
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Berryl dan Hanindita telah bangun dari tidurnya dengan senyum merekah sempurna. Padahal semalam mereka tidak jadi melakukan kegiatan bercocok tanam, tapi tetap saja mereka merasakan kebahagiaan yang membuncah sebab untuk pertama kalinya Hanindita dapat terbuka. Hal itu membuktikan kalau Hanindita telah mulai merasakan kenyamanan dan membuka hatinya untuk Berryl.
"Ayo!" ajak Berryl seraya mengulurkan tangannya.
"Kemana?" tanya Hanindita bingung. Hanindita pun menyambut uluran tangan itu dan memeluknya. Mereka saling menatap sambil tersenyum. Lalu Berryl memajukan wajahnya dan mencium puncak kepala Hanindita dengan mesra membuat istrinya itu bersemu merah.
"Sarapan," ujar Berryl setelah menjauhkan wajahnya.
Hanindita pun mengikuti langkah Berryl yang mengajaknya entah kemana. Hingga sampailah mereka di sebuah restoran yang masih berada di kawasan hotel. Restoran itu menghadap langsung ke daerah perbukitan nan hijau. Bahkan dari posisi mereka, mereka bisa melihat puncak gunung Fuji yang sangat terkenal di dunia. Meskipun jaraknya cukup jauh, tapi Hanindita cukup puas bisa melihat dari tempatnya.
"Ini ... bagus sekali," ucap Hanindita riang. Ia bahkan sampai mengeratkan pelukannya di lengan Berryl membuat pria itu terkekeh.
"Silahkan duduk, my sweetie!" ucap Berryl seraya menarik sebuah kursi untuk diduduki Hanindita.
__ADS_1
Dengan wajah tersipu malu, Hanindita duduk di sana. Kemudian Berryl juga menarik kursi untuknya dan duduk bersisian dengan Hanindita ditempat menghadap ke arah perbukitan hijau yang menjulang tinggi. Matahari tampak tersipu di balik awan membuat pagi itu cerah namun teduh.
"Terima kasih ... hubby," jawabnya dengan rona merah tercetak jelas di pipi Hanindita.
Tak lama kemudian, pramusaji datang menanyakan pesanan mereka. Setelah selesai mencatat, ia pun berlalu dan tak perlu menunggu lama, pramusaji itu datang kembali dengan nampan berisi pesanan mereka di atasnya.
Mereka pun makan dengan saling berbincang, saling melempar candaan, dan membahas apa saja untuk mempererat kedekatan mereka.
Setelah sarapan, Berryl mengajak Hanindita kembali ke kamar hotel. Berryl hendak mengajak Hanindita jalan-jalan ke Tokyo Disneyland. Entah mengapa Berryl sangat ingin membawa Hanindita ke sana. Ia yakin, Hanindita telah banyak kehilangan masa kecilnya akibat perbuatan keluarganya itu Oleh sebab itu, ia ingin membawanya kesana agar Hanindita juga bisa merasakan kebahagiaan yang pernah hilang dari hidupnya. Karena itu, setibanya di kamar, mereka pun segera bersiap. Karena ini akhir pekan, Berryl yakin Tokyo Disneyland akan dipadati pengunjung lebih dari hari biasanya. Oleh sebab itu, Berryl berencana mengajak Hanindita pergi lebih awal sebelum tempat itu makin dipadati pengunjung.
Tokyo Disneyland merupakan Disneyland yang pertama di bangun di luar Amerika Serikat dan resmi dibuka pada tahun 1983. Tokyo Disneyland dibagi menjadi 7 area utama, yaitu World Bazaar, Tomorrowland, Toontown, Adventureland, Westernland, Critter Country, dan Fantasyland. Masing-masing zona ini memiliki ciri khas tersendiri.
Setibanya di sana, Hanindita tak henti-hentinya berdecak kagum dengan mata berbinar. Benar dugaan Berryl, Hanindita merasa sangat bahagia setibanya mereka di sana. Saat kecil ia sangat menyukai film-film kartun dan juga dongeng-dongeng bertema princess. Karena itu, berada di sana, Hanindita seolah dibawa ke masa kecilnya yang sempat bahagia dimana ayah dan ibunya sangat memanjakannya. Walaupun itu hanya sementara, ingatan kebahagiaan itu juga hanya sedikit, tapi ia tak menyesalinya. Setidaknya ia memiliki kenangan. Karena itu, kedatangan mereka ke Disneyland Tokyo bagaikan pengobat rindu pada masa kecilnya yang hampir terlupakan.
__ADS_1
"Hubby, terima kasih. Terima kasih banyak atas segalanya. Ini ... ini sangat indah ... " lirihnya yang langsung berhambur ke pelukan Berryl untuk mengungkapkan betapa ia bahagia dan berterima kasih kepada laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut.
"Tak perlu berterima kasih, sweetie. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku. Sudah kewajibanku sebagai seorang suami untuk membahagiakan istrinya," ujarnya membuat perasaan Hanindita kian membuncah. Entah dapat keberanian dari mana, tanpa peduli pada keadaan sekeliling, Hanindita berjinjit lalu mengecup bibir Berryl sekilas membuat Berryl membelalakkan matanya. Berryl benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan istri kecilnya itu. Ia merasa tak percaya kalau istrinya itu memiliki keberanian sebesar itu untuk menciumnya tanpa melihat kondisi sekeliling yang mulai dipadati pengunjung. Beruntung mereka bukan di Indonesia, jadi tak ada yang mempermasalahkan apa yang akan mereka lakukan selagi itu merupakan sesuatu yang dalam batas kewajaran. Seandainya ini merupakan tempat tertutup atau kamar hotel presidential suite mereka, dapat Berryl pastikan, istrinya itu sudah ia terkam hingga habis tak tersisa.
Di sana, Berryl mengajak Hanindita memasuki semua zona yang ada. Berryl juga mengajak Hanindita memasuki rumah Mickey mouse, menaiki perahu Donald duck, menaiki kereta Disney, memasuki castil princess, dan tak lupa mengajak Hanindita berbelanja oleh-oleh di World d Bazaar.
Menjelang sore Berryl mengajak Hanindita ke Yokohama Raumen Museum. Belum lengkap rasanya pergi ke Jepang kalau belum mampir ke Yokohama Raumen Museum sebab di sana merupakan surga kuliner khas Jepang. Di sana menjual banyak sekali kuliner khas Jepang yang sangat lezat. Salah satu kuliner favorit di sana adalah ramen. Maka dari itu, Berryl mengajak Hanindita ke sana untuk menikmati ramen yang juga merupakan salah satu makanan kesukaannya. Setelah siang tadi mereka makan siang di sebuah restoran mewah, maka sorenya mereka menyantap ramen untuk mengganti amunisi yang mulai berkurang karena terlalu lama berkeliling ria.
...***...
Hanindita dan Berryl menghempaskan tubuh lelah mereka di atas kasur kingsize kamar hotel presidential suite mereka. Mereka saling berpandangan dengan binar bahagia dan senyum manis yang tak pernah lepas dari bibir mereka. Ini merupakan perjalanan pertama bagi Hanindita dan ini merupakan perjalanan terindah Berryl. Ini juga hari terbahagia mereka. Seumur hidup mereka, tak pernah mereka sebahagia ini. Bahkan hampir seharian ini mereka selalu tersenyum. Dulu, mereka bahkan nyaris tak pernah tersenyum, terlebih itu Hanindita. Ia hanya bisa berwajah datar di hadapan orang lain. Lalu kini, ia bak Cinderella yang bertemu pangeran tampan yang selalu bersedia membahagiakannya. Dalam hati, Hanindita tak pernah lupa bersyukur telah dipertemukan dengan pangeran setampan dan sebaik Berryl. Mungkin Berryl satu dari 1.000.000 populasi lelaki di dunia yang mau menerima wanita biasa bahkan nyaris banyak kekurangan seperti dirinya sebagai seorang istri. Melimpahinya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Wajar bukan jika ia jatuh cinta dengan lelaki seperti Berryl?
Melihat wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum manis di depannya, membuat Berryl mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirnya singkat. Hanindita menerimanya dengan senang hati. Merasa kurang, Berryl mengecupnya lagi hingga beberapa kali. Tak mampu membendung hasrat yang tiba-tiba melonjak, ditatapnya wajah cantik istrinya lekat .. .
__ADS_1
"Bolehkah?"
...Happy reading 🥰🙏🥰...