
"Huh, you make me scared, son!" ketus Ivanka. "Ada apa? Nggak biasanya kamu telepon mommy?" tanya Ivanka akhirnya yang sudah sangat penasaran.
"Mom, aku ingin menikah."
"Hah!" seru Ivanka kaget mendengar pernyataan putranya itu. Dia sampai menjauhkan ponselnya dan melihat dengan jelas nama yang tertera di layar ponselnya itu.
"Dad, dad mendengarnya juga kan? Atau mom yang salah pendengaran?" tanyanya bingung dengan dahi yang berkerut dalam dan alis mata terangkat sempurna.
"Dad juga mendengarnya, mom? Tapi ... " Abelano meragukan pendengarannya sendiri lantas menekan-nekan telinganya apakah telinganya mengalami gangguan.
Berryl yang masih berada di seberang telepon mendesis kesal mendengar respon orang tuanya yang sudah seperti orang bodoh.
"Mom, dad, kalian mendengar perkataanku kan?" tanya Berryl membuat Abelano dan Ivanka saling memandang lalu mengangguk bersamaan. 'Eh ... " mereka tersenyum geli sendiri memangnya Berryl bisa melihat anggukannya saat ini.
"Ryl, mom salah dengar kan tadi? Atau mom dan dad sedang bermimpi karena terlalu berharap kau segera menikah?" cetus Ivanka yang diangguki Abelano.
"Mom, dad, kalian tidak salah dengar. Aku sudah bertemu gadis yang ingin ku nikahi. Aku harap mom dan dad segera mengutus orang ke sini untuk menyampaikan keinginanku setelah itu baru kalian benar-benar melamarnya." tukas Berryl membuat kedua orang tuanya sukses mengangakan mulutnya.
"Astaga ... astaga ... siapa gadis itu yang bisa tiba-tiba membuatmu ingin menikahinya? Mengapa kau bisa tiba-tiba seperti ini, Ryl? Kau tidak menghamilinya kan?" tanya Ivanka yang benar-benar shock mendengar kabar mengejutkan itu.
"No, mom. Bahkan aku baru satu kali bertemu dengannya."
__ADS_1
"Apa? Satu kali? Apa yang menarik dari gadis itu sampai kau tiba-tiba ingin menikahinya? Bukankah kau sedang liburan saat ini? Jangan-jangan dia mengguna-gunaimu, Ryl? Bagaimana kau bisa membuat keputusan mendadak seperti ini?" Ivanka masih tak mempercayai apa yang didengarnya saat ini. Ini terlalu mengejutkan baginya. Bagaimana bisa, putranya yang selalu menolak dijodohkan apalagi disuruh menikah tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan ingin menikah.
"Kalau mom dan dad ingin melihatku menikah, segera urus semuanya. Aku tunggu kedatangan kalian. Alamatnya akan segera aku kirim." tukas Berryl tegas membuat Abelano langsung merebut ponsel di genggaman istrinya.
"Tunggu Ryl, bagaimana gadis yang ingin kau nikahi? Siapa namanya? Siapa orang tuanya? Bagaimana keluarganya?" cecar Abelano yang penasaran tingkat langit ke tujuh dengan gadis yang tiba-tiba saja membuat putranya menyatakan ingin menikah.
"Aku tidak tau namanya, dad." ucap Berryl santai. Namun berbanding terbalik dengan orang tuanya yang sudah benar-benar membulatkan matanya. "Yang aku tau, dia putri keluarga Handoko di desa yang sedang aku datangi ini." imbuhnya benar-benar santai.
Sontak saja, Ivanka memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut pening. Gadis seperti apa yang mampu memikat putranya yang super kaku bahkan tak pernah dekat dengan seorang gadis pun selain dirinya dan adiknya. Kalaupun ada, itu sepupunya dan mereka telah lama tak berjumpa.
"Are you, crazy, son? Bagaimana kau bisa tiba-tiba ingin menikahi gadis yang bahkan namanya saja tidak kamu ketahui? Bagaimana jika ternyata dia istri orang, hah!" bentak Abelano murka. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan putranya ini.
"Berryl, kau ... "
"Sudah dulu ya, dad! Aku tunggu utusanmu siang ini. Sore harinya, aku harap kalian telah datang dengan membawa segala persiapan lamaran sebelum aku tiba-tiba berubah pikiran dan tak mau menikah seumur hidupku." pungkas Berryl memotong perkataan Abelano. Kemudian, ia pun tanpa basa-basi langsung menutup panggilan itu membuat kedua orang tuanya membulatkan mulutnya tak percaya dengan apa yang dilakukan putra satu-satunya itu.
"Anak ini ... selalu saja membuat kepalaku rasanya mau pecah." desis Abelano seraya memijat pelipisnya. Lalu ia mengambil ponselnya yang terkapar di atas meja dan melihat nama desa serta lokasi vila yang ditinggali Berryl. Kemudian ia memencet nomor asisten pribadinya agar segera pergi ke desa dimana Berryl tinggal untuk memberitahukan pada keluarga Handoko akan kedatangan keluarganya yang ingin melamar putrinya.
Abelano dan Ivanka hanya bisa mendesah pasrah dengan apa yang akan dilakukan putranya. Tentu mereka khawatir dengan ancaman Berryl. Dari pada putranya tak menikah seumur hidupnya, bukankah lebih baik mengabulkan keinginannya.
Sedangkan di vila, tampak Berryl sedang memijit pelipisnya sendiri. Sebenarnya Berryl pun bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tiba-tiba menghubungi orang tuanya dan mengatakan ingin menikahi gadis yang baru lagi tadi ia lihat. Mengapa tiba-tiba saja ia memiliki keinginan untuk memiliki gadis yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui.
__ADS_1
Berryl menghela nafas berat lalu ia melangkahkan kakinya keluar. Cuaca di sana cukup cerah, namun tetap terasa sejuk jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki melihat-lihat perkebunan teh yang tak jauh dari vila.
Saat melangkahkan kakinya, terasa ada seseorang yang mengekorinya. Ia tak peduli, ia tetap saja melangkahkan kakinya acuh.
"Ryl, kamu mau kemana?" tanya Citra yang ternyata dia lah yang mengekori Berryl.
Tapi Berryl hanya diam saja bak manekin hidup membuat Citra menghentakkan kakinya kesal. Tak lama kemudian, terdengar suara gadis pengganggu lainnya, siapa lagi kalau bukan Megan. Berryl menghela nafas berat, tidak bisakah ia menikmati liburannya dengan tenang, pikirnya.
"Hai, Berryl. Kamu mau jalan-jalan ya? Mau aku temenin? Ini semua kebun teh milik ayahku lho." ujar Megan yang kini sudah berjalan di sisi kiri Berryl, sedangkan Citra berada di sisi kanan. Sama seperti pada Citra, Berryl pun mengabaikan keberadaan dan pertanyaan Megan.
"Ck ... ngapain sih loe ngikutin kami?" desis Citra tak suka melihat kehadiran Megan.
"Apaan sih loe? Pacar juga bukan, posesif amat." balas Megan tak kalah sinis.
Berryl menghentikan langkahnya saat melihat gerombolan ibu-ibu yang lewat membawa keranjang berisi pucuk daun teh yang berhasil mereka petik dengan sambil saling bercengkrama. Hal itu sontak membuat kedua gadis itu ikut menghentikan langkah mereka.Tanpa menghiraukan kedua gadis yang masih saja sibuk berdebat, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Lalu matanya menyipit saat tak jauh dari tempatnya berdiri tampak gadis yang pagi tadi ia jumpai sedang mendorong sepeda ke arahnya. Tiba-tiba saja, jantungnya berdebar tak menentu. Apalagi saat angin kencang menerpa membuat rambut hitamnya yang terurai panjang beterbangan tersapu angin. Berryl mendadak menahan nafasnya saat gadis itu perlahan melewati dirinya yang masih terpaku menatapnya. Dia seolah takut ketahuan tengah memperhatikan sang gadis. Darahnya berdesir. Tiba-tiba saja, sesuatu dalam dirinya bergejolak hebat. Beruntung kedua gadis itu masih tampak berseteru jadi mereka tak menyadari ke arah mana tatapan Berryl saat ini berlabuh.
'Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Gadis itu ... Aku ... menginginkannya.' lirih Berryl dalam hati dengan tangan mengepal.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1