Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.37


__ADS_3

"Berryl," teriak Megan lagi seraya berlari mengejar Berryl.


Baru saja Megan melangkahkan kakinya hendak mendekati Berryl, dua orang pengawal telah lebih dahulu menghadang dan menghentikan langkahnya.


"Minggir kalian, aku mau bicara sama Berryl," pekik Megan seraya berusaha menerobos kedua pengawal itu tapi tangannya justru dicekal kemudian tanpa belas kasihan mereka mendorong tubuh Megan hingga ia jatuh tersungkur ke lantai.


Sontak saja apa yang baru saja terjadi pada Megan menjadi tontonan karyawan perusahaan VH Corporations. Mereka pun segera merekam dan memposting adegan itu di sosial media. Video itupun segera viral, ada yang merasa iba melihat Megan yang seolah diperlukan kasar, ada juga yang mencemoohnya berusaha mendekati CEO Perusahaan VH Corporations. Namun ada juga yang mengira kalau Megan adalah korban dari Berryl. Mereka berasumsi Megan adalah kekasih gelap Berryl. Karena sudah bosan, Megan pun ditinggalkan. Biasalah, zaman sekarang orang-orang lebih gemar berasumsi dari pada mencari bukti ataupun kebenaran.


"Berryl, gue cuma mau bicara sebentar sama loe, please izinkan gue bicara!" teriak Megan saat Berryl telah berada di depan lift hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.


Berryl tersenyum miring, peduli amat pikirnya. Ia sedang malas meladeni Megan, ia pun berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Megan.


"Aaaargh ... sialan! Pasti gadis sialan itu sudah bilang yang macam-macam sama Berryl karena itu dia jadi makin acuh sama gue! Awas ya kamu gadis sialan! Kalau entar ketemu, gue pasti kasih pelajaran bahkan mungkin ini akan jadi pelajaran paling menyakitkan dalam hidup loe!" ujarnya sambil menyeringai dengan tangan terkepal.


Melihat Megan hendak kembali melangkah ke arah gedung perusahaan, para pengawal tadi hendak menghentikannya.


"Mau apa lagi kalian? Gue mau kerja bukan mau kejar atasan loe! Loe nggak lihat seragam gue, gue kerja di sini juga." teriaknya garang dengan mata nyalang.


Orang-orang yang melihatnya hanya berdecih sinis melihat tingkah Megan yang memuakkan. Entah mengapa gadis seperti Megan masih dipertahankan di perusahaan ini, pikir mereka. Mereka tidak tahu, kalau Megan sengaja dipekerjakan untuk memberikannya pelajaran agar ia pun merasakan betapa menderitanya Hanindita dahulu akibat perbuatannya.

__ADS_1


...***...


Saat jam makan siang, Berryl lebih memilih pulang ke mansion untuk makan siang dengan istrinya. Selain itu, ia juga telah memiliki janji dengan Hanindita ingin mengajaknya ke kampus universitas untuk melihat-lihat sekaligus mendaftar. Siapa yang tidak bahagia, akhirnya mimpi-mimpinya yang sempat terkubur akan dapat kembali ia raih.


"Hubby, aku barusan dapat telepon, supplier kain akan datang jam 2 ini, jadi gimana ya?" tanya Hanindita meminta pendapat sebab selepas makan siang, mereka akan pergi ke kampus dimana Hanindita akan menempuh pendidikan strata satunya. Sedangkan sekarang, ia juga bertugas menghandle cabang butik yang belum lama diresmikan milik Ivanka.


Berliana yang mendengar itupun lantas menoleh, "Kenapa harus pusing-pusing kakak ipar, bukankah ada aku? Selama liburan, aku akan membantumu apapun, termasuk menghandle butik. Kakak ipar pergi saja dengan kak Berryl." Berliana menawarkan diri untuk menghandle butik. Hanindita lantas tersenyum sumringah, beruntung ia memiliki adik ipar yang super baik. Yah, keluarga ini semuanya baik. Tak ada cela sedikit pun. Hanya agak dingin saja, tapi itu masih dalam kategori wajar. Terlebih suaminya ini, bahkan dengan keluarganya sendiri, ia seakan pelit tersenyum. Tapi pada dirinya, senyum manis justru selalu terukir.


"Benarkah?" tanya Hanindita memastikan.


"Sure, why not? Tapi ... ada syaratnya," ujarnya sambil menyeringai.


"Apa? Jangan aneh-aneh! Awas kalau sampai menyusahkan kakak iparmu!" ancam Berry dengan sorot mata tajamnya.


"Cie yang bucin, takut bener! Nggak lah kakakku sayang, aku nggak mungkin nyusahin kakak ipar ku tersayang, gitu lho. Aku cuma mau minta tolong beliin burger doang kok sepulangnya kalian dari sana." tukas Berliana sambil menyengir lebar.


"Cuma pingin burger aja pakep0p ngerepotin, tinggal delivery order aja kenapa sih! Nggak perlu antre, tinggal klik pesan, bayar, tunggu di rumah, nggak lama kemudian pesanan datang, udah, gampang kan!" cibir Berryl yang memang tak suka direpotkan. Beda bila istri tercintanya yang memintanya secara langsung, maka dengan senang hati ia akan memenuhi permintaannya itu.


"Ya ampun kak, minta tolong aja susah bener deh!" geram Berliana.

__ADS_1


"Udah hubby, sekalian pulang kan nggak ada salahnya. Itung-itung sebagai upah Ana udah mau bantuin aku," ujar Hanindita mencoba melerai perdebatan kedua saudara itu. Ia pun tak masalah.


"Kamu itu terlalu baik, sweetie. Itu yang membuatku makin sayang padamu," ujarnya seraya mengusap lembut pipi Hanindita.


"Terus ... terus yah, romantis-romantisan di depan jomblo, nggak kasihan apa sama aku yang masih menjomblo di usia 21 tahun," cibir Berliana yang membuat Hanindita terkekeh.


"Memangnya kenapa sudah 21 tahun masih jomblo? Kakak ipar kamu aja jomblo sampai 25 tahun nggak masalah. Malah aku seneng banget bisa dapat semua yang pertama dari dirinya."


"Itu mah kakak, keberuntungan orang beda-beda kali kak. Kakak mah emang sedang beruntung, belum tentu ada yang lain. Tapi ... doain aja deh! Aku juga berharap bisa kayak kakak, sekalinya dapat pendamping hidup, dapat uang terbaik."


"Nah, gitu dong! Kakak doakan ya semoga Ana bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Yang bukan hanya bisa menerima tapi juga melengkapi. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini." pungkas Hanindita yang dibenarkan dan diaminkan kedua bersaudara itu.


...***...


Sementara itu, di desa, Handoko tengah berteriak murka pada seorang kuasa hukum yang sengaja dikirim Berryl untuk mengambil alih semua hak milik Hanindita. Baik rumah maupun perkebunan ternyata diubah secara sepihak oleh Handoko atas pengaruh Lidya. Tentu Handoko tidak terima sebab perkebunan itu makin maju setelah berada di bawah kerja keras dirinya. Ia sudah berusaha keras memajukan bahkan kini ia telah menambah satu lagi pabrik pengolahan hasil perkebunan teh itu menjadi teh kemasan.


"Apa-apaan ini? Ini tidak bisa terjadi. Perkebunan itu milikku. Aku telah mengurusnya bertahun-tahun. Aku takkan membiarkan kalian mengambilnya dari tanganku." teriak Handoko murka.


"Anda tidak bisa mengelak, pak. Anda memang telah mengurusnya, tapi tetap pemilik sah perkebunan teh itu dan pabrik yang ada di selatan itu milik Nyonya Hanindita. Bahkan Anda mengambil alih perkebunan itu tanpa sepengetahuan nyonya Hanindita, ini sama saja tindakan penipuan." Tegas kuasa hukum Berryl tak kalah tegas.

__ADS_1


'Ja*lang kecil itu. Berani-beraninya ia ingin mengambil kembali apa yang telah aku miliki. Tidak, aku takkan pernah menyerah apa yang telah jadi milikku. Walaupun perkebunan teh dan pabrik di selatan memang miliknya, tapi sekarang semua sudah menjadi milikku. Anggap saja sebagai kompensasi karena ibunya telah mengkhianati aku.' gumam Handoko geram dengan wajah memerah menahan amarah yang siap meledak.


...Happy reading 🥰🥰🙏...


__ADS_2