
Sepulangnya dari sekolah kesetaraan, Hanindita dikejutkan dengan 2 buah koper berukuran sedang sudah tergeletak di ruang tamu. Hanindita hampir saja lupa ia akan pergi berbulan madu bersama Berryl. Hanindita tidak tau kemana Berryl akan membawanya. Ia hanya pasrah sebab ia memang tidak memiliki tempat yang ingin ia kunjungi. Ia benar-benar tidak mengenal dunia luar. Bagaimana ia bisa menentukan, coba. Dapat keluar dari neraka berkedok rumah di desanya saja ia sudah sangat bersyukur. Walaupun sebenarnya ia tidak rela, tapi ia pun tak sanggup bila harus terus berada di sana. Ia pun ingin merasakan indahnya hidup dan kebahagiaan. Ia juga tak tahu, berapa lama ia sanggup melindungi dirinya sendiri dari kekejaman keluarganya maupun pelecehan yang kerap dilakukan Morgan.
"Hai sweetie, kau sudah pulang ternyata," ujar Berryl yang baru saja menuruni tangga dengan setelan kasual yang melekat di tubuhnya. Lalu ia mendekati Hanindita, merengkuhnya ke dalam dekapan dan mencium dahinya mesra membuat para pekerja di rumah itu tersipu melihatnya.
"Kita mau berangkat sekarang juga?" tanya Hanindita bingung. Berryl memang mengatakan siang ini mereka akan pergi, tapi tepatnya jam berapa ia tak tahu.
"Hmm ... tapi setelah kita makan siang dulu. Ayo, kita makan siang!" ajak Berryl seraya merangkul pinggang Hanindita posesif.
Hanindita melirik jam di pergelangan tangannya, ini sudah lewat makan siang dan Berryl belum makan. Apa ia sengaja menunggunya?
"Kamu belum makan, hubby?"
Berryl mengedikkan bahunya, "Mau nungguin istri pulang dulu. Makan nggak ada kamu nggak enak." Seloroh Berryl membuat Hanindita mendengus geli.
"Emang selama ini gimana? Nggak makan?" ujarnya seraya mengingat masa-masa sebelum ia hadir di sisi Berryl.
"Dulu ... makan sih, tapi nggak senikmat sekarang. Kalau sekarang, makan apa pun jadi nikmat karena ada istriku yang menemani," ucapnya seraya mengerlingkan sebelah matanya. Lalu setibanya di meja makan, Berryl menarik kursi dan mempersilahkan Hanindita duduk di sana.
"Cck lebay," cibir Hanindita seraya mendudukkan bokongnya seraya tersenyum lebar.
Hanindita merasa hatinya berbunga-bunga dengan segala sikap dan perhatian Berryl. Dadanya rasanya meletup-letup seperti ada kembang api. Kebahagiaan ini tak akan pernah bisa ia definisikan karena itulah faktanya, ia benar-benar bahagia.
Selepas makan, Berryl pun menggandeng tangan Hanindita menuju mobil yang telah siap mengantarkannya ke bandara. Ia telah meminta grandpa-nya di Den Haag, Belanda meminjamkan dirinya jet pribadi yang siap mengantarkannya ke tempat-tempat yang ingin dikunjunginya.
Berryl memang sengaja tidak memberitahukan destinasi bulan madunya. Ia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu. Bukankah yang namanya kejutan tak boleh diberitahukan?
Mata Hanindita terbelalak saat setibanya di bandara internasional Soekarno-Hatta. Ia tak pernah menyangka akan merasakan naik pesawat terbang. Melihat pesawat terbang yang mulai mengangkasa dari atas kepalanya membuat Hanindita berdecak kagum. Ia sudah seperti anak kecil yang baru saja melihat mainan yang begitu menarik.
Berryl hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang mungkin menurut orang lain sedikit norak. Tapi Berryl tak mempermasalahkannya karena memang istrinya itu baru pertama kali ke bandara dan melihat pesawat terbang secara langsung, jadi wajar bukan?
__ADS_1
"Hubby," panggil Hanindita dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Hmmm ... "
"Apa sih ham hem ham Hem gitu, nggak jelas banget," ujar Hanindita mencebik. Berryl sangat menyukai tingkah polos dan manja istrinya yang mulai keluar. Tentu saja ia berharap, dengan mulai munculnya rasanya nyaman pada diri Hanindita saat bersama dengannya, dapat mengembalikan sifat ceria dan manja gadis itu. Setidaknya itu salah satu sifat Hanindita kecil sebelum ibunya meninggal. Vino memang berhasil mengumpulkan beberapa informasi mengenai keluarga Handoko tapi tidak menyeluruh karena keluarga itu memang cukup tertutup.
Berryl pun terkekeh lalu mencubit gemas pipi Hanindita, "Ada apa sweetie?"
"Kenapa kita nggak nunggu di sana?" tunjuk Hanindita dimana banyak penumpang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan mereka.
"Kita nggak naik ikut penerbangan komersial, sweetie."
"Maksudnya?"
"Kita naik itu?" tunjuk Berryl ke sebuah jet pribadi yang berukuran sedang yang telah siap di pelataran pesawat.
"Ini ... "
"Ini jet pribadi milik grandpa. Kapan-kapan kita ke Belanda temui grandpa. Grandma dan grandpa pasti sangat senang saat tau aku telah memiliki istri secantik kamu," ujarnya membuat wajah Hanindita tersipu.
Pesawat telah mengudara. Sepanjang perjalanan, dihabiskan Hanindita dengan tertidur di dalam pelukan Berryl. Ini kali pertamanya naik pesawat, tentu saja ia merasa takut dan cemas. Ia juga merasa sedikit pusing. Berryl pun memeluk erat tubuh Hanindita seraya mengusap kepalanya agar tertidur lelap.
7 jam kemudian, Berryl dan Hanindita telah tiba di sebuah negara yang terkenal dengan bunga sakuranya. Ya, negara itu adalah Jepang. Berryl sengaja membawa Hanindita ke sana sebab tepat tanggal 15 Maret nanti diperkirakan akan memasuki musim semi. Di musim itulah bunga-bunga sakura akan mulai bermekaran, Berryl yakin Hanindita akan sangat bahagia bisa melihat bunga yang terkenal dengan keindahannya itu. Tapi untuk saat ini Berryl belum memberitahukannya sebab saat ini Hanindita sedang jetlag.
Kini Hanindita tengah terlelap di kamar hotel tempat mereka akan menghabiskan hari-hari selama bulan madu mereka. Berryl beranjak dari atas tempat tidurnya saat melihat ponselnya bergetar dan ada panggilan masuk dari Vano.
"Ada apa, Van? Sampai gangguin gue mau honeymoon aja," tukas Berryl dengan wajah datarnya.
"Cck ... mentang udah punya bini. Awas loe ya kau gue udah married, gue matiin hp gue selama honeymoon biar loe tau rasa pas lagi butuhin gue," sinis Vano membuat Berryl terkekeh.
__ADS_1
"Silahkan kalau loe mau identitas rahasia loe terbongkar!" cibir Berryl.
"Curang banget sih loe! Gue mau kasi kabar penting ini, malah disinisin kayak gini."
"Kabar apa?"
"Baru nanya. Dasar!" geram Vano. "Ryl, gue dapat info yang nyerang loe tempo hari beneran sepupu gila loe itu."
"Sudah tau."
"What's? Sejak kapan?"
"Beberapa hari yang lalu. Dia datang ke mansion."
"Gila, makin berani aja tuh anak."
"Dia bukan anak-anak lagi, bego."
"Yayaya, artinya kita mesti waspada mulai sekarang. Kita nggak tau, apalagi yang dia rencanakan buat gangguin loe."
"Silahkan aja kalau dia memang mampu asal dia nggak sampai macam-macam menyakiti orang-orang terdekat gue. Kalau sampai itu terjadi, gue habisin dia," ucap Berryl dengan sorot mata elangnya.
"Eh, satu lagi, gue tadi diminta Vino kasi tau ke loe kalau perempuan rubah alias Megan sekarang tinggal di kota ini. Entah apa tujuannya. Gue takutnya dia sengaja buat ngusik bini loe, Ryl."
"Tolong minta orang terus awasin pergerakannya! Jangan sampai dia mendekati Hanindita barang 10 meter pun." tegas Berryl dengan tatapan dinginnya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1