
Sementara Berryl dan Hanindita sedang mereguk manisnya madu asmara di negeri Sakura sembari bersenang-senang, di Indonesia, tepatnya di kota P, Megan terus berupaya mencari keberadaan Hanindita. Ia sudah mendapatkan rumah kontrakan tak jauh dari kampusnya sejak beberapa hari yang lalu, namun ia belum berhasil menemukan keberadaan Hanindita.
Megan kini tengah berbaring dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya sebagai bantalan. Ia terus berpikir dimana ia bisa menemukan Berryl dan Hanindita. Tiba-tiba matanya berbinar saat ia terpikirkan sesuatu. Ia pun segera mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di pencarian.
"Apa?" serunya tak percaya. "Apa ini benar? Kurang ajar, beruntung sekali gadis sialan itu," gumam Megan kesal saat melihat berita hasil pencariannya.
Berryl Van Houten selaku calon pewaris VH Corporations akan segera meluncurkan ponsel pintar model terbaru dengan kemampuan holografik.
Tangan Megan terkepal, ia tidak terima dikalahkan gadis seperti Hanindita. Bagaimana pun, ia jauh lebih baik dari Hanindita, pikirnya. Hanindita hanya memiliki kecantikan, tapi urusan yang lain, ia yakin ia jauh lebih baik.
Megan pun segera mencari alamat perusahaan VH Corporations. Ia berencana bekerja di sana agar dapat bertemu dengan Berryl. Hanya itu cara satu-satunya, pikirnya.
Sedangkan di kampung halaman Hanindita, sekumpulan pria berseragam tengah mendatangi rumah keluarga Handoko. Mobil-mobil berjejeran di sepanjang jalan. Tentu saja hal itu membuat heboh desa yang asri itu. Apalagi rumah yang didatangi merupakan rumah salah satu juragan teh terkaya di kampung itu. Tak mau kehilangan momen bersejarah, mereka pun berduyun-duyun datang mengerumuni rumah megah itu untuk menyaksikan sebenarnya apa yang terj.
Mata semua warga kampung membelalak saat melihat sesuatu yang tak terduga terjadi. Putra keluarga Handoko tampak diseret paksa oleh beberapa petugas dengan kasar. Hanya ada jerit tangis bersahut-sahutan dari sang lelaki dan ibunya seraya memohon dan mengiba agar anaknya dilepaskan.
__ADS_1
"Pak tolong lepaskan anak saya, anak saya tidak bersalah," mohon Lidya dengan mata berurai air mata.
"Semua bukti dan saksi telah ada, apa lagi yang perlu dibuktikan? Kalau Anda begitu yakin anak Anda tidak bersalah, silahkan Anda datangi kantor kami. Anda dipersilakan meminta bantuan pengacara untuk melakukan pembelaan," sahut salah satu aparat kepolisian.
"Pak, lepaskan saya pak, saya tidak bersalah. Ini fitnah, saya tidak pernah melecehkan siapa-siapa. Jangan percaya perempuan sialan itu!" Morgan memelas, menolak di salahkan.
"Anda ditangkap bukan hanya perihal kasus pelecehan, tapi juga kepemilikan narkoba, jadi jangan menyangkal lagi. Ikuti saja instruksi kami dengan baik, jangan membuat ulah
Morgan pun hanya bisa berpasrah meninggalkan Lidya yang terus terisak pilu. Tak ada yang berani menolong sebab mereka tahu perangai Lidya yang mudah mengamuk seperti apa. Bukannya berterima kasih, khawatirnya mereka justru kehilangan nyawa karena mencoba menenangkannya.
Berbanding terbalik dengan Handoko yang berupaya terlihat terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia sangat khawatir. Tapi tetap, ia harus menjaga citranya di hadapan orang lain khususnya di mata para warga desa itu. Ia tidak ingin nama baiknya tiba-tiba hancur. Jadi ia memilih bekerja sama dengan para polisi itu dengan membiarkan Morgan di bawa ke kantor polisi.
"Sangat. Bonusmu akan segera meluncur," tukas seseorang yang sedang dihubungi pemuda desa tersebut.
Senyum penuh kepuasan terbit di bibir seseorang yang ternyata itu adalah Vino. Ya, atas instruksi dari Berryl, ia telah meminta seseorang mencari tau tentang kelakuan buruk Morgan di desa. Perlahan-lahan, ia ingin menghancurkan satu persatu orang yang telah membuat Hanindita menderita. Ternyata tidak begitu sulit, sebab Morgan ternyata terkenal suka melecehkan para gadis di sana. Ia juga mengkonsumsi narkoba, tentu Berryl takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas mereka satu persatu. Kini Morgan telah ditangkap, tinggal ia mencari kebenaran atas apa yang sudah diungkapkan Hanindita. Ia yakin, kalau Hanindita putri kandung Handoko karena itu ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Handoko mengira Hanindita anak istrinya dengan laki-laki lain, bukan dirinya.
__ADS_1
...***...
Hari ini adalah hari kelima Hanindita dan Berryl di negeri Sakura. Bersamaan itu ternyata, musim semi telah tiba. Bunga-bunga sakura telah bermekaran indah. Mencuri atensi masyarakat maupun para turis asing untuk merayakan dan menikmati keindahannya.
Sama seperti pasangan lain, mereka kini tampak bersenang-senang. Melihat bunga-bunga sakura yang bermekaran tentu saja membuat hati Hanindita kian membuncah bahagia. Ia pun memanfaatkan momen istimewa itu dengan berfoto ria bersama Berryl menggunakan ponsel yang baru saja dihadiahkan Berryl. Ponsel itu sangat keren dan canggih. Hasil fotonya bahkan setara dengan kamera termahal. Gambarnya pun bisa langsung diproyeksikan ke udara membuat ponsel itu terlihat sangat istimewa. Tentu saja ponsel itu merupakan karya istimewa dari perusahaan yang Berryl pimpin, VH Corporations.
Ponsel yang bahkan belum diluncurkan di pasaran, namun telah dimiliki Hanindita sebagai hadiah pernikahan dari Berryl. Hal itu tentu membuat Hanindita sangat bahagia karena untuk pertama kalinya ia memiliki handphone dan sekalinya punya, ia memiliki ponsel terbaik di dunia.
Selesai foto-foto, Hanindita dan Berryl duduk di sebuah bangku taman tepat di bawah pohon sakura. Mereka begitu menikmati bulan madu istimewa itu dengan hati yang membuncah.
"Hubby," panggil Hanindita seraya menyandarkan kepalanya di pundak Berryl.
"Apa sweetie?" sahutnya seraya tersenyum lembut.
"Ini indah, terima kasih. Kamu tahu, kamu seperti guardian Angel bagiku. Aku beruntung memilikimu, suamiku," ujarnya seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Dan aku akan selalu menjadi guardian angelmu untuk selamanya." pungkas Berryl membuat dada Hanindita terasa penuh dengan kebahagiaan.
...***...