Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch. 32


__ADS_3

Melihat wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum manis di depannya, membuat Berryl mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirnya singkat. Hanindita menerimanya dengan senang hati. Merasa kurang, Berryl mengecupnya lagi hingga beberapa kali. Tak mampu membendung hasrat yang tiba-tiba melonjak, ditatapnya wajah cantik istrinya lekat ...


"Bolehkah?" tanya Berryl lirih di depan bibir merah merekah Hanindita.


Hanindita sampai menahan nafasnya saat deru nafas Berryl menerpa wajahnya. Matanya mengerjap berulang kali, lalu Berryl pun mulai beranjak naik ke atas tubuh Hanindita dan mengungkungnya.


"Ta-tapi, hubby ... "


"Apa lagi yang kau ragukan?" ucap Berryl yang kini mulai menundukkan wajahnya dan menyusuri rahang Hanindita dengan gerakan lembut, sangat lembut, membuat darah Hanindita berdesir hebat.


"Tapi tubuhku ... aku takut kamu ... kamu ... apakah hubby tidak merasa jijik atau ... ngeri melihatnya? Tubuhku ... " Hanindita terisak lantas Berryl pun mengangkat dagu Hanindita agar mata mereka saling memandang.


"Tubuhmu indah, sweetie. Aku tidak pernah merasa jijik ataupun ngeri. Nanti, sepulangnya kita ke Indonesia, kita akan mencari dokter kulit terbaik untuk menghilangkan bekas-bekas ini," ujar Berryl seraya menyusuri bekas luka memanjang di pundak. "Kau tahu, dengan bekas luka sebanyak ini saja, kulitmu masih terlihat cantik, apalagi kalau kita berhasil memudarkan bahkan menghilangkan bekasnya, ah ... mungkin aku akan semakin tergila-gila padamu. Bahkan aku akan selalu memintamu tidur tanpa berpakaian supaya aku bisa menikmati kecantikan tersembunyi ini," ujarnya seraya terkekeh membuat Hanindita mendengus.


"Bisa-bisa aku masuk angin setiap hari dong kalau tidur nggak berpakaian setiap hari," sahut Hanindita sebal tapi geraman itu tiba-tiba berubah menjadi pekikan saat Berryl tiba-tiba saja menarik bajunya kuat hingga kancingnya berjatuhan ke lantai.


Sreettt ...


"Aaargh ... hubby," pekik Hanindita tapi Berryl justru menyeringai.


Piyama berpotongan rendah berwarna merah dengan kancing di depannya itu kini telah terbuka lebar memperlihatkan dua buah bola kenyal yang sangat indah. Karena malu, Hanindita pun segera menarik kedua lengannya dan menutupinya. Berryl yang sudah mulai tersulut api gairah pun dengan pelan menyingkirkan lengan itu dengan sorot mata tak lepas dari wajah cantik Hanindita.


"Aku tanya sekali lagi, sweetie, boleh?"

__ADS_1


Dengan malu-malu, Hanindita pun mengangguk.


Berryl tersenyum girang, ia pun segera melu*mat bibir merah merekah Hanindita dengan mesra. Awalnya pelan, namun lambat lain kian menuntut.


Dengan tangannya, Berryl membuai istrinya dengan gerakan lembut hingga tanpa sadar kain yang menempel di tubuh keduanya telah beterbangan entah kemana. Hanindita tersipu malu saat menyadari kini mereka berdua telah dalam keadaan tanpa busana. Hanindita menutupi wajahnya yang telah memerah karena malu.


Dengan pelan, Berryl melepaskan tangan itu. Ia ingin mereka berdua menikmati percintaan pertama mereka dengan perasaan bahagia. Ia ingin, istrinya itu menyaksikan dengan matanya bagaimana mereka akan menghabiskan malam itu dengan penuh gelora asmara.


"Look at me, sweetie! Don't close your eyes! Enjoy it, please!" bisik Berryl begitu mesra membuat Hanindita pun membuka matanya. Walaupun semburat merah itu masih begitu nyata di pipinya, Hanindita tetap berusaha untuk menerima perlakuan suaminya dengan mata terbuka.


Berryl kembali memagut mesra bibir merah Hanindita lalu perlahan turun dan terus turun, menyusuri setiap inci kulit istrinya dengan penuh cinta. Dikecupnya leher, tulang selangka, hingga dada juga perut Hanindita hingga meninggalkan beberapa lovemark di sana. Hanindita melenguh saat Berryl mencecap dan menghisap kulitnya hingga merah kebiruan. Tangannya tak tinggal diam, berselancar, bergerak liar, mengusap, mere*mas, memilin bagian-bagian sensitif di tubuh Hanindita membuat gadis yang sedang on proses menjadi wanita sesungguhnya itu melenguh.


Desah nafas keduanya kini makin memburu bersamaan keinginan keduanya menjadi satu yang padu. Berryl menatap lekat wajah merah Hanindita yang sedang tersengal akibat permainan bibir dan tangannya. Ia tersenyum simpul, baru kali ini ia merasakan nikmatnya bercinta. Padahal mereka belum memasuki permainan inti tapi ia sudah sangat bahagia. Mungkin ini merupakan keistimewaan pasangan halal.


Dan kini, ia telah menemukan pasangan yang sebenarnya. Belahan jiwanya. Dengan Hanindita, ia ternyata dapat memantik gairahnya, dengan Hanindita ia berhasil membuktikan ia memiliki hasrat pada lawan jenis. Bahkan hanya melihat mata Hanindita yang telah berkilat gairah, ia sudah terang*sang ingin segera menuntaskan gairah terpendamnya.


Perlahan, ia memposisikan miliknya yang telah tegak sempurna di depan sarang Hanindita. Sarang yang hanya diperuntukkan untuk dirinya dan hanya boleh dimasuki dirinya. Hanya miliknya.


"Eungggghhhh ... sshhhh ... ahhh ... "


Lenguh keduanya saat penyatuan mulai dilakukan. Berryl terdiam sejenak memandangi wajah Hanindita yang meringis menahan sakit saat sesuatu paling berharga miliknya berhasil ia tembus. Disekanya air mata yang menetes dari ekor mata Hanindita. Ia diam, tak bergerak, membiarkan asa dan rasa bersatu padu di bawah sana. Nikmat, ini sungguh nikmat ucapnya dalam hati. Sungguh beruntung dirinya mendapatkan gadis murni seperti Hanindita. Ia bangga mempersunting Hanindita sebagai istrinya.


"Sakit?" tanya Berryl lirih di depan wajahnya.

__ADS_1


Hanindita hanya dapat mengangguk sambil menggigit bibirnya.


Lalu Berryl mendekatkan wajahnya pada Hanindita dan membisikkan sesuatu.


"Ini hanya sementara, sweetie. Setelah ini, hanya ada kenikmatan yang akan menyatukan kita selamanya. Menjadikanmu milikku seutuhnya dan aku milikmu sepenuhnya."


Lalu Berryl pun memagut mesra bibir Hanindita sembari menggerakkan bokongnya perlahan. Hentakan demi hentakan ia lakukan, awalnya pelan, namun lambat laun kian cepat dan menuntut hingga pada saat keduanya mulai mencapai puncak kenikmatan, keduanya pun menjeritkan nama masing-masing dengan penuh cinta.


Berryl menghempaskan tubuhnya ke samping tanpa melepas penyatuan mereka. Miliknya masih merasa nyaman bersembunyi di dalam gua pribadi miliknya. Dibiarkannya miliknya terbenam di bawah sana agar benih-benih itu tiada yang terbuang percuma. Berharap benih-benih cinta itu akan tumbuh menjadi calon buah hati yang akan membuat hari-hari mereka kian berwarna.


Ditatapnya wajah merah Hanindita yang masih berusaha menormalkan deru nafasnya yang putus-putus. Jantungnya berdegup kencang, perasaan membuncah terasa memenuhi rongga di dalam sana. Hari ini, ia telah menjadi lelaki sesungguhnya. Klaim impoten atas dirinya kini berhasil ia patahkan. Ia pria normal. Ia berhasil memasuki istrinya tanpa masalah.


Bahkan sebenarnya ia masih ingin mengulanginya kembali, namun ia harus sadar, ini merupakan untuk pertama kalinya untuk istrinya pun dirinya. Ia tahu, kali pertama bagi perempuan pasti meninggalkan rasa sakit dan ia tak ingin membuat istrinya itu kian kesakitan. Ia harus bisa mengontrol naluri lelakinya dengan baik demi kebahagiaan istrinya. Pria yang benar-benar mencintai pasti takkan menyakiti pasangannya, begitu pula dirinya. Ia begitu mencintai Hanindita karena itu ia tak ingin Hanindita merasakan kesakitan lebih lagi. Cukup saat penyatuan awal mereka, bukankah ada hari lain.


Pelan-pelan, Berryl menarik miliknya sambil mengecup dahi Hanindita. Hanindita pun tersipu malu seraya memejamkan matanya, malu. Lalu Berryl beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi kemudian kembali lagi dan langsung menggendong Hanindita membuat wanita itu menjerit kaget. Wajah Hanindita kian merah padam saat menyadari keduanya masih dalam keadaan polos.


Berryl membawa Hanindita ke kamar mandi dan memasukkannya perlahan ke dalam bathub yang telah berisi air hangat bercampur aroma terapi. Tujuannya untuk membuat tubuh istrinya itu lebih rileks dan mengurangi rasa sakit di bawah sana. Siapa tahu, besok pagi ia bisa sarapan spesial seperti malam ini. Sungguh niat yang sangat apik.


"Thank you my wife and i love you," bisik Berryl saat ia telah ikut masuk ke dalam bathub.


...***...


Maafkeun othor ya kalo kurang hot-hot pop! Otak othor masih volos soalnya. 🤭

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2