
Kini keluarga Berryl telah duduk di ruang tamu kediaman Handoko. Mereka juga mengajak perangkat desa, penghulu, juga wali hakim. Berryl tak mau menunda lagi keinginannya menikahi Hanindita jadi ia telah mempersiapkan segalanya sebelum tiba di rumah keluarga Handoko tersebut.
Tentu saja Handoko dan keluarga cukup tercengang dengan kenyataan yang ada di depan mata mereka. Bukan hanya karena kemunculan Hanindita bersamaan kedatangan Berryl dan keluarganya, tapi juga persiapan pernikahan yang telah rampung. Memang kalau uang sudah berbicara, semua persoalan akan menjadi mudah.
Berryl juga meminta Hanindita mengambil semua berkas yang berhubungan dengan dirinya juga barang-barang yang akan ia bawa saat mereka kembali ke kota. Dengan sigap, Hanindita masuk ke dalam kamarnya mengabaikan tatapan Handoko, Lidya, Megan, dan Morgan.
"Hanya itu?" tanya Berryl tak percaya saat melihat Hanindita hanya mencangklong sebuah tas yang tidak terlalu besar.
Hanindita mengangguk mantap. Apalagi yang bisa ia bawa? Bukankah ia nyaris tak memiliki apa-apa di rumah itu. Pakaian pun ia dapat dari bekas Lidya atau Megan yang sudah tak layak mereka pakai lagi baru mereka berikan kepada Hanindita. Bahkan mendapatkan penghidupan yang layak saja tidak pernah Hanindita rasakan. Sungguh miris memang nasib Hanindita.
Lalu Berryl memeriksa berkas milik Hanindita dan ia tiba-tiba mengerutkan keningnya dan menatap Handoko dengan penuh arti.
"Di dalam akta kelahiran ini, tertulis nama ayahnya . . . Anda? Benar pak Handoko?" tanya Berryl membuat jantung Handoko dan Lidya tiba-tiba berdebar.
"Bukan begitu, tuan Berryl. Kami telah mengasuh dan membesarkan Dita sejak ia sangat kecil jadi untuk mempermudah memberikan identitas, kami memberikannya nama kami sebagai orang tuanya." tukas Handoko yang tetap tak mau mengakui Hanindita sebagai putrinya.
Berryl menganggukkan kepalanya sambil memegang dagu. "Nama ibunya . . . sepertinya bukan nama Anda, Bu Lidya?" tanya Berryl lagi saat melihat nama ibu di akta kelahiran itu adalah Ningrum.
__ADS_1
Lidya makin gelagapan lalu ia mengangguk tak berdaya.
"I-iya, itu istri pertama suami saya, nak Berryl. Tapi dia sudah lama meninggal." tukas Lidya gelagapan.
"Baiklah, karena semua berkas telah siap, saya ingin menikahkan anak saya dan nak Hanindita segera sebelum kami boyong ke kota. Berhubung seperti kata tuan tadi, orang tua Hanindita tidak ada, jadi tidak salah kan kami menikahkannya melalui wali hakim?" tukas Abelano kembali membahas masalah pernikahan Hanindita dan Berryl. "Sebenarnya banyak yang ingin kami tanyakan, termasuk perihal mengapa Hanindita bisa bersama kami. Semalam Berryl menemukannya di pertengahan jalan dalam keadaan pingsan. Dari tubuhnya, kami menemukan banyaknya luka, sayangnya sampai sekarang Hanindita masih bungkam alasan di balik luka-luka itu. Kami harap, ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Anda, tuan Handoko. Kami yakin, Anda orang yang terhormat, tidak mungkin melakukan penganiayaan seperti itu terlebih kepada seorang perempuan. Namun, bila suatu hari nanti kamu menemukan kebenarannya, tak dapat kami pungkiri, kami akan melakukan tindakan karena bagi kami, itu sudah termasuk perbuatan kriminal." imbuh Abelano.
Tak ada yang dapat Handoko dan Lidya lakukan lagi selain menerima. Justru mereka sedang ketar-ketir, khawatir Hanindita melaporkan perbuatan mereka semalam hingga berakhir dengan kaburnya Hanindita. Tapi mereka dapat bernafas lega, ternyata Hanindita tidak melaporkannya sama sekali.
Lalu Abelano pun meminta, proses ijab kabul segera dimulai membuat Megan langsung bereaksi.
"Bu, Yah, ini nggak bisa dibiarin. Aku yang lebih dahulu mengenal Berryl, tapi mengapa justru Dita yang dilamar?" tanya Megan dengan mata berkaca-kaca. Ia seperti seorang yang patah hati dan nyaris putus asa, mengiba agar dirinya lah yang dinikahi, bukannya Hanindita.
jleb . . .
Perkataan Berryl cukup membuat Megan seolah terjatuh dari gedung yang sangat tinggi. Mengapa Hanindita yang hanya lulusan SMP, penampilan lusuh dan biasa saja, tapi bisa membuat Berryl begitu tertarik. Apa lebihnya Hanindita dan apa kurangnya dirinya? Itu yang menjadi tanda tanya terbesar Megan.
"Tunggu!" sergah Lidya saat proses akad nikah akan segera dimulai. "Kami memang mengizinkan nak Berryl menikahi Dita, tapi ingat, dia ini pekerja kami dan Kamilah yang membiayai kehidupannya sejak kecil hingga sebesar ini, tidakkah kalian menghormati kami dengan memberikan uang ganti ruginya?" lanjut Lidya membuat Hanindita membelalakkan matanya. Mengapa ibu tirinya berkata seenaknya? Padahal selama ia tinggal di rumah itupun, ia tak pernah menikmati fasilitas secara cuma-cuma. Justru sebaliknya, ia harus bekerja keras agar bisa makan sesuap nasi dan merasakan tidur di malam hari. Lalu kini, Lidya meminta ganti rugi atas biaya yang mereka keluarkan? Bukankah ini sama saja seperti menjual dirinya? Diam-diam, Hanindita mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka, keluarganya ternyata sepicik ini.
__ADS_1
"Oh, tentu. Itu tidak masalah, berapa yang kalian minta?" tanya Berryl tak sabaran.
"Satu . . . " ucap Lidya ragu. "Satu Milyar." lanjut Lidya membuat mata Handoko, Megan, dan Hanindita membelalak.
"Ibu . . . Ayah . . . bukankah ini sangat keterlaluan?" seru Hanindita untuk pertama kali mengeluarkan suaranya setelah terdiam dari tadi. Terang saja, Berryl dan keluarganya pun membulatkan matanya mendengar panggilan itu dari bibir tipis Hanindita.
"Ini tidak keterlaluan. Apa kau bisa menghitung, berapa banyak waktu, tenaga, dan biaya yang telah kami keluarkan untuk membesarkanmu, hah?" Lidya mendelik tajam. Tak peduli semua orang melototkan matanya tak percaya saat mendengar nominal itu meluncur dari bibirnya. Ia sengaja menyebutkan nominal sebesar itu berharap pernikahan ini segera dibatalkan dan Megan yang maju menggantikannya.
"Oke!" jawab Berryl santai lalu mengeluarkan lembaran cek dan menulis nominal yang diinginkan Lidya. Kini giliran Lidya, Handoko, dan Megan lah yang membelalakkan matanya. Semudah itukah keluarga itu mengeluarkan uang sebesar 1 Milyar? Seberapa kaya sebenarnya mereka? Itulah yang terbayang di benak mereka.
Menerima cek bertuliskan nominal 1 Milyar, sontak membuat senyum di bibir bergincu merah menyala milik Lidya begitu merekah.
Tak mau membuang waktu lagi, proses ijab kabul pun dimulai. Gema suara sah memenuhi ruang tamu kediaman Handoko. Berbeda dengan senyum Lidya yang terus merekah, Megan justru terus menekuk wajahnya, marah, kesal, kecewa, menjadi satu. Ia belum juga bisa menerima kini Hanindita lah yang menyandang status sebagai istri dari Berryl.
Hatinya begitu panas apalagi saat melihat bagaimana Berryl mengecup dahi Hanindita dengan mesra.
'Seharusnya akulah yang berada di sana, bukan dia. Tapi kenapa dia yang disana, bukan aku? Aku lebih pantas untuknya, tapi kenapa justru dia yang terpilih? Sampai kapanpun, aku takkan pernah mengikhlaskan. Bersenang-senanglah sebelum kau merasakan kehancuran yang sebenarnya.' batin Megan dengan sorot mata penuh kebencian.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...