Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch 30


__ADS_3

"Siapa? Siapa yang begitu tega melakukan ini padamu, sweetie? Siapa? Katakan?" Ujar Berryl dengan mata memerah. Bahkan kini ia telah berkaca-kaca saat melihat punggung Hanindita yang bukan hanya ada luka seperti sebuah pecutan tapi juga ada luka bakar bekas setrika.


'Bajing-an! Siapa yang berani-beraninya menyakiti Hanindita sebegitu teganya? Takkan aku biarkan. Akan aku balas perbuatan orang-orang itu. Aku bersumpah.' desis Berryl dalam hati dengan api amarah yang kian menggelegak di dalam dadanya.


Hanindita mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Berryl. Ia yakin, suatu hari ia harus menceritakan segalanya pada suaminya ini. Dengan seseguk ia menanyakan sesuatu terlebih dahulu untuk meyakinkan dirinya kalau Berryl merupakan sosok yang tepat untuk dirinya mengatakan segalanya.


"Hubby, apakah kau tidak jijik padaku?" tanyanya dengan suara serak karena sesegukan.


"Kenapa harus jijik sweetie?" tanya Berryl seraya memeluk tubuh Hanindita dengan penuh kasih sayang. Tubuh Hanindita dalam keadaan setengah telan*jang, jadi Berryl segera menarik selimut dan membalut tubuhnya agar tidak kedinginan.


"Karena tubuhku penuh dengan luka. Kulitku tidak mulus sesuai harapanmu. Aku yakin, dirimu akan langsung kehilangan selera setiap melihatnya," cicit Hanindita sendu.


"Kata siapa, hm? Jangan berasumsi macam-macam! Dengan uang, bekas luka apapun dapat dihilangkan, tapi ... rasa sakit itu pasti sulit kau lupakan, bukan! Jadi, tolong ceritakan segalanya! Jangan ada lagi yang mau tutup-tutupi dariku! Izinkan aku jadi tempat berkeluh kesahmu. Izinkan aku jadi tempat melabuhkan hatimu. Dan izinkan aku mengetahui segala rahasia dalam hidupmu. Aku suamimu, sweetie, sudah sewajarnya aku mengetahui segala rahasia terpendammu. Tolong jelaskan, sweetie! Kau tau, hatiku hancur membayangkan betapa tersiksanya hidupmu selama ini. Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, aku berharap lebih awal menemukanmu agar kau tak pernah merasakan segala kesakitan itu," ungkap Berryl seraya membujuk berharap Hanindita bersedih lebih terbuka dengannya.


Hanindita melepaskan pelukan Berryl lalu Berryl menyeka air mata yang membasahi pipi Hanindita dengan lembut sambil menunggu penuturan Hanindita mengenai apa yang dia alami selama ini dan siapa yang telah mengukir begitu banyak luka di tubuhnya. Itu baru luka di tubuh, pikir Berryl. Ia yakin, luka hati Hanindita pun tak kalah banyaknya dari luka yang terlihat di tubuhnya.


"Yang melakukan ini semua adalah keluarga ku sendiri," lirih Hanindita dengan wajah tertunduk. Setiap kilasan penyiksaan demi penyiksaan, baik fisik maupun verbal itu melintas di benaknya, Hanindita meringis pilu. Bagaimana keluarganya begitu tega memperlakukannya layaknya budak. Padahal ia juga keluarga mereka, tapi mereka justru tak pernah menganggap dirinya layaknya keluarga.


"Mereka ... mereka semua, tanpa terkecuali, mereka semua suka menindas ku. Entah apa salah dan dosaku pada mereka tapi mereka sepertinya begitu membenci ku. Aku ... aku bukanlah pembantu di rumah itu, aku keluarga mereka, aku putri mereka tapi ... tapi mereka tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Aku justru diperbudak di sana. Aku disuruh mengerjakan segala pekerjaan rumah. Aku juga dilarang melanjutkan sekolah padahal waktu itu aku sudah mendapatkan surat rekomendasi untuk masuk SMA favorit melalui beasiswa tapi tetap saja ayah dan ibu Lidya menentang keras. Rumah yang ku anggap istana, justru jadi neraka bagiku."


Lagi-lagi air mata itu tumpah dengan deras, tak dapat dibendung. Hanindita menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya begitu sakit mengingat segala perlakuan buruk keluarganya. Keluarga yang seharusnya melindunginya, justru membuatnya tersiksa lahir dan batin. Keluarga yang seharusnya mencintai dan menyayanginya, justru menebarkan kebencian seolah dirinya seorang pendosa yang tak layak diampuni dan diberi kasih sayang.


Mata Berryl memerah, ia tak menyangka ada keluarga yang begitu jahat seperti keluarga Handoko. Mungkin inilah definisi dari keluarga toxic. Mereka gemar menebar racun, racun kebencian yang membutakan mata hati sehingga begitu tega dan tanpa ampun menyiksa seorang gadis polos seperti Hanindita.

__ADS_1


"Apa kamu tau alasan mereka seperti membencimu bahkan tidak mengakuimu sebagai bagian dari keluarga mereka?" tanya Berryl seraya merangkul pundak Hanindita agar kepalanya bersandar di dadanya dengan posisi Berryl bersandar di kepala ranjang.


"Awalnya aku tidak tahu, tapi malam setelah kalian pulang melamarku, ayah mengungkapkan fakta yang sampai sekarang tidak dapat aku percayai."


"Apa itu?"


"Ayah bilang ... dia bilang aku bukan anaknya tapi anak hasil perselingkuhan ibu. Tapi aku tak percaya. Walaupun aku hanya bisa mengenal ibu beberapa tahun, tapi aku tahu, ibu nyaris tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis kecuali sopir keluarga kami, pak Totok," jelas Hanindita dengan mata menerawang ke masa lalu. Masa-masa indahnya saat sang bunda masih ada. Walaupun saat itu ia masih sangat kecil, tapi ingatan masa lalunya cukup kuat.


"Aku juga tidak percaya dengan apa yang pak Handoko katakan."


"Kenapa hubby seyakin itu?"


"Postur wajah kamu, sweetie. Dari mata, alis, pokoknya tingkat kemiripan kalian itu 80%. Ada yang salah di sini. Sepertinya ada yang sengaja memfitnah ibu mertuaku itu," ucap Berryl penuh keyakinan.


"Mungkinkah?" tanya Hanindita cepat.


"Kemungkinan besar seperti itu. Kamu tenang saja , sweetie. Aku pasti akan menyelidikinya."


Hanindita tersenyum penuh haru, ia tak menyangka Berryl akan begitu mempercayainya seperti ini. Seperti mimpi, ia memiliki seorang suami yang nyaris sempurna seperti ini.


"Apa kau tau siapa pemilik perkebunan teh keluarga kalian sebenarnya?" tanya Berryl penasaran.


Hanindita mengangguk samar, ia ingat, neneknya pernah mengatakan kalau rumah juga perkebunan itu merupakan warisan untuk ibunya yang otomatis akan menjadi haknya. Tapi kini, perkebunan teh itu justru dikuasai Handoko untuk memenuhi kebutuhan juga membahagiakan keluarganya.

__ADS_1


"Perkebunan itu sebenarnya milik mendiang ibu, tapi setelah menikah, ayah yang mengurusnya. Namun kini, perkebunan itu justru dikuasai keluarga mereka secara mutlak. Aku mengetahui ini dari nenek sebelum meninggal," lirih Hanindita yang kembali terisak. Ia pun segera meringsek ke dalam pelukan Berryl untuk mencari ketenangan.


"Keluarga jaha*nam. Baru kali ini aku mendengar ada keluarga sejahat itu." umpat Berryl murka.


"Sweetie, dengar, jujur aku sangat sakit hati mengetahui segala penderitaanmu dan aku berniat membalas semua dan merebut kembali yang merupakan hakmu," tukas Berryl penuh keseriusan. "Sebenarnya aku tidak berminat dengan perkebunan teh itu, tapi karena perkebunan itu merupakan peninggalan dari mendiang ibu mertua yang seharusnya jadi hakmu, maka aku akan berusaha untuk merebutnya. Aku tak rela apa yang seharusnya jadi hakmu justru dinikmati orang-orang jahat itu," imbuh Berryl dengan api amarah yang berkobar di dalam matanya.


"Tapi hubby ... "


"Kamu tak perlu khawatir, sweetie. Semua akan baik-baik saja, aku jamin itu," ucap Berryl meyakinkan Hanindita. Hanindita pun mengangguk pasrah. Ia serahkan segala urusannya dengan suaminya itu.


Malam kian larut, malam yang seharusnya diisi dengan kegiatan berbagi peluh, kini harus berubah menjadi kegiatan curhat. Hanindita pun mencurahkan segala isi hati dan kesedihan juga segala penderitaannya selama ini pada Berryl.


Berryl pun dengan senang hati mendengarkan segala penuturan Hanindita. Ia bersyukur akhirnya Hanindita semakin nyaman akan keberadaannya sehingga kian terbuka, tak tertutup lagi seperti di awal jumpa.


...***...


...**Halo kakak-kakak semua, selamat membaca!...


...Oh ya, othor mau rekomendasikan karya othor yg lain, siapa tau pingin baca**....



...**Semoga terhibur!...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰**...


__ADS_2