Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.46


__ADS_3

"Sweetie, bagaimana keadaanmu?" tanya Berryl lembut seraya mengusap puncak kepala Hanindita.


"A-ku baik-baik saja, hubby. Ja-ngan khawatir!" jawab Hanindita lemah. Ia baru sadarkan diri tentu tubuhnya terasa begitu lemah tak berdaya.


"Kau butuh sesuatu?"


"A-ku haus." jawab Hanindita.


Berryl pun segera mengambilkan air minum untuk istrinya itu kemudian membantunya minum.


"Halo sayang, kau sudah merasa lebih baik?" tanya Ivanka yang baru saja masuk bersama Berliana.


"Kakak ipar, kakak ipar baik-baik saja kan? Ada yang masih terasa sakit?" cecar Berliana tak kalah panik.


Hanindita tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia akhirnya bisa merasakan perhatian keluarga dari pihak suaminya.


"Aku sudah merasa lebih baik, mom. Mom tak perlu khawatir. Menantu mommy ini kebal jadi luka seperti ini nggak masalah kok," tukas Hanindita membuat Ivanka mendengus.


"Jangan khawatir? Tentu mommy khawatir. Kau tahu, bagaimana gilanya Berryl bila sampai terjadi sesuatu padamu. Apalagi dirimu tidak lagi sendiri, ada nyawa lain yang sedang tumbuh di rahimmu." tukas Ivanka membuat Hanindita bingung lalu ia pun menoleh ke arah Berryl meminta penjelasan.


"Ya, sweetie, apa yang mommy katakan benar. Di sini ... " tunjuk Berryl pada perut bagian bawah Hanindita. "Ada calon buah hati kita yang baru saja tumbuh dan berkembang." imbuhnya membuat mata Hanindita berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ka-kamu serius, hubby? Kalian tidak sedang mempermainkan aku kan? Jelaskan hubby!" cecar Hanindita yang masih meragukan apa yang ia dengar. Ia berharap, apa yang dikatakan Berryl dan Ivanka memang benar adanya.


Berryl, Ivanka, dan Berliana pun mengangguk seraya tersenyum manis. Bahkan sangat manis membuat Hanindita jadi terisak bahagia.


"Sweetie, kok nangis sih? Ada yang salah atau ada yang sakit?"


Hanindita menggeleng tegas, "Bukan. Aku ... aku hanya sangat bahagia. Terima kasih, by, mom, Ana, terima kasih. Aku sangat-sangat bahagia." Pungkasnya membuat yang lain pun tersenyum bahagia.


Ivanka yang tak pernah memeluk menantunya itupun segera berhambur ke pelukan Hanindita. Dipeluknya erat menantunya itu sambil mengusap punggungnya dengan sayang. Ia pun sebenarnya sudah sangat menyayangi menantunya itu. Ditambah kejutan tak terduga ini membuatnya makin bahagia. Ia bersyukur, Hanindita dan calon anaknya tidak apa-apa. Bila sampai terjadi sesuatu yang buruk, ia pastikan akan memberikan pelajaran lebih menyakitkan lagi.


Brak ...


"Mau apa kalian kemari?" tegas Berryl dengan sorot mata tajam penuh intimidasi.


"Kalian ... apa kalian belum puas membuat kami sengsara, hah? Dan kau, dasar perempuan tak tahu diri. Kami sudah membesarkan mu sampai sebesar ibu, begini caramu membalas kami, hah!" berang Handoko tak peduli dengan amarah Berryl.


Pikirnya, dia sudah cukup menoleransi Hanindita dan suaminya. Kali ini ia tak bisa lagi berdiam diri. Sebab menurutnya, daun justru membuat harga dirinya makin diinjak-injak. Sudah cukup perkebunan dan pabrik tehnya di kampung dikuasai Hanindita dan Berryl. Ia tak bisa lagi diam apalagi saat melihat keadaan Megan yang tidak baik-baik saja.


"Dita, kenapa kau begitu tega dengan Megan? Padahal Megan saudaramu sendiri tapi mengapa kau malah membuatnya terluka? Kami tahu kami salah karena sering berbuat kasar padamu tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hatimu. Jangan-jangan kau ingin Megan mati, hah?"imbuh Lidya dengan emosi yang meluap-luap.


Hanindita bingung, di sini dirinya lah yang hendak disakiti tapi kenapa justru dirinya yang disudutkan? Mengapa keluarganya selalu saja menyalahkan dirinya atas segala sesuatu? Tidakkah mereka memikirkannya sedikit saja? Tidakkah mereka sadar disini dirinya juga sedang terluka? Apakah dirinya tidak berarti sama sekali bagi mereka?

__ADS_1


"Bisa kau tutup mulut kotor kalian, breng-sek! Justru perempuan gila itulah yang lebih dahulu menculik dan hendak membunuh istriku." Berang Berryl dengan sorot mata tajam penuh kebencian dan amarah.


"Tidak, itu tidak mungkin. Pasti kau ingin memfitnah Megan bukan!" kilah Lidya tidak terima anaknya disalahkan.


"Dan kau, kau memang manusia terbodoh yang pernah aku lihat. Tidakkah sedikit saja kau peduli dengan keadaan anakmu!" Tunjuk Berryl pada Handoko.


"Dia bukan anakku. Dia anak pelacur di itu dengan lelaki selingkuhannya. Cih, sampai mati pun aku takkan pernah mempedulikan anak pelacur itu."


"Sepertinya hati nuranimu telah benar-benar tertutup dari kebenaran sampai kau tidak bisa merasakan kalau Anin benar-benar anakmu atau bukan. oOke, kalau begitu semoga kau tidak menyesali ucapanmu itu. Karena aku yakin, setelah ini kau akan menangis darah. Tapi aku tak peduli." Ucap Berryl lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Menangis darah? Hahaha ... tidak ada kata menyesal dalam kamusku."


"Bodoh." umpat Berryl. "Kalian tunggulah sebentar, aku ada kabar menarik untuk kalian," ujarnya dengan smirk menakutkan membuat Lidya tegang dan khawatir.


Lalu Berryl mengalihkan perhatiannya pada Hanindita yang wajahnya memucat.


"Jangan bersedih, sweetie! Kita akan membuktikan bahwa apa yang mereka katakan itu salah. Kita akan membungkam mulut kotor mereka dengan bukti-bukti yang pasti akan membuat pria bodoh itu menyesal seumur hidup. Sudah cukup kau disakiti, sweetie. Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu lagi. Akan aku buat menyesal mereka yang telah membuatmu menderita." Tukas Berryl membuat Hanindita tersenyum sendu.


"Terima kasih, hubby karena kau selalu menjadi guardian angel untukku. Aku tak membutuhkan orang lain di sisiku selain dirimu. Hanya dirimu." pungkasnya tak mempedulikan kedua orang yang yang menatap mereka dengan penuh kebencian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2