
"Karl," cicit seorang perempuan yang tengah duduk di atas kursi roda di balkon kamarnya.
"Arlene, ini sudah malam, kenapa kau masih di sini! Ayo masuk!" Karl pun segera mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu juga tirai balkon itu.
"Karl, mengapa Berryl tidak bisa bersikap selembut dirimu padaku? Apakah aku tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk berdiri di sisinya?" ujar Arlene seraya terisak. Karl pun segera berjongkok di hadapan Arlene dan menggenggam tangannya.
"Please jangan menangis, baby! Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu mendekati Berryl."
"Kau sudah sering berjanji, Karl, tapi semua tidak pernah terbukti. Kau berbohong padaku , Karl. Aku tahu, kau tidak pernah bersungguh-sungguh ingin membantuku." tukas Arlene seraya mengusap kasar air matanya.
"Baby, aku bersungguh-sungguh ingin membantumu. Kau tahu, tidak mudah bagiku melihat orang yang ku cintai justru mengharapkan orang lain. Tapi demi kebahagiaanmu, aku berusaha sekuat tenaga menekan perasaanku," ujar Karl mencoba meyakinkan Arlene. Tapi Arlene justru membuang muka.
"Bagaimana? Bagaimana caranya? Bukankah katamu dia sudah menikah? Bukankah artinya aku sudah tidak memiliki kesempatan apapun." Ucap Arlene tergugu. Hati Karl begitu sakit melihat kerapuhan Arlene. Karl sangat mencintai Arlene, tapi Arlene sejak dulu hanya mencintai Berryl.
Karl teringat kembali saat Arlene mencoba bunuh diri dengan melompat dari balkon kamarnya karena cintanya ditolak Berryl. Akibat kejadian itu, Arlene mengalami koma hingga berbulan-bulan. Karl pun berjanji, asalkan Arlene sembuh, ia akan membantu Arlene mendapatkan Berryl bagaimana pun caranya. Dan ternyata doanya terkabul. Arlene sadarkan diri, tapi baru membuatnya kembali nyaris putus asa, kakinya mengalami kelumpuhan. Sejak saat itulah, Karl tak pernah meninggalkan Arlene dan sesuai janjinya, ia akan membantu Arlene mendapatkan Berryl bagaimana pun caranya. Tak peduli kalau Berryl merupakan satu-satunya saudara sepupunya, baginya janji tetaplah harus ditepati.
"Apapun akan aku lakukan, baby. Demimu aku akan melakukan segalanya," pungkasnya penuh kesungguhan.
Arlene tersenyum manis seraya menatap lekat wajah Karl. Karl mengusap pipi Arlene yang basah dengan ibu jarinya.
"Aku pegang janjimu, Karl."
...***...
dddrtt ...
__ADS_1
Kau butuh bantuanku?"
Megan bingung saat membaca sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia tidak mengenal siapa pengirim pesan itu. Namun, saat pesan masuk untuk kedua kalinya ia baru paham, kalau pengirimnya adalah pria yang kemarin mendatanginya.
Aku orang yang memberikanmu alamat kemarin.
*Bisakah?
Tentu.
Apa yang harus aku lakukan?
Angkat panggilanku, akan aku jelaskan*.
Megan tersenyum seraya menyeringai setelah menutup panggilan itu. Ia harap, rencana laki-laki yang tidak ia ketahui siapa itu bisa berhasil. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah membalas dendam.
...***...
Handoko menghela nafas panjang, lalu ia mengurut pelipisnya untuk menghilangkan rasa pening. Ia pun merasa bingung. Ia marah dan kesal karena perkebunan yang telah ia usahakan susah payah selama bertahun-tahun yang harus jatuh ke tangan Hanindita. Terlepas Hanindita memang pewaris sah perkebunan dan pabrik teh itu, tapi bukankah ia telah mengurusnya selama ini, seharusnya ia pun memiliki hak atas perkebunan dan pabrik teh tersebut.
Pernah ia mencoba masuk dan mempengaruhi orang-orang yang bekerja di pabrik dan perkebunan teh itu, tapi ternyata mereka tak satupun yang mau berpihak padanya. Berryl sukses mempengaruhi mereka semua melalui orang kepercayaannya. Kadang ia menunggu kapan Berryl dan Hanindita datang kembali ke desa itu walaupun sekedar untuk memantau perkebunan, tapi ternyata tidak sama sekali. Sepertinya mereka memang sengaja merebut perkebunan dan pabrik teh itu untuk menyingkirkannya.
Pabrik pengolah teh kemasan miliknya memang tidak ikut diambil alih sebab mereka tahu kalau pabrik itu dibangun dengan dengan kerja kerasnya. Tapi semuanya percuma saja sebab mereka tidak mau menjual teh hasil perkebunan itu kepada dirinya. Tak ada bahan baku, bagaimana ia bisa memproduksi teh kemasan miliknya. Ia pernah mencoba membeli teh dari perkebunan lain, namun hasilnya berbeda terutama kualitas rasa. Alhasil, pabriknya mengalami kerugian dan terancam gulung tikar.
"Mas, kok diam aja sih! Jadi kita harus gimana? Pabrik kamu juga terancam bangkrut. Kamu harus berpikir dong." omel Lidya. "Hah, kenapa semua jadi kacau sih! Morgan ditangkap polisi. Megan sibuk di kota mengejar si bodoh Berryl sampai rela jadi cleaning servis. Bodoh, sangat bodoh. Ini semua gara-gara gadis sialan itu. Seharusnya Megan yang menjadi istri orang kaya, bukan dia. Dasar anak pembawa sial! Mengapa ia tidak ikut mati saja sih seperti ibunya? Dasar ga .... " Lid
__ADS_1
"Kamu bisa diam tidak? Aku pusing mendengarmu mengoceh dari tadi. Kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan membuat kepalaku makin pusing!" bentak Handoko membuat Lidya terdiam dengan mata mendelik kesal.
...***...
Pagi-pagi sekali VH Corporations sudah tampak riuh oleh bisik-bisik para karyawannya. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya atasan mereka membawa seorang gadis ke perusahaan tempat mereka mencari nafkah. Selama ini, gosip yang mengatakan kalau atasan mereka itu merupakan seorang impoten santer terdengar di seantero perusahaan. Bukan hanya di VH Corporations, tapi juga di perusahaan lain pun gosip itu bergerak liar dan diperkuat dengan tidak ada satupun gadis yang berhasil mendekati Berryl.
Namun yang terlihat hari ini sungguh mencengangkan. Atasan mereka, yang tidak pernah mereka lihat menggandeng satu wanita pun, justru tengah berjalan santai menuju lift khusus sambil merangkul seorang gadis cantik. Bahkan Berryl terlihat begitu mesra dengan sesekali mencuri ciuman di pipi Hanindita. Ya, untuk pertama kalinya, Berryl mengajak Hanindita ke kantor. Ia memiliki rencana rahasia pada istrinya itu.
Setelah melihat garis dua samar di testpack kemarin, Berryl berencana memeriksakan Hanindita ke dokter. Tentu saja hal ini tanpa sepengetahuan Hanindita. Ia berharap, apa yang ada dipikirannya itu terbukti benar. Berryl sudah tak sabar menantikan kabar bahagia itu. Ia yakin Hanindita pasti akan begitu bahagia bila dugaannya itu benar.
"Hubby, aku malu," cicit Hanindita seraya menyembunyikan wajahnya di balik lengan atas Berryl. Berryl lantas terkekeh lalu mengecup puncak kepalanya membuat karyawannya yang melihat hal itu membulatkan mata.
"Jangan malu, sweetie! Angkat dagumu! Ingat, saat ini kau adalah nyonya muda Van Houten jadi kau harus percaya diri. Mommy bisa marah besar bila melihatmu seperti ini," tukas Berryl membuat Hanindita mengerucutkan bibirnya.
"Kan aku belum terbiasa, hubby," sanggah Hanindita. Ia memang belum terbiasa dengan semua itu. Apalagi ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di tempat kerja Berryl tentu ia sedikit nervous di tatap orang sebanyak ini. Seandainya mereka tidak mengenal mereka, ia tak masalah sama sekali, tapi mereka mengenal Berryl, jadi wajar kan bila ia belum terbiasa dan merasa gugup sekaligus canggung.
"Oke, kalau begitu mulai saat ini kau harus terbiasa." pungkasnya lalu Berryl mengecup bibir Hanindita sekilas membuat wajah istrinya itu bersemu merah karenanya.
"Oh my God, siapa sih cewek itu! Kok dia bisa dicium Mr. Berryl?"
"Hebat ya! Apa itu kekasihnya? Tapi bukankah atasan kita itu ... "
"Dilihat dari caranya, kayaknya kekasihnya beneran deh!"
Kasak-kusuk itu terus berlangsung bahkan hingga jam makan siang tiba. Megan yang juga melihat bagaimana romantisnya Berryl memperlakukan Hanindita pun mengepalkan tangannya. Bagaimana gadis seperti Hanindita bisa mendapatkan hati Berryl semudah itu tanpa usaha apapun.
__ADS_1
'Dasar sialan! Aku harus segera menjalankan rencana pria itu mumpung ada kesempatan.' gumam Megan sambil mengepalkan tangannya.
...***...