Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.22


__ADS_3

Sepanjang sarapan pagi, mata Ivanka tak luput memperhatikan gerak-gerik Hanindita. Biarpun gadis desa, tapi Hanindita tau cara membawa diri di hadapan orang lain. Walaupun sedikit kaku, setidaknya ia sedikit paham perihal etika makan atau yang lebih dikenal dengan istilah table manner. Mungkin dengan sedikit bimbingan, Hanindita bisa lebih rileks dan menguasai perihal itu.


Hanindita yang menyadari kalau sedari tadi ia diawasi oleh Ivanka pun hanya bisa menunduk. Bukan hanya dirinya, tapi Berryl dan Abelano pun ikut menyadarinya. Sesekali Berryl mengusap punggung tangan Hanindita dan membisikkan kata-kata menenangkan agar istrinya itu tidak terlalu canggung.


Hanindita tersenyum lembut membalas perlakuan Berryl. Saat hendak memulai makan, ia juga melayani Berryl dengan membantunya membalikkan piring, mengisi nasi, dan menawarkan lauk-pauk. Sesuatu yang sudah sangat jarang Abelano lihat dan itu membuatnya senang. Ia sampai sesekali melirik Ivanka agar mau sedikit meniru bagaimana cara Hanindita melayani suaminya. Seingatnya, terakhir kali Ivanka melakukan hal tersebut hanya saat-saat awal pernikahan mereka saja. Ia berharap, Hanindita tidak seperti istrinya yang lebih mementingkan karirnya sehingga membuatnya lebih fokus pada karir ketimbang keluarga. Ya, Ivanka memiliki butik yang cukup terkenal sehingga membuatnya sering terlalu sibuk dengan karirnya sebagai designer sekaligus owner butik.


Sarapan pagi telah usai. Karena kebiasaan, Hanindita pun langsung membereskan piring dan hendak membawanya ke wastafel untuk dicuci tapi sebuah tangan kekar menghentikan pergerakannya.


"Mau kemana?" tanya Berryl sambil menuntun tangan Hanindita agar meletakkan kembali piring-piring kotor itu ke atas meja. Abelano tersenyum melihatnya lalu menepuk pelan pundak putranya.


"Mau meletakkan piring kotor di wastafel terus dicuci." sahut Hanindita polos. Sontak saja hal tersebut membuat Bu lara cepat-cepat mengambil alih apa yang hendak dilakukan Hanindita.


"Jangan nona! Itu tugas kami. Kami masih ingin bekerja di sini. Jangan ambil alih pekerjaan kami!" ucap Bu Lara menginterupsi.


Berryl menatap datar Bu Lara lalu memberi kode agar melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Sweetie, kamu itu datang ke rumah ini sebagai menantu, bukan pembantu. Ingat itu!" tegas Berryl membuat Hanindita mengerutkan keningnya.


"Tapi aku kan cuma mau bantu-bantu, tuan. Aku nggak masalah kok."


"Tuan?" ucap Berryl dengan mengerutkan keningnya. "I'm your husband kalau kau lupa. Jadi mulai sekarang aku ingin kau memanggilku, hubby. Bukan tuan. Apa aku harus selalu mengingatkan mu kalau kamu itu menantu di rumah ini, bukan pembantu?" tegas Berryl membuat Hanindita menunduk. "Ingat di dalam otak cantikmu ini kalau kau itu istriku dan aku adalah suamimu."


"Maaf!" cicit Hanindita membuat Berryl tersadar kalau ia terlalu keras pada istrinya itu.


Berryl menghela nafas panjang lalu menggaruk pangkal hidungnya yang mancung. Ia jadi merasa bersalah membuat istrinya itu takut dengan sikap kerasnya.


Lalu tanpa kata, Berryl menarik Hanindita ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya.


...***...


Berryl dan Abelano telah pergi dari mansion milik mereka menuju ke perusahaan. Sepeninggal Berryl dan Abelano, Ivanka memanggil Hanindita agar menemuinya di ruang kerjanya. Banyak hal yang perlu ia bicarakan pada menantunya itu.

__ADS_1


"Se-selamat pagi, nyonya." ucap Hanindita terbata. Ia masih belum tau harus memanggil apa pada ibu mertuanya itu.


"Selamat pagi. Silahkan duduk!" ucap Ivanka. Menurut, Hanindita pun segera duduk di kursi yang ditunjuk Ivanka.


"Saya orangnya tak suka basa-basi. Kita langsung saja ke topik utama. Hanindita, emm saya panggil Anin saja mengikuti Berryl. Oh ya Anin, kau tau bukan, dari dalam segi apapun, kau itu sebenarnya tidak pantas untuk putraku." ucap Ivanka membuat Hanindita makin menundukkan wajahnya dalam. Ya, dia menyadari itu. Ia tentu tak sebanding dengan tuan muda keluarga itu. Dalam hal apapun, ia benar-benar merasa tak pantas. Bahkan ia merasa ini seperti mimpi di siang bolong. "Tapi, sebagai seorang ibu, kau tetap menghargai keputusan anakku. Apalagi selama ini ia tak pernah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis dan kau adalah gadis pertama yang membuatnya tertarik. Tapi tentu saja, bagiku itu belum cukup. Karena itu, mulai sekarang, kau akan aku gembleng agar menjadi gadis yang lebih pantas untuk Berryl. Aku harap kau dapat merubah dirimu jadi lebih baik. Itupun bila kau ingin bertahan di sisi Berryl untuk kedepannya. Namun bila kau tak tahan, aku bisa membantumu untuk melepaskan diri. Jadi bagaimana? Kau mau berusaha belajar atau kau ingin mundur?" ucap Ivanka dengan sorot mata tak terbaca.


"Bagaimana caranya?" tanya Hanindita cepat.


"Caranya tentu dengan mengikuti segala perintahku. Tapi, bila kau merasa tak sanggup ataupun gagal, aku harap kau mau melepaskan diri dari Berryl. Kau harus sadar, kalian itu ibarat langit dan bumi, sangat bertolak belakang."


Hanindita terdiam. Ia berusaha mencerna setiap untaian kata yang keluar dari bibir Ivanka. Memang benar apa yang dikatakannya, tapi haruskah ia menyerah sebelum bertanding?


Tidak. Ini mungkin kesempatan langka untuknya mendapatkan seseorang yang mau menerimanya apa adanya. Mungkinkah kesempatan seperti ini akan datang kembali? Mendapatkan suami baik, kaya raya, tampan, paket sempurna dari seorang laki-laki. Bahkan dalam mimpi pun ia tak pernah membayangkan ia akan menikah dengan lelaki sesempurna Berryl.


"Aku takkan mundur, nyonya. Aku akan berjuang, bukan hanya supaya aku menjadi istri yang lantas bagi Berryl, tapi juga menjadi menantu mu yang dapat kau banggakan." ucap Hanindita penuh keyakinan. Ivanka tersenyum tipis seraya mencibir. Apakah gadis itu mampu pikirnya. Tentu ia harus mengujinya terlebih dahulu. Lalu Ivanka mengeluarkan sebuah buku tebal. Itu merupakan rincian daftar keuangan rumah tangga keluarga itu. Untuk rumah sebesar itu dengan banyak anggota, tentu mereka harus memiliki buku khusus untuk mencatat detil pengelolaan keuangan. Bukan hanya rincian biaya makan, tapi juga biaya listrik, air, gaji pegawai, dan rincian pengeluaran rumah tangga lainnya. Dengan santai, Ivanka menyerahkan buku tersebut dan meminta Hanindita menghitung rincian pengeluaran bulan lalu yang memang belum sempat ia hitung. Ia ingin melihat, sebatas mana kemampuan daya pikir menantunya itu agar ia tau langkah apa yang selanjutnya harus ia lakukan untuk menjadikannya agar lebih layak.

__ADS_1


Bukannya Ivanka sombong atau sok, tentu itu demi Hanindita sendiri. Ia bukanlah menantu keluarga sembarangan. Tentu ia tak mau sampai ada yang membodohi apalagi merendahkan Hanindita ke depannya hanya karena identitas dan juga latar belakang pendidikannya. Biarpun hanya seorang gadis desa, ia harap Hanindita bukan hanya jadi sosok wanita yang bisanya bersembunyi di belakang Berryl, tapi juga mampu menjadi sosok yang kuat di masa yang akan datang.


...***...


__ADS_2