Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.40


__ADS_3

"Arlene? Kenapa dengan Arlene?" tanya Berryl bingung. Ia memang mengenal siapa itu Arlene. Dia adalah bunga Sekolah di Georgia Internasional High School, tempat mereka bersekolah dahulu. Tapi apa hubungannya dengan dirinya? Berryl tak mengerti sama sekali.


"Bede*bah sombong sepertimu sungguh memuakkan," ucapnya sinis. "Kau dengarkan aku, aku pasti akan membalaskan dendam Arlene. Camkan itu baik-baik!" ancam Karl yang membuat Berryl makin bertanya-tanya. Memangnya ada hubungan apa antara dirinya dan Arlene? Setahunya ia tak pernah menggubris keberadaan Arlene sama sekali. Walaupun ia tahu, Arlene sangat menyukainya. Bahkan Arlene tak segan-segan mendatangi mansionnya untuk bertemu dengannya ditemani Karl. Tapi ia tak pernah sama sekali memberikan harapan pada gadis itu. Bahkan sampai ia menghilang tiba-tiba pun ia tak peduli karena saat itu ia hanya fokus belajar dan membantu sang ayah di perusahaan.


Ya, sejak masa sekolah ia telah diminta sang ayah untuk membantu di perusahaan. Karena itu, setelah tamat dari high school, Berryl langsung terjun ke perusahaan sebagai COO atau Chief Operating Officer. Kedudukan COO berada langsung di bawah CEO karena itu dalam tugasnya ia langsung melapor ke CEO. Atau dalam kata lain, COO dianggap sebagai orang kedua dalam rantai komando sebuah perusahaan.


Tak mau banyak berpikir, Berryl pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera menemui istri tercintanya.


...***...


"Halo sweetie," sapa Berryl mengejutkan Hanindita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wajah Hanindita tiba-tiba bersemu merah saat menyadari apa yang sedang ia kenakan saat ini.


"Se-sejak kapan hubby ada di sini?" tanya Hanindita gugup dengan wajah tertunduk malu.


"Kenapa, hm? Malu? Kau masih malu kepada suamimu sendiri? Ck ... aneh-aneh saja," ejek Berryl seraya menjepit hidung bangir Hanindita.

__ADS_1


"Lepas, sakit tahu!" rengek Hanindita dengan bibir mengerucut membuat Berryl gemas.


"Sweetie, siap-siaplah! Dandan yang cantik, setelah aku mandi, kita pergi," ucap Berryl seraya mengusap rambut Hanindita.


"Kita mau pergi kemana?" tanya Hanindita penasaran.


"Rahasia," sahut Berryl seraya terkekeh. Kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi sebelum dicecar banyak pertanyaan oleh istrinya itu.


Di dalam kamar mandi, Berryl sedang mencukur bersih jambangnya agar terlihat lebih rapi dan tampan. Setelah membasuh mukanya, tiba-tiba Berryl melirik kotak sampah yang ternyata di dalamnya ada testpack yang pagi tadi Hanindita gunakan. Berryl mengambil testpack itu kemudian melihat ada garis kedua yang sangat samar. Bahkan nyaris tak terlihat. Tapi Berryl memiliki penglihatan yang cukup tajam. Ia dapat melihat ada garis dua yang sangat samar. Bila hanya dilihat sepintas kemungkinan besar takkan ada yang menyadari kalau testpack itu bergaris dua.


Berryl pun bergegas menyelesaikan ritual mandinya. Ia ingin mengajak Hanindita makan malam romantis di luar. Hal yang paling ia sukai saat ini adalah memanjakan sang istri. Istri manis dan lugunya. Hari-harinya jadi begitu indah semenjak hadirnya Hanindita dalam hidupnya. Jadi wajar bukan bila ia selalu ingin memanjakan sang istri sebab istrinya itu telah melengkapi hidupnya dan memberikan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama ini. Walaupun hidupnya selalu dalam kecukupan, bahkan nyaris tanpa kekurangan sedikit pun, tapi tetap rasa bahagia karena telah menemukan pasangan hidup itu rasanya sangat istimewa dan sangat membahagiakan. Oleh sebab itu, Berryl sangat ingin membahagiakan dan memanjakan sang istri dengan segenap jiwa dan raganya. Apalagi setelah tahu betapa menderitanya kehidupan Hanindita sebelum ini, membuatnya makin memantapkan diri untuk menjadi seseorang yang dapat memberikan kebahagiaan pada istrinya itu.


Berryl keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono mandinya. Rambutnya masih tampak begitu basah. Melihat hal itu, Hanindita pun bergegas mengambil handuk kecil dan berniat untuk mengeringkannya.


"Hubby, duduk dulu!" pinta Hanindita. Berryl yang paham, lantas segera duduk sambil memandangi Hanindita melalui cermin di hadapannya. Ia tersenyum manis saat melihat lincah gerakan tangan sang istri saat menyeka air di rambut basahnya. Lalu ia mengambil hair dryer dan mengeringkannya. Setelah kering, Hanindita mengambil sisir dan menyisiri rambut suaminya sambil tersenyum puas. Semuanya tentu tak luput dari sorot mata Berryl yang penuh pemujaan. Ia sangat memuja istrinya yang lembut dan perhatian. Beruntunglah ia yang memiliki istri sesempurna Hanindita.

__ADS_1


"Sudah." Seru Hanindita sambil tersenyum lebar. Lalu Berryl memutar kursinya menghadap Hanindita dan menarik pelan Hanindita ke atas pangkuannya dengan posisi menyamping dan tangan melingkari pinggangnya.


"Thanks sweetie," bisiknya lirih di telinga Hanindita membuat Hanindita mengerjapkan matanya gugup. Apalagi saat nafas Berryl menerpa lehernya, membuat darahnya seketika berdesir.


Khawatir mereka gagal pergi, Hanindita gegas berdiri dan berlari menuju walk in closet untuk memilih pakaian yang cocok dikenakan sang suami.


"Hubby, mau pakai baju apa?" tanya Hanindita saat kepalanya menyembul dari balik pintu walk in closet.


"Kamu berdandan aja yang cantik, biar aku pilih pakaian ku sendiri," sahutnya sambil mengulum senyum.


"Oh, baiklah!" ujarnya seraya keluar dari dalam walk in closet dan kembali duduk di depan meja rias.


Cup ...


Belum sempat Hanindita duduk, Berryl telah terlebih dahulu mencuri kecupan singkat di bibir Hanindita membuatnya tersipu malu. Berryl memang selalu saja bisa membuatnya bahagia dan berbunga-bunga.

__ADS_1


__ADS_2