Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.52


__ADS_3

Hari terus berganti dan nyaris hampir tiap hari pula Handoko mencoba mendatangi mansion orang tua Berryl berharap ia diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Hanindita. Ia bahkan rela menyewa kontrakan kecil untuk dirinya selama berada di kota. Namun, semesta sepertinya tak mau mendukung sedikit pun sebab hingga hari ini ia tak kunjung bisa bertemu dengan putrinya itu. Keluarga Berryl ternyata begitu protektif pada Hanindita, kadangkala ia bersedih karena tidak bisa menemui putrinya, tapi kadangkala ia bersyukur karena putrinya ternyata mendapatkan pendamping yang benar-benar mencintai dan menyayanginya pun keluarganya.


Brakkk ...


Handoko melemparkan tasnya asal membuat Lidya yang tengah termangu seorang diri tersentak dari lamunannya. Lidya pun gegas berdiri untuk mengambil tas itu dan meletakkannya di tempatnya. Setelah itu, ia bergegas ke dapur untuk membuatkan suaminya itu segelas kopi dan menghidangkannya di atas meja. Tampak Handoko menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Entah apa yang dipikirkan suaminya itu. Tapi menurut dugaannya, pasti suaminya itu tengah memikirkan perihal Hanindita.


Apakah suaminya itu tidak berhasil menemui Hanindita?


Haruskah ia ikut turut tangan?


"Mas," panggil Lidya tapi Handoko tak menggubris sama sekali. Mereka seakan tinggal di dunia berbeda sehingga mereka tak bisa saling berinteraksi.


"Mas, kamu nggak berhasil bertemu dengan Dita?" tanya Lidya lagi kekeh mengajak Handoko berbicara.

__ADS_1


Tapi Handoko tetap saja bungkam. Entah sekarang rasanya ia begitu enggan berbicara dengan perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Mas, ngomong! Kamu nggak tuli kan! Atau kamu udah bisu jadi nggak bisa ngomong lagi!" sarkas Lidya tak peduli kalau apa yang itu katakan bisa menyinggung perasaan Handoko.


"Tutup mulut cerewet kamu itu! Kau membuatku pusing saja. Ya, aku tidak berhasil bertemu Dita, kenapa? Itu juga karena perbuatanmu. Kau yang menyebabkan semua seperti ini. Kau yang menyebabkan aku kehilangan anakku. Kau yang menjadikan aku ayah yang begitu kejam, semua karena kau," bentak Handoko membuat nyali Lidya ciut.


"Emm ... itu ... itu ... maafkan aku. "Aku tahu, aku salah. Karena itu aku berniat membantu. Aku ... aku akan menemui Dita dan bicara padanya. Aku ... juga akan meminta maaf pada Dita, ba-bagaimana menurut pendapat mas?" tanya Lidya terbata.


...***...


"Katakan untuk apa kalian mencari menantuku, hah?" tanya Ivanka dengan nada mencemooh pada kedatangan Lidya.


Tiba-tiba saja Lidya bersimpuh di hadapan Ivanka seraya memelas agar dipertemukan dengan Hanindita.

__ADS_1


"Nyonya, saya mohon, izinkan kami bertemu dengan Dita. Izinkan kami. Kami janji, kami tidak akan berbuat macam-macam. Kami hanya ingin bertemu dan memohon maaf padanya. Saya mohon, nyonya!" ucap Lidya lirih.


Ya, dia memang saat ini telah benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia sadar, perbuatannya itu sudah benar-benar keterlaluan. Bahkan Ia pun sadar wajar kalau Hanindita tidak ingin bertemu apalagi memaafkannya.


Tapi akan lebih tidak tahu diri bila ia tidak berusaha menemui dan memohon maaf. Walaupun ia kemungkinan besar takkan pernah dimaafkan, tapi setidaknya ia sudah berusaha. Apalagi Handoko kini kian terpuruk karena rasa sesal yang menggerogoti seluruh hati dan jiwanya. Dia ingin sekali bertemu dengan sang putri yang tak pernah dikasihinya. Rasa sesal Lidya kian menjadi, ini semua salahnya. Ini semua karena keserakahan dan keegoisannya. Padahal ia tahu, Hanindita merupakan gadis yang baik dan penurut tapi mereka tak pernah mencoba bersimpati apalagi mengasihi.


Raga Handoko seakan kosong, semua rasa bersalah dan penyesalan menyeruak. Puing-puing ingatan saat-saat tangan dan lidahnya dengan kejam menyakiti Hanindita yang sebenarnya anak kandungnya sendiri membuatnya kerap menangis seorang diri. Bagaimana dengan kejamnya melalui tangan ini ia menyakiti gadis piatu yang seharusnya ia kasihi.


"Bertemu? Jangan mimpi! Kehadiran kalian bisa membuat menantuku kembali bersedih. Apalagi ia sedang hamil saat ini dan aku tak ingin terjadi sesuatu baik pada menantuku maupun pada cucuku. Mau kau bersimpuh berhari-hari pun aku takkan peduli. Ini belum sebanding dengan apa yang Anin rasakan selama ini. Kalian para iblis kejam yang tidak berperasaan. Jadi, telanlah penyesalan kalian. Berdoa saja, kalian memiliki umur yang panjang untuk menebus segala kejahatan kalian selama ini," desis Ivanka sinis. Lalu ia lun berdiri dan meninggalkan Lidya yang masih bersimpuh di lantai dengan wajah bersimbah air mata.


"Nyonya, saya mohon, izinkan saya bertemu Dita. Izinkan kami, nyonya. Kami menyesal. Kami mohon maaf," lirih Lidya dengan mata yang tiba-tiba menggelap dan akhirnya ia pun tumbang tergelatak di lantai yang dingin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2