
Kediaman Handoko kini sudah tampak dipenuhi para tamu yang sengaja Lidya undang untuk meramaikan acara lamaran sang putri. Megan pun telah didandani sedemikian rupa hingga terlihat jauh lebih cantik. Begitu pula Lidya, tentu ia tak mau kalah dari sang putri. Pun Handoko dan Morgan telah mengenakan setelan batik seragam yang dibelikan Lidya secara khusus untuk keduanya agar terlihat lebih menawan.
Sementara keluarga itu tengah sibuk mempersiapkan diri mereka untuk menyambut calon besan, ada seorang gadis yang telah benar-benar kelelahan setelah seharian mengerjakan tugas dari sang ibu tiri. Bahkan dirinya hanya diizinkan mandi dan kembali memakai pakaian lusuhnya seolah ingin menunjukkan bahwa Hanindita hanyalah Upik abu di rumah besar itu. Entah dimana hati nurani orang-orang itu. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Sedikit pun tak ada rasa iba melihat gadis muda itu. Bila biasanya ada tamu besar datang, maka orang sengaja meminta bantuan para tetangga untuk masak-masak, tapi tidak dengan keluarga Handoko. Mereka hanya mengandalkan Hanindita seorang. Ia seakan tengah digembleng untuk menjadi wanita yang serba bisa tapi hanya untuk keluarga itu.
"Wah, hebat ya Bu Lidya, bisa dapat menantu orang kota!" puji salah seorang tetangga.
"Iya, kabarnya dia itu bule ya? Wah, dapat menantu bule, Megan benar-benar hebat bisa gaet bule jadi calon suaminya!"
"Aku udah liat lho Bu bule yang ada di vila itu. Kan kemarin mereka main di air terjun tuh. Pada heboh semua jadi aku ikutan liat. Ternyata mereka ganteng-ganteng banget. Yang satu bule, terus duanya itu matanya agak sipit-sipit gitu, kembar, kayak campuran orang luar juga. Kalau kata anakku itu kayak opa-opa apa itu."
"Opa-opa? Kakek-kakek dong!" seloroh salah seorang tetangga Lidya.
"Ih, bukan opa itu, tapi panggilan orang ganteng yang ada di film-film itu yang mukanya cantik tapi mereka cowok itu lho. Pokoknya keren banget deh. Keliatan banget kalau mereka itu anak-anak orang kaya." tukas ibu-ibu itu.
Terang saja, setelah mendengar segala puji-pujian itu, wajah Lidya kian cerah, senyumnya pun kian lebar. Tak sabar rasanya menanti keluarga kaya itu di rumahnya. Ayahnya saja sampai mengirim utusan untuk mengabarkan perihal lamaran berarti sudah bisa dipastikan, bukan, kalau mereka orang-orang terpandang di kota.
...***...
Ivanka dan Abelano kini telah bersiap di ruang tamu vila. Begitu pula Berryl dan kedua sahabatnya.
"Yang, ikut!" rengek Tessa sambil bergelayut manja di lengan Vino.
"Tes, jangan mulai lagi!" tegas Vino yang jengah mendengar rengekan Tessa.
"Aku kan yang punya vila, Berryl bisa ketemu gadis yang disukainya karena menginap di sini, masa' aku nggak boleh ikut sih!" protes Tessa. "Lagian ya, apa sih hebatnya gadis itu sampai-sampai Berryl mendadak mau nikahin dia. Ini benar-benar ya, aku yakin kalau dia itu pakai pelet." imbuh Tessa dengan pikiran piciknya.
"Kamu benar, Tess. Masa' baru ketemu udah langsung suka. Atau dia pakai susuk tuh biar kalo ada cowok liat, langsung jatuh hati gitu. Orang kampung kan banyak yang masih percaya pakai gituan, Tess." timpal Gaya. "Apa sih kurangnya Citra? Kok si Berryl nggak bisa liat kalo Citra itu cantik banget dan yang penting, orang tuanya bukan orang sembarangan."
"Sudah ngomelnya?" ketus Vino.
__ADS_1
"Kalau kalian nggak suka kami di sini, oke. Sepulang dari lamaran, kami bakal angkat kaki dari sini. Yang punya vila bukan cuma loe aja, Tess. Tuh, di depan sana ada penginapan, nggak masalah kalo kalian nggak suka kami menginap di sini." sambung Vano yang juga sudah jengah dengan gadis-gadis itu.
"Kalian itu nggak ingat posisi kalian? Punya hak apa kalian mau protes Berryl suka sama siapa? Kami sahabatnya aja nggak protes. Mentang Citra sahabat kalian jadi jangan pikir kalian bisa memaksakan kehendak. Mau dia cantik, kaya, kalau Berryl nggak suka juga percuma. Termasuk kalian. Memangnya kalian siapa kami, hah? Tess, loe pacar gue? Bukan. Loe ... Gaya, loe pacar Vino? Bukan juga. Jadi jangan besar kepala jadi cewek. Kami mau dekat kalian aja seharusnya kalian udah bersyukur." dengkus Vino yang juga jengah melihat sikap ketiga gadis itu. Lalu tanpa basa-basi, mereka meninggalkan ketiga gadis itu menuju kediaman Handoko.
Mobil Ivanka dan Abelano, juga Berryl, dan teman-temannya, tak lupa beberapa bawahan Abelano telah tiba di kediaman Handoko. Semua orang tampak menyambut mereka dengan suka cita. Apalagi Lidya dan Megan, wajah mereka terlihat begitu senang saat melihat mobil-mobil mewah itu di parkir di depan rumahnya.
Kini Lidya dan Handoko telah menyambut kedatangan tamu mereka dan mempersilahkan kelimanya duduk. Sedangkan Megan kini masih berada di kamar menunggu saatnya dirinya keluar dengan jantung berdebar. Lidya dan para tamu tak berhenti berdecak kagum melihat para tamu mereka. Dari gaya mereka saja, sudah terlihat jelas kalau mereka orang-orang kaya.
Berbanding terbalik dengan Ivanka, ia merasa kurang nyaman diperhatikan orang-orang desa itu. Tapi dari hasil penyelidikan, keluarga mereka cukup terpandang dan merupakan pengusaha perkebunan teh di desa itu.
"Tentu tuan dan nyonya sudah tau bukan tujuan kedatangan kami." ujar Abelano setelah melakukan sesi perkenalan.
"Tentu dan kami dengan senang hati menerima lamaran itu."
"Baguslah. Kalau begitu, bisa kami bertemu calon menantu kami!" timpal Abelano. Sedangkan Ivanka, Berryl, dan kedua temannya hanya diam. Padahal dalam hati, Ivanka, Vano, dan Vino telah begitu penasaran dengan gadis yang menarik perhatian Berryl.
"Oh, tentu. Tapi apakah tidak sebaiknya kita minum dulu." ujar Handoko lalu ia pun meminta Lidya agar minuman segera dihidangkan.
"Oh, baiklah. Saya akan meminta istri saya memanggil putri kami sekalian." ujarnya sambil memberi kode lewat lirikan matanya pada Lidya agar memanggil Megan.
Tak lama kemudian, Megan pun keluar dengan malu-malu didampingi sang kakak. Ia mengenakan dress berwarna pink cerah lalu duduk di samping sang ayah.
Sontak saja Vano dan Vino saling melirik dan meminta penjelasan dengan Berryl.
"Jadi, siapa nama kamu?" tanya Ivanka.
"Nama saya, Megan Tante ." sahutnya sambil tersenyum malu-malu. Ia lantas menarik rambutnya ke samping telinga.
"Iya jeng, ini Megan, putri kami. Sebenarnya putri kami pun sudah menaruh hati pada anak Anda. Eh, nggak taunya gayung bersambut, putra Anda pun tertarik dengan putri saya." ucap Lidya yang begitu antusias.
__ADS_1
"Siapa bilang aku tertarik dengannya?" tanya Berryl dengan suara dinginnya. Ia bingung, mengapa justru Megan yang keluar.
"Maksud kamu, apa Ryl? Bukankah kamu bilang kamu ingin melamar putri keluarga Handoko, lalu mengapa tiba-tiba kamu mengatakan ini?" tanya Abelano bingung.
"Tapi bukan dia yang ku maksud, dad." ujar Berryl tegas.
Abelano dan Ivanka pun mengalihkan perhatiannya pada Lidya, Megan, dan Handoko yang wajahnya sudah memucat.
"Maksud kamu apa, Ryl? Akulah putri keluarga Handoko itu. Bukankah kita sudah saling mengenal dua hari ini." seru Megan tidak percaya ia dipermalukan di hadapan orang-orang.
"Tapi aku memang bukan hendak melamar kamu." tegas Berryl.
"Tuan, apa Anda memiliki putri yang lainnya?" tanya Ivanka.
"Ti ... "
Tiba-tiba Hanindita muncul sambil membawa nampan yang berisi gelas-gelas berisi air teh hasil perkebunan mereka. Seketika semua orang yang ada di rumah itu mengalihkan pandangan mereka.
"Silahkan diminum, tuan, nyonya." ujar Hanindita setelah menghidangkan teh itu.
Lalu Hanindita pun hendak membalik badannya kembali ke dapur.
"Berhenti!" seru Berryl dengan suara baritonnya. Lalu ia pun segera beranjak mendekati Hanindita dan menarik tangannya hingga mereka saling berhadapan. "Mom, Dad, gadis yang ingin aku lamar adalah dia." tegas Berryl membuat semua orang membelalakkan matanya. Tak terkecuali Hanindita. Ia pun sangat terkejut mendengar dirinyalah yang sebenarnya dilamar.
"Nggak. Nggak mungkin. Itu nggak mungkin." teriak Megan dengan wajah memerah menahan emosi. Ia
tidak terima dikalahkan oleh seorang gadis kampungan seperti Hanindita.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...