
Tak terasa, bulan begitu cepat berganti, bahkan perut Hanindita telah terlihat begitu besar membuat Berryl kian protektif. Bahkan Berryl tak pernah pergi bekerja lebih dari 6 jam dalam 1 harinya. Ia selalu menunda jam makan siangnya agar bisa makan di rumah dan tak akan kembali ke kantor setelahnya. Ia ingin lebih banyak mendampingi istrinya di masa kehamilannya ini. Apalagi setelah tahu kalau kandungan Hanindita lemah. Kandungannya sangat rawan, belum lagi ia mengandung anak kembar membuat sifat overprotektif Berryl kian menjadi.
"Mau kemana?" tanya Berryl saat Hanindita beranjak dari sofa.
Mereka sedang menonton tv bersama di ruang tengah. Sebenarnya bukan mereka berdua sebab Berryl sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang berhamburan di meja. Sedangkan Hanindita sibuk menonton sinetron ikat terbang yang menayangkan film berjudul Duri dalam Pernikahan yang menceritakan seorang istri yang diselingkuhi suaminya hanya karena tak kunjung hamil setelah menikah 3 tahun lamanya. (Yang belum baca Duri dalam Pernikahan bisa dilihat di karya othor yang lain. #Promosi 😁)
Hanindita berdecak kesal pada tokoh prianya karena menurutnya si pria itu benar-benar lelaki tak berotak. Kalau punya otak, seharusnya ia sadar kalau perihal kehamilan itu merupakan anugrah yang Kuasa. Bila Allah belum berkehendak, seharusnya ia banyak berdoa, bukannya dengan berselingkuh. Karena sudah tak tahan ingin buang air kecil, Hanindita pun segera berdiri tanpa mengatakan apapun pada Berryl.
"Mau pipis," sahut Hanindita yang sepertinya sudah tak tahan lagi.
Berryl pun segera berdiri dan berjalan di samping Hanindita.
"Mau kemana?" pertanyaan yang sama diajukan Hanindita kepada Berryl.
"Temenin kamu lah, sweetie," sahut Berryl gemas seraya menarik lengan Hanindita.
"Aku bisa sendiri, By. Aku udah kayak orang cacat aja dikawal kemana-mana," cetus Hanindita seraya mencebikkan bibirnya.
"Bukan gitu, istriku sayang, aku cuma mau jagain kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa, tahu kan banyak kasus perempuan hamil terpeleset di kamar mandi dan aku nggak mau hal itu sampai terjadi, ngerti!" tukas Berryl menjelaskan membuat Hanindita mengangguk pasrah.
Ya, dia tahu, suaminya ini memang sangat protektif. Dan sifat overprotektif ini makin menjadi-jadi semenjak ia mengalami insiden tertusuk pisau oleh Megan. Lalu kini setelah mengetahui kehamilannya rentan keguguran, kadar keprotektifan itu makin menjadi berkali lipat. Bahkan untuk melindungi dirinya dari insiden terjatuh di tangga karena kamar mereka yang terletak di lantai 2, Berryl merenovasi rumah mereka dengan memasang lift sama seperti di rumah orang tuanya. Hanindita kadang merasa ini sangat berlebihan, tetapi setelah dipikir lagi, mungkin ini bentuk kasih sayang Berryl kepada dirinya. Berryl terlalu mencintai dan menyayangi dirinya hingga mampu membuat dirinya melakukan hal demikian. Hanindita tak henti-hentinya bersyukur dipertemukan dengan Berryl dan keluarganya.
...***...
"Siapa?" tanya Hanindita saat Berryl baru saja duduk di sofa. Tadi ia baru saja mengangkat panggilan di balkon kamar mereka.
__ADS_1
Berryl menatap lekat wajah istrinya lalu ia merengkuh pundak Hanindita dan mendekap kepalanya di dada.
"Tadi mommy telepon," ucapnya. "Kata mommy ayahmu datang lagi dan memohon untuk bertemu denganmu," imbuhnya lagi membuat Hanindita tertunduk dalam.
Direngkuhnya erat tubuh Hanindita. Ia paham, Hanindita masih berat untuk bertemu dengan ayahnya. Bagaimana pun, luka yang ditorehkan sang ayah sangatlah besar. Bukan hanya pada dirinya, tapi juga ibunya. Andai ayahnya bisa bersikap bijak dan mendengarkan penjelasan sang ibu, mungkin semua ini takkan pernah terjadi. Seandainya ayahnya tidak dengan cepat mengambil kesimpulan dan meninggalkan ibunya pasti ibunya takkan memilih mengakhiri hidupnya dan pasti hidupnya akan jauh lebih baik dari ini.
Selain itu, bertahun-tahun Handoko membiarkan saja Lidya dan anak-anaknya bersikap semaunya pada dirinya. Bahkan Handoko juga ikut menyakiti dan menyiksa dirinya bila ketiga orang itu mengatakan hal yang tidak-tidak.
Luka di fisik memang bisa sembuh. Bahkan semua luka yang dilukiskan Lidya, Handoko, dan Megan telah berhasil disingkirkan Berryl melalui tangan-tangan terampil dokter kulit, tapi luka hati? Luka hati itu masih terasa basah dan menganga, jadi bagaimana ia bisa bertemu dengan ayahnya, sedangkan untuk melihatnya saja ia tak sanggup.
"Kau tenang saja, mommy dan aku tidak akan memaksamu bertemu dengannya. Kami paham, apa yang telah ia lakukan begitu keterlaluan hingga membekas bukan hanya di tubuhmu, tapi juga di ingatanmu, sweetie. Aku juga belum bisa memaafkan tindakannya," tukas Berryl menenangkan Hanindita.
Hanindita menghela nafas panjang lalu mengangkat wajahnya menatap netra Berryl.
"Apakah menurut hubby aku keterlaluan? Bagaimanapun dia tetaplah ayahku."
"Nggak. Kamu nggak keterlaluan sama sekali. Bahkan aku yang tidak melihat caranya menyakitimu. Aku yang hanya sekedar tahu. Aku yang hanya mengetahui melalui cerita saja bisa merasakan betapa sakit penderitaanmu selama ini, sweetie. Aku ikut merasakan sakit hanya dengan melihat bekas-bekas luka di tubuhmu, bagaimana aku bisa mengatakan kalau kau keterlaluan. Ini tidak keterlaluan sama sekali. Kami paham, kami mengerti. Luka itu ... tidak akan semudah itu sembuh," ungkap Berryl yang begitu memahami bagaimana perasaan istrinya saat ini.
Luka itu begitu dalam. Luka itu sungguh menyakitkan. Luka itu takkan mudah dilupakan. Luka itu ... sungguh membekas. Bagaimana Hanindita bisa melupakannya sedangkan semua itu belum lama terjadi dan telah terjadi sejak bertahun-tahun lamanya.
Ia yang anak kandung, tapi ia diperlakukan lebih parah dari seorang anak tiri. Ia yang anak kandung, tapi ia tak pernah sedikitpun merasakan perhatian dan kasih sayang dari ayahnya. Walaupun ia salah paham, bukankah seorang manusia diberi hati nurani. Tidakkah hatinya merasakan keterikatan sedikitpun pada dirinya? Tidakkah dia merasakan iba atau kasihan sedikitpun saat Lidya dan Megan berbuat semena-mena padanya? Bukankah katanya seseorang memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya, tapi mengapa Handoko tidak?
Ini yang selalu menjadi tanda tanya di benak Hanindita.
...***...
__ADS_1
Berryl melangkahkan kakinya dengan tegap masuk ke mansion orang tuanya. Para pelayan menyambut dengan menundukkan kepalanya. Lalu ia segera menyeret kakinya menuju ke ruang tamu di mansion itu.
Setibanya di ruang tamu, Berryl langsung menghempaskan bokongnya di sofa single membuat seorang pria paruh baya tersentak dari lamunannya.
"Nak Berryl," lirih orang itu. Lalu matanya beredar ke sekeliling berharap orang yang dicarinya ikut serta.
"Anin tidak ikut. Dia tidak mau bertemu dengan Anda," tukas Berryl paham apa yang dicari pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu mendesah lirih, ia paham. Sangat paham. Pasti putrinya enggan bertemu dengan dirinya. Ia tahu, luka batin dan fisik yang ia torehkan begitu luar biasa dan takkan mungkin ia lupakan begitu saja.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Handoko akhirnya setelah bungkam beberapa saat.
"Baik, sangat-sangat baik. Sangat jauh dari saat ia tinggal bersama kalian di neraka yang disebutnya rumah," sahut Berryl sinis.
Tak ada hormat. Rasa hormatnya hanya ia berikan pada orang yang pantas, sedangkan orang yang dihadapannya itu?
Sangat-sangat tak pantas.
Kejam?
Mana yang lebih kejam, dirinya atau pria itu?
Terserah bila ia dianggap menantu yang kurang ajar bahkan durhaka, bukankah saat di desa mereka sendiri yang bilang kalau Hanindita hanyalah anak seorang pembantu. Artinya pria di hadapannya ini bukan ayahnya bukan? Dia saja tidak mengakui anaknya.
Dia memang tidak salah 100%. Tapi ... bila ia bisa bersikap sedikit lebih baik saja, anggap saja sebagai rasa kemanusiaan, mungkin ia takkan berbuat kejam seperti ini. Bahkan dia seharusnya bersyukur ia tidak menjebloskannya ke dalam penjara karena telah melakukan kekerasan pada Hanindita. Tapi ia tidak melakukannya. Semua itu tidak lain dan tidak bukan karena Hanindita. Yah, walaupun ia sangat kecewa pada ayahnya, tapi Hanindita tidak ingin ayahnya menghabiskan masa tuanya di dalam penjara. Biarlah ia menghabiskan hidupnya dengan bebas. Sebab ada hukuman terberat yang akan ia rasakan, yaitu ... penyesalan tak bertepi.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...