Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.34


__ADS_3

Megan baru saja keluar dari gedung VH Corporations. Ia keluar dari gedung itu dengan wajah masam karena memendam kekesalannya. Bagaimana tidak, ia yang calon lulusan sarjana ekonomi justru diterima perusahaan itu sebagai cleaning servis.


Tapi pihak HRD VH Corporations tidak mempedulikan itu sebab bagi mereka dirinya tetaplah tamatan SMA karena sejatinya ia memang belum resmi menyandang status sebagai seorang sarjana. Akhirnya, Megan harus menerima pekerjaan itu dengan terpaksa sebab tidak ada posisi lain yang bisa ia isi dengan latar pendidikannya tersebut.


"Sial!"


Brakkk ...


Megan membanting kasar pintu mobilnya seraya mengumpat. Ia kesal, sangat kesal. Tapi ia tidak memiliki tempat untuk melampiaskan amarahnya. Ia pun melajukan mobilnya keluar dari parkiran gedung VH Corporations dengan wajah menahan amarah.


Sementara itu, di sebuah mobil Maybach hitam, ada 2 pria kembar identik yang tertawa lebar melihat Megan yang tampak marah-marah keluar dari gedung VH Corporations. Tentu mereka tahu apa alasannya. Sebab berkat mereka lah, Megan bisa bekerja di sana. Mereka sengaja meminta tim HRD menerimanya, untuk melihat apa yang ingin direncanakan Megan. Bukankah cara paling ampuh mengetahui segala hal tentang musuh dengan mendekatinya.


"Hahahaha ... "


Vano dan Vino tergelak bersamaan saat melihat wajah Megan yang menahan kesal. Walaupun baru beberapa kali bertemu Megan, tentu mereka bisa membaca sifat asli Megan. Mereka pun turut merasakan amarah di dada mereka saat mendengar penuturan Berryl mengenai bagaimana keluarga Handoko memperlakukan Hanindita selama tinggal di sana.


"Kita lihat, apa yang ingin dia lakukan selanjutnya! Kalau dia masih berusaha mendekati Berryl dan menyakiti Anin, kita singkirkan saja dia seperti kakaknya," tukas Vano dengan smirknya.


"Yo'i, kok ada ya cewek model kayak gitu. Jahat banget dan nggak tahu malu juga. Pake ngaku-ngaku masakan tempo hari masakan dia juga, untung aja cepat ketahuan, kalau nggak? Ck Ck Ck ... kasihan banget sih Anin punya keluarga toxic kayak mereka. Si bokapnya juga, kok bisa-bisanya bilang Anin bukan anak dia," ujar Vino seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Entahlah, gue juga heran. Masa' otaknya udah dicuci sih sampai nggak bisa ngenalin anak sendiri apa bukan," timpal Vano. "Tapi yaudah lah ya, sekarang yang penting cari cara gimana kita ambil alih perkebunan yang memang haknya Anin. Terus cari bukti kalau Anin itu beneran anak pak tua bodoh itu," imbuh Vano yang dibenarkan Vino.


Mereka terus menjalankan mobil mereka mengikuti jejak Megan yang ternyata berakhir di sebuah cafe. Merasa tidak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Megan, mereka pun segera berlalu dari cafe dimana Megan berada saat ini.


...***...


"Sweetie, karena ini hari terakhir kita di Jepang, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Berryl seraya memeluk tubuh kecil Hanindita yang tengah asik memandangi pemandangan siang di Jepang di balkon hotel tempat mereka menginap.


Merasakan sepasang tangan memeluknya erat, Hanindita hanya bisa pasrah. Dari aroma tubuhnya, ia tahu siapa yang memeluknya itu. Lagipula ia sangat menyukai pelukan itu. Hangat dan nyaman. Ia senang, akhirnya sesuatu yang telah hilang dari dalam hidupnya sejak bertahun-tahun yang lalu lamanya, akhirnya kembali.

__ADS_1


Hanindita menggeleng dalam dekapan Berryl lalu mengusap punggung tangan Berryl yang membelit pinggangnya.


"Aku ingin kita menghabiskan waktu di kamar aja. Masih agak capek juga, nggak papa kan hubby!"


Berryl pun mengangguk di pundak Hanindita lalu mengecup kepalanya.


Keesokan malamnya, akhirnya Berryl dan Hanindita telah pulang ke rumah. Ivanka menyambut kepulangan anak dan menantunya dengan seulas senyum. Berryl juga memberikan beberapa oleh-oleh yang dibelinya dengan Hanindita selama bulan madu kepada ibunya. Walaupun Ivanka tidak memerlukan itu, tapi ia cukup senang karena putra dan menantunya setidaknya mengingat dirinya.


"Hubby mau kemana?" tanya Hanindita bingung saat melihat Berryl baru saja tiba tapi sudah kembali bersiap-siap dengan setelan santainya.


"Aku mau bertemu Vano dan Vino sebentar, sweetie. Ada yang ingin kami bicarakan," ujarnya seraya mengecup puncak kepala Hanindita.


"Apa nggak bisa besok aja? Ini udah malam. Kamu juga baru tiba, emangnya nggak capek?"


"Sebentar aja sweetie, janji. Oke!" ujarnya seraya mengusap puncak kepala Hanindita.


Hanindita pun terpaksa mengangguk sambil menghela nafas membuat Berryl tersenyum lalu mengecup dahinya.


Hanindita hanya mengangguk.


"Mandi, terus istirahat lah. Nggak usah tunggu aku."


Hanindita kembali mengangguk. Setelah Berryl pergi, Hanindita kembali lagi ke kamar, membersihkan diri, lalu istirahat untuk menghilangkan efek jetlagnya.


...***...


"Halo, bro, gimana honeymoon nya? Sukses?" tanya Vino seraya mengedipkan sebelah matanya.


Tak menjawab, Berryl hanya tersenyum miring membuat kedua saudara kembar itu bersorak girang.

__ADS_1


"Wow, selamat! Akhirnya ... Ini membuktikan kalau gosip itu tidaklah benar," seru Vano sambil bertepuk tangan.


Berryl hanya mengedikkan bahunya acuh. Selama ini hampir saja ia percaya pada gosip itu yang entah siapa yang menyebarkannya. Ia sempat meragukan kejantanannya sendiri, tapi sekarang semuanya terbukti kalau ia pria normal. Bahkan semenjak itu, hampir setiap malam selama di Jepang, ia habiskan dengan bercinta.


Berryl tak pernah merasakan kesulitan untuk erek*si. Cukup sedikit melakukan sentuhan pada tubuh istrinya, sudah mampu membuat miliknya menegang dan keras sempurna.


"Jadi, ada informasi apa?" tanya Berryl to the point seraya melirik jam di pergelangan tangannya.


Hal itu pun membuat Vano dan Vino tersenyum.


"Cck ... baru sebentar, belum juga 30 menit udah kepikiran mau pulang," ledek Vano sambil terkekeh yang kemudian mendapatkan lemparan kentang goreng dari Berryl.


"Udah, udah, ada yang lebih penting yang harus kita bahas sekarang."


Berryl mengerutkan keningnya, "Apa itu?"


"Kau benar, ternyata di perusahaan kita ada pengkhianat. Mereka hendak menjual informasi perusahaan kepada pihak asing. Beruntung kami berhasil menggagalkannya. Tapi sayang, saat kami ingin mengorek informasi, tiba-tiba orang itu tewas tertabrak mobil karena mencoba kabur." Ungkap Vano dengan wajah serius.


"Namanya Anjar, bagian dari divisi perencanaan dan pengembangan." lanjut Vino.


Berryl termenung, "Telusuri informasi dengan siapa saja orang itu berkomunikasi. Bisa jadi, ia tidak hanya sendiri," titah Berryl sambil mengetukkan jarinya di atas meja.


"Oh ya, untuk perempuan itu, Megan, kini ia telah diterima menjadi cleaning servis di VH Corporations."


"Bagus, terus awasi dia. Buat dia merasakan apa yang pernah Hanindita rasakan selama tinggal dengan mereka."


"Kau tenang saja, aku sudah membuat rencana agar ia merasa tidak betah dan menyerah kemudian segera pulang ke desanya," pungkas Vano sambil menyeringai.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2