
Siang itu, meja makan tampak riuh karena kepulangan Berliana. Gadis itu sedikit ceriwis, tak ada yang luput dari komentarnya. Tidak seperti gadis kaya lain yang pongah, Berliana justru sangat ramah dan menerima kehadiran Hanindita di tengah-tengah keluarga mereka dengan tangan terbuka. Bahkan ia menyambut antusias karena menurutnya sudah sejak lama ia menginginkan seorang saudara perempuan, tapi sayangnya Ivanka memiliki masalah di rahimnya sehingga sulit hamil kembali.
"Kakak ipar, boleh Ana tanya sesuatu?" bisik Berliana sambil melirik sang kakak yang menatapnya tajam. Saat ini mereka sedang duduk di ruang keluarga. Ruang itu khusus dibuat dan di desain agar anggota keluarga dapat berkumpul dengan nyaman.
"Apa? Tanyakan saja. Kalau bisa kakak jawab, pasti kakak jawab," sahut Hanindita yang ikut berbisik.
"Wah, kak Berryl ternyata nggak salah pilih! Kakak ipar ku emang yang terbaik," ujarnya seraya tersenyum lebar. "Tapi ini rahasia, jangan kasi tau kal Berryl, gimana? Oke?"
Hanindita pun mengangguk setuju sebab ia pun penasaran apa yang ingin ditanyakan adik iparnya itu.
"Kak, kakak kan udah nikah 1 bulan lebih nih, aku tuh penasaran pake banget, kak Berryl itu beneran normal kan? Nggak impoten kayak yang digosipin itu?" tanya Berliana kepo mode on.
Sontak Hanindita membelalakkan matanya mendengar pertanyaan itu.
"Emang dulu beneran ya kakak kamu digosipin kayak gitu?" Berryl memang pernah sedikit menceritakan hal tersebut, tapi ia tidak begitu mempercayainya.
"Iya, serius. Malah pernah nih, mommy sampai masukkin gadis yang mau dijodohin ke kak Berryl ke kamarnya pake pakaian seksi, tapi bukannya tergoda, kak Berryl justru ngamuk. Terus perempuan itu diusir keluar sama dia." Jelas Berliana lagi membuat Hanindita sampai menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Serius mommy sampai nekat gitu?'
"Beneran. Jadi gimana?" tanyanya lagi.
Wajah Hanindita sontak memerah karena malu. Ingin menjawab tapi lidahnya kelu, tidak dijawab tapi ia sudah bilang akan menjawab, jadi ia harus bagaimana?
Melihat wajah Hanindita yang memerah, Berliana pun segera mengambil kesimpulan. Ia pun menggoda kakak iparnya itu yang terlihat lucu dan menggemaskan saat tersipu malu.
__ADS_1
"Cie ... Ana udah bisa nebak nih! Wah wah wah, ternyata gosip itu hanya hoax toh! Kurang ajar bener yang nyebarin gosip itu. Gimana permainan kak Berryl? Kuat berapa ronde?" tanyanya dengan raut wajah penasaran tanpa rasa canggung apalagi malu sedikit pun.
Tukkk ...
Tiba-tiba Berryl telah berdiri menjulang di hadapan Berliana lalu menjentik dahinya membuat Berliana meringis sakit .
"Kakak apaan sih?" Rajuk Berliana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tuh yang apa-apaan. Mau tahu urusan ranjang kakak sendiri. Kepo kok kebangetan. Nggak kasian sama kakak ipar kamu yang udah seperti kepiting saus tiram. Gemesin banget sih. Huh, jadi pingin makan kan sekarang!" ujar Berryl ambigu membuat Berliana bengong mencoba mencerna apa yang dimaksud kakaknya itu. Lalu Berryl pun segera menarik lengan Hanindita agar ia berdiri kemudian merangkulnya menuju ke kamar.
"Kak, kalian mau kemana?" pekik Berliana saat melihat Berryl merangkul Hanindita menuju lift.
"Udah dibilangin mau makan."
"Impoten apanya? Me-sum iya." gumamnya sambil terkekeh. "Tapi syukurlah kalau kakak sebenarnya normal. Kakak nggak salah pilih istri." lanjutnya lagi dengan tersenyum lebar.
...***...
Sementara Hanindita tengah dilimpahi kasih sayang oleh Berryl dan keluarganya, berbanding terbalik dengan apa yang menimpa Megan baik di tempatnya bekerja maupun di kampus. Di kantor VH Corporations, Megan tak henti-hentinya mendapatkan perlakuan buruk dan caci maki dari karyawan di sana. Tapi itu merupakan buah pekerjaannya sendiri yang sering asal-asalan dan semaunya. Ia tak becus dalam bekerja. Ia juga tidak memiliki sopan santun pada karyawan di perusahaan itu. Semua ia kerjakan semaunya sendiri.
Seperti saat ini, akibat dirinya yang tidak memeras kain pel dengan baik, lantai perusahaan jadi licin. Akibatnya ada salah seorang karyawati yang terpleset di lantai.
"Kau itu bekerja bagaimana sih? Lihat akibat perbuatan loe, breng-sek!" geram karyawati itu sambil memegang bokongnya yang sakit. "Gue laporin sama Bu Meti, biar loe tahu rasa."
"Laporin aja, Gie nggak takut! Dasar cewek belagu!"
__ADS_1
"Sialan! Sok amat nih anak." geramnya dengan tangan mengepal.
Tak dapat menahan kekesalannya lagi, karyawati itupun segera mengambil ember berisi air bekas pel dan menumpahkannya di atas kepala Megan.
"Aaaargh ... Sialan banget kalian."
Tak terima atas perbuatan karyawati itu, Megan pun segera menjambak rambutnya sehingga terjadilah adegan jambak-jambakan di kantor tersebut. Berita itu pun segera viral bahkan sampai ke kampus Megan.
Namanya kini jadi bahan perbincangan bukan hanya di kantor tapi juga di kampus. Bahkan grup chat kelasnya kini ramai menggunjingkan Megan yang kini bekerja sebagai cleaning servis. Sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang suka digembar-gemborkannya. Sebab di kampus ia mengatakan kalau dirinya merupakan putri seorang pengusaha perkebunan teh ternama. Sontak saja, berita kalau dirinya ternyata menjadi cleaning servis menjadi bahan bulan-bulanan mahasiswa di kampusnya. Mereka bahkan tak segan-segan membuat berbagai meme untuk mengejek Megan membuat gadis itu kesal setengah mati.
"Semua gara-gara Dita. Andai dia tidak merebut Berryl dariku, semua takkan terjadi seperti ini." Geram Megan dengan tangan terkepal setelah baru saja membuka grup chat kampus dimana ia dijadikan bahan olok-olokan hampir semua mahasiswa. Apalagi ia selama ini selalu bersikap congkak membuat orang-orang yang tidak menyukainya kian semangat membully-nya.
...***...
Pagi itu Megan sengaja datang lebih pagi, namun ia bersembunyi di di balik dinding yang jarang dilewati orang-orang. Tujuannya untuk mengintai kedatangan Berryl. Sudah beberapa hari berlalu sejak ia bekerja di situ, tapi tak sekalipun ia memiliki kesempatan untuk bertemu Berryl. Bahkan melihatnya pun tidak pernah. Karena itu, ia sengaja menunggu di sana berharap bisa bertemu Berryl dan berpura-pura ingin menemui Hanindita karena merindukannya.
Setelah 1 jam berlalu, akhirnya mobil yang membawa Berryl berhenti tepat di depan undakan tangga menuju pintu masuk gedung perusahaan. Berryl turun dengan gagah setelah sang sopir membukakan pintu.
Saat sedang berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya membuat Berryl menoleh sejenak. Lalu dengan wajah tenang, ia kembali melanjutkan langkahnya sambil menulikan pendengarannya.
"Berryl .... Ryl. " teriak Megan tak peduli pada banyak pasang mata yang memandangnya jijik dengan sikap sok kenalnya.
...***...
n
__ADS_1