
Sungguh sebuah pemandangan dan pertunjukan langka saat melihat seorang bule blesteran Belanda-Indonesia sibuk berkutat di dapur dengan apron menutupi bagian dadanya. Untung saja warna apron itu biru tua, bila merah muda, pasti akan tampak sangat menggelikan.
Sambil duduk di meja makan, mata Hanindita menatap lekat ke arah Berryl yang sedang beratraksi mengaduk-aduk nasi di dalam penggorengan. Berryl sebenarnya tidak bisa memasak, tapi demi istri tercinta, ia akan melakukan apa saja yang penting istrinya itu bahagia.
Jadilah Berryl dibantu Bi Layla meracik bumbu nasi goreng kambing dan memasaknya dengan penuh semangat dan rasa cinta. Walaupun sedikit kesusahan tapi tak apalah, yang penting ia telah berusaha mewujudkan apa yang istrinya itu inginkan. Toh selama ini Hanindita tidak pernah meminta macam-macam pada dirinya. Istrinya ini baginya merupakan wanita paling pengertian.
Setelah dirasanya nasi goreng itu telah cukup matang, disajikannya nasi goreng itu ke dalam sebuah piring cantik. Tak lupa Berryl menghiasi nasi goreng itu dengan irisan mentimun, tomat, dan selada, lalu yang terakhir taburan bawang goreng agar aromanya jadi lebih menggugah selera.
Setelah siap, Berryl pun menghidangkannya di hadapan Hanindita tak lupa dengan segelas air lemon hangat untuk mengurangi kadar kolesterol di dalam tubuh akibat mengkonsumsi daging kambing.
"Silahkan dimakan, sweetie! Aku harap kau suka. Maaf bila rasanya di luar ekspektasimu," ujar Berryl setelah menghidangkan nasi goreng itu.
Hanindita menatap nasi goreng kambing itu dengan berbinar. Apalagi di dalam nasi itu ada leunca membuatnya kian cantik dan menggugah selera.
Dengan tak sabar Hanindita menarik piring berisi nasi goreng itu, namun tiba-tiba ia terdiam sejenak. Kemudian ia mendorong piring berisi nasi goreng itu ke arah Berryl yang duduk di sebelahnya. Sontak saja Berryl menegang, apakah Hanindita tidak menyukainya, pikirnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya, sweetie?" tanya Berryl dengan perasaan campur aduk.
Hanindita menggeleng, membuat Berryl mengerutkan keningnya.
"Suap," satu kata itu meluncur begitu saja dari bibir Hanindita membuat Berryl mengerjapkan matanya dengan tubuh mematung "Ck ... suapin aku, hubby! Aku nggak mau makan kalau nggak disuapin," tandas Hanindita dengan bibir mencebik.
Berryl terkekeh melihat sikap manja Hanindita yang tak biasa. Sepertinya efek kehamilan membuat istrinya jadi sedikit manja. Berryl tak masalah, justru ia sangat menyukai sikap manja sang istri yang tidak biasanya itu.
"Bagaimana?"
"Benarkah?" tanya Berryl penasaran. Lantas ia segera menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Belum sempat mengunyah, Berryl segera meraih air putih dan menenggaknya cepat membuat Hanindita terkekeh. "Asin," tuturnya saat tau rasa nasi goreng buatannya sedikit asin. Lantas ia segera menarik piring Hanindita, hendak menyingkirkan nasi goreng asin itu.
"By, kenapa nasi gorengnya diambil?" Rajuk Hanindita.
"Nasinya asin, sweetie. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa nanti. Kita buat yang baru lagi aja ya! Aku janji akan buat yang lebih enak dari yang ini," ujar Berryl menjelaskan.
__ADS_1
"Nggak, aku nggak mau yang baru. Aku maunya yang itu," tukas Hanindita seraya mencoba mengambil kembali piring berisi nasi goreng kambing miliknya.
"Sweetie, please! Ini untuk kesehatanmu," bujuk Berryl tapi Hanindita tetap berkeras tak ingin dibuatkan nasi yang baru.
"Tapi sweetie ... "
"Aduh adudududuh ... Argh ... " tiba-tiba saja Hanindita meringis sambil memegang perutnya membuat Berryl panik.
"Sweetie, kau kenapa?": tanya Berryl khawatir.
"Aku ... aku ... Arghhhh ... Sakittt," desis Hanindita yang wajahnya sudah memucat membuat Berryl bergegas mengangkat tubuh Hanindita menuju mobilnya di carport rumah mereka.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1