
Melihat Berryl dan rombongan hendak meninggalkan air terjun, gegas saja Megan berlari menyusul mereka dan menghadang jalan mereka.
"Berhenti!" seru Megan dengan mata berbinar. Ia mengibaskan rambutnya sambil berjalan berlenggak-lenggok ke hadapan Berryl. Berryl dan yang lainnya pun lantas menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
Tessa, Citra, dan Gaya mengerutkan keningnya, sedangkan Berryl, Vano, dan Vino menatap Megan dan Elsa dengan wajah datarnya.
"Hai, boleh kenalan? Gue Megan." ujar Megan dengan bersuara lembut mendayu-dayu dan tersenyum lebar sambil mengerjapkan matanya sehingga bulu matanya yang panjang karena hasil extension berkibar-kibar.
Berryl menatap sebentar penampilan Megan dari atas ke bawah, lalu tanpa kata pergi begitu saja meninggalkan Megan yang wajahnya sudah memerah karena diabaikan begitu saja.
"Hei, kenapa pergi begitu aja? Kalian sedang liburan ya? Mau jalan-jalan keliling perkebunan teh? Perkebunan ini punya ayahku lho kalau kalian mau aku bisa ajak kalian keliling-keliling." pantang menyerah, Megan berusaha mengejar Berryl dan rombongannya yang sudah menjauhi area air terjun.
Tapi sepertinya rombongan itu tak berminat sama sekali dengan penawaran Megan.
"Hei, kok kalian sombong banget sih! Kenalan aja nggak mau." seru Megan yang sudah hampir mensejajari langkah keenam orang itu.
"Meg, udah, mereka nggak mau. Kita pulang aja yuk!" bujuk Elsa yang sudah menahan malu jadi bahan perhatian warga desa mereka.
Bukannya menurut, Megan justru menghempaskan tangan Elsa yang mencoba menahan langkahnya.
"Lepas, Elsa. Gue nggak mau nyerah. Mungkin mereka malu jadi bahan perhatian warga desa aja." ujar Megan yang masih berkeras ingin berkenalan dengan trio handsome itu.
Saat langkahnya hampir mensejajari Berryl lagi, Tessa, Gaya, dan Citra pun langsung menghadangnya.
"Loe itu nggak tau malu banget ya jadi cewek. Mereka itu nggak tertarik sama loe jadi mending pulang sana." ketus Tessa jengah melihat keberadaan Megan yang tak tahu malu.
"Apaan sih loe! Ikut campur aja." balas Megan tak kalah ketus. Ia mencoba kembali mengejar Berryl, namun kaki Gaya sudah lebih dahulu mencegatnya hingga Megan pun terjatuh.
"Aduh, sialan loe ya! Loe berani macam-macam sama gue!" desis Megan dengan mata melotot sambil berusaha berdiri.
"Dih, dasar cewek nggak tau malu muka tembok." ejek Gaya acuh.
"Loe ... dasar gadis kampung, pergi sana! Loe itu nggak pantes buat Berryl, tau. Karena Berryl itu punya gue." ketus Citra dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Oh, jadi namanya Berryl toh! Thanks ya!" sahut Megan menyeringai. Akhirnya dia tau nama pria calon pujaan hatinya itu. "Yuk, Sa, kita pulang dulu! Entar gue balik lagi. Bye cewek-cewek nyebelin."
"Dih, loe tuh yang nyebelin! Dasar cewek kampung loe!" timpal Tessa tak tak suka melihat tingkah Megan yang songong.
Seperti perkataannya siang tadi, kini Megan kembali lagi mencari Berryl. Megan telah mengetahui dimana Berryl dan teman-temannya tinggal. Ia pun melangkahkan kakinya dengan riang gembira sambil menjinjing sebuah rantang yang berisi berbagai masakan yang pastinya bukan masakannya, melainkan masakan Hanindita.
"Hai Ryl." sapa Megan sok kenal sok dekat alias SKSD pada Berryl. Saat itu Berryl tengah merokok di beranda vila. Selang beberapa detik, Vino dan Vani pun datang sambil merangkul pasangan masing-masing disusul Citra yang masih berusaha mendekati Berryl.
Berryl hanya melirik sekilas ke kedatangan Megan. Ia tak berniat sama sekali membalas sapaan itu. Ia paling benci melihat seseorang yang sok kenal seperti Megan. Baginya, perempuan yang seperti itu merupakan gadis yang tak tahu malu.
"Eh, ada tamu!" ujar Vano sambil menaikkan alisnya. "Bawa apaan tuh?" imbuhnya saat melihat rantang bertingkat yang cukup besar.
"Hai, aku Megan. Warga asli desa ini." ujarnya sambil memperkenalkan diri. "Ini, aku bawa macam-macam makanan. Tadi aku sendiri lho yang buatnya dibantu mama." dusta Megan seraya membuka satu persatu rantang dan menyajikannya di atas meja yang ada di sana. "Yuk, dicicipin! Aku jamin, enak lho." ujarnya memuji diri sendiri.
Gaya pun tanpa rasa malu mencomot salah satu makanan dan menggigitnya.
"Hmmm ... risoles ayam pedas. Ini beneran enak, Van, loe mau cicip?" tawar Gaya yang langsung mengambilkan satu buah risoles dan menyuapkannya pada Vano. Sama seperti Gaya, reaksi Vano pun setuju kalau risoles itu enak.
"Keren! Kalau loe buka food court, dijamin rame nih kalau kemampuan masak loe sehebat ini." puji Vino sambil terus mengunyah membuat Megan besar kepala.
"Ah, iya kah? Wah, gue jadi pingin buka usaha nih! Gimana kalau kita join buka usaha?" tawar Megan.
"Bisa ... bisa ... Kalo urusan pembukaan cabang cafe gue udah kelar, kita bisa mulai mendiskusikannya." sahut Vino. Yang lain pun ikut mencicipi makanan yang dibawakan Megan. Hanya Berryl saja yang tetap acuh tak acuh sambil memainkan smartphone miliknya
Lantas Vino pun mengambil satu tusuk bakso bakar dan menyodorkannya ke mulut Berryl. Dengan ogah-ogahan Berryl pun membuka mulut dan mengunyahnya. "Gimana? Beneran enak kan?" tanya Vino meminta pendapat.
Berryl pun merasakan kenikmatan di setiap gigitan bakso bakar itu. Rasanya sungguh-sungguh unik dan enak. Kekenyalannya pas, juga pilihan rasnya yang unik. Benar-benar kreatif pikir Berryl. Tapi entah kenapa, Berryl meragukan kalau masakan ini dibuat gadis yang tempat tak pernah lelah tersenyum di hadapannya. Ingin rasanya ia menanyakan kebenarannya, tapi ya sudahlah. Memangnya seberapa lama seseorang sanggup menyembunyikan kebohongan? Kebohongan itu ibarat bangkai, mau disimpan serapat dan sedalam mungkin, baunya pasti akan tercium juga.
...***...
Malam itu Megan terlihat sangat ceria. Tentu saja ia bahagia sebab ia sudah satu langkah lebih dekat dengan pria idaman hatinya. Kini ia tengah membuat rencana, apa lagi yang harus dilakukannya agar bisa meraih simpati dari bule tampan itu. Setelah beberapa saat berpikir, kini ia tahu, apa yang harus dilakukannya pagi nanti.
Pagi-pagi sekali, tampak Hanindita telah bersepeda menuju pasar rakyat yang ada di desanya. Entah mengapa tingkah saudara tirinya itu aneh 2 hari ini. Setelah kemarin minta dibuatkan berbagai macam makanan, kini Megan kembali memintanya membuatkan sarapan spesial. Karena kebetulan stok lauk pauk habis, Hanindita pun pergi ke pasar. Biasanya ia pergi pukul 7 pagi, namun hari ini ia harus ke pasar lebih pagi sebab Megan meminta pukul 7 sarapan sudah harus siap. Jadilah ia berangkat ke pasar selepas azan Subuh.
__ADS_1
Pukul 5.30, Hanindita telah selesai berbelanja. Ia pun kembali mengayuh sepeda bututnya sambil membawa belanjaan yang cukup banyak. Namun saat di jalan, tiba-tiba saja ban sepedanya pecah hingga ia kehilangan keseimbangan saat berada di jalanan berlubang.
Brakkk ...
Mata Hanindita membulat saat ia tak sengaja menabrak seorang pria bule yang sepertinya tengah jogging.
"Loe nggak punya mata, hah? Kalau nggak bisa mengendarai sepeda mending nggak usah dari pada nyelakain orang." pekik Berryl seraya membersihkan celana trainingnya yang kotor karena tadi sempat tergelincir di tanah. Ia belum mengangkat wajahnya karena masih fokus membersihkan tanah-tanah yang menempel di trainingnya tersebut.
Dengan wajah acuh, Hanindita menegakkan sepedanya dan memunguti belanjaan yang terjatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja karena ban sepeda saya mendadak pecah." ucapnya datar tanpa ekspresi kemudian Hanindita segera berlalu dari hadapan Berryl sambil mendorong sepedanya.
Berryl hanya menatap punggung Hanindita yang perlahan menghilang. Gadis yang cantik menurutnya, tapi saat ia menatap matanya, terdapat kekosongan dan kesedihan yang mendalam. Bahkan baru kali ini ia bertemu gadis yang ekspresinya datar saja saat melihatnya. Tidak seperti gadis lainnya yang sontak berbinar bahkan langsung bertindak mencari perhatian. Tanpa sadar, Hanindita telah mencuri perhatiannya.
"Siapa ya gadis itu?" gumamnya dengan pandangan masih terpaku ke arah kepergian Hanindita.
Berryl melirik ke sekitar, kalau saja ada orang yang melihat kejadian tadi jadi ia bisa menanyakan siapa nama gadis itu dan kebetulan tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat pangkalan becak. Ia ingat, tadi salah seorang tukang becak sempat membantu mengambilkan kantong belanjaan Hanindita yang terjatuh. Ia pun menghampiri tukang becak itu dan menanyakan apa yang ingin ia tanyakan.
"Maaf pak, boleh saya numpang tanya?" tanya Berryl sopan.
"Eh, aduh, bule bisa ngomong bahasa kita toh! Iya mas bule, silahkan mau nanya apa?" ucap tukang becak itu semangat.
"Bapak ingat nggak gadis yang belanjaannya jatuh tadi?" tanya Berryl dan tukang becak itu mengangguk.
"Kenapa mas bule? Dia ada buat salah sama mas bule?" tanya tukang becak itu penasaran.
"Ah, nggak kok! Tadi dia jatuh karena saya jadi saya mau minta maaf. Kalau boleh tau, dia siapa ya? Atau bapak tau dimana rumahnya?"
"Oalah, gitu toh!" sahut tukang becak itu sambil manggut-manggut. "Maaf ya mas bule, kalau nama sih saya nggak tau, tapi setau saya dia itu putri keluarga Handoko. Rumahnya yang di ujung sana, tuh yang keliatan rumahnya paling tinggi." tunjuk tukang becak itu. Setelah tau, Berryl pun mengucapkan terima kasih dan segera berlalu dari sana sambil tersenyum lebar.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1