
Mata Lidya mengerjap sambil menahan pusing di kepalanya, ia memindai ke sekeliling. Namun nihil, ia tidak tahu ia berada dimana sekarang sebelum ia melihat jarum infus yang bersarang di pergelangan tangannya.
Tak lama kemudian seorang perawat masuk ke ruangan itu untuk memeriksakan keadaannya. Saat melakukan pemeriksaan, Lidya terdiam tanpa bersua sepatah katapun. Namun, saat perawat itu hendak keluar, barulah Lidya mulai mengeluarkan suaranya.
"Maaf sus, apa Anda tahu, siapa yang mengantarkan saya ke sini?" tanya Lidya penasaran sebab tak ada seorang pun yang menemaninya saat ini.
Perawat itu tersenyum lalu menjawab sesuai apa yang ia ketahui.
"Maaf, saya juga kurang tahu. Tapi saya sempat melihat, yang mengantarkan Anda seorang wanita paruh baya dan seorang pria berpakaian serba hitam, selebihnya saya tidak tahu," ucap perawat itu jujur.
Lidya mengehela nafasnya, entah sudah berapa lama ia terbaring di sana. Lalu ia mengambil ponselnya yang ternyata telah terkapar di atas nakas. Diraihnya ponsel itu untuk melihat jarum jam, ternyata hari sudah menjelang sore.
"Jadi aku sudah tertidur di sini hampir 2 jam. Apa mas Handoko mengkhawatirkan ku?" gumamnya pada diri sendiri. Ia menghela nafas berat, ia sadar, suaminya sudah tidak mempedulikan dirinya lagi.
Ia sadar, semua adalah buah dari kesalahannya sendiri? Meminta maaf pun percuma karena perbuatannya sudah sangat keterlaluan. Entah kemana hati nuraninya selama ini bersembunyi sampai ia dengan tidak berperasaannya menyiksa Hanindita lahir dan batin.
Dilepaskannya jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya dengan kasar hingga meninggalkan beberapa tetesan darah di lantai. Dengan langkah gontai, ia pergi dari ruangan serba putih itu. Setidaknya keluarga Berryl masih memiliki hati nurani dengan meminta orang mengantarkannya ke rumah sakit. Bahkan ruangannya pun ia yakin cukup mahal sebab di dalam ruangan itu hanya ada dirinya sendiri. Tidak ada pasien yang lain. Tidak seperti dirinya yang sudah seperti iblis tak berperasaan. Saat Hanindita sakit, bukan hanya tidak mengobati, ia justru tetap memaksa gadis malang itu mengerjakan semua tugas-tugasnya.
...***...
__ADS_1
"By," panggil Hanindita yang sedang rebahan di atas karpet bulu di kamar mereka sambil menonton televisi.
"Ada apa sweetie?" tanya Berryl yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Tubuh shirtless Berryl yang masih terlihat basah tiba-tiba saja membuat darah Hanindita berdesir.
'Aku kenapa sih? Kan ini udah biasa tapi kok rasanya ... "
"Hei, sweetie!" panggil Berryl seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Hanindita yang sedang terbengong.
"Eh ... aku ... aku ... " tiba-tiba Hanindita gelagapan dengan wajah memerah.
"Kenapa? Terpesona?" goda Berryl yang sudah duduk di samping kepala Hanindita.
"Udah, ngaku aja!" goda Berryl lagi. Lalu Berryl mengangkat telapak tangan Hanindita dan menempelkannya di perutnya yang kotak-kotak. "Ini kan yang kamu mau," imbuh Berryl dengan seringai menggodanya. Selama Hanindita sakit, ia pun ikut menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Melihat ekspresi istrinya yang seperti menginginkannya, sontak saja seperti memberikan angin segar bagi kesehatan dunia peranjangan mereka.
Tiba-tiba, darah Hanindita kian berdesir, jantungnya bergemuruh, Hanindita sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Touch me as you want, sweetie. Jangan ragu! I'm yours."
Berryl pun menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Hanindita ingin melakukan apa yang telah beberapa Minggu ini terpaksa ia tahan.
__ADS_1
"By," panggil Hanindita lagi membuat Berryl bergumam seraya menahan nafasnya karena gerakan tangan Hanindita yang ...
"Hmmm ... "
"By," panggil Hanindita lagi.
"Yes, baby. Mau pindah ke ranjang, hm?"
"By, aku itu pingin makan nasi goreng kambing, bukan pingin makan kamu," seru Hanindita dengan mata mendelik lalu gerakkan tangannya yang tadi bergerak mengusap, kini justru berubah menjadi sebuah cubitan membuat Berryl memekik dengan Hanindita yang tergelak.
"Makanya, jangan mesyum terus pikirannya," cibir Hanindita seraya memeletkan lidahnya.
Berryl mendesah kasar dengan bibir yang sudah berkedut-kedut. Gelora asmara yang tadi sempat membuncah seketika surut.
"Hei baby, do you Miss Daddy?" bisik Berryl tepat di depan perut Hanindita.
"Yes, daddy. Come here, i want to see you." Ucap Berryl dengan nada suara seperti anak kecil.
Plakkk ....
__ADS_1
"Nggak usah ngadi-ngadi deh, by. Ayo, buruan buatin nasi goreng kambingnya. Mom and our boy udah lapar banget nih," keluh Hanindita dengan suara menahan kesal membuat Berryl makin gemas ingin menggodanya.