Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.12


__ADS_3

"Nggak. Nggak mungkin. Itu nggak mungkin." teriak Megan dengan wajah memerah menahan emosi. Ia tidak terima dikalahkan oleh seorang gadis kampungan seperti Hanindita.


Mata Berryl mendelik tajam ke arah Megan, pun Abelano dan Ivanka juga si kembar Vano dan Vino.


"Apanya yang nggak mungkin?" tanya Berryl dingin.


"Dia ... dia itu cuma pembantu di rumah ini. Kau mencari putri Handoko kan dan hanya aku satu-satunya putri keluarga Handoko." dusta Megan dengan sorot mata tajam. Tak peduli betapa sakitnya hati Hanindita saat mendengar perkataan itu.


Abelano dan Ivanka mengerutkan keningnya.


"Benar begitu tuan Handoko?" tanya Abelano dengan sorot mata meminta penjelasan.


"I-iya, tuan. Dia ... dia hanya pembantu di sini. Mungkin putra tuan salah menduga sebab memang saya lah yang membesarkan Dita sejak kecil." Kini Handoko pun ikut berdusta. Ia tidak mau mengakui putrinya sendiri.


Hanindita shock. Bagaimana bisa ayahnya sendiri tidak mengakui dirinya sebagai putrinya? Apakah dia tidak berharga sama sekali bagi mereka? Atau ... memang dirinya bukan putri ayahnya karena itu ia begitu membenci dirinya?


"Iya benar tuan, nyonya, Dita itu hanya pembantu di rumah ini. Tapi karena kami telah mengurusnya sejak kecil jadi orang kerap mengiranya sebagai putri kami. Kami pun tidak pernah menyangkalnya." Lidya pun ikut menimpali. "Nak Berryl, sebaiknya pertimbangkan lagi keputusanmu. Bukan apa-apa, dia ini hanyalah seorang pembantu bahkan pendidikannya pun hanya sebatas SMP, tentu ia tidak sepadan dengan nak Berryl yang merupakan tuan muda dari pengusaha besar seperti keluarga Anda." Lidya terus membujuk dan mempengaruhi Berryl dan keluarganya agar tidak memilih Hanindita menjadi bagian dari keluarga itu.


Ivanka menatap lirih Hanindita yang menunduk dalam. Ia pun membenarkan perkataan Lidya kalau gadis seperti Hanindita itu tidak pantas untuk anaknya. Tapi ia pun tidak bisa mempengaruhinya.


"Ryl, kamu serius dengan keinginan kamu itu? Kamu dengar sendiri kan kalau gadis itu hanyalah pembantu di rumah ini. Lagi pula, dia ... "


"Aku tetap pada keputusanku, mom. Aku hanya menginginkan dia yang menjadi istriku, bukan yang lain." tegas Berryl membuat Handoko, Lidya, Megan, dan Morgan menelan ludah kasar.


Vano dan Vino pun ikut melotot melihat kesungguhan sahabatnya itu. Mereka pun jadi penasaran, apa hebatnya gadis itu sampai bisa membuat si keras kepala ini berkeras ingin menikahinya.


"Kau tidak bisa menikahinya, tuan." ujar seseorang yang kini ikut angkat bicara.

__ADS_1


Berryl menatap tajam sosok itu. Dari tampangnya, Berryl dapat melihat sosok itu bukanlah orang yang baik. Jadi apa yang ingin dikatakan orang itu untuk mencegahnya menikahi Hanindita.


"Kenapa? Apa alasannya aku tidak bisa menikah dengannya?" kini aura di ruangan itu makin memanas. Beberapa tetangga dan juga para tetua desa mereka termasuk ketua RT hanya bisa terdiam di tempat sambil ikut menyimak.


"Dia ... dia bukan gadis baik-baik. Anda tau, dia bahkan sering menggodaku untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Anda merupakan orang yang terhormat, sungguh tidak pantas Anda memperistri wanita murahan seperti dia." ucap Morgan tanpa belas kasihan. Hanindita meringis sambil meremas ujung baju yang dikenakannya. Mengapa keluarga ini begitu tega pikirnya. Apakah salah dan dosanya pada keluarga ini sehingga mereka tega menjelek-jelekkan dirinya di hadapan orang banyak seperti ini.


Air mata Hanindita menetes. Hatinya bagai diremas-remas. Tak cukupkah penderitaannya selama ini yang demi menyenangkan mereka bahkan ia rela mengerjakan segala hal hanya demi sebuah kata peduli, tapi tidak. Mereka tidak ada satupun yang mempedulikan dirinya. Kesedihannya, kesakitannya, penderitaannya. Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang?


Berryl mengangkat dagu Hanindita sehingga ia dapat melihat jelas ke dalam netra Hanindita. Dapat ia lihat, di dalamnya terdapat kesedihan, penderitaan, kerapuhan, kepedihan, dan kekosongan, mungkinkah gadis seperti ini bisa melakukan hal seperti itu?


"Apa itu benar?" tanya Berryl sambil menatap tepat ke netranya.


Hanindita menggeleng tegas dengan air mata bercucuran.


"Tidak." cicitnya dengan bibir bergetar.


"Kau dengar sendiri kan, katanya tidak. Jadi jagoan mengada-ada." tegas Berryl dengan sorot mata tajamnya.


"Ryl, apa yang kakakku katakan itu benar. Gadis tak tahu diri itulah yang berbohong. Bahkan, tempo hari ia menggoda kekasihku dan memintanya memutuskan hubungan kami. Apa itu kalau bukan gadis penggoda?" Megan tetap tak mau menyerah. Ia tidak terima dikalahkan oleh Hanindita. Mengapa setiap lelaki yang ia sukai selalu saja berakhir menyukai Hanindita? Ia tak mengerti, apa kelebihan Hanindita daripada dirinya sampai-sampai semua lelaki menyukainya?


"Aku hanya mempercayai apa yang pantas aku percayai dan aku percaya dengan apa yang dikatakannya." tegas Berryl.


Lalu tatapan Berryl beralih ke Abelano yang masih memandangnya dengan tatapan yang membingungkan. Setelah melihat ayahnya hanya mengedikkan bahu pertanda pasrah atas keinginannya, ia pun kembali menatap Hanindita.


"Siapa namamu?" tanya Berryl lembut membuat Megan sungguh meradang dibuatnya.


"Ha-Hanindita." jawabnya gugup.

__ADS_1


"Hanya itu?" lanjutnya lagi.


Hanindita hanya mengangguk dengan kepala tertunduk.


"Apa kau mau menikah denganku?" tanya Berryl to the point membuat Hanindita sontak mengangkat kepalanya.


"Tapi ... tapi aku hanya ... "


"Aku tak peduli. Yang aku inginkan hanyalah menjadikanmu sebagai istriku, bagaimana? Kau mau?" tanya Berryl lalu ia meraih tangan Hanindita yang terasa begitu dingin dan meremasnya pelan. Disalurkannya kehangatan dan kepercayaan pada diri Hanindita agar mau menerima lamarannya itu.


"Ka-kamu serius?"


"Aku selalu serius dalam setiap tindakanku karena aku sungguh-sungguh ingin menikahimu. Cepat beri aku kepastian!" Sorot mata Berryl begitu tajam tapi terlihat kesungguhan di dalamnya.


Hanindita tampak berpikir sambil memejamkan matanya. Ia abaikan orang-orang yang tengah menatapnya dengan sorot mata tajam, terlebih keluarganya yang ia yakini pasti saat ini sedang memandangnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"I-iya, aku bersedia." itulah akhirnya jawaban Hanindita.


Ia yakin, keluarganya akan marah besar padanya. Ia akan menerima semua itu. Ia tahu, ia belum mengenal Berryl sama sekali bahkan ia tidak tau bagaimana kehidupannya selanjutnya. Akankah ia bahagia setelah menikah ataukah ia akan makin menderita. Tapi setelah mendengar perkataan keluarganya sendiri yang tidak mengakuinya sebagai bagian dari mereka, membuat rasa kecewanya yang telah tumbuh subur di dalam hati kian mendarah daging. Biarlah ia egois kali ini toh ia bukan siapa-siapa kan di dalam keluarga itu. Ia serahkan pena takdir kehidupannya pada yang maha kuasa, semoga ke depannya ia akan meraih kebahagiaan yang tak pernah diperolehnya.


...***...


Yeay, udah double up!


Semoga suka.


Ditunggu like, komen, vote, dan hadiahnya kak. 🙏🥰🥰🥰

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2