astaga ... "
Terdengar seruan berbarengan membuat kedua pasangan itu melepaskan tautan bibir mereka.
__ADS_1
Hanindita yang melihat kedatangan Vano dan Vino tentu saja terkejut hingga wajahnya memerah layaknya hidangan kepiting saus tiram.
"Kalian," seru Berryl dengan tatapan tak suka saat sahabatnya itu masuk ke ruangannya sesuka mereka.
"Sorry, kami pikir saat ini situasi sedang urgent jadi kami masuk begitu saja," ungkap Vino yang tahu kalau Hanindita merasa malu.
"Cck ... ternyata rumor itu benar isapan jempol belaka, buktinya ... " Sindir Vano sambil terkekeh. Lantas ia menutup mulutnya dengan seringai mengejek saat Berryl memelototinya.
"Kalau begitu, aku turun dulu ya, by!" Pamit Hanindita yang diangguki oleh Berryl.
"Hati-hati!* ucapnya sekali lagi. Hanindita tersenyum manis lalu melangkah ke arah pintu.
Sebelum keluar dari ruangan, Hanindita terlebih dahulu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis sebagai sapaan.
Setelah Hanindita keluar, Vano dan Vino tanpa ragu menyemburkan tawanya hingga gemanya memenuhi ruangan itu membuat Berryl berdecak.
"Tutup mulut kalian, segera hancurkan peretas sialan itu!" tegas Berryl.
Sambil menahan tawa, Vino segera mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel yang dibawanya dan segera ia hubungkan ke komputer Berryl. Vano pun ikut bergerak membantu memasangkan alat-alat tersebut beberapa saat kemudian Vino pun mulai beraksi.
Belum selesai masalah peretasan, sekretaris Berryl melaporkan ada sebuah mobil box tanpa penumpang meloncur dengan kecepatan tinggi hingga menghancurkan bagian depan lobi kantor. Berryl, Vaon, dan Vino sontak saja membelalakkan matanya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
"Ryl, peretasan berhenti sendiri!" Ujar Vino membuat Berryl mengalihkan pandangannya dari sekretarisnya.
"Aneh, mengapa mereka tiba-tiba berhenti tepat saat mobil box menghancurkan lobi kantormu?" tukas Vano penasaran.
Berryl sendiri heran, sebenarnya apa tujuan mengacau perusahaannya?
"Astaga, jangan-jangan .... "
Seru mereka bersamaan dengan mata membulat sempurna saat pikiran mereka terkoneksi pada satu hal yang kemungkinan jadi tujuan sebenarnya dari orang yang berusaha meretas sistem keamanan perusahaannya tersebut.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...