Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.38


__ADS_3

"Nin, gimana keadaan kamu? Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Ivanka tiba-tiba membuat Hanindita mengerutkan keningnya karena terkejut dengan pertanyaan itu.


"Tanda-tanda apa, mom?" tanya Hanindita polos.


Ivanka menghela nafas panjang, "Tanda-tanda hamil, Nin. Kamu belum merasakan ada tanda-tanda apa gitu? Kayak mual, mau muntah, pingin makan sesuatu?" cecar Ivanka.


Hanindita menggeleng lemah, ia memang belum merasakan ada perubahan apa-apa pada dirinya padahal ia dan Berryl sudah menikah hampir 3 bulan.


Ivanka hanya bisa menghela nafas panjang, ia sangat berharap Hanindita segera memberikannya seorang cucu, tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak padanya.


"Mom." sapa Berryl yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. "Mommy sabar, ya! Doakan saja supaya Anin bisa segera hamil. Bukan hanya mommy yang menantikannya, tapi kami juga," pungkas Berryl membuat Ivanka terdiam.

__ADS_1


Tak terasa, pernikahan Berryl dan Hanindita sudah memasuki bulan ke-5. Tapi Hanindita belum juga mengalami tanda-tanda kehamilan. Ia bahkan sering mengetes seorang diri menggunakan testpack, seperti pagi ini, tapi nyatanya hasilnya nihil. Garis yang muncul masih saja satu. Hanindita hanya bisa menghela nafas kecewa. Ia ingin sekali segera hamil agar bisa menghadiahi keluarga ini dengan seorang bayi yang lucu. Menyempurnakan kebahagiaan keluarga ini, tapi apalah daya, ia tak punya kuasa apa-apa selain berusaha. Bahkan ia sudah memakan suplemen penyubur dan makan makanan yang dapat membuatnya lebih subur. Tapi hasil yang didapat belum sesuai keinginan. Ia hanya bisa berdoa dan berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan.


"Kenapa murung, hm?" tanya Berryl seraya memeluk tubuh Hanindita dari belakang lalu mengecup pipinya.


Lalu Hanindita menyodorkan testpack yang bergaris satu membuat lengkungan tipis terbit di bibir Berryl.


"Mungkin usaha kita belum maksimal, apa kamu mau membuatnya sekarang? Udah libur 3 hari lho. Jadi kualitas benihku pasti sedang bagus-bagusnya." ucap Berryl seraya menyeringai.


"Bukannya bagus kalau masih pagi, masih segar. Pasti dia bakal berenang dengan sangat lincah menuju sel telur sehingga terjadi pembuahan," papar Berryl membuat Hanindita menganga. "Bagaimana? Mau kan?"


"Tapi ... hmmmmpppp ... "

__ADS_1


Belum sempat Hanindita protes, Berryl sudah terlebih dahulu membungkam bibir Hanindita dan mengangkatnya ala bridal style menuju kasur empuknya.


...***...


Sudah beberapa bulan Megan tinggal di kota, ia juga sudah beberapa bulan bekerja di VH Corporations, tapi ia belum juga bisa mendekati Berryl. Entah mantra apa yang dibacakan Hanindita pikirnya, sampai Berryl begitu setiap dan takluk padanya.


Semenjak bekerja sebagai cleaning servis, tubuhnya jadi lebih kurus karena kelelahan. Sikap kasar dan angkuh dirinya membuat hampir semua orang di perusahaan itu jengah. Akibatnya hampir setiap hari ia mendapatkan perundungan walaupun masih dalam tahap wajar karena gadis itulah yang duluan memulai segalanya. Sedangkan mereka hanya membalas Megan agar lebih menjaga lidahnya ketika bekerja dan tidak menyakiti orang lain.


Sementara itu, akibat dirinya yang menjadi cleaning servis di VH Corporations, membuat teman-teman kuliahnya dahulu menjauhinya bahkan ada yang tak segan-segan merundung sebagai pembalasan bagaimana sikap Megan dahulu pada mereka. Tak tahan dengan perlakuan itu, akhirnya membuat Megan memilih berhenti.


Saat termenung di sebuah cafe sendirian, Megan termenung seorang diri dan memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menemukan keberadaan Hanindita. Ia ingin sekali membalas perbuatan Hanindita padanya juga keluarganya. Ya, keluarganya kini telah pindah dari rumah besar yang ditunggunya dengan keluarganya selama beberapa tahun ini. Tapi kini rumah itu telah kembali ke tangan Hanindita. Mereka telah terusir dari sana. Bukan hanya itu, perkebunan teh beserta pabriknya pun kini telah diambil alih Hanindita dengan bantuan Berryl. Sontak hal itu memicu kebenciannya pada Hanindita makin menyala.

__ADS_1


Namun tiba-tiba di depannya duduk seorang laki-laki berwajah cukup tampan, perawakannya tegas, besar, dan tinggi. Tiba-tiba laki-laki itu mengeluarkan suara yang mengejutkannya. Laki-laki itu tiba-tiba saja memberitahukan kepadanya dimana Hanindita tinggal bahkan kampus tempat dirinya menimba ilmu sekarang. Megan terkejut setengah yakin, bukankah Hanindita hanya lulusan SMP, tapi bagaimana bisa Hanindita berkuliah? Bukankah yang bisa kuliah itu hanyalah lulusan SMA sederajat? Sungguh Megan tak habis pikir betapa beruntungnya kehidupan Hanindita sekarang. Setelah memberikan informasi mengenai alamat Hanindita juga meminta nomor ponsel Megan, pria itu pun pergi meninggalkan Megan yang tersenyum menyeringai. Tak sabar lagi rasanya memberikan Hanindita pelajaran berharga agar tidak lagi berbuat seenaknya.


__ADS_2