Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.47


__ADS_3

Brakkk ...


Berryl melemparkan sekumpulan map yang baru saja diserahkan Vano setibanya di sana ke dada Handoko membuatnya menggeram marah karena merasa tidak dihormati sama sekali oleh Berryl yang notabenenya adalah menantunya sendiri. Batin Berryl sebenarnya mengatakan itu tidaklah sopan, tapi membayangkan bagaimana perlakuan mertuanya itu pada Hanindita selama bertahun-tahun lamanya membuatnya geram sehingga ia buang semua rasa hormat dari mertuanya itu. Peduli setan dengan Handoko yang hendak marah karena perlakuannya. Seharusnya Handoko sadar diri sebab itu merupakan buah dari perbuatannya.


Tak lama kemudian, Vino datang menyusul diikuti bawahannya yang sedang menyeret seorang lelaki paruh baya. Penampilan lelaki itu terlihat sangat kuyu dan lusuh. Handoko yang melihat pria itu kembali setelah menghilang selama belasan tahun lantas menggeram kesal dengan kilat kebencian di matanya.


Lalu pria itu pun dilemparkan seperti sampah oleh bawahan Vino membuat tubuh tuanya terhempas ke lantai marmer yang dingin.


Matanya membelalak saat bersirobok dengan mata Handoko yang menatapnya nyalang seperti seekor hyena yang siap menerkam mangsanya.


Sedangkan Lidya yang berdiri di samping Handoko sudah bergetar ketakutan.


"Kau ... " Tunjuk Handoko penuh kebencian. "Apa kau ingin melihat anak sialanmu yang terbaring di sana?" sarkas Handoko yang belum membuka map yang berada di tangannya.


"Tutup mulut sialanmu itu pak tua!" bentak Berryl dengan sebelah tangan masih menggenggam erat tangan Hanindita. Hanindita membeku di tempatnya saat mendengar perkataan Handoko. Apakah benar lelaki yang diseret Vino itu merupakan ayahnya? Tapi mengapa ia tidak memiliki ikatan batin sedikit pun dengan pria paruh baya itu? Berryl pun tidak memberikan informasi apapun padanya mengenai semua rencana suaminya itu.


Mata Handoko berpaling pada Berryl yang nampak menatapnya dengan kilat amarah.


"Lebih baik kau buka dan bacalah isi map itu baik-baik! Aku tidak mau istriku dihina apalagi direndahkan orang lain."


Menurut, Handoko pun mulai membuka map itu tak sabaran karena kesal. Sedangkan Lidya yang sudah berhasil meredam ketakutannya, justru sibuk memegangi lengan Handoko sambil ikut membaca isi map yang dilemparkan Berryl. Entah apa isinya, ia ikut penasaran. Dalam hati ia berdoa semoga itu bukan merupakan bukti kejahatannya selama ini.


Pegangan di lengan Handoko tiba-tiba terlepas saat melihat selembar kertas berlogo rumah sakit yang menerangkan hasil test DNA antara Hanindita dan Handoko.


Mata Handoko sampai mengerjap beberapa kali. Ia masih membisu tanpa berkomentar sama sekali. Dibaliknya lembaran kedua, masih merupakan hasil test DNA yang sama tapi dari rumah sakit lain. Mungkin tujuan Berryl untuk membuktikan kalau hasil itu valid, tidak ada kesalahan sama sekali.


Nafas Handoko tiba-tiba tercekat dengan mata yang sudah merah. Map pertama itu berisi 3 lembar hasil test DNA di 3 rumah sakit ternama dengan uji sampel dan orang yang sama, yaitu dirinya dan Hanindita. Di dalam sana, tertera jelas kalau mereka terbukti 99,99% merupakan ayah dan anak.


Ayah dan anak?


Bukankah lelaki yang terkapar dengan wajah yang telah memar itu pernah mengatakan kalau dia merupakan selingkuhan ibu Hanindita.


Ia juga mengatakan kalau ia merupakan ayah biologis Hanindita.


Handoko menelan mentah-mentah perkataan laki-laki itu karena di depan matanya, ia memergoki mantan sopir istrinya itu sedang dalam posisi mengungkung istrinya.


Walaupun ia awalnya tidak mencintai ibu Hanindita dan justru mencintai Lidya, tapi ia mencoba menerima pernikahan perjodohan itu. Ia juga mencoba mencintai dan memperlakukan ibu dan anak itu dengan baik, hingga kejadian dimana ia memergoki mantan sopir laknat itu tengah mengungkung istrinya. Ia marah, ia emosi, segala sumpah serapah, dan caci maki ia lontarkan pada mendiang istrinya itu dengan penuh kebencian, emosi, dan kekecewaan.


Ibu Hanindita mencoba membela diri dan menjelaskan, tapi karena emosi sudah menguasai diri Handoko membuatnya tak mau mendengarkan penjelasan istrinya itu satu patah katapun.

__ADS_1


Semenjak itulah, ia jadi begitu membenci mendiang istrinya dan juga Hanindita yang ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Bahkan saat istrinya menghembuskan nafas terakhirnya, ia tak ada di sisi perempuan yang melahirkan putrinya itu. Ia justru sedang memadu kasih dengan Lidya yang baru saja ia nikahi.


Lalu, anak yang ia kira anak hasil perselingkuhan istrinya, ternyata anaknya sendiri.


Hanindita merupakan putri kandungnya sendiri.


Anak yang ia sia-siakan, ia acuhkan, dan ia siksa lahir dan batinnya, ternyata merupakan anak kandungnya sendiri.


Bagaimana bisa?


Apakah selama ini ia telah salah menilai istrinya?


Apakah ia telah dibohongi selama ini.


Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri bagai dipukul palu godam. Kenyataan ini menggoncang jiwa dan raganya.


Masih belum mau berkomentar, ia membuka map kedua yang ternyata berisi hampir sama dengan isi map pertama, tapi yang menjadi objek merupakan sampel rambut Megan dan Handoko. Yang sangat mengejutkan justru anak yang selama ini ia manjakan ternyata bukan anaknya.


Ia salah menyayangi anak.


Anak yang dikiranya anak kandung ternyata bukanlah anaknya.


Dan lembaran di map ketiga berhasil mengungkapkan segala kebusukan yang ada.


Tubuh Handoko bergetar hingga meluruh ke lantai.


Ayah dari Megan justru sang mantan sopir.


Anak yang dikiranya anak orang lain ternyata anaknya sendiri dan anak yang dikiranya anak kandungnya sendiri, justru anak orang lain. Anak dari laki-laki yang ia kira selingkuhan mendiang istrinya.


"Katakan! Katakan kalau ini tidaklah benar! Katakan, sebenarnya siapa selingkuhanmu sebenarnya? Katakan, siapa sebenarnya yang merupakan anak kandungmu? Katakan breng-sek!" teriak Handoko yang wajahnya sudah dihiasi kegelapan. Amarah karena tertipu mentah-mentah itu menyeruak hingga udara di ruangan kamar VVIP itu terasa panas dan menyesakkan.


Tubuh pria baya yang sedang berlutut di lantai itu bergetar ketakutan. Pun Lidya yang berada di belakang, ia beringsut berusaha untuk melarikan diri, tapi Vano telah lebih dahulu menghadangnya di depan pintu.


"Kau mau kemana nyonya?" Tanya Vano dengan smirk devil di bibirnya.


Lidya sampai menelan ludahnya berkali-kali. Tatapan penuh intimidasi tertuju padanya baik dari Berryl, Vano, maupun Vino. Sedangkan Handoko, masih belum mengalihkan pandangannya pada Lidya yang telah dilanda ketakutan.


"Aku ... aku ... "

__ADS_1


"Katakan anak siapa Hanindita sebenarnya! Katakan baji-ngan!"


Bugh ...


Handoko memukul rahang pria itu dengan sekuat tenaga yang ia bisa.


"Di-dia anakmu. Dia anak kandungmu dan nyonya. Maaf, maafkan saya, pak. Maafkan saya karena telah membohongi Anda. Sedangkan Megan barulah anakku. Saya mohon, pak, maafkan saya. Ampuni saya. Saya salah. Saya menyesal. Maafkan saya." lirih pria itu penuh penyesalan.


Handoko tergelak kencang sambil mengusap air mata yang mengalir dari ekor matanya.


"Apa kata maafmu itu dapat memperbaiki segalanya, hah? Apa kata maafmu itu bisa mengembalikan semuanya ke tempat semula? Kau lihat di sana, dia ternyata putriku. Anak yang kusia-siakan seumur hidupnya ternyata anakku. Kau tahu, betapa besar rasa penyesalanku? Aku takkan pernah memaafkan mu breng-sek." Handoko berjalan menuju pria tadi berniat untuk menghajarnya, tapi tangannya justru dihentikan oleh Vino.


"Selesaikan masalah kalian di tempat lain! Istriku ingin istirahat sekarang." titah Berryl tegas membuat Handoko mengalihkan pandangannya pada Hanindita yang terlihat pucat. Ia pun segera mendekat.


"Dita ... "


"Jangan mendekat!" ucap Hanindita dingin.


Handoko terpaku di tempat. Waktu seolah berhenti saat ia melihat sorot mata sarat luka dan kekecewaan itu di mata Hanindita.


Ya, Handoko sadar akan kesalahannya selama ini. Sudah pasti Hanindita sangat terluka dan kecewa padanya.


Paham Hanindita belum bisa menerima dirinya, ia pun segera mengucapkan sesuatu.


"Maafkan ayah, nak. Maafkan ayah. Ayah tahu kata maaf takkan mengembalikan semua yang telah hilang dan berlalu. Ayah tahu kata maaf takkan membuat waktu bisa diputar ulang dan mengembalikan semua yang terlewati. Maafkan ayah, nak. Semoga suatu hari nanti kamu dapat memaafkan ayah. Maafkan, ayah." Ucap Handoko lirih dengan berlinangan air mata.


Hanindita tak bergeming di tempatnya. Luka itu sudah begitu dalam dan takkan mungkin bisa terobati dengan satu kata maaf. Memaafkan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi luka ini ditorehkan ayah kandungnya sendiri sekian tahun lamanya. Luka di fisiknya saja sukar dihilangkan, apalagi luka di hati. Andai tidak ada Berryl, mungkin kebenaran itu akan terkubur selamanya tanpa adanya kejelasan dan selamanya pula ayahnya akan menganggap dirinya anak selingkuhan ibunya.


Setelah mengatakan itu, Handoko segera mendekati Lidya yang sudah bergetar ketakutan menatap netra Handoko yang sudah menggelap. Dengan satu tarikan di rambut, Handoko menyeret Lidya keluar dari kamar rawat Hanindita yang didominasi warna biru itu. Entah akan dibawa kemana wanita licik itu. Berryl berharap, Handoko akan memberikan pelajaran setimpal padanya.


"Aaargh ... lepas, mas! Sakit." teriak Lidya tapi Handoko tak menggubris. Ia tetap menyeret Lidya. Sedangkan lelaki yang ternyata selingkuhan Lidya sudah diseret bawahan Vino. "Mas, lepas! Maafkan aku. Mas, tolong maafkan aku. Aku khilaf, mas. Aku menyesal. Aku mohon maafkan aku." ucap Lidya terus memohon dengan berurai air mata tapi hati Handoko telah membatu. Tak ada kata maaf untuk wanita licik itu. Karena dirinya, anaknya menderita selama bertahun-tahun. Karena dia, istrinya meninggal dalam keadaan yang menyedihkan. Karena dia, ia kehilangan waktu-waktu berharganya dengan sang anak.


Plakkk ...


Handoko menampar pipi Lidya sekuat tenaga hingga pipi wanita itu terasa kebas dan panas dengan sudut bibir yang sudah mengeluarkan darah segar.


"Tutup mulut beracun mu itu karena sampai kapanpun aku takkan pernah memaafkan mu!" desis Handoko membuat Lidya bungkam seketika.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2