Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.24


__ADS_3

Tepat jam makan siang Berryl pulang ke rumah. Sesuai janjinya, ia hendak mengajak Hanindita membeli segala perlengkapan dan kebutuhan pribadi Hanindita.


"Sudah siap?" tanya Berryl pada Hanindita yang tengah berada di kamar ganti.


Dengan langkah malu-malu, Hanindita keluar dari walk in closet. Berryl sampai berdecak kagum saat melihat Hanindita yang terlihat jauh lebih cantik dengan dress yang ia beli sebelum tiba di rumah. Dress berwarna biru muda dengan panjang sebatas lutut dan terdapat sabuk di bagian pinggang membuat Hanindita terlihat begitu menawan. Tak tahan melihat gadis cantik itu, Berryl langsung mengambil langkah panjang mendekati Hanindita dan meraih pinggangnya dengan sebelah tangan sehingga kini tubuh mereka saling menempel.


Wajah Hanindita sontak saja bersemu merah, darahnya berdesir, jantungnya pun berdegup kencang karena mereka kini nyaris tanpa jarak.


"Kau sangat cantik, sweetie. Sangat-sangat cantik. Kau tau, rasanya aku ingin sekali memakanmu saat ini juga." bisik Berryl di telinga Hanindita membuat Hanindita jadi panas dingin karenanya.


"Makan? Me-memangnya aku makanan?" sahut Hanindita gelagapan. Berryl justru terkekeh dan mengecupi seluruh wajah Hanindita gemas.


"Huh ... gila, sepertinya aku sudah benar-benar gila karena kamu, sweetie." ucap Berryl membuat Hanindita mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksudnya. "Gila karena aku telah tergila-gila padamu. Sepertinya benar kalau aku sudah jatuh hati bahkan jatuh cinta padamu, sweetie. Aku harap kau pun bisa segera mencintaiku." ucap Berryl seraya memeluk erat tubuh mungil Hanindita.


"Benarkah? Secepat itu?" tanya Hanindita ragu.


"Apalagi yang kau ragukan, hm? Mau aku membuktikan dengan cara apalagi? Haruskah aku menjadikanmu milikku seutuhnya saat ini juga agar kau percaya?" tanya Berryl seraya menatap lekat wajah Hanindita yang masih polos karena belum tersentuh make up sama sekali.


"Bukannya aku udah jadi milikmu?"


"Belum, sweetie. Kita memang telah menikah tapi kau belum jadi milikku seutuhnya." Hanindita mengerutkan keningnya karena belum mengerti dengan perkataan Berryl. "Sudah ... sudah ... nanti saja kita bahas lagi. Kita pergi sekarang, oke?"

__ADS_1


Hanindita pun mengangguk. Tapi baru satu langkah Berryl melangkah, Hanindita telah kembali mengehentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Apa ... apa tidak apa-apa aku begini saja? Nggak perlu pakai bedak atau dandan?" tanya Hanindita ragu.


"Apa kau punya bedak?" Hanindita menggeleng. "Lipstik?" Hanindita kembali menggeleng. "Jadi bagaimana kamu mau berdandan, hm?" Hanindita tersenyum malu menyadari ia tidak memiliki apapun selain baju lusuh dan kumalnya. "Sudah, jangan khawatir, nanti kita beli semua apa yang kau butuhkan. Kalau ada yang kurang, kita bisa minta tolong sama mommy. Aku yakin, kau pasti bingung ingin beli apa saja."


"Apa aku boleh ke taman bermain ... hubby?"


Awalnya Berryl terkejut mendengar kata-kata itu, tapi setelah beberapa detik kemudian, ia justru tergelak karenanya. Selain karena itu untuk pertama kalinya Hanindita menyebutnya hubby, Hanindita juga menyatakan keinginannya yang sungguh sangat sederhana. Bila gadis-gadis lain lebih suka mengajak pasangan pergi ke mall atau jalan-jalan ke tempat yang indah, Hanindita justru memintanya pergi ke sebuah taman bermain. Sebenarnya Berryl memahami itu. Mungkin itu karena Hanindita belum pernah merasakan pergi ke taman bermain, jadi di kesempatan pertama ini ia ingin sekali pergi ke tempat yang digemari anak-anak itu. Tentu saja dengan senang hati Berryl akan mewujudkan.


"Ke taman bermain? Oke. As you wish, sweetie. Ayo!" ajak Berryl seraya merangkul pinggang Hanindita.


Setibanya di ruang tamu, posisi Berryl masih dengan merangkul pinggang Hanindita yang terus saja tersipu malu. Bagaimana tidak, ia menjadi bahan perhatian para pelayan yang ada di hampir setiap sudut rumah. Apalagi ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan seorang pria yang kini telah sah menjadi suaminya.


"Halo sepupu." sapa seseorang membuat Berryl segera memalingkan wajahnya menatap ke sumber suara. Matanya membulat, namun dalam sekejap Berryl berhasil mengendalikan keterkejutannya. Sedangkan Hanindita, hanya bisa menatap bingung seorang pria blesteran yang sama seperti suaminya. Wajah mereka sedikit mirip, tapi tetap bagi Hanindita, wajah Berryl tetap jauh lebih tampan. Sorot mata hingga rahangnya lebih tegas. Hanya postur tubuhnya saja yang nyaris sama, mulai dari tinggi hingga lebar bahu dan otot-ototnya. Namun dari segi gaya berpakaian, sosok itu terlihat lebih glamor. Tidak seperti Berryl yang lebih menyukai gaya santai, formal hanya saat bekerja saja.


"Kau ... ternyata kau masih berani menunjukkan batang hidungmu di depanku, hm?" ucap Berryl sarkas dengan seulas senyum tipis menunjukkan keramahan.


"Kenapa tidak sepupu? Bukankah kita keluarga, bukankah kita memang seharusnya menjalin silaturahmi." ucap sosok itu tak kalah sumringah.

__ADS_1


"Oh ya, kau benar. Apa menyapaku dengan cara mencoba meretas keamanan data perusahaanku juga merupakan bagian dari silaturahmi ... sepupu?" ucap Berryl dingin. Kini ia merubah raut wajahnya menjadi sangat dingin. Bahkan terlihat menyeramkan. Hanindita yang masih berada di sisi Berryl pun dapat merasakan perubahan suasana itu. Hanindita dapat melihat, aura permusuhan antara kedua orang itu yang menguar di sekelilingnya.


"Ooops ... Ternyata kau masih secerdas dulu, sepupu. Kau bisa anggap begitu." sahutnya acuh. Lalu mata sosok itu memicing saat melihat Berryl tampak menggandeng seorang gadis yang tidak ia kenali. "Wow, kau sudah bisa menggandeng seorang gadis ternyata! Cantik ... Hai cantik? Mau berkenalan dengan ku!" sapa sosok itu membuat Berryl segera menarik tubuh Hanindita agar berdiri di belakangnya.


"Jangan macam-macam! Dia wanitaku!" desis Berryl membuat sosok itu membulatkan mulutnya.


"Wow, wanitaku! Kau sudah tidak impoten lagi? Mungkinkah? Hai, kau bisa mendengarku kan? Apa kau tau, Berryl ini impoten. Lebih baik kau segera tinggalkan dia sebelum kau menyesal." pekik sosok itu pada Hanindita yang berdiri di belakang Berryl.


"Bajing*an!" seru Berryl murka.


Bugh ...


"Berryl, apa yang kau lakukan?" teriak Ivanka saat melihat Berryl melayangkan tinjunya tepat ke rahang sosok itu.


"Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan pernah macam-macam denganku apalagi wanitaku! Atau aku akan membalasnya berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang pernah kau rasakan!"


"Aunty, lihat! Sepertinya Berryl masih saja membenciku. Dia tidak menyukai kedatanganku kemari." ucap sosok itu dengan wajah penuh penyesalan.


"Berryl, kau tidak boleh seperti itu dengan Karl. Dia itu sepupumu sendiri. Lupakanlah kejadian di masa lalu! Kalian itu bersaudara. Tidak sepatutnya kalian masih saling bermusuhan." ujar Ivanka seraya memapah Karl duduk kembali di sofa.


"Mom, aku tidak memiliki saudara seekor serigala." desis Berryl sinis lalu ia pun segera berlalu dari sana sambil merengkuh pinggang Hanindita agar tak pernah menjauh dari sisinya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2